
Ucapan Manggala barusan, sontak membuat Gendhis melotot. “Kok saya?” tanyanya tak percaya. “Saya ‘kan hanya fotografer.”
“Ya, kamu bisa mengambil foto-foto Pak Gunadhya selama dia diwawancara,” jawab Manggala sembari tersenyum simpul.
“Ya, ampun.” Antara sedih dan bahagia perasaan Gendhis saat itu. Kenapa di saat dirinya ingin melupakan sosok rupawan Chand, ada saja kejadian yang malah membuatnya harus bertemu dengan pria tersebut. Namun, apa mau dikata. Gendhis hanyalah seorang bawahan yang harus menurut pada atasan.
Sampai meeting pagi itu selesai, Gendhis masih bermuram durja. Secangkir kopi susu dan biskuit yang disodorkan oleh teman barunya yaitu Sinta, bahkan tak jua dapat menghilangkan raut masam di wajah cantik itu.
“Sudah, jangan terlalu dipikirkan, Dhis. Aku sudah menghubungi kantor WO-nya di sini. Salah seorang pegawainya sudah memberikan nomor telepon bisnis Chand. Dia mengonfirmasi jadwal wawancara besok pagi di villa pribadinya. Kita harus buru-buru, sebelum Chand Gunadhya kembali ke Jogja,” tutur Sinta kalem.
“Hah, kamu bisa dapat nomor teleponnya?” Mata indah Gendhis membulat sempurna.
“Kata pegawainya sih itu nomor telepon khusus untuk keperluan bisnis,” jawab Sinta yang sibuk menggigit biskuit, lalu menyeruput kopi susu panas. Sungguh perpaduan sempurna di siang yang tak panas sama sekali, sebab mereka memang berada di dalam ruangan full AC.
Gendhis mulai tertarik dengan aroma yang menguar dari cangkir porselen tersebut. Diam-diam dia mengambil sekeping biskuit, kemudian mencelupkannya ke dalam minuman panas Sinta. “Jadi, kapan kita berangkat?” tanyanya.
“Kan sudah kubilang tadi. Besok pagi,” ulang Sinta.
“Oh, iya. Oke, deh. Aku siap.” Sedikit gugup, Gendhis menyisir rambut panjangnya yang kusut dengan jari. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, lebih dalam dari Palung Mariana, Gendhis bersorak gembira. Besok, dia ingin tampil sempurna di depan Chand. Itu artinya, nanti malam dia harus melakukan beberapa ritual yang diharapkan bisa membuat Chand ‘tersesat’.
Hari itu berlalu dengan cepat. Setidaknya, itulah yang Gendhis rasakan. Apalagi saat dia menerima pesan dari Sinta pada malam hari menjelang tidur, berisi informasi tentang nomor telepon Chand berikut alamat lengkap villanya.
Jangan terlambat. Besok kita janjian di depan gerbang villa jam delapan tepat.
Seperti itulah pesan penutup yang dikirimkan Sinta malam itu. Niatnya untuk melakukan ritual, gagal sudah. Kenyataannya, Gendhis sudah terlalu mengantuk.
Oke!
Hanya satu kata balasan dari Gendhis. Setelah itu, dia meletakkan telepon genggamnya di atas nakas. Gendhis berusaha memejamkan mata. Namun, selang beberapa saat, gadis itu tak juga tertidur.
Sudah berkali-kali dia membolak-balikkan tubuh. Telentang, tengkurap, miring ke kanan, lalu ke kiri, hingga menungging pun dia lakoni. Gendhis bahkan sudah membolak-balikan bantal dengan harapan menemukan aroma mimpi yang akan membuatnya terlelap.
__ADS_1
Akan tetapi, bayangan wajah Chand serta rasa antusias yang dia rasakan membuat perutnya seakan digelitiki dari dalam oleh ratusan jemari tak kasat mata. Tak ingin tersiksa lebih lama, Gendhis akhirnya bangkit dan meraih ponselnya kembali.
Diamatinya nomor telepon Chand. Dia lalu menyimpannya ke dalam kontak. Iseng dirinya memencet nomor itu, dan ternyata tersambung.
“Telepon nggak, ya,” pikirnya ragu. “Kalau telepon, pakai alasan apa?” Gendhis bertanya pada diri sendiri. “Apalagi ini ‘kan nomor untuk keperluan bisnis?”
Gendhis merebahkan diri. Kali ini, dia dalam posisi telentang sambil memegang erat ponsel di atas dadanya. “Apa aku pura-pura jadi sales sprei saja, ya? Kan cocok tuh, malam-malam nawarin sprei,” gumamnya lagi.
Lama, Gendhis berpikir dan menimbang-nimbang. Hingga pada tahap akhir keputusannya, dia malah tertidur tanpa sadar. Saking pulasnya Gendhis terlelap, dia bahkan tak sadar kalau jarum jam terus bergerak menuju angka enam.
Sampai alarm digital yang dia bawa dari Yogyakarta, berbunyi nyaring dan membuat gadis itu terkejut. Gendhis langsung terbangun dan mengucek-ucek mata. “Aduh! Jam enam! Aku harus mandi!” serunya sambil menyibakkan selimut.
Selesai membersihkan diri, Gendhis mengoleskan deodoran dalam jumlah tiga kali lipat lebih banyak dari biasanya. Dia juga menyemprotkan parfum pada leher, rambut dan seluruh permukaan tubuh bagian depan. Setelah itu, Gendhis memakai kemeja favorit berukuran besar yang dipadu dengan celana bahan sedikit ketat berwarna hitam.
Merasa bahwa dirinya sudah tampil sempurna, Gendhis meraih ransel berisi kamera kesayangan. Dia lalu bergegas ke meja makan dan membuka tudung saji. Akan tetapi, dia harus kecewa, sebab tak ada apapun di dalam sana. “Nek? Tumben?” seru Gendhis sedikit nyaring. “Biasanya dari subuh masakan sudah matang?”
“Gas habis,” sahut Nenek Sri yang berjalan dari arah belakang rumah. “Warung sebelah kehabisan tabung, jadi nenek menyuruh Imas pergi ke toko kelontong Pak Haji Zaki di dekat pasar. Eh, malah nggak pulang-pulang.”
“Sekalian ke pasar kali, Nek?” timpal Gendhis menenangkan si Nenek yang mulai gusar.
“Cirebon?” Belum sempat rasa ingin tahunya terjawab, terdengar teriakan nyaring dari arah depan rumah.
“Assalamualaikum!” seru suara khas nan cempreng yang tak lain adalah milik Ceu Imas. Dia masuk dengan wajah tanpa dosa. Imas nyengir sambil kedua tangannya masing-masing mengangkat tabung berwarna hijau.
"Dari mana dulu, Mas? Kompasnya mati ya?" sindir Nenek Sri dengan nada sebal.
"Iya, Mak. Jarumnya diambil Teh Yayat,” jawab Ceu Imas asal, membuat Nenek Sri semakin gemas dan serasa ingin menimpuk wanita bertubuh bongsor itu.
“Teh Yayat siapa?” Gendhis masih berdiri keheranan di antara kedua orang tersebut.
“Tukang jahit tetangga Nenek,” jawab Nenek Sri ketus.
__ADS_1
“Mak, marah, ya?” Ceu Imas mulai khawatir melihat wajah majikannya. “Maaf, Mak. Itu tadi Pak Haji Zaki nunjukin video di youtube,” ucapnya penuh sesal.
“Video apa?” tanya Gendhis.
“Itu, Neng. Video penggerebekan. Ada bapak-bapak lagi indehoy sama selingkuhannya. Eh, istri sahnya nyamperin sambil bawa wartawan. Seru, loh,” jawabnya antusias.
“Tayangan begituan ditonton. Tidak bermutu sama sekali. Udah buruan pasang gasnya. Pada kelaparan semua ini!” suruh Nenek Sri kesal.
“Siap, Mak. Tunggu sebentar, ya.” Ceu Imas tergopoh-gopoh menuju dapur.
“Aduh. Kalau harus nungguin masak dulu, bisa-bisa aku telat, Nek,” ujar Gendhis sambil melirik jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul tujuh tepat. “Aku makan di jalan aja deh,” putusnya. Dia lalu mencium punggung tangan si nenek, sebelum buru-buru keluar rumah dan memesan ojek online.
Beruntung, lalu lintas pagi itu tak terlalu padat, sehingga cukup setengah jam saja sampai Gendhis tiba di depan sebuah villa mewah yang dia yakini sebagai milik Chand. Tak jauh dari gerbang, berdiri Sinta yang tengah mengobrol dengan seorang pria berseragam satpam.
“Mbak Sinta,” sapa Gendhis setelah membayar ongkos ditambah memberi bintang lima pada aplikasi.
Sinta segera menoleh dan melambaikan tangannya pada Gendhis. “Ayo, Dhis. Pak satpam sudah mengizinkan kita masuk,” ajaknya.
“Mari.” Satpam itu mengangguk seraya tersenyum ramah. Dia juga membuka pintu gerbang dan mengarahkan Gendhis dan Sinta menuju ke bagian samping villa. Di sana terdapat teras berukuran sedang dan menghadap ke kolam renang.
Terdapat meja kursi berbahan rotan di teras itu. Salah satu kursinya ditempati oleh seorang pria yang tengah menunduk. Pria yang tak lain adalah Chand itu rupanya tengah asyik mengoperasikan laptop di pangkuan. Sejenak Gendhis terlena. Angan nakalnya membayangkan seandainya dia bertukar tempat dengan laptop.
“Selamat pagi, Pak Chand. Kami dari tabloid New Vision yang sudah membuat janji wawancara kemarin,” sapa Sinta sopan yang seketika membuyarkan lamunan Gendhis.
Chand mendongak dan hendak membalas sapaan tersebut. Akan tetapi, sorot matanya terkunci pada sosok Gendhis yang berdiri di samping Sinta. “Kamu? Kok ada di sini?” tanyanya dengan nada tak suka.
.
.
.
__ADS_1
Ada lagi nih, rekomendasi karya keren dan seru