
“Aduh! Jadi nggak enak nih suasananya.” Raut wajah Kalini terlihat tak suka mendengar ucapan Susena. “Tante pulang duluan ya, Dhis,” pamitnya seraya buru-buru mencium pipi kanan dan kiri Gendhis. Dia juga mencium tangan Nenek Sri dan menyalami Hanum sebelum bergegas keluar dari ruang perawatan Susena.
Sementara, Chand lebih banyak diam sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya. Dia terus mengikuti gerak sang ibu tanpa banyak bicara, bagaikan seorang bodyguard yang menjaga kliennya.
“Tante sih inginnya kamu mampir ke rumah. Sebentar aja,” pinta ibunda Chand itu dengan raut penuh harap, ketika sudah berada di ambang pintu.
“Ya. Nanti kalau papa sudah agak baikan, Te,” jawab Gendhis lembut.
“Aku boleh ikut tidak?” timpal Susena lagi dengan wajah tanpa dosa. Hal itu tentu saja membuat Hanum menjadi sebal.
“Untung si Tari udah pulang duluan tadi. Coba kalau masih di sini, pasti dia ngomel,” gerutu Hanum. “Papa tuh nggak diajak!” lanjutnya dengan nada bicara menirukan gaya sang adik.
“Tante tunggu ya, Dhis,” bujuk Kalini tanpa putus asa. Dia mengangguk sopan pada semua orang, kemudian membalikkan badan dan berlalu dari sana. Demikian pula Chand yang seperti orang sakit gigi. Irit berbicara. Dia hanya ikut mengangguk sambil memamerkan senyuman tipis.
Namun, Gendhis sekarang berbeda. Dia sama sekali tak tertarik lagi dengan pesona Chand. Terlebih, setelah mengetahui kenyataan bahwa Chand lah perusak hubungan Manggala dengan mantan tunangannya dulu. Hal itu membuat Gendhis jadi tak habis pikir.
“Jadi, kapan kamu mau ke rumah Kalini?” tanya Susena seolah tak putus asa.
“Ya, ampun. Papa ini. Bisa nggak sih, nggak mikirin Tante Kalini dulu? Pikirin tuh, kesehatan Papa,” tegur Gendhis.
“Papa baik-baik aja kok,” sahut Susena acuh tak acuh.
“Lah, terus kenapa kemarin Hanum sampai nangis-nangis coba? Ibumu ini sampai khawatir. Makan minum jadi nggak nafsu." Nenek Sri turut menegur putranya dengan jengkel.
“Awalnya Hanum juga mengira kalau papa cedera serius, Nek. Apalagi Papa bilang kesakitan dan minta dibawa ke rumah sakit. Eh, nggak tahunya malah ketemu sama Tante Kalini dan nggak mau pulang,” terang Hanum tanpa henti.
“Hanum!” potong Susena. Mukanya yang memerah, dia arahkan pada putri sulungnya. “Harusnya tadi Tari yang jagain Papa di sini,” gerutu Susena kemudian.
“Kalau Tari pasti ngomelnya bakalan lebih parah,” sahut Hanum.
“Jadi, bagaimana ini? Kalau Papa ternyata sehat-sehat aja, aku langsung balik aja ke Bandung. Ya Nek, ya,” tawar Gendhis pada Nenek Sri.
__ADS_1
“Iya, kasihan Imas sendirian. Takut dia godain duda sebelah rumah,” celetuk Nenek Sri.
“Ya jangan dong, Bu, Dhis. Aku juga butuh dukungan kalian,” bujuk Susena pelan. Dia kini menyingkirkan selimut dari atas tubuhnya, lalu duduk tegak dan mengambil sebuah apel. “Apel cinta,” gumamnya tak karuan sambil menggigit apel merah tersebut.
“Iya, Nek. Lagian capek, lho. Masa baru sampai mau langsung pulang lagi.” Hanum ikut membujuk sang nenek dan Gendhis.
“Ya, sudah. Kalau begitu, lusa saja kita pulang,” putus Nenek Sri. “Tunangan kamu sudah ditelepon belum? Kamu kabarin lah.”
“Ah, nanti aja. Paling dia juga lagi sibuk.” Gendhis mengibaskan tangannya. Dia bermaksud mengambil buah pir dari keranjang. Akan tetapi, sebelum hal itu terlaksana, ponselnya lebih dulu berdering. Gendhis buru-buru meraih telepon genggam dari dalam tas ranselnya. Nama Manggala tertera jelas di layar.
“Ya, ampun. Belum juga dihubungi, udah menghubungi duluan,” seru Gendhis bangga. Wajahnya begitu sumringah saat mengangkat telepon dari sang calon suami. “Halo, Ngga,” sapanya genit.
“Gimana keadaan Om Susena, Dhis?” tanya Manggala khawatir.
“Papa ….” Gendhis melirik sekilas pada sang ayah yang tengah menggigit apel. Susena menggunakan bahasa isyarat untuk memberitahukan bahwa kakinya sakit akibat jatuh dan terkilir.
“Papa baik-baik aja, Ngga. Cuma jatuh biasa. Nggak ada yang bahaya,” lanjut Gendhis tanpa menghiraukan arahan dari sang ayah, membuat Susena berdecak kesal. Gadis yang sebentar lagi melepas masa lajangnya itu kemudian asyik berbincang dengan Manggala melalui panggilan telepon.
“Yang ini, Bu. Nyeri sekali,” Susena meringis kecil seraya mengarahkan telunjuk ke arah tumit kanannya.
“Oh, itu,” Nenek Sri manggut-manggut. Dia lalu mengusap-usap mata kaki Susena pelan. Lalu, tanpa disangka oleh Susena, Nenek Sri menepuk bagian mata kaki dan tumit tersebut sekencang-kencangnya. Sontak, Susena memekik kesakitan.
“Siapa itu yang teriak, Dhis?” tanya Manggala setengah terkejut.
“Biasa. Bayi gede,” jawab Gendhis yang belum mampu menghilangkan rasa terkejutnya. Gadis itu mengelus-elus dada sambil melotot pada sang ayah.
“Nenekmu tuh yang usil. Orang kaki lagi sakit malah dipukul,” sungut Susena.
“Mau Ibu tambahin lagi?” Nenek Sri bersiap mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Beruntung Hanum segera melerai.
“Udah. Udah. Stop!” Hanum merentangkan kedua tangan ke samping sambil menggerak-gerakkannya ke atas dan ke bawah.
__ADS_1
“Aduh, selamatkan hamba ya, Tuhan,” gumam Gendhis pilu. Ayah dan neneknya adalah perpaduan sempurna dalam hal membuat keonaran.
“Aku keluar dulu, deh. Mau nyari yang segar-segar,” pamit Gendhis. Dia sudah tak betah berada di ruangan tersebut dan berniat hendak mencari es teh manis dalam kemasan plastik.
“Nitip ya, Dhis,” pesan Hanum, ketika Gendhis sudah melangkahkan kaki keluar kamar.
“Apa?” Gendhis berbalik dan memandang sang kakak.
“Apa aja deh, yang penting camilan,” jawab Hanum.
“Oke.” Gendhis mengacungkan jempol sambil berlalu. Sekilas, dia melihat sang nenek yang tengah mengomeli Susena. Namun, Gendhis tak peduli. Dia tetap fokus pada langkahnya untuk mencari es teh.
Baru beberapa langkah meninggalkan gedung rumah sakit dan melintasi area parkir yang luas, terdengar sayup-sayup suara seseorang yang memanggil namanya. Gendhis berhenti melangkah sambil menajamkan pendengaran. Dia mengedarkan pandangan ke segala arah dan mendapati dua orang sosok tengah memanggilnya dari dalam kendaraan.
“Tante Kalini?” Gendhis memicingkan mata sambil mengawasi sebuah mobil SUV mewah yang terparkir tak jauh dari tempatnya berdiri. Seseorang dari dalam mobil dengan jendela terbuka separuh tersebut melambaikan tangan seolah membalas sapaan Gendhis.
Setelah yakin bahwa wanita itu adalah Kalini, Gendhis bergegas menghampiri mobil berwarna hitam mengkilat tersebut. “Kok tante masih di sini?” tanya Gendhis seraya sedikit membungkukkan tubuh agar sejajar dengan posisi Kalini. Tampak juga Chand yang tengah sibuk berbalas pesan dengan seseorang.
“Kamu mau ke mana?” balas Kalini tanpa menghiraukan pertanyaan Gendhis sebelumnya.
“Mau cari es teh dan camilan, Tante,” jawab Gendhis sopan.
“Oh, cari di rumah tante saja, yuk,” ajak Kalini. Sontak Gendhis menautkan alis tanda tak paham.
“Saya mau ke rumah makan depan itu, Te,” tolak Gendhis halus.
“Eh, ke rumah Tante aja. Kalau kamu nyari es teh dan camilan di warung itu, kamu bakalan disuruh bayar. Tapi, kalau kamu ngambil minuman dan jajanan di rumah Tante, Tante jamin gratis,” sahut Kalini.
“Ngambilnya jauh amat, Te. Harus ke rumah tante dulu.” Gendhis menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Pulangnya mesti ngangkot, jatuhnya malah lebih mahal," pikir gadis itu.
“Ikut aja, Dhis. Cuma sebentar kok. Nanti pulangnya aku yang antar.” Chand yang sedari tadi asyik dengan telepon genggamnya tanpa memedulikan kehadiran Gendhis, tiba-tiba ikut menimpali.
__ADS_1