Mengejar Cinta Sang Duda

Mengejar Cinta Sang Duda
Retaknya Hati Sinta


__ADS_3

Gendhis duduk termenung di teras rumah sambil memperhatikan kendaraan yang hilir-mudik di jalan depan. Terbayang dalam benaknya, ketika tiba-tiba Manggala mencium tanpa aba-aba terlebih dulu. Gadis itu segera menyentuh permukaan bibir sambil berpikir. Sesaat kemudian, Gendhis mengambil ponsel yang diletakkan di atas meja. Dia menghubungi seseorang yang tak lain adalah Sinta.


“Hallo. Ulala,” sapa Sinta dari seberang sana. Nada bicara gadis itu terdengar sangat ceria.


“Hai, mbak. Baru menang arisan ya? Kayaknya seneng banget,” balas Gendhis.


“Ah, nggak juga. Aku selalu mencoba untuk bahagia setiap saat,” sahut Sinta. “Omong-omong, ada apa nih?” tanya gadis itu kemudian.


Gendhis tak segera menjawab. Dia menimbang-nimbang sejenak dengan apa yang akan dikatakan kepada rekan kerjanya tersebut. Sebenarnya, Gendhis merasa sungkan untuk membahas hal yang terlalu sensitf. Namun, setelah dipikir-pikir akhirnya gadis itu mengungkapkan apa yang tengah mengganggu pikirannya. “Mbak,” ucap Gendhis pelan.


“Ada apa, Dhis? Apa ada yang serius?” tanya Sinta.


“Um … entah ini serius atau tidak, tapi ….” Gendhis ternyata masih merasa ragu.


“Yaelah, Dhis. Nggak biasanya kamu kayak gini. Memangnya seserius apa sih?” tanya Sinta kian penasaran.


“Nggak, mbak. Ini tentang itu ….” Ucapan Gendhis kembali terjeda.


“Itu apa? Si Mamat ya? Denger-denger, dia naksir sama kamu,” celoteh Sinta diiringi tawa renyah.


“Astaga, mbak. Memangnya mbak rela aku deket-deket sama si Mamat? Idih, nggak deh. Mana bau ketek. Udah gitu, giginya kuning. Aku nggak tau dia tuh sikat gigi berapa tahun sekali,” cibir Gendhis. Namun, sesaat kemudian gadis itu terdiam dan berpikir. “Ya ampun.”


“Kenapa lagi, Dhis?” tanya Sinta.


“Berarti, selama ini Chand juga mandang aku kayak gitu ya, mbak? Ibarat aku sama si Mamat. Astaga. Malu-maluin,” keluh Gendhis sambil menepuk keningnya.


“Baru nyadar?” gumam Sinta pelan, tapi Gendhis masih dapat menangkap suaranya meski tak terlalu jelas.

__ADS_1


“Apa, mbak?”


“Ah, nggak. Jadi, gimana?”


Gendhis mengembuskan napas panjang. Dia menatap langit untuk beberapa saat. Mencoba mencari ilham di sana. Namun, sepertinya ilham sedang tidak di tempat. Alhasil, Gendhis pun tak menemukan apa-apa dengan hanya memandang langit. “Bagaimana jika hari ini kita ke salon. Mbak kan dah biasa melakukan treatment, jadi bisa sekalian rekomendasiin apa yang enak dan kira-kira aku butuhkan gitu,” ajak Gendhis pada akhirnya.


“Wah, boleh banget. Gimana kalau di salon langganan aku aja? Kebetulan lagi ada diskon 50% buat yang bisa ngajak temen buat perawatan di sana. Tarifnya juga standar, Dhis. Nggak terlalu nguras dompet,” cetus Sinta.


“Boleh, mbak. Mbak kan yang lebih tahu Kota Bandung. Aku manut wae,” sahut Gendhis.


“Ya, udah. Nanti aku jemput jam dua. kebetulan motor adik aku lagi nganggur tuh. Jadi, kita bisa langsung ke sana nggak usah ribet-ribet,” ucap Sinta lagi.


“Iya, mbak. Kalau gitu, aku siap-siap dulu deh.” Setelah berbasa-basi sebentar, Gendhis mengakhiri perbincangan itu. Dia bergegas masuk dan bersiap-siap, berhubung saat itu sudah pukul satu tiga puluh.


Tak membutuhkan waktu lama bagi Gendhis untuk bersiap-siap. Dia hanya berganti pakaian, kemudian merapikan rambut. Kebetulan, hari itu Gendhis sudah mandi. Sulit dipercaya karena cucu Nenek Sri tersebut sudah mandi sebanyak dua kali. Gendhis merasakan badannya begitu ringan. “Seharusnya aku cari pacar sejak dulu. Dengan begitu, aku bakal maksain mandi,” pikirnya sambil meraih tas ransel, kemudian menyampirkan talinya di pundak sebelah kiri.


“Mau ke mana, Neng?” tanya Nenek Sri yang menoleh sepintas kepada sang cucu.


“Mau pergi sebentar, Nek,” jawab Gendhis sambil mengenakan sepatunya.


Nenek Sri terdiam sebentar sambil terus mengamati giginya. “Oh iya, Neng. Kalau misal Nenek pasang behel, bagusnya yang warna apa ya?” tanya Nenek Sri, membuat Gendhis seketika menoleh.


“Warna apa aja bagus, Nek. Asal nggak dipake sama Nenek,” jawab Gendhis sambil tertawa. Namun, dengan cepat dia mengambil langkah seribu, sebelum sang nenek mengambil senjata andalannya yaitu sapu ijuk.


Gendhis sedikit terengah. Dia berdiri di luar halaman, tepatnya pinggir jalan yang ramai. Berhubung hari itu merupakan tanggal merah, jadi suasana lalu lintas pun jauh lebih ramai dari biasanya.


Dengan sabar, Gendhis menunggu kedatangan Sinta. Jarak tempat tinggal reporter cantik itu hingga ke rumah Nenek Sri, memakan waktu sekitar setengah jam. Itu juga jika kondisi jalanan sedang lancar. Sambil menunggu Sinta, Gendhis memeriksa ponselnya. Dia membalas pesan yang dikirimkan oleh Manggala. Pria itu memastikan rencana kencan mereka nanti malam.

__ADS_1


Gendhis mengeluh pelan. Entah kekonyolan macam apa yang tengah dia lakukan saat ini. Gendhis tak tahu apakah dengan mengencani Manggala, dia dapat melupakan sosok Chand yang menyebalkan atau tidak. Gadis bertubuh semampai itu pun terus melamun, sambil sesekali memainkan kerikil dengan kakinya.Dia terus melakukan hal tersebut, hingga tak menyadari bahwa Sinta sudah berada di hadapannya. Gendhis baru tersadar, ketika Sinta membunyikan klakson dengan kencang.


“Astaga, Mbak! Kaget aku. Untung dadaku nggak melorot,” ujar Gendhis sambil memegangi dadanya karena terkejut.


Sedangkan Sinta malah tertawa lebar. Gadis manis nan lemah lembut itu tampak begitu senang, saat melihat ekspresi konyol yang ditunjukkan Gendhis. “Ngelamun aja, Neng. Ayo, buruan kita berangkat,” ajaknya sembari mengisyaratkan agar Gendhis segera naik ke jok belakang. Tak lupa dia menyodorkan helm half face kepada gadis tomboy yang akan segera ‘berhijrah’ ke arah feminin.


Tanpa membuang waktu, Gendhis segera naik. Dia mengenakan helm setelah duduk di belakang Sinta. “Jalan, Mbak,” ucapnya sambil menepuk pundak rekan kerjanya tersebut.


Sinta kembali melajukan kendaraan roda dua yang dia kemudikan. Motor matic berwarna hitam itu mengarah ke salon yang biasa dirinya kunjungi untuk melakukan perawatan kecantikan. Jaraknya memang tidak terlalu jauh. Namun, karena kondisi jalanan yang ramai, sehingga laju motor menjadi tersendat-sendat.


Beberapa saat kemudian, Sinta membelokkan motor tadi memasuki kawasan ruko yang berjejer rapi. Dia menghentikan kendaraan roda duanya di depan salon kecantikan yang dituju. “Ayo. Kelihatannya nggak terlalu rame.” Sinta berjalan masuk terlebih dulu.


Sementara Gendhis mengikuti dengan raut wajah tak karuan. Pasalnya, baru kali ini dia melakukan perawatan kecantikan. Biasanya, Gendhis datang ke salon hanya untuk potong rambut. Itu pun terhitung setahun sekali.


“Eh, Teh Sinta,” sambut seorang gadis dengan ramah. “Mau apa, Teh? Facial, Creambath, atau ….”


“Gimana, Dhis? Kamu mau nyoba apa nih?” Bukannya menjawab pertanyaan karyawan salon tadi, Sinta malah bertanya kepada Gendhis.


"Paket lengkap ada nggak? Perawatan seluruh tubuh dari ubun-ubun sampai telapak kaki. Kalau di gerai fastfood itu seperti pesan ayam krispi lengkap dengan burger, nasi, kentang goreng plus soft drink dan es krim," jawab Gendhis sambil memasang raut wajah tanpa dosa.


"Memang ada acara apa sih, Dhis? Kok kamu kelihatan semangat banget," bisik Sinta yang penasaran akan sikap aneh rekan barunya itu.


"Itu ... . Ehm, anu, Mbak. Aku ... ." Gendhis terbata. Dia lalu menggaruk-garuk kepalanya.


"Apa?" Sinta semakin penasaran.


"Ang ... anu, maksudku Pak Manggala. Dia ... dia mengajak aku kencan nanti malam," jawab Gendhis, yang sontak membuat Sinta terkejut dan berkaca-kaca.

__ADS_1


__ADS_2