
“Aku harap kali ini nggak ada yang mengganggu kita ya, Dhis,” ujar Manggala. Dia mencium Gendhis untuk beberapa saat. Lihai, tangannya menanggalkan pakaian Gendhis hingga menyisakan sepasang pakaian dalam berwarna putih tulang. Manggala seakan tak sabar menunggu sampai penghulu mengikrarkan ikatan yang sah. Dia membopong tubuh Gendhis yang sudah semi polos dan membaringkannya dengan hati-hati di ranjang.
Sejenak, Manggala terdiam sambil memandangi setiap inci tubuh molek Gendhis, dari ujung kepala sampai kaki. Tak puas dengan kondisi sang kekasih, Manggala melepas sisa pakaian yang menutupi tubuh indah gadis itu, “Ngga, jangan melotot begitu. Aku malu.” Gendhis berusaha menutupi bagian-bagian paling pribadi dari tubuhnya.
Namun, tangan Manggala sigap mencegahnya. Pria tampan berambut gondrong itu mengungkung Gendhis yang terlihat tak berdaya. Dia begitu menikmati tubuh indah berbalut kulit mulus kuning langsat yang terasa begitu halus. “Kamu cantik sekali, Dhis,” desisnya disertai embusan napas yang hangat dan berat. Tak ingin membuang waktu, Manggala segera melakukan serangan pertama. Bibir Gendhis lah sasarannya. Manggala melu.mat habis sampai puas, sebelum menurunkan wajah ke dada sang kekasih.
“Ngga,” desah Gendhis. Suaranya terdengar amat lemah, seiring dengan gairah yang semakin memuncak tatkala Manggala memanjakannya dengan sentuhan dan ciuman memabukkan. Namun, semua itu harus berakhir ketika terdengar ketukan kencang di pintu.
“Den, ada tamu!” seru salah seorang pembantu rumah tangga di rumah Manggala.
Akan tetapi, sang tuan rumah tak menghiraukan panggilan itu. Dia terus saja mencumbu Gendhis.
“Den, ada Pak Hery dari dewan redaksi dan Bu Sinta katanya,” seru si pembantu lagi.
“Ck, sialan!” umpat Manggala kesal. Dia tak punya pilihan selain menyudahi kegiatan panasnya bersama Gendhis.
Entah sebuah keberuntungan, ataukah kesialan bagi Gendhis, ketika Manggala memakaikan kembali pakaiannya. “Maaf ya, Sayang. Sepertinya ini mendesak.” Manggala yang tak dapat menyembunyikan raut kecewanya, mencium kening Gendhis lembut sembari merapikan rambut sang kekasih menggunakan jemarinya. “Turun sekalian, yuk,” ajak Manggala.
Gendhis yang masih gemetar dan berdebar, hanya menanggapinya dengan anggukan pelan. Dia pun mengikuti langkah gagah Manggala ke lantai bawah. Sesampainya di ruang tamu, dua orang tamu yang Gendhis kenal sebagai rekan kerjanya, berdiri menyambut Manggala.
“Mbak Sinta,” sapa Gendhis salah tingkah saat Sinta menatapnya dengan sorot tak percaya.
“Dhis? Kamu di sini?” Sinta seperti memaksakan senyumnya.
“Iya, diajak dia,” telunjuk Gendhis lurus mengarah pada Manggala yang berdiri di sebelahnya.
“Kenapa kalian nggak telepon aja, sih?” protes Manggala pelan.
“Tadi saya sudah berusaha telepon, Pak. Namun, nomor bapak tidak aktif,” balas Hery sopan.
“Astaga. Iya, juga.” Manggala meringis seraya menggaruk dahi saat teringat bahwa dirinya memang sengaja mematikan telepon genggamnya.
“Maaf kalau kami mengganggu. Ini terkait dengan Majalah Nirwana yang masuk nominasi sebagai media cetak yang memproduksi konten terbaik,” tutur Hery.
“Oh, ya?” Gendhis terbelalak antusias.
“Iya, Dhis. Nirwana Media sudah jadi langganan penghargaan tiap tahunnya. Sekarang giliran Majalah Nirwana yang sedang naik daun. Padahal, majalah kita termasuk pendatang baru,” jelas Hery. “Beruntung kita punya Pak Manggala selaku pemimpin umum Nirwana Media, sekaligus pimpinan redaksi Majalah Nirwana,” lanjutnya.
__ADS_1
“Wah, hebat,” Gendhis bertepuk tangan penuh semangat. Matanya berbinar memandang Manggala.
“Itulah tujuan kami ke sini, Pak. Saya ingin meminta izin untuk mengkoordinasi undangan pesta penghargaan. Anda yang akan menerima pialanya,” tutur Hery.
“Boleh, atur saja,” ucap Manggala setelah berpikir untuk beberapa saat.
“Gendhis juga datang, ya,” ajak Sinta seraya tersenyum simpul. Satu tangannya lembut menyentuh lengan Gendhis.
“Oh, tentu. Aku pesan satu kursi ekstra untuk Gendhis di ajang penghargaan,” sahut Manggala.
“Siap, Pak. Akan saya catat,” Hery mengangguk patuh.
“Memangnya, kapan sih acaranya, Mbak Sinta?” tanya Gendhis setengah berbisik.
“Minggu depan, Dhis,” jawab Sinta sambil berbisik pula.
“Oh,” Gendhis manggut-manggut.
“Kita punya waktu seminggu ke depan untuk mengatur semuanya,” sela Manggala sebelum Gendhis sempat bertanya lebih lanjut.
"Besok pagi jam delapan tepat, ya,” putus Manggala sambil melirik nakal ke arah Gendhis.
Gendhis sendiri sudah hendak membalas perlakuan sang kekasih, ketika tiba-tiba ponselnya berdering. Nama Hanum tertera di sana. Tak biasanya sang kakak menelepon Gendhis, sebab biasanya Hanum lebih sering berkabar melalui aplikasi chat saja.
“Mbak?” sapa Gendhis ragu-ragu. Perasaannya semakin tak enak ketika Hanum membalas sapaannya dengan isakan lirih. “Kenapa, Mbak?”
“Papa, Dhis ….” Hanum terbata membuat Gendhis semakin was-was.
“Papa kenapa, Mbak?” tanya Gendhis tak sabar.
“Papa jatuh di kamar mandi, Dhis. Papa sempat nggak sadar, tapi sekarang sudah dibawa ke rumah sakit,” papar Hanum sembari menangis.
“Ya, Tuhan, Papa,” tubuh Gendhis terasa lemas. Terbayang sang papa yang biasanya ceria, kini harus terbaring tak berdaya. Dirinya semakin kalut ketika membayangkan segala kemungkinan buruk yang terjadi pada Susena.
“Papa kamu kenapa, Dhis?” Manggala yang lebih dulu menangkap gelagat tak wajar dari mimik muka Gendhis, segera merengkuh tubuh ramping sang kekasih dan mendekapnya erat.
“Papa jatuh di kamar mandi, Ngga,” Gendhis mulai menangis tersedu sambil membenamkan wajahnya di dada bidang Manggala.
__ADS_1
“Astaga,” Sinta ikut terkejut. Dia menutup mulutnya yang terbuka dengan kedua tangan.
“Kita pulang ke Jogja. Kuantar sekarang,” putus Manggala.
Akan tetapi, Gendhis tak segera mengiyakan. Dia tampak berpikir selama beberapa saat sebelum akhirnya menggeleng kuat-kuat. “Jangan, Ngga. Kamu sibuk. Kehadiranmu sangat penting di kantor. Ingat, Ngga. Ada ajang penghargaan bergengsi yang harus kamu hadiri. Kredibilitas dan nama baik media yang menjadi taruhannya,” cegah Gendhis.
“Tapi aku nggak bisa membiarkanmu pulang sendiri ke Jogja dalam kondisi seperti ini, Dhis. Ditambah lagi aku juga khawatir dengan kondisi Om Susena,” sanggah Manggala.
“Doakan papa baik-baik saja. Aku tidak selemah yang kamu kira, Ngga,” tolak Gendhis tetap pada pendiriannya.
“Kalau begitu, biar kuantar ke bandara sekaligus membeli tiket di sana. Kali ini kamu nggak boleh menolak!” tegas Manggala.
Melihat raut wajah galak yang tak menerima penolakan, Gendhis akhirnya mengangguk lemah. “Ya, sudah. Kita pulang dulu ke rumah nenek,” putusnya.
“Oke, aku siap-siap sebentar,” ujar Manggala dengan tatapan mengarah pada Hery dan Sinta. Walaupun tanpa kata-kata, dua orang tersebut sudah sangat paham akan maksud sang atasan.
“Kami juga pamit dulu, Pak. Bisa kita lanjutkan besok, ya,” Hery mengangguk setengah membungkuk, lalu membalikkan badan dan meninggalkan kediaman Manggala.
Tak sampai setengah jam, Manggala sudah siap mengantarkan Gendhis ke rumah Nenek Sri. Tak disangka, reaksi Nenek Sri jauh lebih heboh dari Gendhis, sehingga putri kedua Susena tersebut memutuskan untuk mengajak neneknya ikut pulang ke Yogyakarta.
“Astagfirullah, kok papa kamu bisa jatuh segala sih. Gimana ceritanya kok sampai jatuh? Bagaimana bisa?” Nenek Sri terus mengoceh bagaikan komentator sepak bola.
“Mana aku tahu lah, Nek. Aku kan di Bandung, papa jatuhnya di Yogya. Gimana sih, Nenek,” sahut Gendhis enteng. Namun, mimik wajahnya tetap menunjukkan kegelisahan yang teramat sangat.
“Bukan gitu maksud Nenek, tapi kan papa kamu tuh jalannya masih normal. Kok bisa jatuh?” Nenek Sri tidak habis pikir.
“Entahlah, Nek. Mungkin mata kakinya lagi merem kali,” jawab Gendhis sekenanya.
“Kamu ini, orang Nenek nanya serius malah jawab ngawur kayak gitu,” gerutu Nenek Sri.
“Lagian pertanyaan Nenek juga nggak masuk akal. Kenapa Valentino Rossi jatuh dari motor, padahal dia juara dunia Moto GP,” sahut Gendhis.
“Siapa itu Valentino Rossi? Temen kamu yang mana lagi? Inget ya, Neng. Kamu itu sebentar lagi mau nikah. Kamu mesti jaga jarak sama laki-laki lain,” pesan Nenek Sri membuat Gendhis mengembuskan napas penuh keluhan. Saat itu, Gendhis hanya berharap agar bisa segera tiba di kota tujuan.
“Duh, ini pesawat berhentinya di mana sih? Kenapa nggak turun-turun dari tadi?” ujar Nenek Sri sambil berdiri. Dia melihat ke sekeliling pada penumpang lain yang ada di sana.
“Kalau Nenek mau turun duluan nggak apa. Nanti aku bilangin ke pramugarinya. Suruh bukain pintu,” celetuk Gendhis tanpa rasa bersalah sama sekali.
__ADS_1