Mengejar Cinta Sang Duda

Mengejar Cinta Sang Duda
Malam Pilu


__ADS_3

Gendhis tak mempedulikan puluhan panggilan tak terjawab yang terus masuk ke telepon genggamnya. Dia sibuk mengemasi barang-barang ke dalam dua koper berukuran besar. Gendhis memutuskan untuk pulang ke Yogyakarta secepatnya.


“Mbak Gendhis ke Yogya lagi? Terus saya gimana?” Ceu Imas memandang pilu dari ambang pintu kamar Gendhis.


“Gimana apanya sih, Ceu?” celetuk Gendhis tanpa mengalihkan perhatiannya pada tumpukan baju yang sudah tertata rapi di dalam koper.


“Sebenarnya saya takut sendirian,” ungkap Ceu Imas seraya berjalan mendekat. Dia mulai membantu Gendhis mengemas barang-barang yang akan dibawa pulang ke Yogyakarta.


“Kan ada Pak RT dan tetangga sebelah?” cetus Gendhis asal.


“Ih, ogah. Pak RT bau jengkol, tetangga sebelah udah tua. Kalau ada apa-apa, saya yang susah,” sahut Ceu Imas sedikit sewot. Namun perkataan kocak itu membuat Gendhis tertawa pelan. Lumayan untuk menghibur hati yang pilu, begitu pikir Gendhis.


“Ya, sudah. Saya tidur dulu, Mbak. Mbak Gendhis mau sarapan apa buat besok pagi?” tawar Ceu Imas.


“Apa saja bisa, Ceu. Asal makanan yang bisa dimakan,” jawab Gendhis cuek.


“Ya, iyalah, Mbak. Emang Mbak mau saya suguhin kembang? Udah kayak artis horor aja, makan kembang,” cerocos Ceu Imas seraya berlalu, meninggalkan Gendhis yang kembali sendirian di dalam kamar.


Dalam keheningan itu, dirinya teringat pada pertemuannya tadi petang bersama Royani. Wanita paruh baya itu tampak begitu terkejut mendengar keputusan Gendhis. Namun setelah Gendhis menjelaskannya perlahan dan hati-hati, ibunda Manggala tersebut pada akhirnya dapat menerima, walaupun sangat terpaksa.


“Setidaknya tunggulah sampai Mahendra atau Manggala datang, Nak Gendhis,” pinta Royani saat itu.


“Maaf, Tante. Saya masih belum siap bertemu Angga. Saya takut hati saya goyah,” Gendhis tak kuasa menahan tangis di hadapan Royani. Dia tergugu di depan wanita sederhana yang selalu bersikap hangat dan penuh kasih sayang padanya. Padahal Royani belum lama mengenal Gendhis. Akan tetapi, sikap wanita itu selalu tulus padanya.


“Bolehkah Tante memeluk Gendhis untuk yang terakhir kalinya?” pinta Royani hati-hati.


“Tante ….” Tanpa pikir panjang, Gendhis segera menghambur dan memeluk wanita itu erat-erat. Dia menumpahkan segala rasa sedih dan sakit hatinya di sana. Entah kenapa, rasanya percintaan seperti menjadi hal yang mustahil terjadi pada seorang Gendhis.


Setelah menangis hingga lega sampai mata membengkak, Gendhis berpamitan pulang. Beruntung saat itu Manggala belum terlihat memasuki rumah. Mungkin dia sedang mengantarkan Sinta pulang. Gendhis tak mau membayangkannya karena terlalu menyakitkan.

__ADS_1


“Mbak,” panggil Ceu Imas membuyarkan lamunan Gendhis.


“Ya?” Gendhis segera menoleh. Tak lupa dia menyeka air matanya.


“Ada mas ganteng di bawah. Dia pengen ketemu Mbak Gendhis katanya,” ujar Ceu Imas.


“Bilangin kalau aku sudah tidur, Ceu,” sahut Gendhis dengan segera.


“Oke,” Ceu Imas mengangkat dua jempolnya, lalu berbalik. Terdengar langkah kaki wanita yang sedikit tambun itu menuruni anak tangga. Tak lama kemudian, Ceu Imas kembali ke kamar Gendhis. “Katanya, mas ganteng mau nungguin Mbak Gendhis sampai bangun,” ujarnya sambil memasang wajah berseri-seri.


“Ya, udah. Suruh tunggu sampai besok pagi,” sahut Gendhis ketus.


“Oh, jadi mas ganteng boleh nginep sini? Kalau gitu saya lapor Pak RT dulu, ya!” seru Ceu Imas penuh semangat.


“Eh, tunggu, tunggu!” Gendhis buru-buru mencegah Ceu Imas sebelum wanita itu menuruti ide gilanya. “Aku cuma bercanda, Ceu.”


“Jadi, gimana ini?” Ceu Imas harap-harap cemas menunggu jawaban Gendhis. “Mas ganteng disuruh tidur di kamar emak juga nggak apa-apa, Mbak,” cetusnya.


“Tapi ini masih kurang sepuluh menit, Mbak,” Ceu Imas masih bersikeras.


“Ya, ampun,” Gendhis mengacak-acak rambutnya. Dia merasa beban hidupnya semakin bertambah dengan tingkah laku absurd Ceu Imas.


“Ya, udahlah. Mana dia. Biar aku temuin sebentar,” Gendhis berdecak pelan. Dengan sangat terpaksa, dia menemui Manggala yang menunggunya di ruang tamu. Wajah pria tampan itu tampak kusut. Rambutnya sedikit acak-acakan. Matanya pun memerah. Entah karena habis menangis atau mabuk.


“Dhis,” Manggala segera berdiri ketika gadis yang berhasil mematahkan hatinya itu melangkah mendekat.


“Mau apa lagi kamu ke sini, Ngga?” tanya Gendhis.


“Kita harus bicara,” Manggala memberanikan diri untuk maju dan meraih tangan Gendhis. Gendhis sendiri tak berusaha menolak. Dia membiarkan pria tampan itu menggenggam tangannya erat-erat.

__ADS_1


“Apa maksudmu meminta ibuku untuk mengganti nama mempelai wanita di undangan cetak dengan nama Sinta?” tanya Manggala dengan nada keberatan.


“Bukankah itu lebih baik, Ngga? Kamu nggak perlu batal menikah. Kamu tetap bisa melangsungkan akad dan resepsi bersama Mbak Sinta. Lagipula masih ada waktu untuk mengurus ulang surat-surat pengantar ke KUA,” terang Gendhis sambil memaksakan senyum.


Berbeda halnya dengan Manggala yang langsung berubah tegang. Wajahnya merah padam dengan sorot mata tajam tertuju pada Gendhis. “Aku hanya mau menikah denganmu, Dhis,” Manggala menjatuhkan harga dirinya lagi. Dia memohon, lalu berlutut di hadapan sang kekasih.


“Aku yang nggak mau, Ngga,” air mata Gendhis menetes saat berkata demikian. “Pulanglah, sekarang sudah jam sembilan lebih. Sebentar lagi pak RT datang,” ujarnya berbohong.


“Beri aku kesempatan, Dhis!” nada bicara Manggala meninggi seiring Gendhis menaiki anak tangga kembali ke kamarnya.


“Beri Mbak Sinta kesempatan,” balas Gendhis sesampainya di anak tangga teratas. Setelah itu dia berbalik dan tak menoleh lagi. Gendhis memasuki kamar dan menguncinya rapat-rapat.


Gadis berusia dua puluh tujuh tahun itu lalu merebahkan diri di atas ranjang dan menutupi mukanya dengan bantal. Gendhis mulai berteriak kencang di balik bantal itu dan menangis sejadi-jadinya. Entah sudah berapa lama dirinya berada dalam posisi tersebut. Dia sampai tak sadar kalau waktu telah berlalu sedemikian cepat.


Gendhis bangkit, kemudian beranjak turun dari ranjang. Pelan-pelan dia membuka pintu kamar dan mengintip ruang tamu dari lantai atas. Manggala sudah tak ada di sana. Lampu-lampu bahkan sudah dimatikan, berganti dengan lampu duduk di sudut ruangan yang memancarkan cahaya temaram.


Dia mengempaskan napas pelan, kemudian kembali ke kamar. Iseng dirinya menyingkap tirai jendela kamar dan melihat keluar. Tak disangka, Gendhis menangkap sosok Manggala di luar sana, berdiri di depan pagar dengan pandangan terarah kepada dirinya.


“Astaga,” de*sah Gendhis pelan. Dia menutup tirai dan bersembunyi di sisi jendela. Gendhis menyandarkan tubuh pada dinding. Pelan-pelan, tubuhnya melorot hingga Gendhis duduk meringkuk di atas lantai.


Gendhis memejamkan mata sambil memeluk lutut erat-erat. “Selamat tinggal, Ngga. Selamat tinggal,” bisiknya pilu. Sejuta kenangan tentang kebersamaannya bersama Manggala yang memang belum terlalu lama, berputar dalam benak Gendhis. Dia tak mampu menghalau bayang-bayang pria tampan itu di dalam kepalanya.


.


.


.


tarik napas, tahan dan mampir di karya keren yg satu ini yuk

__ADS_1



__ADS_2