Mengejar Cinta Sang Duda

Mengejar Cinta Sang Duda
Pria Istimewa


__ADS_3

Manggala tak banyak bicara saat mengendarai mobilnya kembali ke rumah Susena. Sikap pria itu membuat Gendhis menjadi serba salah. Gadis itu juga menjadi ikut terdiam. Gendhis lebih banyak mengalihkan pandangan ke luar jendela. Masih teringat dengan jelas di benaknya, apa yang baru saja dia lakukan bersama Manggala. Sesuatu yang baru dia rasakan seumur hidup.


Gendhis mengembuskan napas pelan. Rasa bersalah sekaligus bersyukur, bercampur menjadi satu di dalam dada. Malaikat berbisik di telinga kanan, sedangkan iblis mengomel di telinga kiri.


“Kamu sih, Dhis. Pakai acara angkat telepon papa segala. Diemin aja harusnya. Padahal udah nanggung banget loh. Kapan lagi ada kesempatan. Ingat ya, jangan sampai cowok kamu jadi kayak beli kucing dalam karung," bisik iblis bertanduk.


“Lain kali, jangan lagi mau diajak begituan, Dhis. Inget dosa. Ntar kalau malaikat maut datang pas kamu lagi maksiat gimana?” tegur malaikat bersayap dengan jubah putih.


“Manggala marah, tuh. Coba lihat mukanya yang kayak orang lagi kebelet pengen buang hajat, tapi ditahan,” balas iblis tak mau kalah.


Merasa penasaran, Gendhis lalu menoleh ke arah Manggala yang serius memegang kemudi. “Iya juga,” gumam Gendhis pelan.


“Kamu bilang sesuatu, Dhis?” tanya Manggala sembari menoleh.


“Ah. Eh, nggak.” Gendhis tergagap, lalu menunduk. Beberapa saat kemudian, dia kembali mendongak dan menoleh pada sang kekasih. “Kamu marah ya, Ngga?”


“Marah kenapa?” Manggala kembali menoleh, lalu memamerkan senyumannya yang lembut dan menawan.


“Gara-gara itu tadi ….” Gendhis berdehem. Wajahnya merona, saat teringat kembali pada adegan panas antara dirinya dan Manggala.


“Kenapa mesti marah? Masih banyak kesempatan di depan,” sahut Manggala tenang.


“Ih, kok gitu? Apa nggak sebaiknya kalau kita melakukan itu setelah sah sebagai suami istri?” timpal Gendhis hati-hati.


“Nggak masalah. Kalau aku kuat,” ujar Manggala dengan nada bercanda. Dia menepikan kendaraan, lalu melepas sabuk pengaman dan kembali mencium bibir Gendhis dengan hangat dan penuh perasaan. “Setelah makan malam nanti, aku akan meminta pada Om Susena untuk mempercepat acara pernikahan kita,” ujar Manggala dengan yakin, sesaat setelah melepaskan ciumannya.


“Astaga.” Gendhis menggeleng takjub. “Kamu bener-bener kebelet ya, Ngga.”


“Iyalah! Siapa yang nggak kebelet lihat calon istri secantik dan semolek ini.” Manggala yang gemas, segera mencubit dua pipi Gendhis dan memainkan wajah cantiknya seperti di villa tadi.


“Masa sih aku cantik dan molek? Perasaan Cuma kamu deh yang muji aku seperti itu,” ujar Gendhis setengah tak percaya.


“Itu artinya, tidak semua orang bisa melihat kecantikanmu yang tersembunyi, Dhis. Hanya orang-orang pilihan saja. Aku bangga menjadi salah satu dari orang istimewa itu,” ucap Manggala. Sorot matanya begitu dalam beradu pandang dengan Gendhis, seolah mencoba menyelami isi hati gadis tomboy yang sudah berubah menjadi cantik itu.


“Kenapa sih kamu jago banget ngegombal." Bukannya bahagia atas kata-kata indah Manggala, Gendhis malah merengut. Namun, Manggala memilih untuk tak menanggapi. Dia memasang sabuk pengaman, kemudian melanjutkan perjalanan sampai tiba di halaman depan rumah Susena. Di teras, ayah Gendhis tersebut sudah berdiri menyambut kedatangan putri keduanya.

__ADS_1


“Ya, ampun. Dari mana saja sih kalian? Jenguk orang sakit apa ikut rawat inap?” celetuk Susena.


“Sekalian jalan-jalan, Om,” jawab Manggala sopan. “Saya mengajak Gendhis ke Sleman. Ke villa saya,” lanjutnya.


“Oo,” Susena manggut-manggut sambil mengelus-elus dagu.


“Rencananya kami akan mengadakan akad dan resepsi pernikahan di sana. Itu juga jika Om Susena setuju,” imbuh Manggala sopan.


“Asal kalian berdua sudah benar-benar mantap, ya. Tidak ada lagi tragedi pembatalan seperti dulu,” ujar Susena. “Kalau saya sih, mau di mana aja prosesinya yang penting sah.”


“Syukurlah.” Manggala dapat bernapas lega. Satu kata sepakat sudah dia dapatkan.


“Makan dulu, yuk. Lapar, nih.” Gendhis yang mulai gelisah ketika perutnya sudah bernyanyi, segera menarik lengan Manggala.


“Hanum masak kepiting yang jalannya lurus, Dhis,” celoteh Susena saat mereka bertiga berjalan menuju ruang makan.


“Emang ada kepiting jalannya lurus, Pa?” Gendhis mengernyit tak percaya.


“Iyalah, kalau sudah tobat pasti menuju ke jalan yang lurus,” kelakar Susena. Namun, terdengar begitu garing di telinga Gendhis, membuat gadis itu mendengkus kesal. Lain halnya dengan Manggala yang seketika terbahak.


“Wah, ketawa dia. Cocok kayaknya sama humor Papa.” Susena terpana menatap Manggala. “Semoga kalian berdua memang berjodoh,” pungkasnya sebelum memulai acara makan malam bersama.


“Besok kami kembali ke Bandung, Om. Kami memutuskan untuk menyewa jasa wedding organizer. Mereka yang akan mengatur semuanya, mengingat kesibukan saya dan Gendhis yang tidak dapat ditinggalkan,” tutur Manggala.


“Kalau saya sih terserah kalian mau pakai jasa apa. Yang penting semuanya bisa lancar terlaksana,” tandas Susena.


“Iya, Om. Saya akan memastikan semuanya berjalan lancar sampai Gendhis sah menjadi istri saya,” tegas Manggala. Dia rupanya tak main-main dengan kalimat itu.


Terbukti dengan sepulangnya Manggala dari Yogyakarta, dia benar-benar melaksanakan ucapannya.


Walaupun memakai jasa wedding organizer, Manggala tetap memastikan semuanya agar sempurna.


Gendhis pun semakin akrab dengan keluarga Manggala. Dia sering sekali berkomunikasi dengan Ibu Royani, ibunda sang kekasih.


Tak jarang pula, Gendhis mampir ke rumah Manggala setiap pulang kerja. Dia akan menghabiskan waktu cukup lama hanya untuk mengobrol bersama Royani, Mahendra, dan bahkan Diwan, adik kandung Manggala.

__ADS_1


Seperti petang itu, ketika keluarga calon suaminya tengah berkumpul di gazebo taman belakang rumah Manggala. Mahendra tiba-tiba bertanya tentang perkembangan persiapan resepsi. “Sudah hampir delapan puluh persen, Pa,” jawab Manggala bangga.


“Wah, cepat juga, ya. Udah nggak tahan nih, kayaknya,” goda Mahendra.


“Iya, Om. Buktinya ….” Belum selesai Gendhis bicara, Manggala sudah lebih dulu membungkam mulut kekasihnya.


“Dhis, aku tunjukin kolam koiku di belakang, yuk,” ajak Manggala berusaha mengalihkan pembicaraan.


“Wah, ingat kolam koi, jadi ingat kalau kita ada undangan makan-makan di rumah Bu Sastra, Ma,” ujar Mahendra seraya mencolek lengan sang istri.


“Aku ikut, Pa!” seru Diwan penuh semangat.


“Tumben kamu mau ikut?” Royani mengernyitkan kening.


“Ah, Mama masa nggak ngerti,” sahut Mahendra. Dia lalu mendekatkan bibirnya ke telinga sang istri. “Anak bungsu Bu Sastra kan cantik tuh. Udah abege juga,” ucapnya dengan cukup nyaring, sehingga semua yang ada di sana dapat mendengar dengan jelas.


“Aduh, Papa. Kirain mau bisikin pelan-pelan,” protes Royani sambil memukul pelan lengan suaminya.


“Iya nih, Papa. Bikin harga diriku anjlok,” timpal Diwan dengan tak acuh.


Royani berdecak pelan. Dia mengalihkan perhatian pada Manggala dan Gendhis. “Kalian ikut juga, ya,” ajaknya dengan wajah penuh harap.


“Aduh, gimana ya, Ma. Satu jam lagi kami ada meeting online bersama teman-teman,” dalih Manggala demi menolak secara halus permintaan sang ibu. Gendhis yang tak merasa memiliki agenda seperti yang disebutkan oleh calon suaminya tadi, langsung mengernyit kebingungan.


“Yah,” ucap Mahendra dan Royani secara bersamaan.


“Nggak apa-apa, Pa. Lain kali aja kita adain makan-makan khusus buat kak Gendhis,” sela Diwan. “Yuk, siap-siap,” ujarnya kemudian. “Lah, kok malah diem. Ayo!” Melihat kedua orang tuanya masih dalam posisi duduk, Diwan segera menarik kedua lengan Mahendra dan Royani untuk masuk ke dalam rumah.


Tak membutuhkan waktu lama sampai mereka selesai bersiap-siap. “Nanti kalau kamu keluar, jangan lupa tutup pintu garasinya,” pesan Mahendra sebelum mobil yang dia kendarai melaju pelan, meninggalkan kediaman asri tersebut.


Sementara, Gendhis terus melambaikan tangan sampai kendaraan calon mertuanya tak terlihat dari pandangan. Gadis itu lalu mengalihkan pandangan pada Manggala yang ternyata juga tengah menatap ke arahnya. “Meeting apaan sih, Ngga? Kok aku nggak tahu, ya?” tanya Gendhis kebingungan.


“Cuma alasan saja biar kita nggak usah ikut,” Manggala menyunggingkan senyuman penuh arti. Dia menggandeng tangan Gendhis lembut, dan mengajaknya meniti anak tangga ke lantai dua. “Aku tuh paling males kalau sudah ada acara kayak begituan. Obrolannya nggak nyambung.”


“Kita mau ke mana?” tanya Gendhis. Jantungnya mulai berdebar tak karuan saat Manggala menuntunnya hingga tiba di depan sebuah kamar yang pintunya dipenuhi stiker khas bergambar komunitas motor.

__ADS_1


“Aku mau nunjukin kamarku ke kamu,” jawab Manggala seraya membuka pintunya lebar-lebar, lalu menguncinya saat Gendhis sudah masuk ke dalam.


“Ngga,” suara Gendhis bergetar saat tangan Manggala nakal menggerayangi seluruh tubuhnya.


__ADS_2