Mengejar Cinta Sang Duda

Mengejar Cinta Sang Duda
Obat Hati


__ADS_3

Gendhis buru-buru berlari masuk ke rumah. Tanpa memedulikan Hanum yang sibuk mengejar-ngejar dua putranya, gadis tomboy itu melintasi ruang tamu begitu saja tanpa menghiraukan apapun. Dia bahkan sempat menabrak sofa dan terjungkal di sana. Tujuan utamanya adalah kamar. Di ruangan itu, Gendhis langsung menurunkan sebuah koper besar dan juga ransel dari atas lemari.


Setelah meletakkan kedua benda tadi di atas ranjang, Gendhis membuka lemari dan mengeluarkan semua pakaian yang sebagian besar berjenis kaus dan celana jeans.


Kebetulan, saat itu Susena melintas di depan kamar Gendhis dengan pintu terbuka lebar. Pria paruh baya tersebut terheran-heran melihat tingkah putrinya. “Mau ke mana, Dhis? Kok baju-bajunya dimasukkan koper semua?” tanya Susena.


“Aku mau melarikan diri, Pa. Pergi jauh dari sini!” jawab Gendhis berapi-api.


“Kenapa harus melarikan diri? Memangnya kamu punya utang sama orang? Apa kamu ikut arisan panci tapi tidak bayar?” cecar Susena tanpa jeda.


“Lebih parah dari itu, Pa. Ini tentang harga diri!” tegas gadis itu tanpa berhenti memasukkan baju-bajunya. Sesaat kemudian, Gendhis mengeluarkan lagi separuh dari baju-baju yang sudah terlipat rapi di dalam koper.


“Kenapa dikeluarkan lagi?” Susena makin keheranan melihat tingkah putrinya.


"Kebanyakan. Aku malas membawa barang terlalu berat," balas Gendhis asal.


"Memangnya kamu mau ke mana, sih?" Susena mulai tak sabar.


"Pokoknya bersembunyi untuk sementara waktu, Pa. Aku malu sama Bu Wiryo dan para tetangga yang sudah menerima kartu undangan." Wajah cantik itu mendadak murung.


"Ya ampun, Nak. Sudah. Jangan terlalu memikirkan omongan tetangga. Nanti lama-lama juga mereka akan lupa kalau ada kejadian seperti ini. Biar Papa saja yang menjelaskan pada mereka," ujar Susena tenang.


“Aha! Aku tahu tempat persembunyian yang asyik!” seru Gendhis seraya menjentikkan jari.


Dia tak menggubris ucapan sang ayah. “Aku akan menenangkan diri di rumah nenek saja. Di Bandung,” cetusnya.


“Ah, nanti malah nenek yang tidak tenang,” ujar Susena cemas.


“Baiklah. Aku akan ke kantor sekarang,” ucap Gendhis. Lagi-lagi, dia tidak memedulikan kalimat Susena, seolah sang ayah dianggap tak ada di sana.


“Bukannya kamu izin tidak masuk hari ini?" Susena kini sibuk mengikuti langkah putrinya menuruni tangga ke lantai bawah, dan langsung menuju garasi.


"Aku harus mengajukan cuti," sahut Gendhis sambil membuka pintu mobil, lalu duduk di belakang kemudi.


"Mengajukan cuti? Jadi, kamu serius mau pergi ke Bandung?" Susena terbelalak tak percaya.


"Ya serius dong, Pa. Daripada berlarut-larut dalam kesedihan, mending bersenang-senang bersama nenek," ujar Gendhis penuh semangat.


"Sepertinya nenekmu tidak akan senang," gumam Susena sambil mengusap-usap dagunya. Akan tetapi, Gendhis sudah terlanjur menyalakan mesin mobil dan langsung tancap gas.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, Gendhis sudah merangkai kata sedemikian rupa untuk disampaikan kepada pemimpin redaksi agar menyetujui pengajuan cutinya. Namun, sesampainya di depan sang atasan, Gendhis malah kebingungan. Kata-kata yang sudah tersusun rapi di benaknya menguap seketika.


"Lho, Mbak Gendhis? Katanya hari ini mau izin," ujar pria yang berusia seumuran Susena.


"Iya, Pak Bagus. Mengenai hal itu ... ehm ...." Gendhis menggaruk-garuk kulit kepalanya yang tak gatal. "Saya ingin memperpanjang izin saya," sambung Gendhis beberapa saat kemudian.


"Wah. Seperti mengurus SIM saja, ya? Harus ada perpanjangan," kelakar sang pemimpin redaksi yang bernama Bagus. "Memangnya Mbak Gendhis mau izin cuti sampai berapa lama?"


"Nah itulah, Pak. Saya juga bingung ini. Bagaimana kalau dua bulan?" tawar Gendhis. Dia berpikir bahwa rentang waktu selama itu, akan cukup untuk membuat Bu Wiryo dan anggota geng melupakan kasus pernikahan Gendhis yang batal.


"Wah, Mbak. Kalau dua bulan itu bukan cuti namanya, tapi mengundurkan diri," protes Bagus menggelengkan kepalanya pelan.


Sebenarnya, dia sangat menyukai sosok Gendhis yang enerjik. Apalagi hasil jepretan kamera gadis itu selalu terlihat sempurna. Sayang, sikap Gendhis yang kadang seenaknya sendiri, kerap membuat pria paruh baya tersebut menjadi kesulitan.


"Wah, bapak sudah memberikan saya ide," celetuk Gendhis setelah beberapa saat berpikir.


"Ide apa?" Bagus mulai terdengar ragu.


"Bagaimana kalau saya mengundurkan diri saja?" cetus Gendhis seraya mengangkat jari telunjuknya.


"Lho, piye to iki? Tadi bilangnya mau cuti. Sekarang malah minta mengundurkan diri. Anda jangan main-main lho, Mbak Gendhis." Bagus mulai sewot. Terlebih saat dia melihat fotografer andalan Hello Girls itu hanya cengar-cengir tanpa rasa berdosa sama sekali.


"Mohon pengertiannya, Pak. Harap maklum karena saya sedang berada pada titik terendah dalam hidup saya. Ibarat jatuh, malah tertimpa tangga. Tangganya terbuat dari besi pula," rayu Gendhis sambil memasang raut memelas.


"Wah. Bagaimana, ya? Sebenarnya untuk muka tercoreng itu solusinya gampang, yaitu dengan memakai masker. Namun, memang yang berat itu malunya." Bagus kembali berpikir dalam-dalam, sebelum mengambil keputusan.


"Begini saja. Daripada mengundurkan diri, mending Mbak Gendhis saya pindahkan saja ke kantor pusat Hello Girls di Jakarta. Nanti saya buatkan surat tembusan untuk pemimpin redaksi di sana," saran Bagus.


"Bagaimana kalau Bandung saja, Pak? Sebab nenek saya tinggal di sana. Seperti yang bapak ketahui, papa saya asli Bandung, lalu menikah dengan mama yang asli Jogja. Jadilah tiga orang anak perempuan yang salah satunya adalah saya, Pak," jelas Gendhis percaya diri, walaupun apa yang dia bicarakan tak ada juntrungannya.


"Kan di Bandung tidak ada perwakilan kantor Hello Girls. Mbak Gendhis ini bagaimana, sih? Saya jadi ikut pusing memikirkannya," keluh Bagus sambil memijit pelipis.


"Oh, iya. Lalu, bagaimana dong, Pak? Saya inginnya di Bandung saja," rengek Gendhis.


"Ya, kalau mau ngotot ingin tinggal di Bandung, Anda harus siap bekerja pulang pergi," sahut Bagus.


"Kalau begitu ... saya siap, Pak," ucap Gendhis begitu yakin.


"Siap pulang pergi Jakarta-Bandung?" tanya Bagus memastikan.

__ADS_1


"Bukan. Maksudnya, saya siap mengundurkan diri," jawab Gendhis sambil tersenyum lebar.


"Oalah, Gusti! Yo wes lah, sak karep-karepmu!" gerutu Bagus. "Jadi, keputusannya adalah Mbak Gendhis mengundurkan diri?"


"Iya, Pak." Gendhis mengangguk mantap.


"Yakin?"


"Yakin, Pak!" seru Gendhis sambil mengambil sikap hormat.


"Yakin dengan keputusan ini?" Bagus menaikkan satu alisnya dan memandang Gendhis penuh arti.


"Iya. Saya yakin, Pak. Daripada harus bekerja, tapi pikiran tidak fokus dan malah ke mana-mana. Lebih baik saya mundur dan menenangkan diri saja," ucap Gendhis sok bijak.


"Hm, baiklah. Karena Mbak Gendhis sudah tetap pada pendirian, saya pun hanya bisa manut," balas Bagus seraya mengembuskan napas pelan seusai bicara demikian.


"Terima kasih, Pak!" Wajah cantik yang sempat murung, kini berubah ceria seutuhnya.


"Oh ya. Satu lagi, Mbak Gendhis. Anda harus membuat surat pengunduran diri, lalu kirimkan secara langsung atau via email. Paling lambat besok pagi," terang Bagus.


"Siap!" Gendhis mulai bergaya bak seorang tentara yang sedang mengambil sikap hormat.


"Oh, ada lagi ternyata!" seru Bagus ketika Gendhis sudah bersiap keluar dari ruangan itu.


"Apa, Pak?" Gendhis pun segera berbalik ke hadapan Bagus.


"Barangkali di Bandung atau Jakarta, Mbak Gendhis tiba-tiba membutuhkan bantuan di bidang finansial, maka jangan ragu untuk menghubungi teman saya." Bagus kemudian mengeluarkan sebuah kartu nama dari laci meja, lalu menyodorkannya kepada Gendhis.


"Manggala Naradipta," gumam Gendhis mengeja sebuah nama yang tertera di kartu. "Editor in Chief Nirwana Media," lanjutnya.


"Betul. Kabarnya Nirwana Media sedang mencari fotografer andal, untuk produk tabloid mereka yang baru beredar di pasaran sejak dua bulan yang lalu," terang Bagus.


"Pak Manggala juga orangnya ganteng, Mbak. Usianya kira-kira tiga atau empat tahun di atas Mbak Gendhis. Siapa tahu dia bisa menjadi pengobat patah hati Anda," kelakar Bagus, yang membuat mata indah Gendhis membulat seketika.


.


.


.

__ADS_1


Setampan apakah dia? Tunggu kelanjutannya, ya. Sambil menunggu, mampir dulu dong di karya keren yg satu ini



__ADS_2