
Gendhis tampak kesulitan saat hendak turun dari kendaraan. Dia membawa beberapa kantong belanja yang penuh dengan berbagai jenis produk perawatan kecantikan. Gendhis bahkan kesusahan menutup pintu mobil taksi, yang mengantarnya ke depan rumah. Beruntung, saat itu Ceu Imas sedang berjalan ke luar rumah untuk membuang sampah di tempat khusus yang sudah disediakan.
“Ceu!" seru Gendhis girang. "Kebetulan! Tolongin!” Gendhis mengangkat kedua tangannya yang penuh dengan kantong belanjaan.
“Apa itu, Mbak?” Ceu Imas mengernyitkan kening sambil berjalan menghampiri Gendhis.
“Ada deh,” jawab Gendhis tersenyum penuh arti, sambil menyodorkan empat dari lima kantong belanja berukuran jumbo. Dia sendiri menyisakan satu kantong di lengan kanannya.
“Berat banget, Mbak!” Ceu Imas yang penasaran, tak dapat menahan rasa ingin tahunya. Dengan segera, dia membuka kantong belanjaan itu. Seketika, janda tiga anak tadi terbelalak sempurna. “Ya, ampun! Banyak amat sampo-nya, Mbak? Memangnya mau dijual lagi? Apa Mbak berencana membuka toko kelontong?” cecarnya tanpa henti.
“Siapa yang bilang mau dijual lagi? Ini tuh buat aku. Aku akan melakukan perawatan,” jelas Gendhis sembari berlalu begitu saja, meninggalkan Ceu Imas yang bengong setelah mendengar jawaban gadis itu.
Berbeda dari hari-hari sebelumnya, saat ruang makan menjadi tempat yang lebih dulu dituju sesaat setelah Gendhis tiba di rumah. Sore itu, Gendhis langsung menuju kamar mandi. Dia bahkan tak berniat menunggu sampai Ceu Imas memasakkan air untuknya, Gendhis akan mandi menggunakan air dingin.
Gendhis melakukan hal itu selagi niatnya berkobar. Menyala kuat bagaikan api abadi. Terlebih karena beberapa waktu lalu, dia sempat membaca bahwa mandi air dingin sangat berkhasiat untuk menjaga keremajaan kulit. Walaupun mandi air dingin pada jam-jam tertentu juga memiliki efek samping yaitu menyebabkan rematik. Sama seperti yang sering dikatakan oleh Susena, sang ayah tercinta yang sudah lama tidak dia temui.
“Taruh di sini saja, Ceu!” tunjuk Gendhis ke bagian dalam kamar mandi.
“Semuanya?” tanya Ceu Imas semakin keheranan.
“Iya!” sahut Gendhis. Tak sabar, dia langsung meraih kantong belanja yang masih berada dalam genggaman janda bohay itu, lalu menutup pintu kamar mandi rapat-rapat. Tak berselang lama, dia membuka pintu kamar mandinya lagi. Gendhis lupa menaruh tas ransel yang berisi kamera mahalnya di tempat yang aman.
Kebetulan, Ceu Imas ternyata masih berdiri di depan pintu kamar mandi dengan wajah keheranan. “Tolong bawain ke kamar ya, Ceu. Awas, hati-hati bawanya. Di situ ada barang mahal,” pesan Gendhis mengingatkan.
__ADS_1
“Oke, Mbak. Jangan kha ….” Ceu Imas belum sempat menyelesaikan kalimatnya, tapi Gendhis sudah lebih dulu menutup pintu kamar mandi. Gadis tomboy itu benar-benar tak sabar melakukan serangkaian ritual perawatan tubuh. Sambil mengingat-ingat tayangan tentang kecantikan yang dia lihat di internet, Gendhis membongkar semua barang belanjaan yang dia beli.
Sementara Ceu Imas masih belum beranjak dari tempatnya. Apalagi, saat itu dia mendengar suara gaduh seperti barang jatuh dari dalam kamar mandi. “Mbak!” panggilnya. “Mbak nggak apa-apa, ‘kan?” tanya Ceu Imas khawatir.
“Aman, Ceu! Udah sana! Temenin nenek. Jangan sampai dia makan kacang telor lagi," seru Gendhis dari dalam kamar mandi.
Ceu Imas segera meletakkan ransel berisi kamera milik Gendhis di atas kasur. Asisten rumah tangga Nenek Sri itu pun keluar dari kamar Gendhis. Lagi pula, dia masih memiliki tugas lain.
................
Keesokan harinya, Gendhis sudah bangun pagi-pagi sekali. Dia sibuk memilih beberapa potong pakaian, yang baru dia beli kemarin bersama alat-alat kecantikan. Piihan Gendhis, akhirnya jatuh pada blouse kemeja berwarna kuning gading, dengan strip hitam di sepanjang kancing depan. Dia memadukan atasan berbahan sifon itu dengan celana panjang jenis kulot berwarna hitam.
"Wow!" decak Gendhis tak percaya dengan pakaian yang dikenakannya. Dia memperhatikan dirinya dalam pantulan cermin. Gendhis sempat berputar, melihat tampilannya dari belakang.
Pakaian sudah rapi. Kini, tinggal rambutnya yang belum dia sentuh. Gendhis masih bingung dengan tatanan rambut panjang yang tak pernah dia apa-apakan selain diikat ala ekor kuda. Berhubung tak ada ide sama sekali, Gendhis pun kembali mengikatnya seperti biasa.
"Selamat pagi, Nenekku yang cantik," sapa Gendhis kepada Nenek Sri yang baru selesai menata meja makan.
"Euleuh, euleuh ... cantik sekali. Memangnya ada acara spesial ya di kantor? Tumben rapi begini?" Nenek Sri tersenyum bangga melihat penampilan Grndhis yang tak biasa.
"Nggak juga, Nek. Aku mau cari suasana baru dengan penampilan yang baru," sahut Gendhis sambil duduk di salah satu kursi meja makan. Dia langsung mengambil piring, lalu membuka bungkusan nasi kuning yang sudah disiapkan oleh sang nenek. Gendhis mulai menyantap makanannya dengan lahap.
"Eh, eh, eh! Kalau sudah cantik begini, harusnya cara makan juga dibenerin, Neng," tegur Nenek Sri. "Masa udah cantik kayak artis sinetron, tapi cara makannya kayak kuli bangunan." Nenek Sri menggeleng pelan.
__ADS_1
Gendhis terdiam sejenak. Dia memandang sisa nasi kuning di dalam piring.
"Makan pelan-pelan. Kunyah sebanyak tiga puluh tiga kali. Jangan langsung ditelan. Kamu kan giginya masih lengkap, nggak kayak nenek," ujar Nenek Sri.
"Baiklah. Akan aku coba," sahut Gendhis seraya melanjutkan sarapan yang sempat terjeda hingga habis.
"Ingat, bungkusnya nggak usah dimakan juga," celetuk Nenek Sri, ketika Gendhis mencomoti sisa nasi kuning yang tinggal beberapa biji dalam kertas nasi.
"Ah, Nenek bisa aja. Aku udah lama nggak makan kertas. Sekarang ganti makan plastik, biar kulit kenceng," sahut Gendhis seraya meraih ranselnya. Dia bersiap untuk berangkat ke kantor. Gendhis berjalan dengan terburu-buru menuju pintu keluar.
"Ish, ish, ish!" seru Nenek Sri. "Kalau sudah cantik begitu, cara jalannya dibenerin juga dong. Jangan kayak petinju kelas berat yang mau tanding di dalam ring," tegurnya.
Gendhis seketika tertegun. Dia menoleh kepada sang nenek yang berdiri sambil memegangi gagang sapu ijuk. "Iya, Nek. Aku bakal berjalan dengan anggun mirip kucing," sahut Gendhis malas. Dia memutar handle pintu dengan gerakan perlahan agar terlihat anggun. Ketika pintu sudah terbuka, Gendhis memegangi daunnya lalu melebarkan perlahan. "Pergi dulu, Nek," pamit Gendhis lemah lembut, sambil melambaikan tangan khas para peserta di ajang kecantikan internasional.
"Nah, begitu kan lebih bagus," balas Nenek Sri membalas lambaian tangan Gendhis.
Gendhis tersenyum manis. Dia menutup pintu rapat-rapat, lalu keluar. Di pinggir jalan, seorang driver ojek online sudah menunggunya. Gendhis berjalan anggun ke arah sang driver. "Ya ampun. Mau terlihat cantik kok ribet banget sih," keluhnya.
"Pagi, A. Sudah siap berangkat?" sapa Gendhis.
"Berangkat ke mana, Teh?" sang driver balik bertanya.
"Lah, kok malah nanya?" protes Gendhis.
__ADS_1
"Oh, Teteh yang pesen ya?" Si pengendara tertawa renyah. "Bilang dong dari tadi," ujarnya tanpa rasa bersalah.
"Yaelah, gimana sih?" Gendhis berdecak pelan. Baru saja dia akan naik ke jok belakang, tiba-tiba muncul mobil SUV hitam dan berhenti di belakang motor tadi. Gendhis menoleh. Dia tahu betul bahwa kendaraan itu milik Manggala. Terlebih, pria tersebut keluar dari mobilnya.