
“Gendhis?” nada bicara Sinta terdengar begitu antusias. “Kamu di mana? Pak Manggala berkali-kali menanyakan keberadaanmu padaku. Dia mengira kalau aku menyembunyikan sesuatu.”
“Apa benar Manggala akan pindah keluar negeri, Mbak?” Gendhis malah balik bertanya.
“Aku tidak tahu, Dhis. Dia menghubungiku hanya lewat telepon. Kami nggak pernah lagi bertemu secara langsung. Terakhir kali, hanya waktu dia mengantarku pulang. Itupun dia nggak ngomong apa-apa, Dhis,” tutur Sinta.
“Aku … juga berencana untuk mengundurkan diri setelah acara gala dan penghargaan selesai,” imbuh Sinta, yang membuat Gendhis semakin terkejut.
“Kok … mengundurkan diri, Mbak? Lantas, pernikahan kalian gimana?” cecar Gendhis.
“Pernikahan apa, Dhis? Pak Manggala nggak mau menikah denganku. Aku juga menolak. Tidak ada apa-apa di antara kami. Apapun yang terjadi di masa lalu, hanya ada di masa lalu. Aku menggugurkan kandungan karena keputusan dan keinginanku sendiri. Kamu tidak boleh menyalahkan Manggala, Dhis. Dia tidak tahu apa-apa,” ujar Sinta panjang lebar.
“Mbak, aku ….”
“Kamu nggak perlu membatalkan pernikahan gara-gara aku, Dhis. Jangan mengorbankan kebahagiaanmu,” lanjut Sinta memotong kata-kata Gendhis begitu saja.
“Mbak ….” Sejuta kata yang Gendhis rangkai, menguap begitu saja. Semuanya serasa tercekat di tenggorokan. “Nanti kutelepon lagi,” putus Gendhis pada akhirnya.
Dia menangis meninggalkan gerai menuju hotel tempatnya menginap. Gendhis merebahkan diri di ranjang sambil merenungi keputusan yang dia pilih. Sayangnya, semakin dirinya memejamkan mata, semakin jelas paras tampan Manggala menggoda angan-angannya.
“Ah!” de*sah Gendhis. Dia akhirnya memutuskan untuk beringsut dari ranjang. Dia mengambil kamera kesayangannya dan memutuskan untuk mencari obyek foto yang bagus untuk lomba. Ternyata, kegiatan tersebut berhasil mengalihkan kesedihan dan kebimbangan Gendhis.
Tanpa terasa, dua hari berlalu. Gendhis menghabiskan waktu untuk mengumpulkan foto. Dia menyimpan semua hasil-hasil karyanya ke dalam laptop. Rencanany]a, Gendhis akan menyeleksi foto-foto yang akan dia kirimkan ke ajang lomba nantinya.
Akan tetapi, perut Gendhis sudah berteriak nyaring. Cacing-cacing dalam ususnya sudah menuntut jatah. Gendhis pun menoleh ke arah jam pada telepon genggam yang sudah menunjukkan pukul delapan malam. “Ya, ampun. Pantesan aku lapar. Sudah malam rupanya,” gumamnya.
Putri kedua Susena itu bangkit dari kursi dan berniat untuk berburu makan malam di luar kawasan hotel. Gendhis mulai berkeliling untuk mencari tempat makan yang bersih sekaligus murah. Pilihannya lalu jatuh pada sebuah rumah makan bergaya vintage.
Dia memasuki tempat itu dan memilih tempat duduk tak jauh dari jendela. Namun sepertinya, pilihan Gendhis saat itu salah. Tepat pada saat Gendhis meletakkan buku menu dan memberikan pesanannya pada seorang pelayan restoran, saat itu pula sosok Chand melintas di trotoar yang berada tepat di depan jendela.
“Astaga, dia lagi,” Gendhis berdecak, kesal bercampur heran. Dia berusaha menyembunyikan wajah, tapi terlambat. Chand lebih dulu melihat dirinya. Pria rupawan blasteran India itu segera memasuki restoran pilihan Gendhis tanpa pikir panjang.
Dengan santainya, Chand menarik kursi dan duduk di hadapan Gendhis. “Aku tadi ke hotel kamu, ternyata kamu keluar,” celotehnya tanpa ditanya.
“Ngapain kamu ke hotelku?” tanya Gendhis tak suka.
“Iseng aja,” jawab Chand. Kembali pada gayanya yang cuek, Chand mengangkat tangan dan melambaikannya pada seorang pelayan yang segera datang sambil menyodorkan buku menu. Dia kemudian membaca deretan menu dengan serius sampai menjatuhkan pilihan pada salah satu masakan.
__ADS_1
Setelah menyodorkan buku menu sekaligus catatan pesanan pada pelayan tadi, Chand segera beralih pada Gendhis. “Tadi pagi, papa kamu ketemu mama di rumah sakit yang kebetulan sedang kontrol rutin,” tutur Chand.
“Oh, ya?” sahut Gendhis acuh tak acuh.
“Papa kamu bercerita tentang banyak hal … tentang kamu,” lanjut Chand hati-hati.
“Duh, Papa,” keluh Gendhis. “Mulai lagi deh dia.”
“Kata om Susena, kamu … tidak jadi menikah dengan Manggala,” Chand memelankan suaranya. Sedangkan Gendhis tak menanggapi. Dia hanya membuang muka ke arah televisi besar berlayar datar yang terpasang di salah satu sisi dinding restoran.
Gendhis terpaku saat melihat televisi tersebut tengah menyiarkan acara perhargaan insan media. Dia mendengar nama Manggala dipanggil ke atas panggung. Matanya membulat saat menatap layar televisi. Sang mantan malam itu tampak begitu menawan.
Rambut gondrong pria itu masih ditata bergaya man bun. Dilengkapi dengan jas berwarna hitam serta bawahan berwarna senada, Manggala melangkah gagah dan penuh percaya diri ke atas panggung. Dia menerima sebuah piala, lalu berpidato untuk beberapa menit. Satu hal yang berbeda dari pria rupawan itu, yaitu wajahnya yang menjadi sedikit lebih kurus dibanding terakhir kali saat Gendhis melihatnya.
Manggala menyampaikan pidatonya secara sempurna. Tak lupa dia menyertakan pengumuman di akhir. “Terhitung besok, saya bukan lagi pemilik sekaligus pemimpin redaksi dari Nirwana Media,” ujar Manggala yang seketika menggemparkan semua yang hadir.
Tak terkecuali Gendhis, rupanya mantan kekasihnya itu benar-benar serius pada keputusannya.
“Saya akan mengundurkan diri dari dunia jurnalistik di Indonesia dan berfokus untuk berkarir di luar negeri.” Demikian pidato Manggala, sebelum turun dari panggung.
“Jadi benar? Apa yang disampaikan Om Susena?” tanya Chand lagi.
“Kalau boleh tahu, ada masalah apa, Dhis?” tak seperti dulu, kali ini Chand lebih banyak berbicara dan berinteraksi dengan Gendhis. Pria itu juga terlihat jauh lebih ramah dan perhatian.
Lain halnya dengan Gendhis. Gadis itu seolah tak mempedulikan pertanyaan Chand. “Makan dulu, yuk,” ucap Gendhis sebelum melahap hidangan pesanannya.
“Padahal ... kulihat kalian berdua sangat romantis dan tampak saling mencintai,” celetuk Chand sambil terus memperhatikan Gendhis yang asyik mengunyah makanan.
“Kadang cinta saja nggak cukup, Chand,” timpal Gendhis.
“Ya, kamu benar, tapi bagaimanapun, cinta tetap menjadi dasar utama sebuah hubungan,” jelas Chand.
“Ah, sudahlah. Nggak perlu ngomongin itu. Bikin nafsu makan hilang aja,” omel Gendhis sewot.
Chand menanggapinya dengan tawa renyah. “Oke, maaf mengganggu. Silakan dilanjutkan makannya,” ucapnya seraya fokus pada makanan sendiri.
Mereka berdua larut dalam keheningan sampai piring mereka berdua kosong. “Mau tambah nggak, Dhis?” tanya Chand.
__ADS_1
Gendhis menggeleng lemah sambil memainkan sendoknya. Sesaat kemudian, dia mendongak dan memandang aneh pada Chand.
“Kenapa? Ada sesuatu di mukaku?” Chand meraba wajah dan rambutnya sendiri.
“Apa boleh aku curiga?” Gendhis mengangkat satu alisnya.
“Tentang apa?” balas Chand.
“Kenapa kamu tiba-tiba baik sama aku? Bukannya selama ini, kamu kalau lihat aku seperti melihat virus?” tanya Gendhis penuh selidik.
“Apa iya dulu aku separah itu?” Chand menautkan alis seperti tak percaya.
“Memangnya kamu nggak sadar seburuk apa sikapmu dulu padaku?” Gendhis tertawa sinis seraya melipat tangannya di dada.
“Ah, maaf. Saat ini aku cuma ....” Chand ragu-ragu melanjutkan kalimatnya.
“Aku cuma seperti sedang melihat diriku sendiri di kamu, Dhis. Sakit hati, kecewa dan amarah yang nggak bisa tersalurkan,” sambungnya.
“Wah, bisa gawat itu,” ucap Gendhis.
“Apanya yang gawat?” tanya Chand tak mengerti.
“Amarah yang nggak bisa tersalurkan bisa bikin tumbuh bisul. Hati-hati, semoga nanti bisulnya nggak tumbuh di pan*tat,” jawab Gendhis sekenanya.
.
.
.
Mampir dulu yuk, di karya keren yg satu ini
__ADS_1