
“Dhis ….” Banyak hal yang ingin Chand katakan saat itu. Akan tetapi semuanya seperti tercekat di tenggorokan. Chand terlalu terpesona dengan penampilan Gendhis.
“Sarapan dulu, Dhis,” ujar Susena, menyadarkan Chand.
“Oh, iya. Maaf kalau aku datang terlalu pagi. Mama lupa membawakan sepatunya,” Chand segera berbalik ke kursi tempatnya duduk tadi, lalu meraih sebuah kantong plastik yang dia letakkan di samping kaki kursi.
Dia membawa kantong plastik itu ke hadapan Gendhis dan membukanya. Tampak sebuah kotak persegi berisi high heels berwarna hitam. Tanpa sungkan ataupun ragu, Chand menurunkan tubuh, lalu hendak memasangkan sepasang sepatu itu ke kaki Gendhis.
“Eh, Chand! Jangan! Biar aku pasang sendiri!” tolak Gendhis seraya berusaha menarik tubuh Chand supaya berdiri.
“Lepas dulu sandal jepitnya, Dhis,” ujar Chand tanpa mempedulikan keberatan Gendhis.
“Aduh, Abah,” celetuk Nenek Sri dengan mata berkaca-kaca sambil terus memperhatikan adegan manis di depannya.
“Ayo, Dhis. Lepas sandalnya. Nanti keburu kaki Chand kesemutan,” sahut Susena.
Akhirnya, ragu-ragu Gendhis menuruti kehendak nenek dan ayahnya, lalu sedikit mengangkat kaki supaya Chand dapat dengan mudah memasangkan high heels mahal tersebut.
“Pas, Dhis,” Chand mendongak seraya tersenyum lembut. Dia kemudian berdiri sambil terus menatap wajah Gendhis. Setelah mengenakan high heels setinggi tujuh senti, Gendhis yang biasanya hanya setinggi dagu Chand, kini hampir menyamai pelipisnya.
“Kamu ... Mama ... cocok memilihkan setelan,” Chand terbata sambil tertawa pelan. “Aku nggak nyangka kalau ....”
“Aku bisa secantik ini?” tebak Gendhis memotong kalimat Chand.
“Bukan,” Chand menggeleng. “Aku nggak nyangka kamu bisa seanggun dan sekalem ini. Biasanya ....” Duda tampan itu seolah ragu melanjutkan kata-katanya.
“Biasanya?” desak Gendhis tak sabar.
“Biasanya kayak preman,” jawab Chand yang segera mendapat cubitan maut dari Gendhis.
“Ayo, sudah lapar ini. Pacarannya nanti saja,” sela Susena yang mulai gerah dengan aksi romantis Chand.
“Idih, siapa yang pacaran?” elak Gendhis. Dengan santainya dia melewati Chand, lalu duduk di salah satu kursi tak jauh dari Nenek Sri. “Eh, Kak Hanum sama Utari ke mana? Kok nggak ikut sarapan?” tanya Gendhis sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling.
“Sengaja biar nggak gangguin Chand yang lagi pendekatan sama papa,” jawab Susena asal, membuat putra sulung Kalini tersedak.
“Agak aneh rasanya. Dia dulu yang jijik lihat aku, sekarang jadi bucin begini,” sahut Gendhis enteng.
“Itu kan bagus, Dhis. Artinya kamu masih laku, udah dua kali gagal ke pelaminan, lho,” celetuk Nenek Sri.
__ADS_1
“Lakunya kok sama dia? Dia tuh sama halnya dengan mantan. Mantan tidak terhitung sebagai orang baru,” sanggah Gendhis.
“Bisa nggak kamu nggak membahas masalah itu?” protes Chand keberatan.
“Iya, iya, kita bahas sarapan aja, yuk,” Gendhis mengalah dan mulai fokus pada makanan di depannya.
Selesai sarapan, Chand berpamitan pada Susena dan Nenek Sri. Dia juga meminta izin untuk membawa Gendhis ke kantornya.
“Tunggu, kameraku ketinggalan!” cegah Gendhis saat Chand membukakan pintu mobil untuknya.
“Nggak usah, nggak perlu,” sahut Chand sambil membantu Gendhis yang kesulitan untuk duduk di kursi depan. “Roknya terlalu ketat, ya?” tanyanya hati-hati.
“Iya, nih. Aku sampai susah jalan, kayak mumi yang dibebat perban,” keluh Gendhis.
“Kalau kamu nggak nyaman, ganti baju aja, Dhis. Jangan dipaksakan,” tutur Chand.
“Jangan, deh. Kasihan Tante Kalini yang sudah repot-repot ngirim paket pagi-pagi buta,” tolak Gendhis.
“Mama, bukan tante,” ralat Chand sembari tersenyum. Dia tak menghiraukan raut protes dari wajah Gendhis. Tanpa meninggalkan sikap kalemnya, Chand berjalan memutari mobil, lalu duduk dengan nyaman di balik kemudi.
“Kita mau ke mana, sih? Aku bekerja sebagai apa nantinya? Kok nggak boleh bawa kamera?” cecar Gendhis tanpa jeda.
“Hah!” Gendhis terbelalak tak percaya. “Yang bener aja! Aku nggak bisa!” tolak Gendhis dengan segera. “Aku nggak punya latar belakang sekretaris. Aku ini fotografer!”
“Semua bisa dipelajari kok, Dhis. Tenang aja,” bujuk Chand. “Kamu bisa mengoperasikan komputer, kan?”
“Ya … bisa,” jawab Gendhis ragu.
“Ya, sudah. Yang penting itu. Untuk lain-lainnya bisa dipelajari sambil jalan,” ujar Chand menenangkan. Gendhis pun tak menimpali lagi sampai mobil duda tampan itu memasuki lantai basement sebuah gedung lima lantai.
“Kantor apa ini?” Gendhis membuka jendela mobil, lalu melongok keluar.
“Kantor baruku,” Chand tersenyum penuh arti.
“Kamu punya bisnis baru?” Gendhis terus memperhatikan Chand yang tengah membuka sabuk pengaman.
“Iya,” jawab Chand singkat. Dia lalu turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Gendhis. “Ayo,” ajaknya lembut.
“Bisnis apa, sih? Aku jadi penasaran. Bukan narkoba, kan?” celetuk Gendhis.
__ADS_1
Chand tak menjawab. Dia hanya terbahak menanggapi pertanyaan konyol Gendhis. “Nanti kamu juga tahu sendiri,” ujarnya sambil mengarahkan Gendhis untuk memasuki lobi.
“Aku bekerja sama dengan seorang teman dari London. Kami patungan mendirikan perusahaan fashion dan sudah berhasil melaunching produk perdana sekitar setahun yang lalu dan ternyata produk kami disukai pasar dalam dan luar negeri, Dhis. Mereka tertarik dengan brand baru kami yang memasukkan unsur-unsur tradisional Yogyakarta,” terang Chand.
“Oh,” Gendhis hanya manggut-manggut. “Produknya apa saja?” tanyanya kemudian.
“Ada jaket, celana, atasan pria dan wanita, T-shirt, serta berbagai macam aksesoris penunjang lainnya,” jelas Chand.
“Kok aku baru tahu, ya?” gumam Gendhis.
“Ya, mungkin karena ini perusahaan baru. Pasar kami juga masih terbatas,” Chand mengulurkan tangan sebagai isyarat agar Gendhis masuk ke dalam lift. “Kantorku di lantai teratas,” terang Chand tanpa diminta.
“Memangnya apa nama brandnya?” tanya Gendhis lagi.
“Tuh,” tunjuk Chand pada sebuah plakat raksasa berbentuk rangkaian huruf unik di pilar raksasa yang terletak di tengah-tengah lobi.
“Sweet Pine,” eja Gendhis lirih.
“Bagus nggak, namanya?” kini giliran Chand yang bertanya.
“Karena ada sweet-sweetnya, berarti bagus,” Gendhis mengangguk yakin.
“Mentang-mentang arti namanya sama,” cibir Chand sambil tergelak. “Ayo, masuk,” lembut chand menarik lengan Gendhis untuk memasuki lift, lalu memencet lantai teratas.
Sama seperti di lobi, lantai teratas itu juga terkesan ramai. Tampak beberapa ruangan kantor di sana. Semua pintu ruangannya terbuka, kecuali satu pintu yang masih tertutup yang terletak paling ujung.
Sesuai tebakan Gendhis, pintu yang tertutup itu adalah ruang kerja milik Chand. “Silakan,” ucap Chand sopan sambil membuka pintu lebar-lebar.
Gendhis menyapu pandangan ke sekeliling ruangan. Ada dua buah meja kerja di sana yang terletak sedikit berjauhan. Satu meja berukuran besar berada di tengah ruangan, membelakangi dinding kaca. Sementara meja lain yang berukuran lebih kecil, berada di sudut. “Ruanganku di mana?” tanya Gendhis.
Chand tak segera menjawab. Dia malah menggeser meja di sudut tadi sehingga berdempetan dengan meja kerjanya. “Di sini,” ucapnya seraya menepuk-nepuk permukaan meja.
“Hah?” Gendhis melongo. “Jadi, kita satu ruangan?”
“Kamu keberatan?” Chand mengangkat satu alisnya. “Bukankah Nenek Sri bilang kalau kita harus pendekatan, saling mengenal dan mengakrabkan diri sehingga terbangun chemistry. Kupikir ini salah satu caranya.”
“Um, Chand ….” Gendhis meringis sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. “Untuk masalah lamaran itu, sepertinya ….”
“Apa?”
__ADS_1
“Sepertinya kamu nggak perlu berusaha sekeras ini, karena aku nggak ingin menikah sama kamu atau siapapun. Setidaknya dalam waktu dekat ini,” ucap Gendhis pelan, tapi cukup untuk mengguncang perasaan Chand.