Mengejar Cinta Sang Duda

Mengejar Cinta Sang Duda
Tertawa Sendiri


__ADS_3

Susena memperhatikan sosok tinggi dan tegap yang berdiri gagah di depannya itu dengan tatapan tak bersahabat. “Gendhis tidak ada di sini!” ucapnya ketus.


“Kemarin pagi dia mengirimkan email pengunduran diri pada saya, Om. Saya juga datang ke rumah Nenek Sri. Ceu Imas mengatakan pada saya bahwa Gendhis sudah pulang ke Yogyakarta. Itu artinya dia ada di sini,” sahut Manggala sopan.


“Ya, memang dia pulang ke rumah kemarin, tapi tadi sudah pergi lagi,” papar Susena. Nada bicaranya masih terdengar ketus. Dia bahkan tak mempersilakan Manggala untuk masuk ke dalam rumah ataupun duduk.


“Pergi ke mana, Om?” Manggala mendadak berubah tegang.


“Ya, mana saya tahu. Gendhis sudah dewasa. Terserah dia mau pergi ke mana saja,” jawab Susena. Dia berbalik masuk ke dalam rumah dan hendak menutup pintu rumahnya rapat-rapat. Akan tetapi, Manggala buru-buru menahan pintu itu agar tak tertutup.


“Om, tolong. Saya sungguh-sungguh ingin bicara dengan Gendhis,” pinta Manggala.


“Sudah saya bilang, Gendhis tidak ada di sini. Masa kamu nggak percaya? Kamu menuduh saya bohong, ya?” Susena mendengkus kesal seraya berkacak pinggang.


“Bukan begitu, Om. Maksud saya ….” Manggala kebingungan merangkai kata. “Saya hanya ingin menikah dengan Gendhis, Om.”


“Seharusnya kamu memikirkan itu sebelum menghamili anak orang,” cibir Susena.


Manggala terkesiap untuk beberapa saat, sebelum mampu menguasai diri kembali. Dia menyunggingkan senyuman pada Susena dan bersikap seolah tak terganggu sama sekali. “Itu bagian dari masa lalu saya, Om. Saya memang bukan laki-laki yang baik, tapi berani sumpah saya sangat mencintai Gendhis. Demi dia, saya rela melakukan apa saja, atau berubah menjadi apapun itu,” ungkapnya.


“Kamu tidak boleh berubah hanya karena orang lain. Itu namanya, berubah tidak dari hati. Kalau kamu berniat ingin menjadi lebih baik, harusnya niat itu memang karena dirimu sendiri,” tutur Susena. Sikapnya mulai sedikit melunak saat melihat wajah Manggala yang memelas.


“Lagipula, jadi cowok, kenapa nggak bisa nahan nafsu sedikit aja, sih?” omel Susena. “Dasar laki-laki,” imbuhnya.


“Tapi om ‘kan juga laki-laki?” gumam Manggala pelan.


“Saya bapak-bapak!” balas Susena sewot, lalu membanting pintunya kencang. Tak lama kemudian, dia merasa sedikit menyesal, sehingga memutuskan untuk membuka kembali pintunya lebar-lebar. “Masuk dulu, deh. Kita ngopi dulu,” ajaknya.


“Jadi Om akan memberitahu saya di mana Gendhis?” tanya Manggala antusias.

__ADS_1


“Saya mau ngajak kamu ngopi! Siapa bilang mau ngomongin Gendhis. Coba rambutnya disingkirkan dulu, biar nggak nutupin telinga,” Susena berdecak kesal. Sedangkan Manggala hanya tersenyum simpul seraya mengikuti langkah ayahanda Gendhis itu masuk ke dalam rumah.


Sementara gadis yang dicari Manggala itu sedang asyik menikmati suasana petang di pinggir pantai. Dia berdiri di atas pasir berbatu sambil asyik mencari obyek foto, lalu memotretnya. Gendhis sudah bertekad untuk mengikuti lomba fotografi internasional yang akan diadakan di Denpasar.


Saat asyik mengambil foto matahari terbenam, lensa kameranya menangkap seorang balita yang menangis. Bocah perempuan itu sepertinya sendirian. Dia duduk di bebatuan yang terletak di tepian hutan mangrove. Gendhis berinisiatif untuk mendekat dan menawarkan bantuan. Dia berjongkok di depan balita itu sambil tersenyum manis.


“Halo, adik kecil. Kenapa menangis?” tanyanya lembut.


Balita yang awalnya menunduk itu segera mendongak. Mata bulatnya ketakutan menatap Gendhis. Bocah itu menangis jauh lebih kencang.


“Eh, cup, cup. Tante nggak punya permen. Kalau foto gimana?” bujuk Gendhis.


Balita itu langsung terdiam. Dia mengusap-usap pipi dan ujung hidungnya sambil terus mengamati Gendhis. “Foto?” ulangnya.


“Iya, foto. Kamu mau kufoto?” tawar Gendhis pada balita yang menurut perkiraannya masih berumur sekitar tiga atau empat tahun.


“Iya, foto!” Balita itu berdiri, lalu melompat-lompat. Dia sepertinya senang sekali saat Gendhis mengarahkan lensa kamera DSLR ke arah si balita yang berwajah sangat lucu dan begitu cantik. Tangis bocah itu menghilang, berganti dengan tawa ceria dan tingkah menggemaskan saat lampu kamera Gendhis menyala.


Gendhis dan si gadis kecil serempak menoleh ke arah suara. Tampak seorang wanita yang sangat cantik berlari mendekat. Rautnya terlihat begitu khawatir. Gendhis terbelalak ketika menyadari bahwa dia pernah bertemu dengan wanita itu sebelumnya.


Setelah berhasil menggali memori, barulah Gendhis mengingat bahwa wanita di depannya yang tengah memeluk si balita dengan haru itu adalah wanita yang pernah memeluk Chand di sebuah café di Bandung, saat dirinya selesai melakukan kegiatan liputan dan pemotretan.


“Mbak, terima kasih ya, sudah menemukan dan menemani putri saya,” ujar si wanita, membuyarkan lamunan Gendhis.


“I-ini putrinya?” tanya Gendhis terbata.


“Iya, dia memang anak yang sangat aktif. Lepas pengawasan sedikit saja bisa bahaya, padahal ada banyak pengasuh di sekeliling dia,” wanita cantik jelita itu mengulurkan tangan ke orang-orang yang tadi mengikutinya.


“Oh, itu pengasuhnya?” Gendhis menghitung ada tiga orang yang berseragam baby sitter, berdiri sopan di dekat wanita cantik itu.

__ADS_1


“Iya, terima kasih, ya,” ucap wanita itu lagi.


Gendhis tak tahu harus menjawab apa selain mengangguk. Dia terus memperhatikan saat si wanita cantik jelita itu menggendong si balita menjauh. Gendhis semakin terpaku saat ekor matanya menangkap seorang pria berlari dari kejauhan. Semakin dekat sosok pria itu, semakin jelas Gendhis melihat matanya.


Pria itu begitu luwes menggendong balita yang tadi dipanggil dengan nama Indira. “Ya, ampun, Dira. Kamu bikin takut banyak orang,” ujar si pria.


Dia lalu berniat merangkul si wanita cantik jelita dan mengajaknya berlalu ketika dirinya melihat Gendhis berdiri membeku di tempatnya. “Dhis? Kok kamu ada di sini?” tanya si pria.


“Ka-kamu juga ngapain di sini?” Susah payah Gendhis menelan ludah sambil matanya terus terpaku pada pria tampan yang tak lain adalah Chand itu.


“Kamu kenal sama dia, Kak?” tanya si wanita sambil menatap Chand keheranan.


“Iya, dia Gendhis, yang sering diceritakan mama,” jawab Chand seraya tersenyum kalem.


“Oh, Kak Gendhis yang sering diceritakan mama,” ulang si wanita sumringah. “Halo, apa kabar, Kak? Aku Prajna, putri bungsu mama Kalini.” Wanita cantik jelita bernama Prajna itu mengulurkan tangannya pada Gendhis sambil tersenyum ramah.


“Putri bungsu?” kini giliran Gendhis yang mengernyit keheranan. Tak lupa dia membalas jabat tangan Prajna.


“Dia adikku, Dhis. Selama ini tinggal di Australia bersama suaminya. Kebetulan sekarang mereka sedang liburan di Bali,” jelas Chand.


“Oh,” hanya sepatah kata itu yang sanggup terucap dari bibir Gendhis. “Jadi, dia adik kamu?” ujarnya beberapa saat kemudian. Terbayang oleh Gendhis tangis patah hati saat melihat Prajna saling berpelukan dengan Chand di Bandung dulu. Sebuah adegan yang mampu mengubah Gendhis menjadi sedikit lebih feminin dan senang berdandan.


“Ternyata dia adik kamu?” ulang Gendhis nyaring seraya tertawa lebar, membuat Chand dan Prajna kebingungan.


.


.


.

__ADS_1


Lanjut ga nih? Otor minta sumbangan hadiah dong, vote, kek, bunga, kek. biar makin semangat nulisnya, ya kaan. Sekalian mampir di karya keren yg satu ini ya



__ADS_2