
“Tahu bagaimana maksudnya?” tanya Gendhis penasaran. Dia bahkan sampai maju dan berpegangan pada jok depan yang diduduki oleh sopirn serta Manggala.
“Ya sekadar mendengar namanya. Kalau tidak salah, dia adalah pemilik WO ternama di ibukota. Cabangnya juga ada di beberapa kota besar lainnya. Kurasa, di Bandung pun sepertinya ada.” Manggala tampak mengingat-ingat.
“Oh iya. Kalau itu aku juga tahu. Calon ibu mertuaku yang bilang,” balas Gendhis kembali duduk di tempatnya.
“Selain itu, Chand Fawwaz merupakan pemilik salah satu agency modelling. Seharusnya, kalian bisa cocok, Mbak,” ujar Manggala lagi. “Mbak kan katanya fotografer.”
“Ya seharusnya. Akan tetapi, takdir berkata lain,” sesal Gendhis.
“Ayah dari Chand Fawwaz, yaitu almarhum Pak Gunadhya adalah pemilik salah satu perusahaan retail terbesar yang jaringannya tersebar di seluruh Indonesia lho, Mbak,” lanjut Manggala antusias. “Kaya raya sekali dia. Sayang, sebenarnya kalau calon setajir Chand harus terlepas begitu saja."
“Ah sudahlah. Perutku rasanya mulas kalau sudah membahas masalah itu.” Gendhis mengembuskan napas pelan sembari menyandarkan tubuh. Dia mengalihkan pandangan ke luar jendela kaca mobil, pada jalanan Kota Bandung dengan pepohonan di sepanjangnya yang begitu rindang. Sekuat apapun dirinya menepiskan bayangan Chand, entah mengapa paras tampan itu selalu hadir di pelupuk matanya. Kalau sudah begitu, Gendhis berharap untuk menjadi penderita amnesia saja.
Saat itu, tepat di sebelah mobil yang Gendhis tumpangi, tampak sebuah sepeda motor. Di atas kendaraan roda dua tadi, terlihat sepasang kekasih yang saling bercengkerama dengan mesra.
Tiba-tiba, muncul khayalan konyol dalam benak Gendhis. Dia membayangkan bahwa yang sedang mengendarai motor tadi adalah Chand. Sedangkan dirinya duduk manis di belakang. Memeluk pria tampan tersebut dengan mesra. Betapa indahnya, berkeliling Kota Bandung di bawah rintik hujan berdua sambil memadu kasih, bagaikan dalam film terkenal.
“Mbak rencananya akan berapa lama di Bandung?” tanya Manggala yang seketika membuyarkan semua lamunan indah Gendhis.
“Eh … anu … entahlah. Mungkin sampai nenekku merasa bosan,” sahut Gendhis yang memang tak tahu, dan belum membuat rencana sama sekali untuk kelanjutan masa depannya. “Bisa nggak sih jangan panggil ‘mbak’? Aku kok ngerasa tua banget,” protes Gendhis pelan.
“Oh baiklah. Kalau begitu, aku panggil Desi saja ya?” ujar Manggala.
“Hah? Kok Desi?” Gendhis terbelalak. Dia hendak melayangkan protes lebih lanjut, andai Manggala tak segera menoleh sambil tersenyum menawan. Gendhis segera mengurungkan niatnya. Dia kembali duduk dengan tenang. Itulah derita seorang timless single. Hanya dapat menikmati senyuman, tanpa bisa memiliki. Apalagi mencicipi hingga puas.
__ADS_1
“Desi itu nama kucing peliharaan mamaku di rumah. Kucing Persia. Dia lucu dan juga sangat lembut ….” Manggala terdiam beberapa saat. Dia berpikir, sepertinya karakter Kucing Persia tidaklah cocok jika disamakan dengan Gendhis yang lebih mirip dengan seekor singa betina. Namun, sebelum Manggala sempat meralat kata-katanya, kendaraan yang mereka tumpangi telah lebih dulu berhenti.
Tak lebih dari tiga puluh menit, mereka telah tiba di alamat yang dituju oleh Gendhis. Mobil itu bahkan berhenti tepat di depan rumah milik nenek gadis itu. Gendhis pun segera keluar dengan diikuti oleh Manggala yang membantunya menurunkan koper. Pria tampan tersebut meletakkan koper tadi di depan gerbang masuk yang kebetulan tanpa dipasangi pagar.
“Dhis, sudah sampai ya?” Seorang wanita tua dengan rambut yang telah beruban, datang menghampiri. Dia sempat membetulkan letak kacamata yang bertengger di atas batang hidung minimalisnya. “Udah dibayar belum ongkos taksinya?” tanya wanita yang tak lain merupakan nenek Gendhis.
“Eh, dia bukan sopir taksi online. Dia Manggala, Nek.” Gendhis segera mencium punggung tangan sang nenek yang belum mengalihkan pandangan dari sosok tampan yang datang bersama sang cucu.
“Ah, gimana sih? Katanya kamu nggak jadi nikah. Kok datang ke sini bawa calon suamimu,” ujar nenek Gendhis dengan enteng.
“Lah, siapa yang bilang dia calon suami aku, Nek?” sanggah Gendhis. “Ini Manggala.”
“Manggala siapa?” tanya sang nenek lagi membuat kepala Gendhis tiba-tiba puyeng. “Papa kamu cerita, katanya kamu sekarang nganggur. Makanya, biar Nenek saja yang bayarin ongkos taksi ini,” celoteh sang nenek lagi sambil merogoh ke dalam saku daster yang dia kenakan.
“Astaga.” Gendhis menepuk keningnya sambil menggeleng pelan.
“Oh, temannya Gendhis. Naha atuh teu nyarios ti tadi, Jang? (Kok nggak bilang dari tadi, Jang?).” Nenek Gendhis menepuk lengan Manggala cukup keras. “Saya Sri Lestari Rahayuningtyas. Saya neneknya Gendhis. Saya pensiunan PNS loh. Menjanda sejak anak-anak masih kecil. Saya juga ….”
“Sepertinya Manggala sedang buru-buru, Nek. Lain kali saja disambung,” sela Gendhis yang merasa bahwa sang nenek sudah berlebihan. Gendhis juga merasa khawatir, karena pada akhirnya wanita bernama Sri Lestari itu selalu menyerempet pada kelakuan absurd Gendhis saat kecil hingga beranjak dewasa.
“Eh, Gendhis! Itu namanya tidak sopan. Orang sudah capek-capek nganterin kamu, malah langsung disuruh pulang. Ajak masuk dulu,” tegur Nenek Sri. “Ayo, masuk dulu, Jang. Kebetulan nenek masak banyak. Nenek juga bikin kue. Pokoknya kalau Gendhis datang, nenek harus menyediakan banyak makanan,” cerocos wanita tua itu sambil menarik lengan Manggala dengan paksa dan tanpa aba-aba sama sekali.
“Tidak usah repot-repot, Nek. Terima kasih. Saya juga sudah ditunggu oleh ….” Manggala mengarahkan telunjuk ke mobil. Dia berusaha untuk menolak, tapi juga merasa tak enak.
“Oh, ajak saja temannya sekalian!” Usia Nenek Sri boleh saja sudah berkepala tujuh. Akan tetapi, gerak tubuhnya masih gesit dan cekatan. Terbukti, sekarang dirinya menggedor-gedor pintu mobil sampai dibuka dari dalam.
__ADS_1
“Selamat sore, Bu,” sapa sopir yang bernama Ganta tadi. Dia yang tengah anteng mendengarkan musik dari earphone sambil menggoyang-goyangkan kepala, langsung mematikan lagi favoritnya.
“Ayo, turun dulu,” ajak Nenek Sri sedikit memaksa. Nenek Sri sepertinya tidak akan menerima penolakan, sehingga Ganta pasrah keluar dari mobil dan mengikuti langkah si nenek bersama Manggala. Mereka pun duduk nyaman di ruang tamu yang cukup luas dan rapi.
Sementara Gendhis sudah diseret lebih dulu oleh sang nenek untuk membantunya menyiapkan minuman serta aneka kudapan.
Tak berselang lama, gadis tomboy dengan celana jeans sobek-sobek itu keluar sambil membawa nampan berisi beberapa cangkir teh beserta tekonya. “Maafkan nenekku, ya. Beliau orangnya terlalu ekstrovert,” ucap Gendhis merasa malu sekaligus tak enak.
“Tidak apa-apa, Mbak … eh, Dhis. Lagi pula, kami sedang tidak terburu-buru, kok,” sahut Manggala seraya tersenyum hangat.
“Ayo. Silakan dicicipi!” Suara cempreng sang nenek kembali terdengar. Kali ini, dia keluar sambil membawa beberapa toples makanan ringan. Nenek Sri, meletakkan toples-toples yang sudah dalam keadaan terbuka itu di atas meja.
“Ini kicimpring kesukaan Gendhis. Pokoknya ini camilan wajib setiap Gendhis datang. Dia bisa habis setoples sendiri,” tunjuk Nenek Sri tanpa henti sambil menyodorkan mulut toples ke arah Manggala dan Ganta. Kicimpring adalah olahan dari singkong parut yang dibentuk bulat, kemudian dijemur, lalu digoreng.
“Gendhis sekalinya makan seperti nggak pakai napas. Langsung ludes sekilo. Kadang Nenek merasa was-was kalau dia nginepnya lama di sini, takut jatah beras dan uang belanja sebulan habis dalam seminggu. Nenek tidak habis pikir, ke mana larinya semua makanan yang masuk ke perut dia. Badannya masih tetap kurus.” Nenek Sri terus saja mengumbar aib cucunya. Padahal Gendhis sudah berkali-kali menyenggol lengan sang nenek sebagai isyarat. Namun, Nenek Sri seperti tidak peduli.
“Apalagi kalau Gendhis jadi pengangguran begini. Aduh, bikin Nenek makin pusing mikirinnya,” ungkap sang nenek sambil memijit pelipisnya.
“Kalau Mbak Gendhis mau, Mbak bisa bekerja di tempat saya. Daripada menganggur,” ujar Manggala tanpa ragu.
.
.
.
__ADS_1
Hai, mampir dulu yuk di karya keren yg satu ini