Mengejar Cinta Sang Duda

Mengejar Cinta Sang Duda
Ciuman Pertama


__ADS_3

“Aku juga pernah merasakan patah hati seperti kamu, Dhis. Rasa sakitku bahkan jauh lebih lebih. Butuh waktu yang lama sampai aku bisa melupakan semuanya,” ucap Manggala setelah mereka lama terdiam.


“Oh, ya? Yang dulu kamu pernah cerita itu?” tanya Gendhis.


“Iya. Sebelum aku sampai pada diriku yang happy dan enjoy seperti sekarang, aku sempat terpuruk,” ungkap Manggala. “Jadi, waktu aku melihat kamu, aku seperti melihat diriku yang dulu.”


“Memangnya dulu kamu putus sama pasangan kamu karena apa?” Gendhis memberanikan diri untuk mengorek informasi lebih dalam tentang bosnya itu. Kebetulan jalanan macet, jadi waktu tempuh menuju kantor menjadi sedikit lebih lama.


“Aku dan dia sudah hampir menikah. Tahu-tahu, dia meminta putus. Ternyata diam-diam dia menjalin hubungan dengan pria lain. Akhirnya mantan tunanganku menikah dengan pria itu,” jawab Manggala.


“Ya, ampun, jahat banget ya, mereka,” Gendhis berdecak kesal. Meskipun bukan dirinya yang mengalami, tapi dia ikut merasakan kekecewaan dan amarah terpendam Manggala.


“Aku seringkali berpikir untuk membalas dendam pada mereka. Namun, kalau dipikir-pikir, untuk apa aku membuang energi sia-sia hanya demi suatu keadaan yang tak akan mungkin bisa kembali,” Manggala mengembuskan napas pelan. Sesekali, kaki kanannya lincah menginjak rem.


“Akhirnya, aku mengarahkan rasa benci, kecewa, dan dendamku ke dalam jalur yang positif. Aku memutuskan untuk terjun secara total di dunia bisnis dan media, hingga aku bisa sampai di posisiku sekarang ini,” lanjut pria tampan berambut gondrong itu.


Sementara Gendhis hanya terpana mendengar penjelasan Manggala sambil sesekali manggut-manggut. “Hebat kamu, Ngga. Di balik penampilan kamu yang asal-asalan dan urakan, ternyata kamu orang yang dewasa dan bijak banget,” sanjungnya.


“Ya, namanya manusia, Dhis. Harus berubah ke arah yang lebih baik,” tutur Manggala.


“Betul juga,” Gendhis manggut-manggut lagi, lalu terdiam.


“Jadi bagaimana tawaranku yang tadi?” tanya Manggala memecah keheningan.


“Tawaran yang mana?” Gendhis memutar ingatannya. Tak lama kemudian, dia menjentikkan jari. “Kamu tadi bilang kalau tidak baik mendendam. Kenapa sekarang malah mengajak aku untuk membalas sakit hatiku pada Chand?”


Manggala mengernyit beberapa saat, lalu tertawa. “Gendhis, Gendhis, kamu polos banget,” ujarnya seraya menggelengkan kepala.

__ADS_1


“Benar, ‘kan?” Gendhis menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Entah Manggala yang lemot, ataukah dirinya. Namun, kalau dipikir-pikir, syaraf-syaraf Gendhis lah yang sedikit tersendat.


“Begini, Dhis. Cara membalas itu ada dua, ada cara negatif dan ada pula yang positif. Kalau negatif itu, kamu marah-marah nggak jelas, terus datang ke rumah dia malam-malam. Kamu corat-coret tembok rumah dia, atau merusak barang-barang dia tanpa sepengetahuannya,” terang Manggala.


“Wah, ide bagus, tuh!” sahut Gendhis penuh semangat.


“Eh, jangan! Nanti kamu bisa dituntut sama dia,” cegah Manggala. “Nah, yang aman adalah membalas dengan cara positif,” lanjutnya. “Jadilah versi terbaik dari diri kamu. Move on dan jalin hubungan dengan cowok lain. Syukur-syukur bisa lanjut sampai ke jenjang pernikahan. Buat dia menyesal karena pernah menolak kamu!”


Gendhis tak mampu berkata-kata. Dia hanya bisa melotot ke arah Manggala. “Angga, kamu keren,” desisnya tanpa sadar. Tangan kanan Gendhis terulur, lalu menepuk-nepuk kepala atasannya, persis seperti saat dia mengelus-elus kepala Miko, kucing piaraan Utari.


Beruntung, Manggala tak terlihat keberatan dengan sikap Gendhis. Dia malah mencondongkan tubuh, semakin mendekat ke arah Gendhis, dengan tatapan mata yang tak dapat diartikan. Atau mungkin, tatapan itu bisa diartikan, hanya saja Gendhis terlalu bodoh untuk mengerti.


“Biar aku kasih tahu satu rahasia,” bisik Manggala.


“Apa itu?” Gendhis menelan ludah berkali-kali, ketika wajah Manggala semakin mendekat pada wajahnya.


saat berbicara, napas pria itu berembus pelan menerpa wajah cantik Gendhis.


“Eh, anu, apa nggak salah ini?” Gendhis yang semakin salah tingkah, bergerak mundur bersamaan dengan Manggala yang semakin maju. Bahkan pria itu melepas sabuk pengamannya demi tetap mendekatkan wajahnya pada Gendhis.


“Nggak ada yang salah, Dhis. Aku selalu senang saat berdekatan dan ngobrol denganmu seperti ini,” ujar Manggala. Bibirnya kini benar-benar menempel dengan bibir Gendhis. Pria itu mulai menikmati ciumannya bersama si gadis tomboy.


Sedangkan Gendhis, dia tak tahu harus berbuat apa, sehingga hanya bisa diam mematung. Ini adalah ciuman pertama baginya. Belum pernah ada laki-laki manapun yang menyentuh bibir ranum Gendhis. Akan tetapi, dia tak menolak atau mengelak. Gendhis dapat merasakan kelembutan sikap Manggala. Cara pria tampan itu memperlakukan bibirnya, begitu hangat dan manis.


Sayang, adegan indah itu harus berakhir ketika terdengar nyaring suara klakson yang bersahut-sahutan. Ternyata, arus kendaraan sudah lancar sedari tadi. Sementara mobil Manggala malah masih diam di tempatnya, membuat kendaraan lain di belakangnya tak dapat melaju.


“Astaga,” entah semerah apa muka Gendhis saat itu. Yang jelas, dia dapat merasakan panas di sekujur tubuh, terutama di bagian kepala. Jika dilihat dengan mata batin, mungkin pucuk kepalanya tengah mengeluarkan asap saat ini. Berbeda dengan Manggala, dia tetap terlihat tenang dan santai sambil mengusap bibirnya yang basah, seolah tak pernah terjadi apapun antara mereka berdua.

__ADS_1


Setelah adegan ciuman itu, mereka berdua larut dalam keheningan sampai kendaraan yang ditumpangi, tiba di depan gedung kantor. Gendhis mengeluarkan keringat dingin, saat Manggala kembali mendekat. Dia mengira bahwa sang atasan akan kembali menciumnya. Akan tetapi, Gendhis salah dugaan.


Manggala membalikkan tubuh dan mengulurkan tangan ke jok belakang, untuk mengambil tas kerja yang dia letakkan di sana. Tak berapa lama, dia kembali ke posisinya semula. “Yuk, turun,” ajaknya tatkala menyadari bahwa Gendhis masih bergeming. Gadis itu membeku dan tampak seperti sosok Malin Kundang yang dikutuk menjadi batu.


“Dhis?” panggil Manggala lagi seraya menahan tawa. “Ini ciuman pertama kamu, ya?” terkanya.


Gendhis mengangguk ragu. Sesekali dia menyentuh rambutnya yang dikuncir ekor kuda.


“Kencan yuk, Dhis,” ucap Manggala.


“Ya, Tuhan,” Gendhis mendesah pelan. Belum hilang dadanya berdebar dengan seluruh tubuh gemetar, sekarang Manggala lagi-lagi mengeluarkan pernyataan penuh kontroversi. “Kamu serius?” tanya Gendhis lirih. Tempurung lututnya seakan hendak terlepas dari kaki.


“Aku serius,” jawab Manggala yakin sembari tertawa. “Kita jalani saja dulu pelan-pelan, ya. Kamu mau, ‘kan?” pintanya.


Gendhis terbengong-bengong. Isi kepalanya seolah kosong. “Kencan? Kencan? Kencan? Aku bukan single lagi?” ucapnya berulang-ulang dalam hati.


“Mau, ‘kan?” tanya Manggala dengan nada setengah membujuk.


“Iya, mau,” sahut Gendhis seperti robot. Sesaat kemudian, dia seperti menyesali jawabannya sendiri. Akan tetapi, sudah terlanjur. Manggala juga terlihat begitu bahagia. Dia tak tega jika harus menghilangkan kebahagiaan itu. Yang paling utama adalah, dia takut dipecat.


“Alhamdulillah,” Manggala mengembuskan napas lega, kemudian mencium kening Gendhis. “Terima kasih, ya.”


Gendhis tak mampu berkata-kata. Mulut dan tenggorokannya terasa kering. Dia hanya sanggup mengangguk-angguk seperti burung hantu.


“Oh, ya, mumpung kita masih baru jadian, aku ingin menunjukkan sesuatu sama kamu,” tangan kanan Manggala terulur, membuka glove box pada dashboard mobilnya. Dari dalam sana, Manggala mengeluarkan selembar foto berbentuk postcard, lalu menunjukkannya pada Gendhis.


“Siapa ini? Cantik banget, kayak bule,” mata Gendhis membulat terpesona.

__ADS_1


“Dia mantanku, namanya Ghea. Ghea Ratri Hapsari,” jawab Manggala kalem.


__ADS_2