Mengejar Cinta Sang Duda

Mengejar Cinta Sang Duda
Saling menjodohkan


__ADS_3

Setelah penerbangan penuh drama, Gendhis dan Nenek Sri akhirnya tiba di bandara Adisutjipto, Yogyakarta. Tak ada yang menjemput mereka saat itu karena semua anggota keluarga Gendhis pasti sedang menjaga Susena di rumah sakit.


Dengan terpaksa, Gendhis membawa sendiri troli barang-barangnya seraya menghentikan taksi. Beruntung sopir yang dia pilih bersikap begitu manis. Pria paruh baya berperut buncit dan berkumis tebal itu langsung membawakan koper-koper Gendhis dan Nenek Sri tanpa diminta, lalu memasukkannya ke dalam bagasi.


“Makasih, ya. Saya suka pria sopan seperti kamu,” celetuk Nenek Sri sesaat setelah duduk di jok belakang. Sontak Gendhis melotot ke arah sang nenek.


“Kamu masih single atau sudah berkeluarga?” tanya Nenek Sri tak karuan. Seandainya neneknya itu seusia Gendhis, dia pasti sudah menjewer telinganya.


“Saya sudah punya anak empat, Bu. Istri saya satu,” jawab sopir tersebut sopan.


“Oh, syukurlah kalau cuma satu istrinya. Saya juga punya anak laki-laki satu-satunya. Dia anak yang baik. Sekarang anak saya sakit dan


dirawat di rumah sakit,” timpal Nenek Sri seraya mengelap ingus dengan menggunakan syalnya.


Beruntung adegan drama itu tak berlangsung lama. Taksi itu sudah tiba di depan halaman rumah Gendhis tak kurang dari satu jam. Gendhis buru-buru menurunkan barang bawaannya dan membawa seperlunya untuk di rumah sakit.


“Tolong tata sekalian baju-baju nenek Sri ya, Mbok,” titah Gendhis sopan pada pembantu rumah tangga yang sudah mengabdi pada keluarga Susena, puluhan tahun lamanya.


“Siap, Mbak Gendhis. Pak Susena sudah nungguin mbak datang dari kemarin, lho,” ucap simbok. “Kasihan Pak Susena,” simbok mulai menitikkan air mata penuh kesedihan. Tak ayal, pikiran Nenek Sri seketika dipenuhi


bayangan buruk tentang putranya.


“Ayo, Dhis! Buruan!” desak Nenek Sri tak sabar. Dua wanita berbeda generasi itupun memasuki taksi yang sama dan masih setia menunggu mereka di halaman.


Nenek Sri menyuruh si sopir ngebut hingga bisa tiba di tempat tujuan dalam waktu singkat. Setelah turun dan membayar, Gendhis dan Nenek Sri buru-buru memasuki gedung rumah sakit dan memasuki salah satu paviliun yang menjadi ruang perawatan Susena.


“Papa,” Gendhis tak kuasa menahan tangis saat dilihatnya sang ayah terbaring dengan mata terpejam. Pria paruh baya yang tetap terlihat tampan itu tampak tak berdaya di atas ranjang. Begitu pula Nenek Sri yang


langsung menghambur dan memeluk putra satu-satunya itu erat-erat.


“Aduh, Bu. Sakit. Aku nggak bisa napas. Perutku jangan diduduki,” Susena mengerang perlahan.


“Papa lagi tidur, Nek. Jangan dibangunin. Ntar kalau bangun, ribut lagi dia,” keluh Hanum yang sedari tadi asyik bertelepon ria di sudut


ruang kamar.

__ADS_1


“Ngomong kek, dari tadi,” gerutu Gendhis. “Jadi, gimana ceritanya papa bisa masuk rumah sakit?” tanya Gendhis sesaat setelah mengalihkan perhatiannya kembali pada Susena.


Susena sudah membuka mulutnya, tetapi Hanum yang lebih dulu menjawab. “Papa jatuh di kamar mandi, Dhis. Dia khawatir kalau bekas cidera kakinya dulu retak lagi,” tutur Hanum.


“Terus, kata dokter gimana?” sela Nenek Sri.


“Ternyata papa cuma keseleo,” jawab Hanum seraya mengulum bibir.


“Astaga,” Gendhis menepuk dahinya keras-keras.


“Lantas, kenapa harus rawat inap segala?” lanjut Nenek Sri yang masih penasaran.


“Itulah, Nek. Setelah diperiksa, Papa ternyata tidak mengalami luka serius, tapi papa tidak mau pulang. Dia ngotot kalau ada sesuatu


yang aneh di kakinya,” ungkap Hanum sembari mengempaskan napas pelan.


“Akhirnya, dokter memutuskan untuk memeriksa ulang papa secara keseluruhan. Namun, tetap saja tidak ada kelainan. Papa sepenuhnya sehat,” lanjut sulung dari tiga bersaudara tersebut.


“Ya, ampun, Papa,” Gendhis menepuk dahinya sekali lagi. “Papa tahu nggak, betapa paniknya aku tadi malam? Sampai-sampai nggak bisa tidur,” omelnya.


“Dasar anak badung. Dari bayi masih juga tidak berubah,” Nenek Sri melanjutkan omelan Gendhis sambil menjitak kepala Susena.


“Hadeh!” ucap Gendhis dan Nenek Sri secara bersamaan.


“Aku jadi mikir ….” Hanum mengusap-usap dagunya sambil memasang raut serius. “Jangan-jangan papa sengaja ingin rawat inap di sini. Soalnya waktu tadi pagi setelah papa diperiksa ulang, kami ketemu dengan Tante Kalini. Beliau sedang kontrol kesehatan di rumah sakit ini. Mungkin Papa ingin


dijenguk sama dia,” cetusnya.


“Hah?” Gendhis dan Nenek Sri tak percaya dengan alasan yang tak masuk akal itu.


“Kalini pacar SMA kamu dulu, Sen? Yang cantik kayak bintang film India itu?” cecar Nenek Sri.


Sementara Susena tak menjawab. Dia hanya terdiam sambil pura-pura tidur. Tak lupa, Susena menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuh.


“Iya, Nek. Tante Kalini, mamanya Chand, mantan calon suami Gendhis,” jelas Hanum.

__ADS_1


“Hah? Jadi, mantan Gendhis itu anaknya si Kalini?” seru Nenek Sri takjub.


“Iya, Gendhis ….” Hanum tak melanjutkan kata-katanya saat mendengar ketukan pelan di pintu. “Sebentar, Nek. Nanti kita lanjut lagi


gibahnya.”


Hanum bergegas membuka pintu ruang perawatan Susena. Tampaklah sesosok wanita yang baru saja dibicarakan olehnya bersama sang nenek.


“Tante Kalini?” ucap Hanum, membuat bulu kuduk Gendhis seketika meremang. Spontan dia membalikkan badan dan melihat Kalini berdiri di ambang pintu bersama Chand yang berdiri gagah di samping sang ibu.


“Silakan masuk, Tante,” ajak Hanum sopan. Dia membuka pintunya lebar-lebar untuk ibu dan anak itu.


“Terima kasih, Nak Hanum. Kebetulan tante baru dari penjual buah. Ada pir dan apel segar, nih,” Kalini tersenyum ramah seraya menyodorkan keranjang rotan yang berisi penuh dengan buah-buahan. Sesaat kemudian ekor mata indahnya menangkap sosok Gendhis berdiri di dekat ranjang Susena.


“Eh, ada Nak Gendhis juga? Kapan datang?” ekspresi Kalini mendadak berubah antusias. Dia juga menyenggol lengan Chand berkali-kali. Entah untuk apa tujuannya.


“Barusan, Tante,” Gendhis memaksakan senyum. Serba salah dirinya saat Chand tengah memperhatikan wajahnya lekat-lekat.


“Ibu Sri?” perhatian Kalini kini beralih pada ibunda Susena yang lebih banyak diam dan memperhatikan dalam senyap. Persis seorang prajurit yang mengintai musuhnya di hutan. Sedangkan Susena, masih tetap bersembunyi di balik selimut.


“Apa kabar?” sapa Nenek Sri ramah seraya mengulurkan tangan.


“Baik, Bu. Kenalkan, ini putra saya,” Kalini menarik lengan Chand dan mendekatkannya pada Nenek Sri.


“Oh, ini yang mau dijodohin sama cucu saya, tapi nggak jadi,” celetuk Nenek Sri enteng.


“I-iya, Bu,” Kalini tertawa renyah untuk menyembunyikan rasa gugupnya.


“Tidak apa-apa. Namanya juga bukan jodoh. Ya ‘kan, Dhis?” sahut Nenek Sri sembari menoleh pada Gendhis. “Jodoh Gendhis sekarang cowok ganteng, tapi gondrong. Dia juga suka nyosor, lho! Nenek sampai sebal. Makanya kapan hari, Nenek pukul sapu saja kepalanya,” cerocosnya.


Penjelasan Nenek Sri sontak membuat Chand tersedak ludahnya sendiri. Dia terbatuk-batuk untuk beberapa saat dengan muka memerah.


“Yang penting, saling suka ya, Bu. Saya sekarang sadar, jodoh itu nggak bisa dipaksakan. Biarlah semua mengalir apa adanya,” tutur Kalini kemudian. Nada suaranya terdengar merdu dan lembut.


Susena yang sedari tadi bersembunyi di balik selimut, segera membuka selimutnya. “Betul itu. Jodoh tidak bisa dipaksakan,” timpalnya sambil meringis. Susena juga berusaha untuk duduk dan terlihat berwibawa di hadapan

__ADS_1


Kalini.


“Kalau memang anak-anak kita tidak berjodoh, bagaimana kalau kita saja yang saling menjodohkan?” cetus Susena sumringah, membuat semua mata melotot tertuju padanya.


__ADS_2