Mengejar Cinta Sang Duda

Mengejar Cinta Sang Duda
Kebenaran Itu Pahit


__ADS_3

Gendhis menyodorkan berbagai hidangan yang baru saja diletakkan di atas meja oleh pelayan café pada Sinta. “Dhis, aku nggak pesan ini semua,” tolak Sinta lirih.


“Mbak Sinta lagi diet?” terka Gendhis.


“Nggak, Dhis. Cuma perut agak nggak enak aja,” sahut Sinta seraya mengusap perutnya yang rata.


“Ayolah, Mbak. Incipin sedikit aja,” desak Gendhis. “Biar kita dibolehin berlama-lama duduk di sini.”


“Kenapa kita harus lama-lama duduk di sini?” Sinta mengernyitkan dahi.


“Nunggu jemputan, Mbak,” Gendhis mengedipkan sebelah matanya pada sang rekan kerja.


“Oh, Manggala mau jemput kamu?”


Belum sempat Gendhis menjawab, Manggala datang tiba-tiba, lalu duduk di samping Gendhis. “Gimana gaunnya? Bagus, nggak?” tanyanya tanpa basa-basi. Wajah Manggala pun tak seramah biasanya.


“Eh, kalian mau kencan, ya. Jadi sungkan mengganggu. Aku duluan ya, Dhis,” ujar Sinta. Buru-buru dirinya bangkit dari kursi dan hendak pergi.


“Eh, jangan, Mbak. Di sini aja. Kami mau langsung pulang, kok. Tunggu sebentar, ya. Nanti kita pulang sama-sama,” bujuk Gendhis. “Habiskan dulu makanannya.”


Sinta tampak canggung menerima perlakuan Gendhis. Kekasih Manggala itu mendekatkan seporsi spaghetti dan kentang goreng padanya. Sedangkan Manggala mendapat bagian berupa burger berukuran jumbo.


“Ayo, Ngga. Makan dulu,” ujar Gendhis sedikit memaksa.


Manggala sendiri tak ingin berdebat, sehingga dia pasrah menuruti permintaan Gendhis. “Sebenarnya, aku nggak suka burger, tapi karena kamu yang nyuruh ….” Ragu-ragu Manggala menggigit ujung burger.


“Pak Manggala nggak suka daging sapi, Dhis,” celetuk Sinta yang dengan segera dia sesali. Reporter cantik itu menutup mulutnya rapat-rapat.


“Oh, ya? Kok Mbak Sinta tahu? Aku malah baru tahu,” Gendhis memandang takjub pada Sinta.


“I-iya, kami kan sering meeting bareng,” Sinta tersenyum kaku.


“Meeting di mana?” kejar Gendhis seraya menoleh pada Manggala. Pria berambut gondrong itu tak menjawab. Dia malah mengempaskan napas panjang dan perlahan.


“Biasanya kalau meeting ‘kan sekalian makan siang,” jawab Sinta. “Pak Manggala selalu menolak hidangan yang mengandung daging sapi. Kalau ayam masih mau,” imbuhnya.


“Oh,” Gendhis manggut-manggut. “Berarti nanti kalau kami menikah, aku harus selalu ingat tentang hal itu,” ujarnya seraya menjentikkan jari.

__ADS_1


“Betul, Dhis,” sahut Sinta antusias. “Sama jangan lupa teh tawar tiap pagi.”


Sontak Manggala melotot ke arah Sinta. Demikian pula Gendhis yang menangkap sikap mencurigakan dari calon suaminya tersebut. Dia turut melotot pada Manggala.


“Eh, jangan salah paham. Tiap pagi Pak Manggala minta dibawain teh tawar ke ruangannya. Itu maksudku,” ralat Sinta. Bahasa tubuhnya tampak begitu gugup.


“Oh, aku juga nggak tahu itu,” desis Gendhis lirih. “Ternyata banyak yang aku nggak tahu dari Manggala,” Gendhis tersenyum kelu, lalu menunduk.


“Dhis, masih ada waktu seumur hidupmu untuk tahu segala macamnya tentang aku. Sekarang, ayo kita pulang,” ajak Manggala. Dia beranjak bangkit sembari menarik lengan Gendhis.


“Eh, tunggu. Satu pertanyaan lagi!” sergah Gendhis seraya mengacungkan jari telunjuknya. “Pertanyaan terakhir, setelah itu kita pulang.”


“Aku mohon kalian mau menjawab dengan jujur,” pinta Gendhis mengiba.


“Astaga,” Manggala berdecak pelan, kemudian duduk kembali ke kursi yang tadi dia tempati. “Kamu mau tanya apa?”


“Arif dan Ria … kamu tahu mereka, nggak?” Gendhis menatap lekat-lekat pada Manggala yang juga memandang ke arahnya.


“Rekan kamu di studio, bukan?” tebak pria tampan bergaya maskulin itu.


“Iya, betul. Mereka cerita sama aku kalau sebelum aku diterima bekerja di kantor, kamu dan Mbak Sinta dulunya akrab. Ke mana-mana suka berdua. Apa itu benar?” tanya Gendhis hati-hati.


“Apa itu benar?” ulang Gendhis saat dua orang di dekatnya itu masih terdiam.


“Ya, namanya rekan kerja, Dhis. Kami jadi sering ketemu dan ngobrol bareng,” elak Sinta. “Itu saja, nggak lebih."


“Tapi kenapa sejak aku datang kalian jadi saling menjauh?” cecar Gendhis.


Manggala dan Sinta tak langsung menjawab. Mereka kembali terdiam untuk beberapa lama sampai Sinta membuka suara. “Aku yang memutuskan untuk menjauh, sejak Pak Manggala mengutarakan padaku kalau dia tertarik sama kamu, Dhis.”


“Kenapa Angga mengutarakan pada Mbak Sinta kalau dia tertarik sama aku? Sedekat apa kalian dulu, sampai-sampai Angga harus mengungkapkan sesuatu yang bersifat pribadi seperti itu?” Gendhis tak berhenti. Dia bertekad untuk tidak pulang hingga mendapatkan informasi yang dia inginkan.


“Dhis,” giliran Manggala yang berbicara. Dia merengkuh telapak tangan Gendhis dan menggenggamnya erat. “Sinta hanya teman. Itu saja,” jawabnya.


“Oh, ya?” Gendhis melirik pada Sinta. Gadis manis nan kalem itu tampak menahan air mata. Sesekali dia memalingkan muka agar tak terlihat saat menyeka pipi.


“Kok Mbak Sinta menangis? Apa Mbak keberatan dengan Angga yang hanya menganggap Mbak sebagai teman?” Gendhis berusaha meraih tangan Sinta dan mengusapnya lembut. “Mbak, nggak apa-apa, kok. Cerita aja. Aku berani sumpah nggak akan marah atau apapun,” bujuk Gendhis tak putus asa.

__ADS_1


“Aku akan segera menikah dengan Angga, Mbak. Aku nggak ingin ada ganjalan dari masa lalu setelah kami resmi menjadi suami istri nantinya,” lanjut Gendhis.


Sinta yang awalnya menyembunyikan wajah, segera memusatkan perhatian pada Gendhis. Dia memandang dua sejoli di hadapannya itu secara bergantian. “Aku takut kamu ninggalin Pak Manggala kalau mengetahui tentang kenyataan yang sebenarnya,” sahut Sinta pelan.


“Kenyataan apa, Mbak?” tanya Gendhis lembut.


“Aku hanya ingin Pak Manggala bahagia,” desah Sinta. “Sedangkan aku melihat dia begitu bahagia saat bersama kamu. Oleh karena itulah, aku memilih untuk mengalah dan menjauh.”


Tubuh Gendhis menegang untuk sesaat. Dia menoleh pada Manggala yang juga sama tegangnya. Setelah itu, dia kembali memusatkan perhatian pada Sinta. “Tolong jelaskan lagi, Mbak. Aku kurang paham.”


“Aku … Pak Manggala ….” Sinta terbata, lalu terdiam. “Aku … dulu mengajukan surat permohonan magang setelah lulus kuliah. Pak Hery yang menerima. Dia kemudian mengenalkan aku pada Pak Manggala,” terangnya.


“Pak Manggala pernah mengatakan kalau aku punya potensi yang sangat bagus. Enam bulan aku magang di sana sampai diterima menjadi pegawai tetap. Pak Manggala adalah orang yang luar biasa ….” Kalimat Sinta menggantung. Namun tak lama kemudian, dia melanjutkan ceritanya.


“Pak Manggala adalah sosok pengusaha muda, cerdas dan berwawasan luas. Dia orang yang ceria, sampai suatu hari dia terpuruk karena berpisah dengan tunangannya,” Sinta menarik napas panjang , lalu mengembuskannya perlahan. “Pak Manggala benar-benar terpukul waktu itu, jadi … jadi dia datang padaku untuk melampiaskan semuanya.”


“Melampiaskan semuanya?” ulang Gendhis dengan sebelah alis terangkat.


Sinta tidak menjawab. Dia hanya mengangguk pelan tanpa berani melawan tatapan Gendhis yang dipenuhi rasa penasaran, dan Manggala yang seakan memberinya isyarat penuh arti.


“Semuanya apa, Mbak?” desak Gendhis.


“Dhis, tolonglah. Kamu memang calon istriku, tapi tolong hargai juga privasi yang tak bisa kubagi denganmu,” cegah Manggala.


“Kenapa kamu harus merasa takut? Jika memang kalian tidak pernah terlibat apapun ….”


“Tidak ada yang istimewa!” tegas Manggala.


“Aku bertanya pada Mbak Sinta, bukan padamu, Ngga. Mbak Sinta sudah bisa bicara dan menata kata-kata sendiri. Jadi, kamu nggak usah bantuin dia ngasih penjelasan!” balas Gendhis tak kalah tegas. “Mbak Shinta itu ….”


“Kami sudah seperti sepasang kekasih, Dhis. Aku bahkan sampai hamil dan harus melakukan aborsi,” sela Shinta, yang seketika membuat Gendhis serta Manggala sontak menoleh padanya.


.


.


.

__ADS_1


Peregangan dulu ya ges yaa. mampir dong di karya keren yang satu ini



__ADS_2