
"Kok kamu di sini?" tanya Gendhis sewot.
"Emang nggak boleh? Emang cuma kamu aja yang boleh naik pesawat?" balas Chand dengan santainya.
"Dih," Gendhis berdecak pelan, lalu membuang muka ke arah jendela. Dia tak banyak bicara lagi, terlebih karena pesawat sudah mulai lepas landas.
"Gimana kondisi papa kamu?" tanya Chand setelah beberapa waktu berlalu.
"Dah baikan. Makanya aku berani balik ke Bandung," jawab Gendhis acuh tak acuh.
“Syukurlah,” Chand menoleh pada Gendhis yang sama sekali tak memandang ke arahnya. Pria tampan blasteran India itu kemudian tersenyum samar. “Kamu sekarang beda banget, lho,” celetuknya.
“Semua berkat Mbak Sinta dan Angga. Kak Sinta yang ngajarin aku untuk menghargai diri sendiri. Sedangkan Angga, hanya dia cowok yang bisa melihat sisi indahku di saat semua orang nggak ada yang bisa melihatnya. Dia memuji aku cantik dan unik di saat orang lain memandangku sebelah mata,” terang Gendhis sambil mengalihkan perhatian seluruhnya pada Chand. “Orang-orang seperti merekalah yang berhasil membuatku berubah menjadi lebih baik,” imbuhnya.
“Itu bagus, Dhis. Kamu yang sekarang jadi nggak pecicilan lagi. Nggak kayak dulu,” Chand tergelak. Dia langsung menghentikan tawa saat Gendhis melotot tajam padanya. “Sori,” ucap Chand lirih.
“Aku tuh dulu pecicilannya cuma sama kamu. Ups!” Gendhis memukul-mukul bibirnya pelan. Dia begitu marah pada diri sendiri karena telah kelepasan bicara.
“Oh, ya? Patutkah aku berbangga?” Chand tersenyum semakin lebar.
“Nggak usah! Kenapa harus bangga? Waktu itu aku belum tahu kalau kamu adalah seorang pengkhianat. Coba seandainya aku tahu, nggak mungkin lah aku naksir kamu,” timpal Gendhis sewot. Namun lagi-lagi dia memukul bibirnya. “Aduh, mulutku ini susah diajak kerja sama,” gerutunya.
Chand yang awalnya tampak berseri-seri, langsung berubah murung. “Kamu benar, Dhis. Masa laluku buruk sekali,” sahutnya pelan. Setelah itu, Chand tak berkata apa-apa lagi, bahkan sampai pesawat mendarat dengan mulis di bandara Husein Sastranegara, Bandung. Gendhis sendiri juga malas untuk membuka percakapan kembali dengan pria yang pernah membuatnya tergila-gila itu.
Sesampainya di terminal kedatangan, Gendhis melambaikan tangan ceria pada Manggala yang telah menunggunya. Tanpa dia sadari, Chand berjalan santai di belakangnya sambil menyeret satu koper berukuran sedang.
Melihat hal itu, senyuman pada wajah tampan Manggala, seketika memudar. Dia menghampiri Gendhis dengan raut cemberut. “Kamu bareng sama dia?” tanyanya.
“Siapa?” Gendhis malah balik bertanya dengan mimik kebingungan. Sesaat kemudian, dia menoleh dan melihat Chand berjalan santai melewatinya.
“Duluan, ya,” sapa Chand cuek. Dia sama sekali tak mempedulikan Manggala yang memandangnya tak suka.
__ADS_1
“Kamu bareng sama dia?” Manggala mengulangi pertanyaannya pada Gendhis.
“Aku juga nggak nyangka bakal satu pesawat sama dia, Ngga. Kami nggak janjian atau apapun. Tahu-tahu dia duduk di sebelahku,” papar Gendhis.
“Dia duduk di sebelah kamu?” Manggala terbelalak tak percaya. “Apa menurutmu itu nggak terlalu aneh kalau hanya untuk sekadar kebetulan?”
“Maksudnya?” Gendhis mengernyit tak mengerti. “Kamu nuduh aku janjian sama Chand?” telunjuk Gendhis mengarah ke dadanya sendiri.
“Aku nggak tahu, Dhis. Aku melihat kenyataan kalau kalian turun dari pesawat yang sama,” ujar Manggala seraya mengempaskan napas pelan.
“Kamu nggak percaya sama aku, Ngga?” tampak sorot kecewa dari mata bulat Gendhis. “Padahal aku memegang teguh janji kita kemarin untuk saling menjaga kepercayaan sampai akad.”
“Dhis, aku ….”
“Sudahlah, Ngga. Jangan diperpanjang. Terserah kamu berpikir apa tentangku, yang jelas aku nggak pernah ada niat untuk mengkhianati kamu sedikitpun. Kamu cowok paling baik dan paling manis yang pernah kukenal. Kamu satu-satunya yang mau menerima apa adanya diriku yang aneh ini,” desah Gendhis memotong kalimat Manggala begitu saja.
Gendhis lalu berjalan melewati calon suaminya tanpa suara. Hanya dengan membawa satu koper dan tas ransel besar, gadis itu melangkah melintasi area parkir. Sesaat kemudian, dirinya berhenti. “Naik apa ya, aku?” gumamnya.
“Mobilnya di sebelah sini, Dhis,” sahut Manggala lembut yang ternyata terus mengikuti Gendhis di belakang. “Maaf, ya. Aku seharusnya nggak perlu cemburu buta seperti ini,” sesal Manggala.
“Aku memang cinta sama kamu, Dhis. Seumur hidup, aku nggak pernah merasa seyakin ini. Aku merasa sangat cocok sama kamu,” Manggala bergerak semakin mendekat dan hampir menempelkan bibirnya pada bibir Gendhis.
“Ya, ampun, Ngga. Ini di tempat parkir. Bisa-bisa kita diusir satpam,” Gendhis tertawa sambil mendorong pelan tubuh tegap Manggala.
“Oh, iya. Aku lupa. Kalau sama kamu tuh, bawaannya suka lupa dan khilaf terus,” rayu Manggala sembari merengkuh tubuh ramping Gendhis. Dia kemudian memeluk calon istrinya itu erat-erat. “Kita nikahnya besok aja, yuk,” ajak Manggala tiba-tiba.
“Lah, gimana? Katanya tiga hari lagi kamu mau menghadiri penghargaan?” ujar Gendhis mengingatkan.
“Ya, nggak apa-apa. NIkah aja di KUA. Ramai-ramainya nanti,” tutur Manggala.
“Ngga, bukannya aku nggak mau, tapi kamu lagi sibuk banget. Ada banyak tanggung jawab yang harus kamu selesaikan. Lagipula, aku nggak ke mana-mana, kok. Aku bakal setia nungguin kamu sampai selesai,” bujuk Gendhis. Dua sejoli itu masih betas berpanas-panasan di tengah-tengah area parkir.
__ADS_1
“Iya, sih. Hanya saja ….” Manggala menghentikan kata-katanya.
“Apa?”
Nggak jadi,” Manggala tersenyum lebar. Dia lalu menekan alarm mobil sampai terdengar bunyi nyaring yang berasal dari kendaraannya. “Masuk, Dhis. Nanti kita lanjutin ngobrol-ngobrolnya,” pria tampan berambut gondrong itu membukakan pintu mobil lebar-lebar untuk Gendhis.
Tanpa banyak bicara, Gendhis menurut. Dia berjalan memutari mobil, lalu duduk dengan manis di samping kursi kemudi. Sementara barang bawaannya sudah lebih dulu dimasukkan bagasi oleh Manggala. Satu hal lagi yang membuat gadis itu luluh dan jatuh cinta pada sang atasan, yaitu sikap Manggala yang benar-benar mengayomi serta membuat Gendhis selalu merasa nyaman dan aman.
“Dhis, seandainya aku cerita tentang rahasia terbesarku di masa lalu, kira-kira kamu masih tetap menerima aku apa adanya, nggak?” celetuk Manggala ragu-ragu, beberapa menit setelah kendaraan yang mereka tumpangi melaju meninggalkan area bandara.
“Eh, kenapa nih, tiba-tiba ngomong begini? Aku jadi deg-degan,” timpal Gendhis was-was. “Apa kamu pernah merebut cewek orang juga, kayak Chand? Pernah selingkuh?” cecarnya.
“Astaga,” Manggala terkekeh melihat reaksi Gendhis yang sangat antusias. “Aku cuma kepikiran sama kata-kata papa kamu,” lanjutnya.
“Kata-kata yang mana?” Gendhis menautkan alis seraya menoleh pada Manggala. Sedangkan pria tampan itu tetap fokus pada jalan raya. Tangannya lincah memainkan kemudi. Namun, sorot mata elangnya terlihat menerawang. Tak dapat dipungkiri jika Manggala tampak galau. Seperti ada beban yang menggelayut di benaknya.
“Kemarin, papa kamu bilang bahwa laki-laki sejati adalah seseorang yang bisa menjaga diri dan wanitanya sepenuh hati dari semua hal negatif,” jawab Manggala hati-hati.
“Lantas?” tanya Gendhis.
“Entahlah, aku merasa bahwa aku belum sepenuhnya jujur sama kamu tentang masa laluku. Aku takut jika itu akan membebani kamu ke depannya dan mengubah penilaianmu terhadapku. Aku nggak mau itu terjadi, Dhis. Aku ingin kamu selalu menganggap bahwa diriku ini sempurna, walaupun pada kenyataannya tidak,” racau Manggala, yang semakin membuat Gendhis kebingungan.
“Kamu ngomong apa, sih? Aku jadi pusing,” Gendhis kembali menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Aku, tuh ….” Belum selesai Manggala menyelesaikan penjelasannya, telepon genggam yang dia pasang di alat khusus depan dashboard, berbunyi. Tertera nama Sinta di sana.
.
.
.
__ADS_1
Refreshing dulu sama karya keren yang satu ini, gaes