
“Hah? Tugas apa malam-malam begini?” tanya Gendhis heran. “Aku nggak bisa keluar, soalnya belum mandi. Kata nenek, gadis yang belum mandi jam segini bakal diculik sandekala,” celoteh Gendhis tak karuan.
“Kamu bicara apa, Dhis?” Manggala terdengar jauh lebih keheranan.
“Ah, lupakan. Itu hanya omongan nenek-nenek yang sudah mulai pikun,” celetuk Gendhis, membuat Nenek Sri tersedak. Rupanya, ibunda Susena tersebut tanpa sengaja menelan tiga butir kacang telor yang sedang dia mainkan di dalam mulut agar lumer. Alasannya, karena Nenek Sri sudah tidak memiliki gigi yang utuh.
“Aduh, Mak. Kenapa?” Ceu Imas begitu panik saat melihat Nenek Sri merentangkan tangan dengan mata melotot. “Aduh, si emak kesambet kayaknya,” ujar Ceu Imas yang malah mondar-mandir sambil sesekali mere.mas dadanya sendiri. Dia begitu gelisah, bagaikan kucing betina yang ingin kawin.
“Air ….” Suara Nenek Sri terdengar berat.
“Aduh! Eyang Karuhun, ampun.” Bukannya mengambilkan air minum, Ceu Imas malah duduk bersimpuh di hadapan Nenek Sri yang terengah-engah di kursi. Dia berkali-kali memohon ampun, sambil merekatkan telapak tangan di dekat kening.
“Air ….” Kembali terdengar suara berat Nenek Sri meminta air.
“Eyang hoyong naon? Kopi hideung? (Eyang mau apa? Kopi hitam?),” tanya Ceu Imas masih terlihat gusar.
“Ciherang we (Air putih saja),” jawab Nenek Sri parau.
“Baik, Eyang. Kela (Sebentar) saya ambilkan.” Dengan segera Ceu Imas beranjak dari duduknya. Wanita bertubuh bohay itu berlalu menuju dapur. Tak berselang lama, dia kembali sambil membawa segelas air putih. Ceu Imas langsung memberikan air putih tadi kepada Nenek Sri.
“Ceu, air buat mandi sudah panas?” tanya Gendhis yang tiba-tiba ada di belakang Ceu Imas.
Sontak, Ceu Imas melonjak kaget. Dia mengusap-usap dadanya sambil mengucap istighfar berkali-kali. Sikap janda tiga anak tersebut membuat Gendhis merasa heran.
“Ada apa, Ceu?” tanya Gendhis sambil duduk di sebelah Nenek Sri yang sedang menenangkan diri. Wanita tua itu tengah mengusap-usap lehernya seperti dalam iklan obat panas dalam.
“Sssttt.” Ceu Imas menempelkan telunjuk di bibirnya. “Jangan berisik, Mbak. Jangan ganggu eyang,” ucapnya membuat Gendhis menautkan alis karena merasa semakin heran.
__ADS_1
“Eyang apa? Eyang Picollo?” celetuk Gendhis seraya tertawa lebar. Dengan tenang, gadis tomboy tersebut mengambil toples berisi kacang telor yang tutupnya sudah terbuka. Saat itu, Gendhis mulai curiga. Dia mengalihkan perhatian kepada sang nenek yang belum bicara apapun. “Nenek pasti tersedak lagi ‘kan?” tanya Gendhis. “Sudah dibilangin dari kemarin. Jangan makan yang keras-keras. Besok kalau aku ada uang, kita ke dokter gigi. Pesan gigi palsu buat Nenek,” ujar Gendhis sambil mengunyah kacang telor tadi dengan santai.
Sementara Ceu Imas melongo saat mendengar ucapan Gendhis. Dia memandang nenek dan cucunya itu secara bergantian. Ceu Imas akhirnya dapat bernapas lega. “Syukurlah. Ternyata Emak cuma tersedak. Saya pikir, Emak tadi kesurupan eyang karuhun penunggu pohon nangka punya Bu Sumarna,” celoteh wanita paruh baya tersebut.
“Nanaonan ari didinya, Imas? (Apa-apaan kamu, Imas?),” gerutu Nenek Sri yang kesal dengan sikap pembantunya tersebut.
Sedangkan Ceu Imas tak merasa bersalah sama sekali. Dia hanya senyum-senyum. “Saya tuangin air panasnya ya, Mbak. Biar Mbak tinggal gebrus saja,” ucap Ceu Imas. Dia berlalu ke dapur. Menyiapkan air panas untuk Gendhis yang hendak mandi.
…
Keesokan paginya, Gandhis berangkat lebih awal menuju kantor Nirwana Media milik Manggala. Dengan menaiki ojek online, Gendhis bisa tiba di tempat tujuan dengan lebih cepat. Dia terhindar dari kemacetan Kota Bandung di pagi hari. Beruntungnya, hari ini Gendhis juga sempat sarapan terlebih dulu. Dengan begitu, tak ada lagi drama tulang ayam di tengah jalan.
Sesuai dengan yang sudah direncanakan semalam bersama Manggala, Gendhis akan mengikuti rapat pertamanya sebagai karyawan di kantor media cetak tersebut. Rapat itu sendiri hanya dihadiri oleh beberapa orang yang berkepentingan. Dalam rapat tersebut, Manggala menjelaskan tentang rubrik terbaru yang akan dimuat dalam tabloid miliknya. Dengan alasan sebagai sebuah terobosan baru, Manggala akan memasukkan artikel tentang life style dan sisi lain para pebisnis yang menjadi narasumbernya.
“Saya rasa, artikel seperti ini akan menjadi obat kejenuhan dari pembahasan bisnis yang memusingkan. Setiap orang memiliki sisi lain yang tak diketahui bahkan oleh teman-teman terdekatnya sekalipun,” jelas Manggala dengan gaya bicaranya yang selalu terlihat santai.
“Apa itu artinya kita akan mengadopsi Hello Girls dalam rubrik baru ini?” tanya Gendhis setelah mengangkat tangan terlebih dulu.
“Um … sepertinya tidak. Hello Girls ….” Manggala menggaruk keningnya sambil menahan tawa. “Saya masih mencintai tabloid bisnis dan otomotif. Sepertinya, saya belum akan berubah haluan,” jawab pria tampan itu dengan gaya bahasa yang terdengar formal.
“Oh, baiklah,” sahut Gendhis sambil manggut-manggut.
“Ah, ya! Hampir saja lupa,” ucap Manggala setelah Gendhis kembali diam. Pria itu menyuruh Gendhis untuk berdiri. Dengan raut wajah yang terlihat hangat dan bersahabat, Manggala memperkenalkan Gendhis kepada rekan-rekan lainnya yang hadir di ruang rapat. “Teman-teman, perkenalkan anggota baru dalam tim kita.” Dia mengarahkan tangan kanan kepada Gendhis. “Ini adalah Mbak Gendhis Maheswari. Dia berasal dari Kota Gudeg, Yogyakarta. Mbak Gendhis merupakan seorang fotografer andal dengan kemampuan yang tak dapat diragukan lagi. Mbak Gendhis akan bergabung bersama Nirwana Media mulai saat ini.”
“Kami sudah sempat berkenalan tadi di pantry,” sahut salah seorang karyawan wanita. Dia terlihat seumuran Gendhis. Sikapnya sangat lembut dan kalem, berbanding terbalik dengan gadis tomboy yang kini tengah berdiri di samping Manggala sambil senyum-senyum.
“Wah, bagus kalau begitu. Semua akan lebih mudah kalau kalian berdua sudah akrab,” ujar Manggala antusias.
__ADS_1
“Mbak Sinta,” Gendhis tersenyum lebar. “Manis banget, lemah lembut kayak saya,” celetuknya.
“Ya, oke,” Manggala sempat menggaruk-garuk tengkuk sebelum melanjutkan kata-kata. “Sinta ini adalah salah satu reporter andalan media kita,” terangnya beberapa saat kemudian sambil tangan kanannya lurus terarah pada Sinta.
“Jadi, seperti yang saya katakan tadi. Akan ada rubrik baru yang mengupas sisi lain dari pebisnis terpilih tiap minggunya. Untuk minggu kedua bulan ini, saya ingin memuat profil Chand Fawwaz Gunadhya,” tutur Manggala.
“Gunadhya raja retail itu?” celetuk salah seorang karyawan pria berkacamata.
“Dan raja WO,” sambung rekan lain yang duduk di sebelahnya.
"Juga raja dusta dan PHP," celetuk Gendhis lirih, tetapi tetap terdengar sehingga membuat semua mata tertuju kepadanya.
"Eh, anu, itu bercanda," sahut gendhis salah tingkah. "Semoga dia bukan penderita raja singa, ya!" kelakarnya seraya terbahak. Namun, tak ada satupun yang tertawa. Semua orang di ruangan itu, termasuk Manggala, malah memandang aneh ke arahnya.
"Sudahlah," Gendhis berdehem pelan. "Lanjut, Bos," ujarnya kemudian.
“Oke," Manggala mengangguk sambil mengulum senyum. "Kebetulan, menurut informasi terpercaya, Chand Gunadhya sedang berada di Bandung sampai beberapa hari ke depan,” Manggala melanjutkan penjelasannya. “Saya pikir tugas mewawancarai dia, akan saya serahkan pada Sinta dan Gendhis.”
.
.
.
Mampir dulu di karya keren yg satu ini yuk
__ADS_1