Mengejar Cinta Sang Duda

Mengejar Cinta Sang Duda
Minggu Ceria


__ADS_3

Tepat pukul sembilan pagi, Gendhis sudah bersiap-siap. Seperti biasa, dia selalu tampil dengan gaya andalannya, yaitu t-shirt oversize dan celana jeans sobek-sobek. Kali ini, Gendhis mengikat rambutnya ala ekor kuda. Sebuah tas ransel wanita berwarna hitam dengan ukuran sedang pun menjadi pelengkap tampilannya di hari Minggu ceria tersebut.


“Mau ke mana, Dhis?” tanya Nenek Sri, saat melihat Gendhis sedang memakai sepatu sambil duduk di sofa ruang tamu.


“Mau pergi, Nek," jawab Gendhis yang telah selesai mengenakan sepatu. Dia berdiri sambil merapikan t-shirtnya. “Doakan semoga aku nggak tersesat,” ucap gadis itu lagi bersiap untuk pergi.


“Memangnya kamu jadi wawancara?” Nenek Sri kembali bertanya. Membuat Gendhis menghentikan langkah di ambang pintu. “Kok aneh ya? Masa iya wawancara kerja di hari Minggu,” pikir wanita dengan usia kepala tujuh tersebut. Dia mengernyitkan keningnya yang sudah keriput sambil menatap langit-langit ruangan.


“Bukannya Nenek ingin agar aku cepet-cepet kerja? Malah kemarin nenek bilang, kalau bisa aku langsung kerja malam harinya,” ucap Gendhis bernada sindiran. “Ya sudahlah, Nek. Aku berangkat dulu,” pamitnya kemudian seraya mencium punggung tangan Nenek Sri yang masih terlihat kebingungan. Dia bahkan tak menanggapi Gendhis yang berpamitan dan berlalu dari hadapannya.


Dengan langkah tidak terlalu cepat, Gendhis keluar dari pekarangan rumah sang nenek yang terlihat asri. Tatapan gadis itu tertuju pada layar ponsel. Gendhis sedang menghapal alamat yang diberikan oleh Manggala, semalam saat mereka berkirim pesan.


Terus terang saja bahwa Gendhis sama sekali tak mengenal Kota Bandung. Setiap kali berlibur ke rumah sang nenek, wanita tua itu tak pernah mengajak ke manapun lagi selain kebun binatang dan tentu saja warung tetangga sebelah.


Kalau dipikir-pikir, sebenarnya tak ada gunanya dia menghabiskan masa liburan di sana. Tak ada hal menarik yang bisa Gendhis lakukan. Akan tetapi, entah mengapa karena Kota Bandung selalu membuat Gendhis merasa rindu untuk kembali berkunjung.


“Kalau pesan taksi online, ongkosnya lumayan juga,” pikir Gendhis seraya bergumam pelan. Bagaimanapun juga, dia harus menghemat uang saku yang merupakan sisa gajinya bulan lalu. “Kalau naik bus kota, aku nggak tahu harus turun di mana. Naik jurusan apa ya?” pikir Gendhis mengalihkan perhatian ke jalanan di hadapannya. Kebetulan, rumah milik Nenek Sri berada di pinggir jalan. Ketika Gendhis tengah berpikir dengan dalam, sebuah mobil SUV berhenti di hadapannya.


Perlahan, kaca jendela bagian tengah turun. Dari baliknya, muncullah wajah tampan Manggala yang tersenyum kalem. Tanpa melepas kacamata hitam yang dirinya kenakan, Manggala menyapa Gendhis yang berdiri dengan raut tak percaya. Ternyata, di Indonesia ada juga yang menyaingi ketampanan seorang Chand.


“Kamu sudah siap, Dhis?” tanya Manggala. Dia membuka pintu mobil, kemudian turun.

__ADS_1


“Kenapa kamu ada di sini?” tanya Gendhis heran. “Bukannya kita janjian di tempat anu ….”


“Aku sengaja mampir. Setelah kupikir-pikir, mungkin saja kamu belum terlalu paham dengan alamat yang kuberikan semalam. Jadi, sebaiknya kita berangkat bersama saja,” sahut Manggala. Dia mempersilakan Gendhis masuk ke mobil.


“Sepertinya, itu jauh lebih baik,” balas Gendhis tersenyum lebar. Akhirnya, dia mendapat jalan keluar yang benar-benar membantu. Dia pun bergegas masuk ke mobil. Tanpa diduga, Manggala ternyata duduk di jok yang sama dengannya. “Eh, kenapa kamu duduk di sini?” tanya Gendhis bernada protes.


“Lah, ini mobilku. Aku bebas meskipun mau rebahan di atapnya,” sahut Manggala sambil menunjuk ke atas.


“Oh iya. Ya sudahlah. Nggak apa-apa,” balas Gendhis. Dia menggeser duduknya semakin ke pinggir, sehingga terdapat jarak antara dirinya dengan Manggala.


Pria itu tak keberatan. Manggala sepertinya tak peduli meskipun Gendhis menempelkan tubuhnya ke dekat jendela kaca. Lagi pula, saat itu Manggala terlihat sibuk dengan telepon genggam. Entah apa yang membuatnya tampak begitu serius. Gendhis juga tak ingin mengganggunya. Dia memilih bermain game cacing.


Hari itu, Manggala mengajak Gendhis ke pameran buku yang bertempat di sebuah mall ternama Kota Bandung. Entah apa tujuan Manggala sebenarnya membawa Gendhis ke sana. Namun, jika dikaitkan dengan profesi Gendhis yang merupakan seorang fotografer sebuah majalah dan juga pecinta buku, maka itu dapat menyembunyikan alasan sebenarnya, yaitu ajakan kencan.


Akan tetapi, jika dikatakan sebagai ajakan kencan juga rasanya terlalu dini bagi mereka berdua. Seperti yang telah diketahui, Manggala dan Gendhis baru bertemu kemarin.


“Kamu ada di bawah arahan Pak Bagus ya selama bekerja di Hello Girls?” tanya Manggala mulai berbasa-basi. Mereka berjalan menuju eskalator, yang akan membawa keduanya ke lantai dua mall tersebut.


“Iya,” jawab Gendhis sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling. “Sebenarnya, Pak Bagus pernah memberiku kartu namamu. Cuma, kartu nama itu hilang di pesawat,” ucap Gendhis lagi.


“Oh ya?” Manggala menghentikan langkah sejenak, kemudian menoleh kepada Gendhis. “Apa yang Pak Bagus katakan padamu?” tanyanya sambil kembali melanjutkan langkah.

__ADS_1


Mereka berjalan menyusuri depan pertokoan yang berderet rapi, kemudian menuju ke bagian tengah yang luas, di mana terdapat banyak orang di antara ratusan buku berbagai judul dan tema.


“Katanya, aku bisa menemuimu andai membutuhkan pekerjaan selama tinggal di Bandung,” jawab Gendhis. “Ah lihatlah. Entah takdir apa ini? Kita malah satu pesawat. Kamu juga mengantarku hingga ke rumah nenek. Lalu hari ini, kita ada di ….” Gendhis tertegun. Dia begitu takjub akan keramaian di sana. “Rupanya, masih banyak juga yang tertaik pada buku fisik di tengah gempuran internet yang jauh lebih praktis,” gumam gadis itu.


“Selera tiap orang berbeda. Ada sebagian yang mengatakan, bahwa membaca dan buku cetak, merupakan sesuatu yang tak bisa dipisahkan. Jika membaca ya di buku cetak. Padahal tidak seperti itu juga. Ilmu tidak hanya didapat dari bangku sekolah. Begitu sederhananya,” ujar Manggala menanggapi ucapan Gendhis.


“Ya, kamu benar. Aku setuju, meski tetap ijazah dan titel yang berbicara,” balas Gendhis. Dia mendekat ke bagian buku fiksi, dan mulai melihat beberapa judul. Sementara Manggala berdiri di dekatnya sambil memilih buku yang dia suka. Sesaat kemudian, Manggala berpindah ke bagian lain. Sedangkan Gendhis masih di tempatnya tadi.


“Adudu, sepertinya ini bagus. Coba deh kamu baca blurbnya.” Gendhis menyodorkan buku yang baru dia cek kepada seseorang di sebelahnya, yang dia anggap sebagai Manggala. Salahnya, dia melakukan hal itu tanpa menoleh sama sekali. Gendhis terus memberikan buku tadi, karena orang yang berada di sebelahya tak menanggapi. “Ga?” Karena tak kunjung ditanggapi, Gendhis akhirnya menoleh. Seketika, pandangan gadis itu beradu dengan seseorang yang berdiri di sebelahnya tadi.


"Chand?" desisnya tak percaya.


.


.


.


Oke, sambil nungguin yg lg liat2 an, mampir dulu di karya keren yg satu ini.


__ADS_1


__ADS_2