Mengejar Cinta Sang Duda

Mengejar Cinta Sang Duda
Putus


__ADS_3

“Aborsi?” bibir Gendhis sampai bergetar saat berucap demikian. Dia langsung menoleh pada Manggala yang tak kalah terkejutnya.


“Kamu jangan ngomong sembarangan, Ta! Kapan kamu hamil?” sentak Manggala.


“Saya memang sengaja nggak menceritakannya sama anda, Pak. Waktu itu saya lihat Pak Manggala sudah menemukan tambatan hati yang bisa menggantikan sosok tunangannya. Tidak seperti waktu bersama saya, Pak Manggala selalu murung dan sering menyebut nama Ghea. Sewaktu saya melihat Pak Manggala bersama Gendhis, Pak Manggala benar-benar terlihat bahagia,” tutur Sinta seraya terisak.


“Kamu hamil?” ulang Manggala seolah tak percaya. “Hamil dan aborsi? Bisa-bisanya kamu, Sinta?”


“Menurut Pak Manggala, saya harus bagaimana? Selama ini kita menjalani hubungan tanpa status! Saya juga terlalu bodoh karena jatuh cinta setengah mati sama bapak, sehingga saya rela menyerahkan semuanya. Lalu, tiba-tiba Pak Manggala mengaku jatuh cinta dan ingin menjalin hubungan serius dengan Gendhis. Waktu itu, saya sudah terlambat haid,” Sinta menunduk dan menutup mulut, agar suara tangisnya tak terdengar.


“Seharusnya kamu jujur bilang tentang kehamilanmu, Sinta,” Manggala menggeleng pelan. Terdengar jelas nada kecewa dalam kalimatnya.


“Kalau saya jujur, apa yang akan bapak lakukan?” tanya Sinta sambil menyeka air mata.


“Sudah pasti aku akan bertanggung jawab!” tegas Manggala. “Kamu pikir aku sebrengsek apa, Ta?”


Suasana menjadi hening seketika. Baik Gendhis maupun Sinta, keduanya sama-sama larut dalam pikiran masing-masing.


“Kita batalkan saja pernikahan ini, Ngga,” ucap Gendhis setelah terdiam beberapa saat lamanya.


“Tolong jangan memperkeruh suasana, Dhis,” protes Manggala. Sorot mata elangnya tajam dia arahkan pada Gendhis.


“Memperkeruh suasana?” Gendhis berdecak kesal menanggapi kata-kata Manggala. “Aku yang merusak hubungan kalian!” sentaknya.


“Dhis! Aku dan Sinta hanya ….”


“Teman? Teman macam apa? Mbak Sinta sampai hamil, Ngga!” potong Gendhis dengan telunjuk yang lurus terarah pada Sinta.


“Sinta sudah tidak hamil lagi sekarang!” Manggala mengalihkan pandangan pada Sinta. “Salahnya sendiri karena tidak jujur. Jadi, aku menolak membatalkan pernikahan.”

__ADS_1


“Astaga,” Gendhis hanya bisa ternganga mendengar jawaban Manggala.


“Aku akui, Dhis. Aku sempat terpuruk, sampai bertahun-tahun lamanya. Lalu, aku bertemu Sinta. Aku tidak berpikir panjang waktu itu dan hanya berniat melepaskan suntuk bersama dia,” jelas Manggala pelan.


“Kamu merusak Mbak Sinta, Ngga,” desis Gendhis. Bayangannya akan sosok sempurna Manggala, hancur seketika.


“Sudah kubilang kalau aku nggak tahu Sinta hamil, Dhis. Seandainya aku tahu, aku pasti ….”


“Bertanggung jawab dan menikahinya!” potong gendhis lagi. “Lantas, apa bedanya dengan aku membatalkan rencana pernikahan sekarang, Ngga? Seandainya waktu itu kamu tahu kalau Mbak Sinta hamil, pasti kamu nggak akan menjalin hubungan serius denganku.”


“Aku cinta sama kamu, Dhis! Itu kenyataan! Aku nggak tahu kapan perasaan itu muncul, tapi yang jelas aku benar-benar jatuh cinta dan merasa nyaman bersama kamu!” Manggala tak malu lagi berkata nyaring. Dia tak peduli meskipun beberapa orang di sekitar, menoleh kepadanya.


“Seharusnya kamu ucapkan kata cinta itu pada Mbak Sinta. Dia yang lebih berhak!” tukas Gendhis seraya memandang sayu pada Sinta yang lebih banyak tertunduk dan menangis.


“Aku akan bicara baik-baik pada mama dan papa kamu. Kita akhiri semuanya sampai di sini, Ngga,” ujar Gendhis penuh keyakinan. Dia lalu berbalik meninggalkan Manggala dan Sinta yang masih terpana mendengar kata-katanya.


“Dhis, kumohon!” tanpa diduga, Manggala mengejar Gendhis. Dia menarik tangan calon istrinya itu sehingga menghadap kepadanya. Manggala lalu berlutut di depan Gendhis. Dia sama sekali tidak merasa malu karena telah menjadi pusat perhatian saat itu.


“Berdiri, Ngga. Kamu dilihatin banyak orang,” suruh Gendhis. Akan tetapi, Manggala menolak.


“Aku nggak mau ambil pusing dengan orang lain. Fokusku hanya kamu, Dhis! Aku ingin kamu jadi istriku!” Manggala tetap bersikukuh.


“Ngga,” hati Gendhis semakin teriris melihat kegigihan Manggala. Ditangkupnya paras rupawan pria dengan rambut bergaya man bun itu. “Aku punya satu permintaan. Cobalah bayangkan dirimu berada pada posisi Mbak Sinta. Itu saja.”


Manggala sudah membuka mulut untuk menimpali. Namun pada akhirnya dia terdiam sambil menatap lekat-lekat pada Gendhis.


“Mbak Sinta yang menemani kamu di titik terendah dalam hidupmu, Ngga. Dia bahkan hampir mengandung benihmu. Dia mengorbankan diri menggugurkan kandungan demi melihat kamu sudah berbahagia denganku. Kurang tulus apa dia, Ngga? Kalau ada sosok wanita yang paling pantas mendampingi kamu di pelaminan, Mbak Sintalah orangnya,” Gendhis memaksakan senyum.


Sudah tak dapat dibayangkan betapa hancur perasaan Gendhis saat itu. Namun, dia sudah memilih jalannya. Menurutnya, inilah yang terbaik untuk semua, terutama Sinta. Wanita baik dan lemah lembut itu harus mendapatkan keadilan atas semua luka yang pernah diterimanya.

__ADS_1


“Selamat tinggal, Angga. Laki-laki paling keren dan luar biasa. Terima kasih untuk semua,” Gendhis menangkup wajah tampan Manggala, lalu mencium bibirnya sekilas.


“Please, jangan begini, Dhis,” Manggala menggenggam kedua tangan Gendhis yang masih menyentuh wajahnya.


“Ngga, demi Mbak Sinta,” balas Gendhis. “Dia sudah kehilangan banyak hal. Kalau kamu memang cinta sama aku, kamu harus mengerti keputusanku.” Ujarnya sembari melepaskan tangan Manggala.


“Aku antar kamu pulang,” Manggala tak putus asa. Dia kembali meraih tangan Gendhis yang menggeleng lemah.


“Ada Mbak Sinta yang sudah menunggu kamu, tuh,” tunjuk Gendhis pada Sinta yang masih duduk terpaku di kursi café.


“Aku antar kamu pulang, Dhis!” paksa Manggala. Cengkeramannya semakin kuat pada pergelangan Gendhis.


“Kata mamaku dulu, witing tresno jalaran soko kulino. Mungkin kamu nggak merasakan rasa cinta itu sekarang. Namun, seiring berjalannya waktu, aku yakin cinta itu akan datang. Belajarlah menerima Mbak Sinta. Atau mungkin, kamu sudah mencintai dia, cuma belum sadar aja,” Gendhis memaksakan tawa.


“Aku cinta kamu, Dhis. Berapa kali harus kukatakan itu. Kamulah calon istriku, bukan yang lain,” Manggala mengaku kalah hari itu. Dia berani menunjukkan sisi rapuhnya pada Gendhis. Ya, pria berambut gondrong yang selalu terlihat maskulin itu menitikkan air mata. Cengkeramannya melemah, seiring rasa pilu yang semakin menguasai hati Manggala.


Melihat kesempatan itu, Gendhis buru-buru melepaskan tangannya. “Aku juga cinta dan sayang sama kamu, Ngga. Semoga ke depannya, kamu selalu berbahagia,” ucapnya. Gendhis kemudian beranjak pergi tanpa menunggu jawaban Manggala.


Dia tak peduli lagi walaupun Manggala memanggil namanya sedemikian nyaring, Gendhis berlari sekencang-kencangnya dan tak menoleh lagi. Dia meninggalkan semuanya di café itu, termasuk gaun pesta yang sudah dibeli menggunakan kartu kredit milik Manggala.


Gendhis berlari keluar dari area mall, lalu berbelok melewati jalan kecil tak jauh dari tempat parkir. Entah kemana jalan itu menuju, dia tak lagi memikirkannya. Yang penting bagaimana caranya supaya Manggala tak dapat menemukan dia.


Setelah dirasa aman, Gendhis mengeluarkan telepon genggam. Dia membuka aplikasi peta, lalu mencari alamat rumah orang tua Manggala.


.


.


.

__ADS_1


Penyegaran dulu dengan karya keren yg satu ini, yuk



__ADS_2