Mengejar Cinta Sang Duda

Mengejar Cinta Sang Duda
Perkenalan Keluarga


__ADS_3

"Maaf, Nek. Saya memang salah. Saya terlalu senang jalan sama Gendhis sampai lupa waktu," dalih Manggala sambil mengusap-usap pundaknya yang terasa sakit. Nenek Sri memukul dia menggunakan gagang sapu dengan sekuat tenaga.


"Awas, ya. Kalau sampai kamu berani cium-cium cucu saya lagi! Saya akan laporkan kamu ke polisi!" ancam Nenek Sri, "atau saya suruh Imas nyium kamu balik!" ujarnya lagi dengan enteng.


"Loh, kok saya?" protes Imas. Akan tetapi setelah dia memperhatikan wajah Manggala yang menurutnya sangat tampan, Imas segera mengangguk kegirangan. "Ya, sudah, Mak. Tidak apa-apa, saya rela. Lagian, saya sudah lama menjanda. Sudah dilanda kemarau bertahun-tahun," ujarnya sambil senyum-senyum sendiri.


"Ya, ampun," decak Gendhis seraya menepuk keningnya. Tak disangka, sang nenek ternyata memiliki pikiran yang teramat kolot. "Ciuman itu nggak bikin hamil, Nek. Tenang aja. Lagian Gendhis udah tahu batasan, kok,” ujarnya. Sesekali, dia melirik Manggala yang tersenyum kalem kepadanya.


"Ciuman memang nggak bikin hamil, Dhis. Tapi, ciuman itu bisa jadi pintu!" sahut Nenek Sri sewot.


"Pintu ke mana?" tanya Gendhis. Gadis itu merengut, saat mendengarkan alasan sang nenek yang menurutnya sangat tidak masuk akal.


"Iya, Mak. Pintu ke mana? Apa pintu kayak punya Doraemon?" timpal Ceu Imas yang ikut penasaran.


"Ah, sudahlah! Kalian ini." Amarah Nenek Sri semakin memuncak. Dia harus mengatur napas dulu sebelum lanjut mengomel. Setelah memejamkan mata untuk beberapa saat, Nenek Sri mendekat pada Manggala yang masih bersikap kalem.


"Dengar ya, Anak muda. Cucu saya ini bukan perempuan sembarangan," geram Nenek Sri seraya mengacung-acungkan gagang sapu ke depan wajah Manggala, hingga pria itu harus memundurkannya demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.


"Iya, Nek. Saya sangat tahu akan hal itu," sahut Manggala mengangguk seraya mengulum senyum.


"Nah, kalau sudah tahu, kenapa nyosor aja?" protes Nenek Sri. “Kalau sampa ketauan lagi seperti ini, bukan hanya gagang sapu yang akan saya gunakan untuk memukulmu!” ancam Nenek Sri lagi.


“Lalu, mau pake apa, Mak?” bisik Ceu Imas.


Nenek Sri terdiam sejenak. “Apa aja yang ada di dapur. Tabung gas juga bisa,” jawab Nenek Sri dengan berbisik pula.


“Pertanyaannya, Emak kuat nggak ngangkat tabung gas? Biasanya juga saya yang beli ke warung.” Ceu Imas terdengar sangsi.


“Ya, kan kamu yang ngangkatin. Saya tinggal nonton,” jawab Nenek Sri lagi sambil terus berbisik-bisik.


“Lah, kalau saya dipenjara karena tuduhan melakukan kekerasan, Emak bakal nolongin saya nggak? Saya ogah kalau harus masuk penjara. Saya ada rencana mau nyari suami lagi soalnya,” ujar Ceu Imas.


“Ah, kamu ini. Nggak bisa diandelin!” Nenek Sri berdecak kesal.


Menyaksikan tingkah kedua wanita tadi, Manggala tak dapat menahan tawa. Akhirnya, dia tertawa pelan sembari melirik pada Gendhis yang terlihat tak nyaman. "Tenang saja, Nek. Saya nggak akan berani macam-macam. Meskipun, cucu Nenek cantik banget,” ujar Manggala sambil berusaha menahan tawanya agar tidak pecah.


"Yee, malah ngegombal. Kamu kalau mau sentuh-sentuh cucu saya, harusnya modal dikit, dong. Halalin dulu, kek!" ujar Nenek Sri dengan nada tinggi.

__ADS_1


"Nek!" seru Gendhis tertahan. Menurutnya, sang nenek sudah keterlaluan. Dia tak bisa membayangkan tanggapan Manggala selanjutnya. Yang jelas, kekasih yang baru dipacarinya kurang dari dua hari tersebut pasti akan lari detik itu juga, akibat ancaman Nenek Sri yang menyuruh pria tersebut agar segera menikahi dirinya.


Namun, ternyata bayangan Gendhis sama sekali tak terjadi. Manggala malah tertawa pelan dengan raut wajah yang sama sekali tak terlihat keberatan atas ucapan sang nenek. "Yang benar, Nek? Apa itu artinya saya boleh melamar Gendhis secepatnya?" tanya Manggala yang seketika membuat Gendhis melotot.


"Nah, itu lebih bagus. Daripada wara wiri nggak jelas," jawab Nenek Sri ketus. “Nikah saja, sebelum kalian didatangi setan. Kalian tahu kan, kalau anak perempuan berduaan sama laki-laki, maka yang ketiganya adalah ….”


“Setan,” lanjut Ceu Imas sambil meluruskan telunjuk pada Nenek Sri.


“Kok nunjuk saya?” protes Nenek Sri sambil menepiskan telunjuk Ceu Imas.


“Tadi Mbak Gendhis cuma berdua sama mas ganteng sebelum Emak datang. Itu artinya, Emak yang ketiganya,” celetuk janda tiga anak itu dengan enteng.


“Ish, kita sekarang berempat!” protes Nenek Sri tak terima.


“Lah, kan saya datang belakangan. Orang saya tadi nyari sandal jepit dulu. Taunya, sandal punya saya dipake sama Emak,” ujar Ceu Imas.


Sementara, Manggala semakin tak kuasa menahan tawa. Ini adalah tontonan yang sangat menyenangkan, setelah dia merasa agak terganggu karena pertemuannya dengan Ghea tadi ."Baiklah. Kalau nenek mengizinkan, saya akan memberitahu orang tua saya secepatnya," ujar Manggala dengan yakin.


Gendhis semakin melotot. Dia merasa heran saat melihat sikap Manggala. "Jangan main-main, Ngga," bisiknya lirih. "Niat kamu mungkin bercanda, tapi nenekku pasti menganggap serius," imbuh Gendhis resah.


"Besok, saya meminta izin untuk mengajak Gendhis ke rumah. Saya akan mengenalkannya pada orang tua dan saudara saya sebelum melamar Gendhis secara resmi. Boleh kan, Nek?" pinta Manggala.


"Ya, boleh. Sore, ya! Sebelum jam tujuh malam harus sampai sini," tegas Nenek Sri.


"Astaga, Nek. Jam tujuh itu baru pulang kantor," protes Gendhis.


"Kalau begitu, jam tujuh lebih lima menit," ralat Nenek Sri memberi keringanan.


"Lima menit itu cuma sampai halaman depan kantor, Nek. Ah, udahlah," gerutu Gendhis.


"Oke, oke! Jam berapa aja terserah, asal hp neng harus terus stand by! Nenek mau video call kamu sewaktu-waktu!" putus Nenek Sri.


"Iya, iya!" sahut Gendhis kesal. Tinggal dengan Nenek Sri, jauh lebih memusingkan jika dibanding dengan seatap bersama sang ayah yang pecicilan.


Setelah mendapatkan kata sepakat, Manggala segera berpamitan. Dia sempat mengedipkan mata pada Gendhis sebelum berlalu dari rumah Nenek Sri.


Keesokan harinya, Manggala benar-benar menepati janjinya semalam. Selepas kegiatan kantor, pria rupawan itu menghampiri Gendhis yang baru selesai melakukan pemotretan.

__ADS_1


Tanpa mempedulikan beberapa orang pegawai yang masih ada di dalam studio, Manggala berjalan gagah mendekati Gendhis. "Sudah selesai?" tanyanya lembut.


Sontak hal itu menjadi perhatian rekan-rekan Gendhis.


"Udah, tinggal beres-beres," jawab Gendhis dengan sikap kikuk. Terlebih ketika dia merasa bahwa semua mata memandang ke arahnya.


"Biar kami aja yang membereskan, Kak," sela asisten fotografer.


"Iya, kami aja," timpal penata rias dan kostum.


"Beneran, nggak apa-apa?" tanya Gendhis ragu-ragu.


"Iya!" jawab mereka secara bersamaan dengan suara full power.


"Ya, udah kalau begitu. Aku pulang dulu, ya. Aku masih ada urusan pekerjaan dengan Pak Manggala," ujar Gendhis seraya melambaikan tangan, lalu meninggalkan studio.


Berhubung sebelumnya Manggala sudah berbicara dengan kedua orang tuanya bahwa dia akan mengajak seseorang, Gendhis pun mendapat sambutan yang begitu hangat dari ayah dan ibu Manggala. Begitu juga dengan adik sang pemilik Nirwana Media yang masih duduk di bangku kelas tiga SMA.


“Seperti inilah keluarga kami, Neng,” ucap Ibu Royani, ibunda Manggala. Wanita itu berusia sama dengan Kalini. Keramahannya pun tak jauh berbeda. Namun, Royani terlihat jauh lebih sederhana.


“Sudah lama kakak saya nggak bawa cewek ke rumah, Teh. Biasanya, dia bawa cowok terus,” celoteh adik Manggala yang bernama Diwan. Ledekannya segera berbalas lemparan bantal sofa dari sang kakak. Namun, Diwan malah tertawa renyah.


“Astaghfirullah. Kalian ini,” tegur Royani. “Diwan, sebaiknya kamu masuk kamar sana. Daripada bikin gaduh di sini.”


“Ada apa ini?” tanya Mahendra, ayahanda Manggala. Pria itu baru kembali, setelah ada urusan di rumah tetangganya. “Maaf, Ayah tadi ada urusan sebentar,” ucapnya seraya duduk di sebelah sang istri. Penampilan ayahanda Manggala pun sama sederhananya. Pria itu mengenakan celana cargo pendek dengan kaos polo lengan pendek pula. Pandangan Mahendra langsung tertuju kepada Gendhis yang duduk di dekat sang anak.


“Ini Gendhis, Yah. Dia dari Yogya, tapi ayahnya asli Bandung,” terang Manggala sebelum sang ayah bertanya.


“Gendhis?” ulang Mahendra. Raut wajah pria itu terlihat sangat bersahabat.


“Iya, Pak,” jawab Gendhis malu-malu.


Mahendra tersenyum penuh arti seraya menoleh pada sang istri. Sebuah isyarat yang sangat dalam, terlihat jelas dalam tatapan sepasang suami istri tersebut.


Bahasa tubuh mereka berdua sangat Manggala pahami. Pria dengan gaya rambut man bun itu pun tersenyum. Diraihnya tangan Gendhis, lalu dia genggam dengan erat. Sebuah sentuhan hangat yang membuat Gendhis merasa lain. Gadis itu tersanjung karenanya.


“Setelah ini, kita akan berangkat ke Yogya. Aku juga ingin berkenalan dengan keluarga kamu,” ucap Manggala, saat di perjalanan mengantar Gendhis pulang.

__ADS_1


__ADS_2