
“Astaga,” decak Gendhis tak percaya dengan ucapan Chand. “Aku cuma putus cinta. Hal kayak gitu nggak akan bikin aku ….” Gendhis terdiam sejenak. “Waktu kamu mutusin buat batalin rencana pernikahan kita juga … aku … aku … aku berusaha kuat. Namun, saat itu aku memutuskan kabur dan sembunyi di Bandung, karena aku malu dengan omongan tetangga.” Raut wajah Gendhis tiba-tiba berubah masam. “Di sanalah aku bertemu Manggala. Dia sangat baik dan bersahabat,” lanjutnya.
Gendhis menundukkan wajah. Sejuta rasa sesal menggelayuti hatinya. Dia merutuki diri yang telah mengambil keputusan dalam kondisi diliputi emosi dan mungkin lebih tepat disebut sebagai rasa cemburu. Ya, Gendhis mengakui hal itu. Dia dapat menerima hubungan Manggala dengan Ghea. Akan tetapi, entah mengapa dirinya merasa sakit setelah mengetahui hubungan intens antara Manggala dan Sinta.
Di mata Gendhis, Sinta merupakan wanita yang sempurna dan sangat ideal untuk dijadikan pasangan hidup. Dia cantik, pintar, dan selalu bersikap serta bertutur kata lembut. Sinta adalah kebalikan dari dirinya yang terkesan urakan, meskipun ternyata Manggala lebih memilih dirinya. Manggala tak memenuhi permintaan Gendhis untuk menikahi Sinta.
“Dia memilihku,” ucap Gendhis tiba-tiba.
“Dia siapa, Dhis?” tanya Chand tak mengerti.
“Dia … dia ….” Gendhis tak melanjutkan kata-katanya. Gadis itu meninggalkan Chand begitu saja. Putri kedua Susena tersebut, tak peduli meskipun Chand sudah hendak mengatakan sesuatu. Gendhis langsung berlari tanpa menoleh lagi, menuju kamar hotel yang ditempatinya.
“Hei, Dhis!” seru Chand, ketika gadis itu sudah cukup jauh darinya. "Bagaimana dengan tawaranku untuk pulang bersama?”
Gendhis yang sudah menjauh dari Chand, langsung tertegun. Dia menoleh, lalu mengangguk. “Aku akan berkemas!” serunya seraya kembali berbalik dan melanjutkan langkah.
“Memang dasarnya aneh, ya tetap aneh.” Chand berdecak pelan. Tak ada alasan baginya untuk tetap berdiri di sana. Chand tak jadi mengantar Gendhis hingga ke kamar hotel gadis itu. Dia memutuskan kembali ke hotel tempatnya menginap.
Sementara itu di dalam kamar, Gendhis mengemasi barang-barangnya dengan antusias. Dia ingin segera pulang ke Yogyakarta, untuk menjemput sang nenek dan mengajaknya kembali ke Bandung bersama-sama.
Selagi merapikan beberapa barang yang lain, Gendhis terus membayangkan sosok Manggala yang tampan dan tak jarang bersikap nakal. Pria itu memang sedikit menakutkan, tapi nyatanya Gendhis menyukai setiap perlakuan dari si pemilik rambut gondrong tersebut.
Gendhis senyum-senyum sendiri sambil terus berkemas. Namun, segala khayalan indah tentang Manggala harus memudar, saat terdengar suara dering panggilan ponselnya. Gendhis menjeda sejenak pekerjaannya, untuk menjawab panggilan masuk tadi.
Dalam hati, Gendhis berharap yang menghubunginya adalah Manggala. Dia membayangkan pria itu memaksa Susena agar memberikan nomor barunya. Namun, setelah mendengar suara di seberang sana, semua harapan manis Gendhis kembali lenyap seketika.
“Kamu lagi,” ucap Gendhis sedikit ketus.
__ADS_1
“Dari mana kamu tahu kalau ini aku?” tanya si pemilik suara yang tak lain adalah Chand.
“Astaga, dalam beberapa hari ini saja kamu wara-wiri terus di depan aku,” ujar Gendhis malas. “Ada apa? Aku sedang berkemas. Setelah ini, aku mau pesan tiket buat besok.”
“Nggak usah, Dhis,” cegah Chand. “Kamu nggak usah pesan tiket, karena sudah kubelikan sekalian kemarin,” ucapnya.
“Iyakah? Ya, sudah. Kalau begitu, besok aku ganti sekalian sebelum berangkat,” ucap Gendhis.
“Nggak usah juga. Aku beliin secara cuma-cuma,” balas Chand.
Gendhis terpaku dengan sepasang mata yang bergerak ke kiri dan kanan secara beraturan. Mendengar segala sesuatu yang bermakna gratis, semangatnya kian tumbuh. Dalam hati, Gendhis bersorak ria. Namun, karena sekarang dia telah berubah menjadi lebih feminin, maka dirinya menahan hal itu.
“Oh, terima kasih banyak. Kenapa kamu harus repot-repot segala?”
“Sudahlah, jangan terlalu berlebihan,” ujar Chand. “Bersiaplah besok, karena kita akan berangkat dengan penerbangan pagi,” pesannya.
Keesokan harinya, Chand dan Gendhis sudah berada di bandara. Ternyata, mereka hanya pulang berdua, karena Prajna dan suaminya berangkat langsung ke Australia. Sepanjang perjalanan, Gendhis yang duduk bersebelahan dengan Chand tak banyak bicara. Pikirannya hanya terfokus pada satu hal. Dia sibuk merangkai kata, yang akan dirinya ungkapkan kepada Manggala setelah mereka bertemu nanti di Bandung.
Hingga pesawat mendarat dengan mulus di Bandara Adisutjipto, Gendhis dan Chand hanya sesekali berbincang ringan. Walaupun Chand terlihat ingin bercakap-cakap lebih jauh, tapi Gendhis justru sebaliknya. Dia terlihat tak begitu tertarik, menanggapi obrolan dengan duda yang dulu sempat membuatnya begitu tergila-gila.
“Aku antar sekalian sampai rumah ya, Dhis,” tawar Chand, setelah mereka berada di luar bandara. “Kamu nggak usah cari taksi, karena aku ada mobil jemputan,” ucap pria blasteran India itu lagi.
“Nggak usah, Chand. Aku sudah terlalu banyak ngerepotin kamu. Nanti kalau ditotal, tagihan aku makin numpuk. Aku nganggur sekarang, takut nggak kuat nyicilnya,” ujar Gendhis sedikit dibumbui candaan. Padahal, alasannya karena dia memang tidak tertarik pulang bersama putra sulung Kalini tersebut.
“Aih, apaan sih kamu? Jangan begitu. Aku hanya merasa diberi mandat sama Om Susena yang secara tidak langsung nitipin kamu sama aku ….”
“Tenang aja, kali. Aku nggak akan menabrakkan diri ke kendaraan yang melintas. Nyawaku cuma satu. Jadi, harus dijaga baik-baik. Seperti halnya cinta.” Gendhis tersenyum sambil melambaikan tangan pada salah satu taksi yang melintas. “Aku duluan ya, Chand. Terima kasih tiket pulang gratisnya. Semoga amal ibadahmu diterima dan dibalas berlipat ganda oleh Tuhan.” Seusai berkata demikian, Gendhis bergegas masuk ke mobil taksi yang sudah menunggu. Dia pergi tanpa memedulikan Chand lagi.
__ADS_1
Dalam hati, Chand merasa bahwa Gendhis memang sudah benar-benar berubah. Pria itu tak bisa protes atau merasa sakit hati. Dia hanya menanggapinya dengan senyuman kecil. Setidaknya, Chand sudah memberikan penjelasan mengapa dulu dirinya menolak perjodohan dengan Gendhis. Kesalahan Chand saat itu adalah melakukan penolakan dengan cara yang terlalu frontal. Namun, kini si duda tampan pemilik wedding organizer tersebut telah banyak berpikir, bahwa apa yang dia lakukan memang salah. Chand menyesali diri, karena sebenarnya dia bukan tipe seperti itu.
Sementara, Gendhis sudah tiba di rumah. Setelah berkangen-kangen ria bersama anggota keluarga, Gendhis bergegas ke kamarnya. Rasa hatinya sudah tak tahan untuk segera berbicara dengan Manggala, dan mengatakan bahwa dia akan kembali ke Bandung. Namun, saat panggilan telepon sudah tersambung, ternyata yang menjawab bukanlah Manggala.
“Kenapa nomor telepon Angga kamu yang pegang, Wan?” tanya Gendhis heran.
“Iya, Teh. Tadinya, mau dibuang sama Kak Angga. Tapi, di kartu ini kan banyak nomor-nomor penting yang mungkin sewaktu-waktu dibutuhkan. Jadi, Kak Angga ngebiarin tetap aktif. Asal jangan disalahgunakan, katanya. Apalagi, di nomor ini banyak kontak ceweknya.” Diwan mengakhiri penjelasannya dengan celetukan yang membuat Gendhis sedikit kesal.
“Banyak banget ya kontak ceweknya?” pancing Gendhis.
“Banyak, Teh. Teman-teman Kak Angga kan nggak sedikit. Nggak cuma cowok-cowok seprofesi, anak-anak motor, cewek-cewek model majalah. Ladyboy juga ada.” Diwan tergelak setelah berkata demikian.
Namun, Gendhis tak ingin menanggapi lelucon tak lucu itu. “Ya, sudah. Sekarang, aku minta nomor baru Angga. Eh, kamu panggilin aja kakak kamu. Bilang kalau aku mau bicara sebentar. Ini kan weekend. Dia nggak ke kantor,” pinta Gendhis.
“Wah! Nggak bisa, Teh. Kak Angga nggak ada di rumah,” sahut Diwan.
“Memangnya, dia pergi ke mana?” tanya Gendhis.
“Lah, apa Teteh nggak tahu kalau Kak Angga langsung berangkat ke Irlandia, sehari setelah acara pemberian penghargaan?”
.
.
.
Refreshing dulu, ya. Mampir di karya keren yg satu ini.
__ADS_1