
Menjelang petang, Gendhis tiba di rumah sang nenek. Wanita yang sudah sedikit bungkuk itu, tampak tengah sibuk menata hidangan di atas meja makan. Selama ini, Nenek Sri hanya ditemani oleh seorang pembantu rumah tangga yang bernama Ceu Imas Maesaroh. Dia wanita asli sunda, dan merupakan janda tiga anak.
Aroma sedap masakan Nenek Sri menyebar ke seluruh ruangan, menggelitik lubang hidung Gendhis yang mungil yang saat itu baru pulang. Kegalauan atas tawaran Manggala yang membuat Gendhis berpikir keras, sempat menghilang sejenak saat dia duduk dan mengambil dua ekor udang goreng asam manis.
“Pakai nasi sekalian,” tegur si Nenek menepuk pelan punggung tangan Gendhis, sambil menyendok satu centong penuh nasi ke dalam piring. Nenek Sri lalu menyodorkannya pada Gendhis.
“Aku belum cuci tangan, tapi nggak apa-apa, deh.” Gendhis menerima piring berisi nasi tadi dengan ceria. Dia mulai makan. Gadis itu selalu terlihat lahap jika sudah bertemu dengan makanan yang dia sukai. Sebenarnya, Gendhis tidak memiliki pantangan dengan segala jenis makanan. Itu artinya, dia memang termasuk ke dalam golongan orang-orang yang rakus. Namun anehnya, tubuhnya tak bisa melar. Entah kemana semua lemak yang dia serap selama ini.
Sambil terus mengunyah makanannya, Gendhis kembali teringat pada percakapannya dengan Manggala saat wawancara tadi. “Kamu bisa memuat artikelmu sendiri. Kubebaskan padamu, Dhis. Tulis semua hal yang kamu ketahui tentang Chand Fawwaz Gunadhya. Baik itu yang buruk-buruk atau sebaliknya … atau hanya tentang sisi negatifnya saja. Aku rasa itu sah-sah saja selama bisa menarik pembaca. Namun, jangan sampai kamu mengunggah berita hoax, ya. Kalau perlu kamu cari tahu dulu segala sesuatu tentang orang itu sebelum merangkumnya ke dalam bentuk berita,” ujar Manggala beberapa jam yang lalu.
“Tapi ‘kan tabloid kamu bukan tentang gosip, Ngga,” sahut Gendhis resah.
“Masih masuk kalau memuat tentang Chand. Anggap saja tabloid bisnis milikku tengah mengupas profil pengusaha sukses seperti dia,” balas Manggala yang terus berusaha meyakinkan Gendhis. “Aku rasa, tidak sulit untuk mencari informasi tentang Chand. Apalagi, kamu pernah akan menjadi calon istrinya, meskipun … um … ya begitulah ….” Manggala tak berniat melanjutkan kata-katanya.
“Bagaimana kamu bisa seyakin itu? Chand adalah pria paling aneh yang pernah kutemui. Karakternya angin-anginan. Aku bingung bagaimana cara menyikapinya.” Gendhis mengambil sebuah permen karet dari saku tasnya. Tanpa merasa sungkan, gadis itu memakannya di hadapan Manggala. “Maaf ya, aku suka ngantuk kalau ngobrol begini nggak sambil makan permen karet,” ujarnya tak acuh.
“Tidak apa-apa. Selama sisanya nggak kamu lempar ke rambutku,” balas Manggala menanggapi sikap cuek Gendhis dengan santai. Walaupun dia baru mengenal gadis asal Yogyakarta itu hanya dalam beberapa hari, tetapi Manggala sudah dapat menebak karakter asli gadis cantik tapi tomboy tersebut. Dia memperhatikan putri kedua Susena itu untuk beberapa saat. “Jadi, bagaimana?” Manggala kembali memastikan.
“Apanya?” tanya Gendhis seraya memainkan alisnya.
“Astaga,” decak Manggala pelan. Selain berpenampilan kurang manis dan tak sesuai dengan namanya, ternyata Gendhis juga agak lemot. “Itu lho, yang tadi kita bahas,” ucap pria tampan itu mengingatkan.
“Oh, tentang Chand?” Gendhis manggut-manggut.
“Iya. Bagaimana menurutmu?” Manggala seakan tengah memberikan sebuah tantangan kepada Gendhis.
__ADS_1
Sementara, gadis itu hanya mengangkat kedua bahunya. “Aku ini fotografer. Bukan pencari berita,” ujar Gendhis tak yakin dengan tantangan yang diberikan oleh Manggala.
“Ya, aku tahu itu. Namun, kamu bisa menjembatani pencari berita agar mendapatkan sesuatu yang bisa mereka tulis untuk mengisi kolom artikel di tabloidku. Begitulah sederhananya,” jelas Manggala dengan diiringi senyuman kalem.
“Ah! Kamu aneh-aneh aja deh, Ngga. Udah jelas-jelas Chand itu alergi sama aku,” tolak Gendhis. “Asal kamu tahu, ya. Ekspresi Chand setiap kali melihat aku tuh, sama seperti saat seorang suami yang jalan sama istrinya, terus tiba-tiba dia ketemu selingkuhan. Kamu bisa bayangin ‘kan? Ekspresi takut campur risih,” terang Gendhis, yang membuat Manggala harus mengulum bibir untuk menahan tawa. Sementara Gendhis masih asyik mengunyah permen karet yang sesekali dia keluarkan, dirinya pandangi sejenak, kemudian dimasukkan lagi ke dalam mulut.
“Ya, sudahlah. Nggak apa-apa kalau kamu tidak bersedia. Aku sama sekali tidak memaksa,” ujar Manggala. Kali ini, dia lah yang merasa risi dengan kelakuan Gendhis yang dirasa sangat jorok untuk ukuran gadis secantik dia. “Apa yang kutawarkan tadi hanya sebagai bentuk keprihatinanku terhadap kamu. Teman baruku,” lanjutnya. “Aku merasa kita sefrekuensi. Banyak kesamaan antara kamu dan aku. Dari mulai dari gaya busana, sampai sikap kita dalam menghadapi lingkungan sekitar. Ya, meskipun aku nggak pernah mengambil dan memandangi permen karet yang sudah dikunyah.”
Gendhis hanya tertawa renyah, setelah mendengar ucapan Manggala yang menyindir kelakuan absurdnya. Namun, sesaat kemudian wajah gadis itu berubah serius. Dia mencondongkan badan ke depan. “Apa kamu juga pernah ditinggal saat berharap ingin segera menikah?” tanya Gendhis begitu saja.
“Um … tidak juga,” jawab Manggala menggeleng yakin.
“Patah hati menahun?” tanya Gendhis lagi makin tak karuan.
“Patah hati sih nggak. Aku hanya pernah gagal dalam menjalin hubungan,” jawab Manggala santai.
“Ya, nggak sama lah. Aku tidak merasa patah hati. Aku malah bersyukur bisa terbebas dari pengkhianat seperti mantanku itu,” jelas Manggala sambil tersenyum, walaupun sorot matanya menunjukkan kepedihan
yang dalam.
Tatap mata yang dirasa lain oleh Gendhis, sehingga dia tak berani bertanya macam-macam lagi. Gendhis lebih memilih terus mengunyah, sampai tanpa sengaja menggigit bibir sendiri. Gendhis pun mengaduh pelan.
“Kenapa? Apa itu akting biar bisa nambah? Kok piring kosongnya dilihatin terus? Kamu nggak sedang kesambet, ‘kan? Aduh, mana sekarang baru mau maghrib,” celoteh Nenek Sri dengan raut khawatir, yang
membuat lamunan Gendhis seketika buyar. “Biasanya jam-jam segini sandekala lagi pada berkeliaran nyari anak gadis yang belum mandi.” Ekor mata Nenek Sri mengarah pada sang cucu.
__ADS_1
“Eh, i-iya. Aku sudah kenyang. Makasih karena sudah menghidangkan makanan yang sangat lezat ya, Nek,” ucap Gendhis sebelum bangkit dari kursinya, lalu mencium tangan si Nenek. Dia lalu menyerahkan piring kosong pada Ceu Imas yang kebetulan melintas. “Aku ke kamar dulu ya, Nek. Mau sembunyi. Takut diculik sandekala,” ucapnya kemudian, membuat Nenek Sri ternganga.
“Aduh, beneran ini kayaknya. Cucuku kesambet,” gumam Nenek Sri pelan. Pasalnya, Gendhis selalu makan dalam porsi kuli. Tak jarang dia menambah satu atau dua piring lagi. Herannya, badan Gendhis masih saja langsing dan ramping. Mungkin benar apa yang dikatakan oleh mendiang suaminya dulu, bahwa Gendhis memiliki perewangan. “Mandi dulu, Neng!” serunya.
“Iya, Nek,” sahut Gendhis setengah berseru. Dia yang sudah beberapa langkah menjauh dari Nenek Sri, kembali menoleh. “Ceu Imas, tolong masakin air panas ya,” pinta Gendhis sopan nan lemah lembut.
“Untuk apa,Teh?” tanya Ceu Imas.
“Untuk menyeduh isi kepalaku yang beku. Biar encer sedikit,” celetuk Gendhis menjawab seenaknya. Dia mengembuskan napas kasar. Gendhis pun berbalik. “Gila aja masih nanya.” Gerutunya pelan sambil berjalan menuju kamar.
Nenek Sri yang merasa curiga, mengikuti cucunya hingga ke kamar dengan diam-diam. Dia lalu mengintip dari balik pintu yang sedikit terbuka. Dilihatnya Gendhis tengah berbaring telentang dengan sorot mata menerawang menatap langit-langit. “Gusti, kunaon? (Gusti, kenapa?)” gumam Nenek Sri seraya berdecak pelan sambil menggeleng tak percaya. “Harus dibawa ke Ajengan Mochtar sepertinya,” pikir Nenek Sri sambil berlalu dari depan kamar Gendhis.
Tak lama kemudian, terdengar dering telepon genggam milik Gendhis. Dengan segera, gadis itu bangkit kemudian menjawab panggilan masuk tersebut. “Halo,” terdengar Gendhis menyapa seseorang di seberang sana. “Ada apa, Ngga?” tanyanya agak malas.
“Dhis, aku mau minta tolong sama kamu. Anggap saja, ini adalah tugas di hari pertama kamu bekerja,” sahut Manggala.
“Tugas apa, Ngga?” tanya Gendhis seketika memasang raut serius.
.
.
.
Sambil menunggu, mampir dulu yuk di karya keren yg satu ini
__ADS_1