
“Ya ampun, Mbak. Inilah kenapa aku sering nyuruh Mbak Gendhis untuk belajar merawat diri. Minimal ikut kursus kecantikan gitu. Kalau nggak mau ngeluarin duit, sekarang banyak kok yang membuka kelas gratis. Cuma modal KTP,” cerocos Utari sambil terus merapikan make up Gendhis yang tak karuan.
“Aku harap pagi ini Mbak beneran mandi. Nggak Cuma nyiram-nyiram air ke badan tanpa aturan,” celoteh anak bungsu dari tiga bersaudara itu lagi.
Sementara Gendhis tak menyahut. Pikiran timeless single tersebut sudah tertuju pada paras tampan Chand yang akan menjadi calon suaminya. Ah, entah mengapa tiba-tiba Gendhis jadi ngebet ingin segera menikah.
Magnet putra sulung Kalini itu ternyata begitu kuat. Ya, setidaknya Gendhis tak harus menyesal karena menjadi sopir sang ayah ke tempat reuni beberapa waktu yang lalu.
“Nah, sudah selesai. Aku rasa make up seperti ini sudah jauh lebih dari cukup untuk tipe cewek model Mbak Gendhis.” Utari mengakhiri pekerjaannya.
Dia membiarkan sang kakak untuk melihat tampilan wajah di cermin. “Jangan protes. Itu sudah maksimal. Setidaknya Mbak Gendhis nggak terlalu mirip dakocan,” celetuk Utari sebelum Gendhis sempat berkomentar.
“Apaan sih kamu? Orang aku cuma mau bilang terima kasih.” Tanpa berkata apa-apa lagi, Gendhis segera beranjak dari duduknya.
Dia lalu membuka lemari dan memilih baju yang akan dirinya kenakan dalam acara lamaran tersebut. Namun, lagi-lagi gadis berusia dua puluh tujuh tahun itu harus kembali dibuat bingung. Pasalnya, isi dari lemari Gendhis hanyalah celana jeans sobek-sobek dengan kaos oversize. “Astaga!” Gendhis menepuk kening dengan cukup keras.
“Kenapa lagi, Mbak?” tanya Utari yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang sang kakak. Utari kemudian melihat isi lemari Gendhis yang tak beraturan. “Astaga. Ini lemari apa Gudang barang bekas?” decaknya tak percaya. “Sulit dipercaya.”
“Jangan sembarangan kamu. Baju sama celana jeans punyaku semuanya bermerk,” protes Gendhis setelah mendengar ucapan sang adik. Lajang dari tiga bersaudara itu berdiri sambil berkacak pinggang. Dia berpikir keras. Entah baju mana yang akan dirinya kenakan kali ini. Gendhis pun menggaruk-garuk kepala.
“Sudah jangan banyak mikir. Entar calon suami Mbak keburu diambil cewek lain yang jauh lebih oke,” celetuk Utari lagi. Dia lalu menarik tangan Gendhis untuk keluar dari kamar. Utari membawanya ke kamar Hanum.
“Mbak, aku sudah menyelesaikan tugas untuk memperbaiki riasan Mbak Gendhis. Sekarang giliran Mbak Hanum urusin kostumnya. Kasih pinjam Mbak Gendhis baju yang cocok.” Utari masuk ke kamar tanpa permisi sambil terus menuntun Gendhis. Untung saja karena saat itu Hanum tidak sedang melakukan ritual yang aneh-aneh.
“Memangnya kamu nggak ada baju sama sekali, Dhis?” Hanum menatap adik keduanya dengan sorot aneh.
“Banyak, Mbak. Jeans sama kaos oblong,” jawab Gendhis enteng.
“Ya ampun. Kamu tuh nyusahin banget sih. Mau lamaran bikin semua orang heboh. Udah kawin nanti, enaknya cuma dinikmati sendiri,” celetuk Hanum tanpa sadar. “Aku sudah sering bilang agar kamu punya minimal satu saja baju buat acara resmi kayak gini.”
__ADS_1
“Kalau aku sudah kawin nanti, apa yang mesti kubagi, Mbak? Terus gimana sama Mas Arya?” Gendhis mengikuti gerak Hanum yang berjalan ke dekat lemari. Sulung dari tiga bersaudara itu tampak memilih beberapa dress cantik miliknya. Saking serius, Hanum bahkan sampai tak menanggapi ucapan Gendhis.
“Nih, coba salah satu dari dress-dress ini. Semuanya sudah nggak pernah Mbak pakai.” Hanum meletakkan sekitar empat potong dress di atas Kasur. “Kalian lihat sendiri. Setelah melahirkan Farras, berat badanku susah turun. Ketambah lagi setelah lahiran sama Aydin. Ya ampun. Makin nggak berbentuk badanku ini,” keluh Hanum seraya memperhatikan diri sendiri lewat pantulan cermin rias.
“Sabar, Mbak. Setidaknya Mbak aman dari terjangan angin puyuh,” celetuk Utari. Dia lalu membantu Gendhis memilih salah satu dress yang dirasa cocok.
“Mbak Anum, kok bajunya kurang bahan semua,” protes Gendhis.
“Apanya yang kurang bahan? Itu midi dress, Oneng! Panjangnya masih selutut.” Hanum melotot kepada Gendhis.
“Ya, tapi kalau pakai baju kayak gini nanti bulu kakiku yang gondrong jadi kelihatan jelas,” protes Gendhis lagi. Dia lalu duduk di ujung tempat tidur. Paras cantik gadis itu terlihat resah. “Mana aku belum sempat mencukur bulu ketek,” gumamnya. “Papa keterlaluan. Kenapa dia nggak ngasih tahu dari sebelumnya. Kalau aku tahu dari kemarin-kemarin, minimal aku mempersiapkan diri dengan baik.”
Belum sempat Hanum dan Utari menanggapi ucapan Gendhis, terdengar suara dering ponsel milik Hanum. Nama Susena tertera di layar sebagai pemanggil. Hanum pun segera menjawabnya. “Ya, Pa.” Hanum tampak manggut-manggut mendengar apa yang Susena ucapkan. Padahal saat itu Susena berada di ruang tamu lantai satu. “Iya, Pa. Sebentar lagi ya,” ucap Hanum sebelum mengakhiri sambungan teleponnya.
“Papa bilang apa, Mbak?” tanya Gendhis yang masih terlihat resah.
“Kamu disuruh buru-buru turun. Keluarga besar Chand sudah menunggu,” jawab Hanum.
“Eh, Mbak. Kapan lagi ada cowok yang bersedia jadi suami Mbak,” cegah Utari. Dia memegangi lengan Gendhis dengan kencang, agar sang kakak tidak melarikan diri. “Mbak Anum, ayo buruan cari baju yang sesuai sama keinginan Mbak Gendhis.”
Hanum tampak berpikir untuk beberapa saat, sampai akhirnya dia tersenyum. Sepertinya ibu dua anak itu telah menemukan sebuah ide yang cemerlang. Hanum pun kembali ke dekat lemari pakaian yang masih terbuka. Dia lalu membuka-buka tumpukkan bajunya.
Sementara di lantai bawah, Susena menyambut kedatangan perwakilan dari keluarga besar Chand di ruang tamu. Saat itu, Kalini datang bersama beberapa saudara dekatnya yang berjumlah sekitar lima orang.
Walaupun Susena merasa galau, apalagi dia melihat Kalini yang tampil sangat cantik seperti Sridevi. Tak dapat dibayangkan jika Susena dapat bersanding dengan mantan kekasihnya saat remaja tersebut. Namun, demi anak tercinta dia rela mengorbankan semua harapan indah tersebut.
“Terima kasih, Sen. Penyambutannya benar-benar hangat,” ucap Kalini yang terlihat begitu antusias. Berbanding terbalik dengan Chand. Pria tampan itu tak banyak bicara. Dia masih merasa bingung dengan hal yang tiba-tiba terjadi dalam hidupnya. Entah akan akan ada kejutan apa lagi dalam beberapa detik ke depan.
“Oh ya. Mana calon mantumu, Lin?” tanya salah seorang paman Chand yang berwajah khas orang India.
__ADS_1
“Putri saya sedang bersiap-siap,” jawab Susena.
Namun, tak lama kemudian perhatiannya teralihkan pada suara Utari dan Hanum yang terdengar dari arah tangga. Susena pun bernapas lega. Itu artinya persiapan Gendhis telah selesai.
Benar saja, sesaat kemudian Utari dan Hanum muncul terlebih dulu di ruang tamu. Mereka berdua tersenyum sambil mengangguk sopan kepada semua tamu.
Perhatian dua bersaudara itu pun tertuju sepenuhnya pada sosok pria yang duduk dengan tenang dan terlihat sangat kalem.
Pria itu tak banyak bicara. Penampilannya pun sangat rapi meski tidak terlalu formal. Satu yang pasti, kedua saudari Gendhis tersebut begitu takjub saat melihat sosok Chand secara langsung.
“Astaga, Mbak. Bagaimana ini?” bisik Utari resah. “Cowoknya keren begitu,” bisik bontot dari tiga bersaudara itu lagi.
“Sudahlah nggak apa-apa. Kalau jodoh nggak akan ke mana,” balas Hanum dengan berbisik pula.
“Mana Gendhis? Kenapa dia belum turun juga?” tanya Susena. Dia merasa heran karena tak melihat keberadaan anak keduanya di antara dua putri yang lain.
“Mbak Gendhis otewe turun, Pa,” sahut Utari seraya tersenyum manis. Dia tengah menepiskan keresahan dalam hatinya. Utari menyenggol lengan Hanum, saat dia melihat Gendhis muncul.
“Ini Mbak Gendhis, Pa.” Utari segera memapah sang kakak yang sudah mendekat kepadanya. Dia membawa gadis itu ke ruang tamu yang terhalang dinding penyekat.
“Syukurlah,” ucap Susena lega. Namun, perasaan lega itu seketika sirna, saat melihat Gendhis berdiri di antara mereka dengan mengenakan gamis panjang dengan model yang sangat jadul. Susena ingat betul bahwa gamis dengan bordiran benang emas tersebut, merupakan pakaian milik mendiang ibunya alias nenek Gendhis.
.
.
.
Mampir dulu yuk di karya keren satu ini
__ADS_1