Mengejar Cinta Sang Duda

Mengejar Cinta Sang Duda
Nomor Baru


__ADS_3

“Ada apa, Dhis? Kamu baik-baik saja, kan?” Suara lembut Kalini terdengar berbeda di telinga Gendhis. Membuat gadis dua puluh tujuh tahun tersebut merasakan keharuan luar biasa. Namun, Gendhis tetap berusaha mengendalikan diri. “Kalau kamu ada masalah, cerita saja. Kebetulan, tante juga belum ngantuk.”


“Nggak apa-apa. tante. Aku lagi liburan di Bali. Malah ketemu terus sama Chand. Dia seperti ….” Gendhis menoleh pada pria tampan yang tengah asyik memperhatikan suasana pantai di malam hari.


“Seperti apa?” tanya Kalini masih dengan nada bicaranya yang lembut. Membuat Gendhis mengurungkan niatnya, yang hendak menyebut Chand seperti jelangkung. “Nggak seperti apa-apa, tante. Seperti biasanya, keliatan jutek dan agak-agak menyebalkan,” jawab Gendhis seraya meringis kecil. Dia merasa begitu bodoh.


“Ah, kamu ini. Dia itu anak tante yang paling ganteng loh.” Kalini tertawa renyah. Dia sudah mengenal Gendhis yang memang terkadang konyol dan bicara tanpa arah. Namun, naluri keibuannya menangkap ada sesuatu yang lain dari putri kedua Susena tersebut. “Kamu yakin nggak apa-apa, Dhis?” tanya Kalini sekali lagi.


Tiba-tiba, Gendhis tertawa renyah. Tawa yang terkesan sangat dipaksakan. Hal itu bahkan menjadi perhatian Chand. “Aku baik-baik saja, tante. Cuma, namanya pengangguran ya beginilah. Pikirannya ke sana-sini nggak ada juntrungannya,” ujar Gendhis mencoba untuk bercanda. Namun, raut wajah yang terlihat justru berlainan. Sorot mata Gendhis menunjukkan kesedihan yang teramat besar.


“Kalau mama saya masih ada, dia juga pasti bertanya seperti ini. Sayang karena mama saya … tapi nggak apa-apa, tante. Apapun yang terjadi, saya harus kuat dan tabah. Itu yang selalu papa tekankan. Walaupun saya seorang wanita, tapi papa mengatakan kalau ….” Gendhis tiba-tiba kembali tertawa. Akan tetapi, air mata sudah mulai berjatuhan membasahi pipi, meski segera diseka olehnya, agar tak dilihat Chand.


Namun, Chand juga bukan pria bodoh yang polos. Dia tahu bahwa ada sesuatu yang tak beres dengan gadis yang selalu dipandangnya aneh tersebut. Gendhis tak menyadari bahwa sejak tadi, duda tampan itu memperhatikannya secara diam-diam. Chand bahkan mendengarkan perbincangan Gendhis dengan Kalini, di antara deburan ombak. Sayup-sayup, pria tampan tersebut dapat menangkap satu atau dua kalimat yang dikatakan Gendhis kepada Kalini.


“Ini.” Gendhis mengembalikan ponsel milik Chand.


“Sudah kubilang, bawa saja dulu. Besok kuambil ke hotelmu,” Chand menyodorkan kembali ponselnya pada Gendhis.


“Nggak, udah cukup. Besok aku mau beli sim card baru,” tolak Gendhis. “Terima kasih, ya. Senang rasanya bisa berbincang sama Tante Kalini,” ucap Gendhis tersenyum simpul.


“Kamu beruntung masih memiliki seorang ibu. Curhat sama ibu tuh beda dibandingkan curhat sama ayah.


“Kamu juga beruntung masih punya papa. Setidaknya, tanggung jawab di pundakmu tidak terlalu berat untuk menjaga keluarga,” balas Chand. Dia yang tadinya menatap Gendhis, mengalihkan pandangan ke laut lepas. Chand terdiam dengan sorot menerawang.


“Selama ini, mama selalu memaksaku agar menikah lagi. Namun, semuanya tidak semudah itu, Dhis. Pertama, karena aku pernah gagal. Kegagalan pernikahan dengan alasan yang sangat memalukan. Kedua, mama tidak tahu kalau aku sangat mengkhawatirkannya. Usia mamaku sudah semakin tua. Aku tidak ingin memberinya beban batin lagi seperti kemarin-kemarin. Aku harus lebih selektif dalam memilih calon istri. Namun, itu semua membutuhkan waktu yang tidak singkat. Ada banyak pertimbangan yang harus diperhitungkan. Bukan masalah pilih-pilih atau semacamnya."

__ADS_1


Chand tersenyum simpul. “Kamu sudah banyak berubah sekarang. Aku bahkan sempat mengira kalau kamu itu adalah seseorang yang pernah aku kenal dulu.”


Entah mengapa, Chand mencurahkan isi hatinya kepada Gendhis. Dia yang selama ini terlihat angkuh dan menyebalkan di depan gadis itu, kali ini terlihat sangat berbeda. Chand seperti sosok lain yang baru Gendhis kenal.


“Siapa? Apa mantan kamu juga?” tanya Gendhis.


“Bukan. Cuma teman,” jawab Chand. Setitik rasa kecewa tersirat dalam ucapannya.


Gendhis dapat memahami hal itu. Dia tak ingin bertanya lebih jauh lagi. “Aku hanya ingin mengubah diri sedikit demi sedikit ke arah yang lebih baik. Siapa tahu, setelah aku berusaha menjadi lebih baik, segala hal dalam hidupku juga bisa mengikuti. Aku tahu dan sangat memahami bahwa memilih pasangan hidup memang tak semudah menuruti hawa nafsu. Kamu benar. Untuk memilih pasangan hidup dan memutuskan menikah, memang membutuhkan proses serta kesiapan yang sangat matang.” Gendhis menggumam pelan, lalu menunduk.


“Apa kamu ada masalah dengan Manggala?” tanya Chand seakan tengah memancing Gendhis agar bicara.


Akan tetapi, Gendhis tak segera menjawab. Dia tersenyum kelu seraya menggeleng pelan. “Menurut kamu … dulu Manggala seperti apa orangnya?” Gendhis malah balik bertanya.


“Iya juga, ya,” Gendhis tersenyum lebar. “Ah, sudahlah. Lupakan. Nggak usah kamu jawab,” ujarnya seraya mengibaskan tangan, lalu berjalan menuruni tebing. Gendhis meninggalkan Chand yang masih terpaku di tempatnya. Dia tak menoleh lagi sampai berada di depan hotel tempatnya menginap. Tak ada yang Gendhis inginkan saat itu selain tidur nyenyak, melupakan sejenak beban hidup.


Saking lelapnya Gendhis tertidur, dia sampai tak sadar jika hari sudah berganti, waktu bahkan merangkak ke siang. Dia terbangun ketika alarm ponsel berdering nyaring pada pukul dua belas siang tepat.


“Ya, ampun! Aku pingsan!” Gendhis buru-buru bangkit dari ranjang dan langsung membersihkan diri. Selesai mandi, dia bergegas keluar hotel untuk mencari makan sekaligus membeli nomor baru. Pilihannya saat itu adalah sebuah gerai lumayan besar yang terletak tak jauh dari kawasan hotel tempatnya menginap.


Gendhis memilih nomor cantik dengan angka belakang yang persis tanggal lahirnya. Setelah membayar, dia segera memasang kartu sim itu dan menelepon Susena. “Halo, Pa. Ini nomorku yang baru. Simpan, ya. Kasih tahu Mbak Hanum dan Utari juga,” suruh Gendhis.


“Oh, Dhis!” seru sang papa saat Gendhis akan mengakhiri panggilan. “Manggala titip pesan. Semoga kamu bahagia, katanya.”


Gendhis tersenyum samar, sambil benaknya menggambar sosok Manggala. “Terus, dia bilang apa lagi?” tanyanya.

__ADS_1


“Um, itu … kata Manggala ….” Kalimat Susena terjeda, membuat Gendhis penasaran.


“Apa?” desak gadis itu.


“Manggala sempat bercerita pada Papa. Rencananya, setelah menikah denganmu, dia akan mengajak kamu pindah ke Irlandia. Manggala mendapat tawaran untuk memimpin sebuah stasiun televisi di sana. Awalnya dia sengaja tidak menceritakannya sama kamu, sebagai kejutan. Namun, setelah kamu membatalkan pernikahan, dia akhirnya memilih untuk melepaskan Nirwana Media dan berniat pindah ke Irlandia seorang diri, Dhis,” terang Susena panjang lebar.


“Ma … Manggala mau pindah?” ulang Gendhis tak percaya. “Terus … Mbak Sinta gimana?”


“Mana aku tahu, Dhis. Kamu tanya langsung aja sama dia,” cetus Susena.


Gendhis sempat tercenung untuk beberapa saat. Ragu-ragu dirinya menekan angka-angka pada layar. Ibu jarinya maju mundur hendak menekan tombol hijau untuk menelepon. Saat itu, seseorang tak sengaja menyenggol lengan Gendhis, sehingga jempolnya memencet ikon memanggil.


Terlambat bagi Gendhis untuk mengakhiri panggilan, sebab suara di seberang sana telah lebih dulu menyapa. “Siapa ini?” tanya suara itu ketus.


“Mbak Sinta? Ini aku, Gendhis,” jawabnya pelan.


.


.


.


Mampir dulu di karya keren yang satu ini, yuk


__ADS_1


__ADS_2