
Gendhis dan Chand berpisah di parkiran. Setelah keluar dari mobil milik pria yang belum Gendhis ketahui latar belakangnya sama sekali itu, dia tak menoleh lagi. Berkali-kali, Gendhis merutuki diri sendiri yang begitu bodoh, karena masih saja jatuh dalam pesona pria yang jelas-jelas telah mempermalukan dia dan keluarganya.
“Ah, bisa-bisanya aku berharap dia bakalan tertarik sama aku,” gerutu Gendhis sambil memukuli kepalanya pelan. Dia sempat berhenti di pintu masuk, ketika seorang satpam memeriksa ranselnya. “Mulai sekarang, hempaskan saja semua. Tidak ada waktu untuk cinta-cintaan,” lanjut Gendhis lagi dengan suara yang cukup nyaring. Membuat satpam di sampingnya menjadi kebingungan.
“Ingat ya, Pak. Kerja yang semangat. Kita nggak bisa membeli sebongkah berlian hanya dengan kata cinta!” ujar Gendhis berapi-api sambil menepuk-nepuk pundak satpam yang semakin keheranan melihat sikapnya.
“Betul, Bu. Kemarin istri saya juga menjual RX King punya saya seharga tujuh juta rupiah,” sahut si satpam yang akhirnya menanggapi, meskipun sebenarnya tidak nyambung dengan ucapan Gendhis.
“Hah, murah amat! RX King kan kisarannya tiga puluh juta?” seru Gendhis tak percaya.
“Itulah, Bu. Gara-garanya saya ngaku kalau beli itu motor seharga lima juta,” jawab si satpam lesu.
“Oh, Anda bohong, ya?” Gendhis menggerak-gerakkan jari telunjuk ke depan wajah si satpam. “Kenapa nggak jujur aja, sih?”
“Wah, kalau sampai saya ngomong jujur sudah membeli motor seharga puluhan juta, bisa-bisa saya diusir dari rumah,” sahut si satpam. “Biar saya punya pentungan keras, tapi itu nggak ada gunanya di depan istri.”
“Kata cinta juga tidak akan bisa menyelamatkan ya, Pak,” celetuk Gendhis.
“Betul sekali, Bu. Bukankah Ibu sendiri yang bilang kalau berlian tidak bisa dibeli dengan cinta,” sahut satpam yang namanya masih rahasia. Gendhis sempat melirik pin papan nama kecil yang tersemat di bagian depan seragam. Pin itu bertuliskan ‘Kasrin Gonzales’. Sebuah perpaduan nama yang sangat aneh dan tak terkonsep.
“Nama macam apa itu?” pikir Gendhis. Dia menggumam pelan sembari menggaruk-garuk kepalanya. Kali ini, dia yang dibuat bingung. Baru saja Gendhis hendak menanggapi, tiba-tiba datang pengunjung mall yang langsung meletakkan tas kerjanya tepat di atas meja satpam. “Silakan diperiksa, Pak,” ujar seseorang tersebut.
Gendhis menarik napas panjang. Pasalnya, dia hafal betul dengan si pemilik suara. Siapa lagi kalau bukan Chand. Pria itu berdiri gagah di samping Gendhis. Menunggu tasnya selesai diperiksa.
“Punya saya sudah selesai ya, Pak? Aman kan, ya?” tanya Gendhis sebelum berlalu.
“Aman, Bu. Silakan.” Si satpam mengulurkan tangannya dengan sopan, sebagai isyarat bahwa pemeriksaan tas Gendhis sudah selesai.
“Oke. Terima kasih, Pak. Saya doakan yang sabar ya. Ikhlaskan saja tiga puluh jutanya,” celetuk Gendhis.
“Sudah saya coba untuk melupakan, Bu,” sahut si satpam.
“Melupakan motornya?” Gendhis menautkan alis.
__ADS_1
“Bukan. Melupakan istri saya,” jawab satpam itu tanpa merasa berdosa.
“Astaghfirullah, nggak boleh gitu, Pak. Hati-hati, loh. Jangan mempermainkan wanita! Awas aja kalau nanti kena karmanya!” tegur Gendhis dengan nada bicara yang sengaja dia tinggikan, agar Chand mendengar dan paham. “Sebelum Anda melecehkan seorang wanita, maka ingatlah pada ibu dan adik perempuan Anda,” tegas Gendhis dengan semangat berkobar. “Itu saja.” Ekor mata Gendhis sempat melirik Chand. Akan tetapi, pria itu sepertinya cuek-cuek saja. Dia bahkan bersikap seolah Gendhis sedang tak berada di dekatnya.
“Bercanda, Bu. Mana mungkin saya melupakan istri saya tercinta. Apalagi kalau setiap pagi, dia membangunkan saya sambil bilang begini; Aa’ bangun. Waktunya kerja, kerja, kerja! Ingat, cicilan kulkas masih belum lunas,” celoteh si satpam.
“Bagus, Pak. Itu artinya Anda orang baik. Semoga Bapak tidak kena tipu lagi, karena tertipu dan diberi harapan palsu itu berat,” tutur Gendhis setengah menyindir. Namun, lagi-lagi Chand tidak peduli.
Akhirnya gadis tomboy itu memutuskan untuk berlalu dari sana. Terlebih si satpam juga terlihat sibuk memeriksa tas Chand yang cukup besar. Gendhis bertekad bahwa dirinya tidak akan lagi memikirkan pria itu. Dia harus fokus pada tugasnya hari ini, yaitu mengambil foto-foto kegiatan expo.
Satu-satunya yang membuat Gendhis lupa akan segala rasa sedih dan kecewa, adalah ketika dia asyik mengabadikan momen-momen indah di sekitar. Wajah-wajah dengan berbagai ekspresi serta kejadian-kejadian menarik. Semua dia ambil dengan jepretan kameranya.
Tak terasa dua jam sudah Gendhis mengambil foto-foto selama kegiatan pembukaan pameran pernikahan berlangsung. Dirasa cukup, Gendhis segera merapikan peralatan ke dalam tas ransel, lalu bergegas menuju kantor Manggala.
Setengah jam menggunakan ojek online, Gendhis tiba di sebuah gedung perkantoran belasan lantai. Setelah bertanya pada resepsionis, dia lalu diarahkan ke lantai teratas. Sambil menenteng tasnya, Gendhis memasuki lift.
Pintu lift terbuka di lantai yang Gendhis tuju. Tak sulit baginya mencari ruangan Manggala, sebab resepsionis tadi sudah memberikan petunjuk. “Pokoknya pintu ruangan Pak Manggala yang ada banyak stikernya, Bu,” begitu tutur si pegawai cantik bersetelan rapi.
Betul juga, pintu ruangan yang dimaksudkan ternyata memang penuh oleh stiker permanen. Sebagian besar stiker-stiker itu bergambar monumen-monumen terkenal di dunia, salah satunya seperti menara Eiffel di Paris. Namun, ada pula stiker-stiker lain yang bentuknya khas seperti milik komunitas motor skuter. Gendhis tahu persis, sebab dulu semasa kuliah, dia pernah mengikuti salah satu kelompok Vespa terbesar di Jogja.
“Dhis?”
“Pak Manggala?”
Mereka bicara secara bersamaan.
“Jangan panggil Pak, ah. Angga saja,” ucap pria tampan berambut gondrong itu. “Ayo, masuk.” Manggala mengurungkan niat untuk keluar. Dia mempersilakan Gendhis duduk di kursi yang berhadapan dengan meja kerjanya.
“Kok sudah selesai liputannya? Kirain kamu mau sampai malam di sana,” gurau Manggala.
“Beberapa foto cukup ‘kan untuk bahan wawancara,” sahut Gendhis. Tersungging senyuman manis dari bibir gadis dua puluh tujuh tahun itu. Dia lalu menyodorkan kamera DSLR kesayangannya pada Manggala.
“Hm.” Manggala mulai serius memperhatikan hasil jepretan Gendhis melalui LCD yang terletak di bagian belakang kamera. Pria itu menggeser slide demi slide gambar yang didapat selama Gendhis berada di expo tadi.
__ADS_1
“Dhis, foto-foto kamu keren. Viewing angle, background, dan komposisi, semuanya bagus. Aspek informasinya pun dapat banget, tapi ….” Pria itu terdiam sejenak sembari mengamati wajah Gendhis yang mulai penasaran. Manggala kemudian terkekeh pelan.
“Tapi apa?” tanya Gendhis tak sabar.
“Tapi kok di sebagian besar foto-foto kamu ada wajah Chand-nya,” jawab Manggala sambil terbahak.
“Ah, masa sih?” Dengan pipi merona merah karena malu, Gendhis merebut kameranya dan memeriksa sendiri satu demi satu foto yang telah dia dapatkan. “Iya juga, ya,” gumamnya membenarkan pernyataan Manggala. Tanpa sadar, Gendhis mengikutsertakan sosok Chand pada foto-fotonya. Dia menepuk keningnya sendiri. “Aduh, gimana, nih!” seru Gendhis tertahan.
“Sepertinya kamu naksir berat sama Chand ya, Dhis,” goda Manggala seraya mengulum senyum.
“Nggak juga. Siapa bilang?” sanggah Gendhis sambil memalingkan muka.
“Aku ngerti, kok. Dia memang seganteng itu. Cewek mana yang tidak tertarik dengan pria tampan, mapan dan berasal dari keluarga kaya raya,” ujar Manggala. “Walaupun kamu sudah disakiti sedemikian rupa, tapi tetap saja, ya,” imbuhnya.
“Jangan salah, Ngga. Aku tuh nggak sebegitu tergila-gilanya sama dia. Aku masih waras, kok.” Gendhis tetap berkilah.
“Apa kamu tidak dendam sama dia yang sudah mempermalukan kamu, Dhis?” tanya Manggala kemudian.
“Dendam?” ulang Gendhis. “Nggak, kok. Biasa aja. Aku cuma ingin menunjukkan kalau aku bisa terlihat hebat dan keren seperti dia.”
“Jadi, kamu tidak memiliki rasa dendam? Rasa ingin membalas?” pancing Manggala lagi.
“Membalas?” Gendhis kembali mengulangi kata-kata pria dengan gaya rambut man bun tersebut.
“Iya, membalas. Menurutku, wajar kalau kamu ingin membalas sakit hati. Jika kamu mau, maka aku bisa membantu untuk hal itu,” ujar Manggala. Pria itu menyeringai aneh, menggantikan senyuman hangat yang kemarin-kemarin terus menghiasi wajahnya.
.
.
.
Cooling down dulu, yuk. Mampir dulu di karya keren yang satu ini. dijamin beda, alurnya syulit ditebak, ga akan bikin bosen
__ADS_1