
“Lho, Tante. Kok Gendhis duduk di depan? Harusnya Tante yang ada di depan sini,” protes Gendhis. Gadis itu terlihat salah tingkah. Dia terus menoleh kepada Kalini yang memilih duduk di kursi belakang.
“Sudah, nggak apa-apa. Tante lebih nyaman di belakang. Anggap saja kita lagi naik taksi online. Tante jadi penumpangnya, Chand jadi sopir,” ujar Kalini dengan wajah sumringah.
“Lah, saya keneknya, dong,” protes Gendhis pelan.
“Begitu juga bisa,” sahut Chand sambil mengulum senyum. Tatap matanya lurus ke depan sambil memutar kemudi. Perlahan, mobil yang dikendarainya meninggalkan kediaman Susena.
Sedangkan, Gendhis berdecak kesal melihat sikap Chand yang menurutnya sangat menyebalkan. “Kenapa dia diajak sih, Tan? Kirain kita berangkat berdua saja sama sopir.” Gendhis kembali melayangkan protes pada Kalini.
“Ya, betul. Kita memang pergi berdua, tapi dia sopirnya.” Kalini mengarahkan telunjuk pada Chand yang serius memperhatikan jalan di depan.
“Ck!” Gendhis berdecak pelan. Setelah itu, dia tak ingin bicara lagi sampai Kalini tiba-tiba menepuk pundaknya.
“Papa kamu ke mana? Tadi Tante nggak lihat dia di rumah,” tanya Kalini.
“Oh, papa lagi ngajak nenek jalan-jalan. Mereka mau berburu oleh-oleh untuk dibawa pulang ke Bandung,” jawab Gendhis.
“Oh. Apa kamu juga ikut pulang ke Bandung?” tanya Kalini lagi.
Seketika, raut wajah Gendhis berubah murung saat mendengar ibunda Chand menyebut nama kota kembang itu. Dia menggeleng lemah sambil memaksakan senyum. “Saya tetap di Yogya, Tante.” Suara Gendhis terdengar sangat pelan, sampai-sampai Kalini harus mendekatkan telinganya.
“Jadi, kamu akan tetap di sini?” ulang Kalini antusias.
“Iya, Tante,” jawab Gendhis seraya mengangguk.
“Syukurlah. Tante jadi bisa sering-sering ketemu kamu,” ujar Kalini ceria. “Kamu nggak lagi sibuk apa-apa ‘kan, Dhis?”
“Saya pengangguran, Tante. Paling juga sibuk makan di rumah,” sahut Gendhis mencoba bercanda. Seperti biasa, candaan garing itu telah berhasil membuat Kalini tertawa renyah.
“Makan terus. Kalau gendut gimana?” balas wanita yang tetap terlihat cantik, di usianya sekarang.
Belum sempat Gendhis menjawab, Chand sudah lebih dulu menyela, “Ini kita mau ke mana sih, Ma?”
“Ke mall. Mama mau belanja ditemani kalian berdua. Mall langganan Mama, ya,” jawab Kalini seraya menepuk pundak putra sulungnya sedikit keras. “Gendhis belum menjawab pertanyaan Tante.” wanita paruh baya itu mengalihkan tatapannya pada Gendhis.
“Pertanyaan yang mana?” Gadis yang sekarang menguncir rambut panjangnya dengan gaya ekor kuda itu mengernyit kebingungan.
“Kalau kamu gendut gimana?” ulang Kalini.
__ADS_1
“Ya, nggak apa-apa gendut, Tante. Toh, saya kayaknya bakal susah dapat jodoh,” sahut Gendhis enteng.
“Eh, Nggak boleh ngomong begitu,” tegur Kalini. “Ucapan adalah doa, maka bicara yang baik-baik saja,” tuturnya lembut.
“Berdasarkan pengalaman sih begitu, Tante. Beberapa hari lagi umur saya dua puluh delapan tahun. Kesempatan untuk mendapatkan pasangan semakin menipis. Apalagi zaman sekarang cowok maunya macam-macam. Harus putih, tinggi, langsing. Emangnya lagi nyari kontestan putri Indonesia, punya penghasilan sendiri, bisa masang gas, ngangkat galon. Kalau perlu mungkin merangkap sebagai tukang bangunan juga,” celoteh Gendhis tanpa jeda. “Makanya saya nggak takut kalau jadi gendut. Kalau memang suatu saat bakalan ketemu jodoh, saya yakin dia pasti mau menerima saya apa adanya,” lanjut Gendhis yakin.
Chand mendengar perkataan Gendhis dengan saksama, walaupun dirinya terkesan cuek dan tak memperhatikan sama sekali. Tersungging senyuman samar dari bibir pria rupawan itu. “Sudah sampai,” ujarnya setelah beberapa saat berlalu.
Chand memarkirkan mobil di area parkir yang terletak di basement mall. Setelah itu, dia membukakan pintu untuk ibunya. Chand hendak membuka pintu bagi Gendhis, tetapi gadis itu telah keluar dari dalam mobil lebih dulu.
“Kita ke bagian mana ini, Tante?” tanya Gendhis saat berada di dalam lift.
“Ke hypermart dulu. Belanja bulanan,” jawab Kalini santai.
“Astaga, Ma. Biasanya kan mama nyuruh si Agus. Selama ini dia yang belanja bulanan.” Chand menggeleng-gelengkan kepala karena heran dengan sikap sang ibu.
“Mama pengennya belanja ditemani Gendhis.” Kalini mengerling penuh arti, sembari melingkarkan tangan di lengan Gendhis.
“Yuk,” ajak Kalini setelah pintu lift terbuka. Dia membawa Gendhis berjalan di antara rak-rak khusus keperluan rumah tangga. Kalini membiarkan gadis yang hampir menjadi menantunya itu untuk memilih setiap produk kebutuhan rumah tangga. Sementara, Chand bertugas mendorong troli.
“Kalau di rumah, aku sih pakai deterjen yang ini, Tante.” Gendhis menunjukkan sebuah merek deterjen pada Kalini sebelum meletakkannya ke dalam troli.
“Oh, pasti kualitasnya bagus, ya?” tebak Kalini.
“Kayak anak kecil aja,” gumam Chand lirih sambil tersenyum. Namun, Gendhis dapat mendengarnya dengan jelas.
“Yang penting baik hatinya dan tidak sombong,” timpal Gendhis seraya menjulurkan lidah. “Tante, Chand santai banget ya, hidupnya. Nggak kelihatan kerja sama sekali. Apa nggak takut bangkrut perusahaannya?” cerocos Gendhis tanpa sungkan.
Kalini tertawa pelan melihat Gendhis yang mulai diliputi emosi. Dia berusaha menenangkan gadis itu dengan mengusap-usap lembut punggungnya. “Oh, dia kalau kerja memang nggak tentu waktunya, Dhis. Kadang pagi buta, kadang siang, kadang tengah malam. Pokoknya kalau dia udah di depan laptop dan pasang tampang garang, Tante nggak akan berani ganggu dia,” jelasnya.
“Tuh, dengar, Dhis. Pagi buta, bukan siang buta,” cibir Chand sambil tertawa.
“Kamu nyindir aku, ya?” Gendhis yang mulai terpancing emosinya, langsung melotot pada duda tampan itu.
“Eit, sudah, sudah. Jangan berantem. Ini di tempat umum. Lagian, kamu sudah cantik begini, masa berkelahi,” lerai Kalini. Dia mengambil tempat dengan berdiri di antara Chand dan Gendhis. Putri kedua Susena itu sudah mengambil ancang-ancang untuk menyerang. Sedangkan, Chand masih tetap pada gayanya yang tenang dan kalem.
“Tante harusnya jangan ngajak dia. Bukannya happy-happy, saya malah semakin tertekan.” Gendhis menggerutu pelan.
“Ah! Tante ada ide.” Kalini menjentikkan jari. Dia memandang penuh arti pada Gendhis sambil tersenyum.
__ADS_1
“Wah, perasaan saya nggak enak, nih.” Gendhis menelan ludah berkali-kali, saat Kalini menggandengnya menuju lantai dua mall, di mana terdapat butik-butik ternama. Gadis itu pasrah mengikuti ke manapun langkah kaki Kalini mengarah. Akan tetapi, Gendhis seketika membeku saat Kalini membawanya masuk ke dalam butik yang khusus memajang pakaian dalam pria.
“Ma, mau apa ke sini?” tanya Chand juga sama terkejutnya dengan Gendhis. Wajah pria rupawan itu bahkan memerah karena malu.
“Ya, ampun kalian ini. Santai saja kenapa, sih. Jangan terlalu tegang. Bikin cepat keriput. Mama mau minta saran Gendhis. Biar dia yang pilihkan mana yang paling bagus,” ujar Kalini seenaknya.
“Ta-tapi, Tante … sa-saya nggak pernah beli begituan.” Gendhis tampak begitu gugup.
“Coba lihat yang warna coklat itu,” tunjuk Kalini tanpa mempedulikan keberatan Gendhis, Dia menarik gadis itu ke rak-rak khusus yang memajang pakaian dalam berbagai macam modelnya.
“Ma, stop bikin malu aku,” bisik Chand pelan sembari mendekat pada Kalini.
“Eh, Dhis, coba lihat ini.” Kalini seolah tak peduli. Dia malah meraih satu model pakaian dalam berwarna putih yang digantung, lalu menyodorkannya tepat ke wajah Gendhis.
“Ya, Tuhan.” Gendhis langsung menutupi wajah dengan kedua tangan. Namun beberapa saat kemudian dia menggeser jari-jarinya sehingga bagian matanya terbuka. “Kayaknya kegedean deh, Tante,” ujarnya ragu.
“Oh, nggak. Ukuran Chand memang besar, kayak papanya. Super XL,” Kalini menaikturunkan alisnya.
“Ma!” seru Chand nyaring. Wajahnya memerah karena menahan malu.
Perlahan, Gendhis menurunkan tangan, lalu meraih pakaian dalam tadi. Dia membolak-balikkan kain berbahan elastis itu. Gendhis mengamatinya dari dekat, lalu menjauhkannya. Hal itu dia lakukan berkali-kali.
“Kamu ngapain sih, Dhis?” tanya Chand yang mulai risi.
Gendhis tidak menjawab. Dia memandang Chand sekilas, lalu kembali pada deretan pakaian dalam yang terpajang. “Kayaknya, ukuran buat Chand yang L juga cukup, Tan,” ujar Gendhis seraya memperhatikan pusat tata surya Chand.
“Astaga, Dhis. Jangan mesum kamu,” tegur Chand seraya menyilangkan telapak tangan pada area yang menjadi pusat perhatian Gendhis.
“Idih, siapa yang mesum? Aku cuma menerawang dari tingkat tonjolannya aja kok,” bantah Gendhis. “Nih! Ini jelas cocok buat kamu,” ujar Gendhis seraya mendekatkan pakaian dalam yang dipegangnya kepada Chand.
Sontak pria itu berjingkat sambil bergerak mundur. “Apaan sih, Dhis?” protes Chand semakin risi. Sementara, Kalini hanya senyum-senyum. Dia merasa terhibur dengan tingkah Chand dan Gendhis. “Dhis, mundur nggak!” tolak Chand seraya mengibaskan tangannya.
“Ini udah cocok, Tante. Merk Buaya Darat. Pas untuk kepribadian Chand yang kalem, tapi kalau sudah menggigit nggak bisa lepas,” ujar Gendhis enteng sambil menoleh pada Kalini.
.
.
.
__ADS_1
Mampir dulu yuk di karya keren yg satu ini