
Gendhis terus berbincang akrab bersama Kalini selama berada dalam perjalanan. Mereka memang sudah sangat dekat, meskipun hanya melalui perkenalan singkat. Hingga tiba di tempat tujuan, obrolan kedua wanita lintas usia tadi masih belum habis juga. Hal itu membuat Chand hanya menggeleng tak mengerti.
“Duduk, Dhis. Tante mau ganti baju dulu sebentar,” ujar Kalini. Dia mengalihkan perhatian kepada Chand yang sudah hendak berlalu. “Chand, temenin Gendhis ngobrol sebentar.” Tanpa menunggu persetujuan putranya, Kalini langsung beranjak dari hadapan Chand dan Gendhis.
Tak biasanya, Chand menjadi sangat penurut kepada Kalini. Seperti kerbau yang dicocok hidung, pria itu duduk di salah satu kursi, tak jauh dari tempat Gendhis berada. Sementara, Gendhis lebih memilih menyibukkan diri dengan ponsel.
Beberapa menit berlalu, mereka masih saling terdiam. Tak ada percakapan sedikit pun antara keduanya. Keadaan itu membuat Chand merasa tak nyaman. Dia juga heran, karena sikap Gendhis terkesan cuek. Tak seperti dulu, gadis itu menjadi lebih pendiam.
“Kamu banyak berubah ya, Dhis,” ucap Chand membuka percakapan.
“Ya? Kenapa?” Gendhis mengalihkan sejenak perhatiannya dari layar ponsel kepada Chand.
“Bagaimana persiapan pernikahanmu dengan Manggala?” tanya Chand. Entah kenapa, dia menjadi sok akrab dengan Gendhis.
“Sudah sekitar delapan puluh persen. Cuma sekarang Manggala sedang sibuk. Nirwana Media terpilih lagi untuk menerima penghargaan sebagai perusahaan media cetak dan online terbaik. Membanggakan sekali.” Gendhis tersenyum puas.
Sementara, Chand membalasnya dengan senyuman simpul. Dia tahu jika Gendhis sengaja mengatakan itu di hadapannya. Namun, Chand tak ingin terpengaruh. “Syukurlah. Aku ikut senang,” ucap pria tampan itu singkat. “Memangnya, kalian pake WO siapa?” tanya Chand lagi basa-basi.
“Berhubung kami akan melakukan akad dan resepsi di Yogya, jadi kami pake WO dari Bandung,” jawab Gendhis sekenanya. Apa yang dia katakan, membuat Chand seketika mengernyitkan kening.
“Manggala dikasih rekomendasi dari temennya. Katanya sih bagus, meski menurut aku agak-agak gimana ya?” Gendhis menggaruk alisnya.
“Gimana maksudnya?” tanya Chand.
“Entahlah. Tadinya aku rada-rada kurang sreg sama kinerja mereka, tapi nggak enak juga kalau harus nolak,” jelas Gendhis.
“Memangnya, kamu pake WO siapa? Aku tahu beberapa WO yang bagus di Bandung.” Obrolan antara Chand dan Gendhis mulai terlihat santai dan nyaman.
“Wawa WO. Kata temennya Manggala, itu WO yang bagus. Sudah terakreditas B+,” jawab Gendhis.
__ADS_1
“Kayak sekolahan aja, Dhis.” Chand menahan tawanya. “Temen calon suami kamu sehat kan?” tanya pria itu yang seketika menghadirkan tanda tanya besar di hati Gendhis.
“Memangnya kenapa? Apanya yang salah?” tanya gadis itu penasaran.
“Wawa WO,” ucap Chand sembari mengsap-usap dagunya. “Setahuku, Wawa WO itu sering bermasalah,” gumamnya.
“Bermasalah gimana?” Gendhis mencondongkan badan ke arah Chand. Dia terlihat penasaran sekaligus was-was. Jangan sampai rencana pernikahannya yang kedua ini gagal oleh hal-hal di luar perkiraan.
“Ya, Wawa WO seringkali bermasalah dengan kliennya. Seringnya karena pesanan yang ternyata tidak sesuai dengan kesepakatan bersama klien,” terang Chand, “tapi, kurasa mereka nggak akan berani macam-macam sama Manggala. Kamu tahu ‘kan seperti apa calon suamimu itu,” imbuhnya.
Gendhis memiringkan kepala sembari berpikir. “Memangnya, seperti apa ya calon suamiku?” tanyanya dalam hati. “Gondrong, santai, cuek dan ….” Wajah Gendhis merona saat membayangkan Manggala yang kerap bertingkah nakal terhadapnya. “Apa kamu yakin kalau tidak akan ada masalah seandainya aku tetap memakai jasa Wawa WO?” Gendhis memasang wajah serius saat meminta saran pada Chand.
“Kalian sering mengadakan meeting, kan?” Chand malah balik bertanya.
“Ya, Manggala yang sering menghadiri meeting bersama Wawa,” jawab Gendhis ragu.
“Nah, apakah selama ini Manggala pernah mengeluhkan sesuatu tentang jasa WO itu?” tanya Chand lagi.
“Kalau begitu, aman, Dhis. Jangan terlalu dipikirkan. Aku yakin jika Manggala dapat diandalkan,” ujar Chand menenangkan.
“Oh, begitu, ya.” Gendhis mengangguk pelan. Dia mencoba untuk tidak terlalu memikirkan dalam-dalam tentang perencanaan teknis pernikahannya. Namun, rasa penasaran tersebut semakin mempengaruhi Gendhis, sehingga diam-diam dia menghubungi Manggala untuk menanyakan perihal Wawa WO.
Tak seperti biasanya, Manggala tak segera mengangkat panggilan Gendhis sampai beberapa kali nada sambung. Biasanya Manggala tak pernah membuat Gendhis menunggu terlalu lama. Tak putus asa, Gendhis mencoba menghubungi calon suaminya itu lagi dan berakhir gagal. “Ke mana ya, dia? Padahal ini jam istirahat makan siang,” gumam Gendhis.
“Apa ada masalah?” tanya Chand yang ternyata memperhatikan sedari tadi.
“Ah, nggak. Cuma pengen nelpon Angga aja,” sahut Gendhis seraya meringis.
“Oh.” Chand manggut-manggut. “Kamu sudah yakin banget sama dia, ya?”
__ADS_1
“Begitulah.” Gendhis kembali asyik memainkan ponsel, untuk menutupi rasa was-was akibat Manggala yang tiba-tiba susah dihubungi.
Tak berselang lama, Kalini keluar dari bagian dalam rumah sambil tersenyum ceria. Wanita yang selalu terlihat cantik itu telah berganti pakaian. “Jadi, gimana? Kalian ngobrol apa aja, nih?” tanya Kalini sembari duduk di antara Gendhis dan Chand.
“Oh, gosip biasa yang nggak begitu penting, Tante,” jawab Gendhis. Untuk beberapa saat, dia menanggapi obrolan dan candaan Kalini yang kadang terasa garing. Namun, demi menghormati mantan calon mertuanya itu, Gendhis memaksakan tawa. Meskipun terdengar kaku.
Hingga tanpa terasa, dua jam sudah berlalu. Gendhis harus kembali ke rumah sakit, sebab dia sudah berjanji untuk membawakan pesanan sang kakak sekaligus bergantian menjaga Susena. “Biar Chand saja yang mengantar,” tawar Kalini.
“Nggak usah, Tante,” tolak Gendhis dengan segera.
“Nggak apa-apa. Lagian Chand juga libur hari ini,” Kalini bersikukuh sambil menoleh ke belakang, berusaha mencari sosok putra sulungnya yang tiba-tiba menghilang sejak tadi.
“Nggak apa-apa kok, Te. Beneran.” Gendhis juga ngotot berdiri.
“Biar kuantar, Dhis. Aku tadi 'kan sudah janji,” ujar Chand. Setelah menghilang, pria itu muncul secara tiba-tiba pula, bagaikan jin yang sedang melakukan kegiatan penampakan.
“Ya, sudahlah,” Gendhis tak menolak lagi agar tak membuang waktu lebih lama. Lagipula, dia tak suka melihat wajah Kalini yang kecewa. “Saya pulang dulu ya, Tante,” pamitnya sembari mencium punggung tangan ibunda Chand tersebut dengan penuh hormat.
“Makasih ya, Gendhis,” Kalini membalas dengan memeluk tubuh ramping itu erat-erat. Entah kapan dia akan dapat bertemu Gendhis lagi.
“Nanti saya telepon ya, Tante,” Gendhis melambaikan tangan dan masuk ke dalam mobil Chand yang telah siap di halaman depan. Selama di dalam mobil menuju rumah sakit, Gendhis tak banyak bicara. Dia tak cerewet seperti biasanya.
Hal itu sedikit banyak membuat Chand penasaran. “Kamu sekarang pendiam banget, ya,” celetuknya.
Belum sempat Gendhis menimpali perkataan Chand, telepon genggam Gendhis berbunyi nyaring. “Halo, tumben bapak nelepon saya,” sapanya sopan ketika mendapati bahwa Hery dari bagian dewan redaksi menghubunginya.
“Iya, Dhis. Habis, mau bagaimana lagi. Dari sebelum makan siang Pak Manggala tidak bisa dihubungi. Nggak seperti biasanya kayak begini,” keluh Hery.
“Memangnya Manggala apa tidak ada di ruang kerjanya, Pak?” Gendhis ikut merasa heran. Pasalnya sedari tadi dirinya juga kesulitan menelepon Manggala.
__ADS_1
“Ya, kalau ada di ruangannya, nggak mungkin aku bakal sebingung ini,” sahut Hery. “Tadi sekretarisnya bilang kalau Pak Manggala sedang keluar makan siang bersama Sinta dan sejak itu beliau tidak bisa dihubungi,” lanjut Hery yang seketika membuat Gendhis gamang.