Mengejar Cinta Sang Duda

Mengejar Cinta Sang Duda
Malam Di Kota Kembang


__ADS_3

Manggala memarkirkan mobil yang dia kendarai di depan balai kota. Mereka lalu berjalan sebentar, hingga tiba di sebuah taman indah Kota Bandung. Manggala mengajak Gendhis duduk di undakan yang tersedia di sana, untuk menyaksikan air mancur warna-warni. “Suka nggak?” bisik pria dengan gaya rambut man bun tersebut. Sejak turun dari kendaraan, tak sedetik pun dia melepaskan genggaman tangan dari Gendhis.


“Suka. Cantik banget, Ngga,” jawab Gendhis tersenyum manis.


“Masih kalah cantik sama kamu, Dhis,” rayu Manggala seraya mencubit gemas pangkal hidung kekasihnya.


Bukannya merasa senang karena mendapat sanjungan manis dari Manggala, Gendhis justru malah menekuk wajahnya. Dia seperti tak terima dengan rayuan gombal pria yang sudah menciumnya sebanyak dua kali tersebut.


“Kenapa malah cemberut?” tanya Manggala heran. Dia menatap lekat Gendhis yang duduk tepat di sebelahnya, bahkan hingga lengan mereka saling bersentuhan.


“Apa semua cowok memang bermulut manis dan pintar menggombal?” Gendhis membalas tatapan Manggala. Jika dilihat dari jarak sedekat itu, pemilik Nirwana Media tersebut memang sangat tampan. Ya, meskipun dalam hati Gendhis masih mengagumi ketampanan Chand. Namun, Manggala pun tak kalah memesona, jika dibandingkan dengan pria yang selalu menganggap dia seperti virus berbahaya.


Gendhis menggeleng pelan. Mulai saat ini, dia harus melupakan sepenuhnya bayang-bayang pria keturunan India tersebut. Chand bukanlah pria yang tepat bagi dirinya. Pria itu justru terlihat begitu jijik jika sedang berhadapan secara langsung. Terlebih, setiap ucapan yang terlontar dari putra sulung Kkalini itu seringkali membuat hatinya terluka. Sakit meski tak berdarah.


“Kenapa kamu bertanya seperti itu?” tanya Manggala sambil memainkan jemari lentik Gendhis.


“Habisnya, kamu bilang aku cantik. Padahal, aku tahu mantan tunangan kamu seperti apa,” sahut Gendhis seraya mengarahkan pandangan ke depan. Dia kembali menyaksikan air mancur yang terlihat indah di malam hari.


“Ya, ampun.” Manggala tertawa pelan. Tanpa melepaskan genggaman tangannya, dia mengikuti arah tatapan Gendhis. “Setiap orang memiliki kelebihan masing-masing. Aku rasa kata itu sudah bukan sesuatu yang baru lagi. Kamu dan Ghea, jelas sangat berbeda. Dari cara berpakaian, dandanan, terlebih sikap yang sangat bertolak belakang,” jelas pria itu pelan dan hati-hati. “Ghea merupakan wanita yang cantik. Dia juga … sangat berpengalaman. Namun, aku sudah terlalu muak melihat tipe wanita seperti itu,” ujar Manggala lagi diiringi sebuah keluhan pendek.


“Jadi, sekarang kamu mau nyari cewek yang biasa saja gitu?” Gendhis memainkan bola matanya dengan tak beraturan.


“Tidak juga,” sahut Manggala. “Sekarang, aku nyari cewek yang unik dan limited edition,” bisik pria tampan itu tepat di dekat telinga Gendhis.


Harus Gendhis akui, bahwa dirinya mulai terbang dengan rayuan-rayuan Manggala. Namun, dia tak tahu apakah itu memang benar-benar sanjungan tulus, atau sekadar rayuan gombal pemanis pada awal sebuah hubungan. Gendhis pun belum dapat membedakan secara jelas perbedaan kedua hal tersebut. Untuk saat ini, setidaknya dia telah mendapat jalan agar dapat melupakan sosok Chand dari benaknya.


Dua sejoli itu terlarut dalam pikiran masing-masing untuk beberapa saat. Lama-kelamaan, Manggala merasa bosan. Dia lalu melihat arloji di pergelangan kiri. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh tiga puluh malam. “Kamu lapar nggak?” tanya Manggala kembali membuka percakapan antara mereka.


“Kamu sendiri?” Gendhis balik bertanya.

__ADS_1


“Aku lapar. Rasanya ingin makan sesuatu yang beda dari biasanya,” jawab Manggala sesekali melirik gadis berambut panjang di sebelahnya..


“Apa itu?” tanya Gendhis lagi seraya menoleh kepada pria di sebelahnya.


“Kamu,” bisik Manggala nakal.


Seketika, Gendhis diam terpaku. Dia baru tahu bahwa Manggala ternyata merupakan pria yang senang sekali merayu. Di balik penampilannya yang tak serapi Chand, pria itu dapat bersikap manis seperti saat ini. “Kamu ini,” balas Gendhis seraya mencubit pinggang Manggala yang segera tertawa. “Kita beli jajanan kaki lima aja yuk,” ajak Gendhis. Dia ingat jika uang tabungannya sudah tersedot habis, hanya untuk serangkaian treatment di salon kecantikan.


“Sebenarnya, malam ini aku mau ngajak kamu ke suatu tempat. Cuma, aku nggak tahu kamu bersedia ikut atau nggak,” ujar Manggala ragu.


“Ke mana? Selama itu bukan neraka, aku sih nggak ada masalah,” celetuk Gendhis, membuat Manggala segera mengulum senyumnya.


“Ini yang aku suka dari kamu, Dhis. Kamu beda dari cewek-cewek kebanyakan.”


“Ah, basi,” cibir Gendhis.


“Nggak basi dong, kan masih anget,” balas Manggala sambil berdiri. Dia mengulurkan tangan, membantu Gendhis agar mengikutinya. Gadis itu pun menurut saja, bahkan ketika Manggala menuntunnya kembali ke tempat di mana dia memarkirkan kendaraan.


Manggala yang menyadari bahwa Gendhis mencuri-curi pandang terhadapnya, segera menoleh. Dia tersenyum kalem seraya mengedipkan sebelah mata.


Melihat sikap pria itu yang semakin membuat dia merasa tak karuan, Gendhis hanya tersenyum sambil mengalihkan pandangan ke samping. Selama berada di Bandung, baru kali ini dia menikmati suasana malam Kota kembang.


“Kenapa diam saja?” tanya Manggala. “Biasanya, kamu cerewet banget,” ujar pria itu lagi. Kali ini, suasana dalam mobil sudah temaram. Hanya lampu-lampu jalan yang sesekali menyorot ke balik kaca depan.


“Aku bingung harus bilang apa sama kamu,” balas Gendhis. Memang tak biasanya dia menjadi seorang pendiam seperti itu. Gendhis, bagaikan seekor singa betina yang telah dipertemukan dengan pawangnya.


“Bilang saja kalau kamu cinta sama aku,” ujar Manggala diiringi senyuman,


“Harus banget ya?” ledek Gendhis.

__ADS_1


Manggala tertawa renyah. Dia masih mengemudi dengan tenang. Kecepatan laju mobilnya pun terbilang pelan, untuk suasana jalanan yang tidak sepadat biasanya. Mungkin saja, Manggala ingin lebih menikmati perjalanan atas nama kencan tersebut.


Sementara, Gendhis kembali mengarahkan pandangan ke luar jendela. Ada banyak hal yang dia lihat selama dalam perjalanan itu. Sesekali, dirinya menangkap sesuatu yang menarik perhatian, meski selebihnya hanya pemandangan jalanan khas lalu lintas di Indonesia. Satu hal yang membuat Gendhis kembali merasa tak karuan, adalah ketika tiba-tiba Manggala kembali menggenggam tangannya.


“Kalau kamu merasa nggak nyaman, bilang saja ya,” ucap Manggala, setelah menghentikan laju mobilnya di depan sebuah bangunan yang terlihat sudah terbengkalai, meski masih kokoh.


“Kita mau apa ke sini, Ngga?” tanya Gendhis terlihat was-was. Pikiran gadis itu sudah mulai dipenuhi hal-hal negatif yang datang dengan cepat, ketika dirinya melihat keadaan bangunan di depan mereka.


“Nanti juga kamu tahu. Kita turun dulu yuk,” ajak Manggala lembut.


Akan tetapi, Gendhis menggeleng kencang. Jantungnya bahkan berdebar seribu kali lebih cepat dari biasa. “Aku nggak mau. Please, Ngga. Aku belum siap untuk ini.” Gendhis menangkupkan tangan setengah memohon.


Apa yang gadis itu lakukan, membuat Manggala mengernyitkan kening. “Maksudmu? Bukannya malam ini kita mau kencan? Aku ngajak kamu kencan di dalam sana. Pasti menyenangkan,” ujar Manggala seraya keluar dari mobil.


Melihat Manggala yang sudah memutari mobil untuk membukakan pintu, Gendhis makin terlihat gelisah. Terlebih, ketika pria itu sedikit memaksanya agar turun. “Please, Ngga. Aku belum sanggup untuk yang satu ini. Aku mohon. Ini bukan acara kencan seperti apa yang ada di pikiranku. Astaga, aku belum siap nahan sakit,” cerocos Gendhis, yang membuat Manggala kian tak mengerti.


Namun, pria dengan gaya rambut man bun tersebut tetap memaksa Gendhis agar mau ikut dengannya. Dia bahkan menuntun dan sedikit menarik paksa gadis itu. “Apa-apaan sih kamu, Dhis? Ayo, masuk. Kita bisa bersenang-senang di dalam,” ujar Manggala sambil membuka pintu.


Seketika, Gendhis tertegun saat melihat suasana di dalam yang jauh berbeda dengan tampilan luar bangunan tadi. Gendhis menoleh kepada Manggala yang menuntunnya masuk dengan tenang. Pria itu tersenyum hangat, pada beberapa pria sesuai dirinya, yang menyapa akrab pemilik Nirwana Media tersebut.


Di dalam bangunan tadi, suasananya begitu nyaman. Interior yang ada di sana, benar-benar menggambarkan sisi maskulin seorang pria. Gendhis berpikir bahwa itu mungkin sebuah markas pertemuan atau semacamnya. Suara alunan musik beraliran keras pun terdengar jelas. Namun, karena ruangan itu dilengkapi dengan peredam, sehingga suara musik menghentak tadi tak terdengar ke luar bangunan.


“Ini adalah markas kami. Para pecinta motor antik. Kebetulan, hari ini ada salah seorang anggota yang berulang tahun. Jadi, nggak ada salahnya sekalian ngajak kamu ke sini.” Setelah memberikan penjelasan kepada Gendhis yang tadi sempat berpikir macam-macam, Manggala segera menyapa beberapa sahabatnya yang lain. Mereka terlihat begitu akrab.


Di sana juga ada beberapa wanita yang tengah sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Salah satu dari para wanita tadi, berjalan menghampiri Gendhis dan berdiri di hadapan gadis itu.


Gendhis sempat terkejut. Dia tahu betul siapa sosok wanita di hadapannya. Namun, sebisa mungkin gadis cantik berambut panjang tersebut tetap bersikap normal. Ya, dia harus terlihat sangat normal kali ini. Jangan sampai dia mempermalukan Manggala dengan ulah konyol, seperti yang biasa dirinya lakukan.


Manggala yang tengah asyik bertegur sapa dengan para sahabatnya, mengalihkan perhatian kepada Gendhis dan wanita yang berhadapan dengan gadis itu. Dia meninggalkan sejenak rekan-rekannya, lalu menghampiri kedua wanita tadi. Tanpa merasa sungkan, Manggala melingkarkan tangannya di pundak Gendhis. Dia mencium pucuk kepala gadis itu dengan lembut dan penuh perasaan. “Ayo, kita duduk,” ajaknya.

__ADS_1


“Hai, Ngga. Apa kabar?” sapa wanita yang tadi berdiri di hadapan Gendhis, dengan senyum dan bahasa tubuh yang terlihat sangat menggoda.


Manggala yang tadinya sudah hendak beranjak dari sana, menyempatkan diri untuk menoleh. “Kabarku sangat baik, Ghea,” jawab pria tampan tersebut, seraya berlalu dari hadapan wanita yang tiada lain adalah Ghea, mantan tunangannya yang telah berkhianat.


__ADS_2