
“Tega kamu, Chand,” geram Gendhis dengan mata berkaca-kaca. “Aku sudah terlanjur mengirim kartu undangan pada Bu Wiryo yang selama ini selalu membuatku tertekan. Aku bahkan sudah memamerkan fotomu ke mana-mana. Dengan bangga kuceritakan kalau aku akan dipinang oleh laki-laki yang baik dan tampan seperti bintang film India,” curhatnya tanpa jeda.
“Namun, pada kenyataannya, kamu yang kukira baik malah mempermalukanku seperti ini,” Gendhis si gadis tomboy yang hanya menangis ketika ibunya telah tiada, kini menangisi seseorang yang baru saja dikenalnya. Betul prinsipnya dulu, bahwa jatuh cinta hanya akan membuat sengsara.
“Tante juga. Selama ini saya percaya sama Tante, tapi kenapa malah saya dikecewakan seperti ini,” protesnya pada Kalini. Perasaan marah Gendhis tak membuat dirinya kehilangan sopan santun pada orang yang jauh lebih tua.
“Jangan salahkan mamaku, Gendhis. Beliau tidak ada hubungannya dengan semua ini. Cukup saja salahkan aku, karena ini semua keputusanku. Aku yang menjalani pernikahan ini, maka aku yang berhak memutuskan seperti apa pasangan yang akan kuajak mengarungi hidup dan pastinya perempuan itu bukan kamu,” timpal Chand.
Kata-kata pria blasteran India itu terasa sangat menyakitkan. Bagaikan belati yang sudah diasah selama dua puluh empat jam, lalu ditancapkan berkali-kali ke dada Gendhis.
“Jaga bicaramu, anak muda!” sentak Susena yang ikut merasakan kepedihan putrinya. Sekilas dia melirik pada Kalini yang lebih banyak menunduk dan menangis.
“Sudah, begini saja. Saya sarankan, kamu pulang sekarang. Namun sebelum itu, tolong bawa pulang sekalian semua seserahan yang kamu berikan pada Gendhis. Beruntung anakku belum sempat membuka semuanya, karena dia terlalu sibuk mengamati cincin. Oh, ya, jadi teringat. Cincinnya kembalikan juga, Dhis,” titah Susena.
“Jangan, Nak. Tolong jangan kembalikan apapun. Itu semua milik kamu. Walaupun kamu tidak jadi menikah dengan anakku, tapi aku sungguh tidak ingin putus komunikasi dengan kamu, Gendhis. Jujur saja, Tante sangat menyukai sifat dan sosokmu,” pinta Kalini panjang lebar.
“Anggap saja, barang-barang itu sebagai tanda permohonan maaf,” sahut Chand dengan entengnya. Raut wajahnya pun terlihat amat datar dan cuek.
Mendengar hal tersebut, Gendhis semakin naik pitam. “Dengan tidak mengurangi rasa hormat terhadap Tante Kalini. Sudi kiranya Tante membawa anak tante yang sok kecakepan ini keluar dari rumah saya,” geram Gendhis dengan suara gemetar.
“Padahal saya juga sangat menyukai sosok Tante yang cantik dan ramah. Tante tuh mengingatkan saya pada mendiang mama saya. Beliau juga ramah dan ceria seperti Tante,” tutur Gendhis penuh sesal yang segera diamini oleh Susena.
“Dari dulu aku suka wanita ceria, ramah dan baik hati. Itu tipe wanita idaman,” celetuk Susena yang seakan lupa oleh amarahnya tadi.
Seketika Gendhis langsung menyenggol lengan ayahnya sambil melotot.
“Sekali lagi, maafkan Tante ya, Gendhis,” ucap Kalini. Dia tak dapat menyembunyikan kesedihan dan kekecewaannya. “Tolong jangan hapus kontak Tante. Tante ingin sesekali menyapa dan menanyakan kabarmu.”
Gendhis tak langsung menjawab. Dia tampak berpikir sejenak sampai akhirnya mengangguk. “Sampai jumpa lagi, Tante.” Gendhis meraih tangan Kalini lalu menciumnya begitu saja. “Hati-hati di jalan. Semoga saya dan anak anda tidak akan pernah bertemu lagi di jalan atau di manapun. Takutnya saya gelap mata, terus tanpa sadar menganiaya dia,” ujarnya penuh penekanan sembari matanya melotot tajam ke arah Chand.
__ADS_1
Chand sendiri tak menanggapi ancaman tidak jelas dari Gendhis tersebut. Dia hanya tersenyum meremehkan sambil mengulurkan tangan pada putri kedua Susena itu. “Maaf ya,” ucapnya santai, tanpa rasa bersalah sama sekali.
“Oh, tidak apa-apa. Tenang saja. Aku juga tidak setertarik itu kok sama kamu. Muka pasaran begitu, di pasar Beringharjo juga banyak,” ejek Gendhis sambil mencebikkan bibir. Tak lupa dia menampik tangan Chand yang berusaha mengajaknya bersalaman.
Sekarang, Gendhis merasakan peribahasa ‘lain di mulut, lain di hati’, sebab pada kenyataannya, suara hati Gendhis yang terdalam meneriakkan nama Chand. Pria berwajah paling ganteng sedunia. Bahkan Gendhis sempat menulis buku diary dengan satu halaman yang penuh dengan tulisan nama ‘Chand’.
“Ah, masa sih di pasar Beringharjo ada yang mukanya mirip Chand? Di sebelah mana?” tanya Susena tak percaya.
“Itu yang jualan mukena di blok Utara,” jawab Gendhis sedikit nyaring.
“Oh, mukena sama sajadah itu ya?” terka Susena seraya menjentikkan jari. “Yang biasanya teriak-teriak: permadani arabnya pak, bu. Sajadah aladinnya mbak, mas,” seru duda beranak tiga tersebut dengan suara yang dia ubah sehingga mirip dengan suara cempreng pedagang yang dimaksud.
“Nah,iya, Pa. Betul sekali! Tinggal dipakein surban, cocok, tuh,” sambung Gendhis seraya terbahak.
“Ehem.” Deheman pelan Chand menghentikan obrolan absurd ayah dan anak tersebut. “Kalau memang sudah tidak ada masalah, saya pamit dulu,” Chand mengulurkan tangannya lagi pada Gendhis.
Lagi-lagi, Gendhis kembali menampiknya. “Tidak perlu salaman. Bukan mahram,” tolak Gendhis ketus. Beberapa saat kemudian, dia mencium tangan Kalini sekali lagi, lalu mencium pipi kiri dan kanan wanita paruh baya yang masih tetap terlihat cantik itu.
“Aku antara bahagia dan sedih. Sedih, karena Gendhis tidak jadi menikah. Bahagia karena Gendhis tidak berjodoh dengan anakmu. Jadi, masih ada kesempatan buat kita untuk merajut kasih kembali seperti dulu.” Demikian bunyi pesan yang sudah masuk ke dalam telepon genggam Kalini.
Harap-harap cemas Susena menunggu jawaban. Pada akhirnya dia harus kecewa, karena setelah Kalini membaca pesan darinya, ibunda Chand itu langsung memblokir nomornya. “Wah, kejam sekali!” pekik Susena kecewa.
“Iya, Pa. Memang kejam,” balas Gendhis. Dia mengira bahwa ayahnya itu tengah mengasihani nasib Gendhis yang buruk.
“Aku tidak menyangka sikapnya sekejam itu,” Susena menggelengkan kepala pelan sambil menyugar rambutnya yang mulai beruban.
“Iya, aku juga tidak menyangka. Percuma punya wajah ganteng kalau bisanya cuma nyakitin,” timpal Gendhis. Air mata yang sedari tadi dia tahan, akhirnya tumpah juga.
Gadis dua puluh tujuh tahun tersebut, langsung memeluk Susena erat-erat. Dia menumpahkan kesedihan di sana sambil sesekali mengusapkan ingus hidungnya di kemeja sang ayah.
__ADS_1
Susena sendiri juga tampak begitu murung. “Begini rasanya patah hati,” gumamnya lirih.
Gendhis langsung menanggapi ucapan ayahnya dengan anggukan. Padahal Susena menujukan kalimat tersebut untuk dirinya sendiri.
Sementara itu di dalam mobil, Kalini tampak mende*sah pelan. Dengan berat hati, dia harus memblokir nama Susena. Wanita itu memang selalu menjauhi setiap pria yang menyatakan ketertarikan terhadap dirinya.
Lain halnya dengan sikap Kalini terhadap Gendhis. Selain karena Gendhis tidak mungkin tertarik pada sesama wanita, Kalini juga sudah terlanjur menyukai gadis cantik dan enerjik tersebut, sehingga dia memutuskan untuk terus menyimpan nomor kontaknya.
Sesaat kemudian, wanita itu mengalihkan perhatian sepenuhnya pada Chand. “Coba katakan pada mama, apa alasan sebenarnya kamu menolak Gendhis? Dari kemarin mama tanya, kamu tidak mau mengaku,” desak Kalini.
“Alasan apapun sudah tidak penting lagi, Ma,” Chand mencoba berkilah.
“Kalau kamu tidak mau mengaku, mama akan paksa kamu putar balik ke rumah Gendhis!” ancam Kalini tak mau menyerah.
“Astaga, Mama. Oke, aku mau mengaku,” ucap Chand pada akhirnya.
“Jadi?” Kalini mencondongkan tubuh ke arah putra sulungnya itu.
“Alasan aku menolak Gendhis adalah ... karena ... .”
“Karena?” sela Kalini tak sabar.
“Karena wajah Gendhis mirip sekali dengan Binar,” jawab Chand lirih.
.
.
.
__ADS_1
Hai, hai, sambil nungguin. Mampir dulu yuk di karya keren yang satu ini