Mengejar Cinta Sang Duda

Mengejar Cinta Sang Duda
Pie Nanas Bikin Panas


__ADS_3

Gendhis dilanda kegalauan luar biasa. Dia tak enak makan ataupun berbaring. Padahal, dua hal itu menjadi aktivitas paling dirinya sukai selama hidup di dunia ini. “Apa iya Angga sama Mbak Sinta ….” Mata bulat Gendhis menerawang, menembus langit-langit ruangan.


“Apa aku bakal gagal menikah lagi?” pikirnya lagi dengan berkaca-kaca.


Beruntung karena pertanyaan meresahkan tadi segera terjawab, ketika terdengar ketukan cukup kencang di pintu kamar. Gendhis segera bangkit dan bergegas membuka pintu. Wajah semringah Utari menyambutnya saat pintu kamar sudah terbuka lebar.


“Mbak, dicariin tuh,” ujar Utari dengan senyuman terkembang.


“Siapa?” Gendhis menautkan alisnya sambil memandang penuh curiga pada adik bungsunya tersebut.


“Ciri-cirinya tinggi, gondrong, ganteng banget,” jawab Utari diiringi tawa ceria.


“Manggala?” tebak Gendhis.


“Ya! Selamat Anda benar. Dapatkan hadiah payung cantik. Hadiah bisa diambil di toko terdekat, hanya dengan menyerahkan sejumlah uang,” celoteh Utari sembari bertepuk tangan. Dia lalu menarik tangan kakaknya. Utari membawa Gendhis turun ke ruang tamu.


“Ah, kebiasaan. Kamu tuh emang nggak penting banget," sungut Gendhis. "Apa iya Manggala datang ke sini?" Gendhis menggeleng tak percaya. “Nggak mungkin. Dia tuh lagi sibuk mempersiapkan banyak hal untuk acara besar. Lagian, Manggala juga nggak bilang apa-apa sama aku. Gimana mau bilang, dihubungi aja dia nggak bisa. Angga tuh ….”


Celotehan Gendhis berhenti seketika, saat dirinya sudah berada di ruang tamu. Tampaklah Manggala yang tersenyum manis ke arahnya sambil mengangkat satu paperbag berukuran besar. “Surprise,” ucap pria tampan tersebut.


“Angga?” Gendhis melotot. Dia berjalan mendekat, lalu mengitari tubuh calon suaminya. “Ini beneran kamu?” Gendhis mengusap-usap punggung lebar Manggala, lalu beralih pada lengannya. “Kalau diraba dan dirasakan ototnya begini sih ... emang kamu, Ngga,” gumamnya.


"Dih, yang sudah tahu otot pacarnya," goda Utari setengah menyindir.


"Jangan iri," cibir Gendhis. "Kamu udah punya otot kawat tulang lunak," ledeknya.


"Idih, Mbak! Amit-amit! Suamiku pria sejati. Kokoh dan tak tertandingi!" protes Utari. Tak ingin menanggapi lagi ucapan sang kakak, Utari memilih beranjak dari ruang tamu.


“Kenapa, Dhis? Ini memang aku.” Manggala tertawa geli. “Rencananya aku mau langsung ke rumah sakit, tapi aku nggak tahu di rumah sakit mana Om Susena dirawat. Jadi, aku mampir dulu kemari,” tuturnya.


“Kenapa nggak bilang-bilang kalau mau ke sini, Mas? ‘Kan biar saya bisa nyiap-nyiapin sesuatu. Menyan, misalnya,” celetuk Utari yang kembali ke ruang tamu. Dia berdiri di samping Gendhis sambil memandang sosok Manggala penuh kekaguman.


“Emangnya dia dukun.” Gendhis mencubit pelan pipi Utari. “Udah sana, bikin minum,” suruhnya.


“Kok aku,” protes Utari.


“Kamu ‘kan lagi nganggur. Udah sana,” usir Gendhis dengan suara pelan.

__ADS_1


“Ih, dasar! Seenaknya aja nyuruh-nyuruh orang. Padahal aku juga pengen ikut ngobrol.” Utari menggerutu seraya meninggalkan Gendhis dan Manggala berdua di ruang tamu.


“Duduk, Ngga.” Gendhis tidak memedulikan ocehan adiknya. Dia meraih tangan Manggala, lalu mengajaknya duduk di sofa. “Aku tadi sempat berpikir macam-macam lho,” ujarnya manja sembari menyandarkan kepala di bahu Manggala.


“Berpikir tentang apa?” sahut Manggala lembut.


“Tahu, nggak? Dari sebelum makan siang tadi aku nggak bisa menghubungi kamu. Pak Hery juga nyariin kamu, tapi nggak ketemu. Telepon juga tidak aktif,” tutur Gendhis. “Apalagi, Pak Hery sempat bilang kalau kamu keluar berdua sama Mbak Sinta,” imbuhnya.


“Oh, itu." Manggala tertawa pelan, hingga terlihat lesung pipi yang semakin menambah tingkat ketampanannya. “Aku minta bantuan Sinta untuk memilihkan bingkisan buat papa kamu, selain buah tentunya,” jelas Manggala.


“Ya, ampun. Repot-repot aja sih, Ngga,” sahut Gendhis manja seraya bergelayut di lengan Manggala, persis seperti seekor kucing yang sedang berahi.


“Nggak ngerepotin, kok,” bantah Manggala seraya menyentuh dagu Gendhis dan sedikit mengangkatnya. “Aku kangen.” Selesai berkata demikian, pria tampan itu menyentuh bibir sang kekasih dan menciumnya lembut. Sayang sekali karena adegan manis itu harus terhenti, ketika Utari kembali memasuki ruang tamu sambil membawa nampan berisi dua cangkir teh dan camilan.


“Astaga, masih maghrib ini,” celetuk putri bungsu Susena itu sambil meletakkan nampan di atas meja. “Ayo. Silakan, Mas.”


“Makasih,” sahut Manggala diiringi senyuman. Dia mengangguk dan terlihat salah tingkah, karena Utari terus berdiri di hadapannya.


Sementara, Gendhis memberi kode pada adiknya itu agar segera pergi. Akan tetapi, Utari tak menghiraukan bahasa isyarat sang kakak. “Mas, berangkat dari Bandung jam berapa?” Utari malah mengajak ngobrol Manggala.


“Um, kira-kira jam tiga. Setelah makan siang,” jawab Manggala yang mulai terlihat biasa.


“Diantar Sinta,” jawab Manggala, masih dengan gayanya yang cuek dan santai.


“Siapa Sinta?”


“Sama Mbak Sinta?”


Kakak beradik itu bertanya secara bersamaan.


“Iya, Dhis. Setelah dia membantu memilihkan oleh-oleh, Sinta mencarikan aku tiket pesawat paling cepat ke Jogja,” terang Manggala. “Kamu nggak berpikiran macam-macam, ‘kan?”


“Awalnya sih aku mikir macam-macam. Banyak macemnya malah. Apalagi waktu Pak Hery nyariin kamu tapi nggak ketemu,” jawab Gendhis ragu.


“Memangnya, isi oleh-oleh itu apa?” sela Utari yang masih bertahan di tempatnya. Dia tak memedulikan perbincangan Gendhis dengan Manggala.


“Handuk dan peralatan mandi,” jawab Manggala enteng.

__ADS_1


“Hah?” Gendhis dan Utari, serempak melongo.


“Ada aromaterapinya juga,” terang Manggala seraya membuka paperbag, lalu mengeluarkan semua isinya.


“Ta-tapi, di rumah sakit sudah disediakan itu semuanya,” ujar Utari sambil menggaruk kepala.


“Iya, tapi pihak rumah sakit pasti nggak menyediakan lilin aromaterapi,” bantah Manggala. “Ada boneka koala juga buat Gendhis.” Manggala merogoh lagi ke dalam paperbag berukuran besar tersebut. Dia mengeluarkan sebuah boneka koala kecil berwarna abu-abu, lalu menyerahkannya pada Gendhis.


“Wah, kalian pasti akan jadi pasangan yang cocok. Sama-sama error,” celetuk Utari seraya mengembuskan napas pelan. Dia juga menatap Manggala dengan sorot kecewa. “Ganteng doang ….” Utari tak melanjutkan ucapannya. Dia memilih untuk berlalu ke bagian dalam rumah sambil mengoceh dalam bahasa yang tak dipahami jelas oleh dua sejoli itu.


“Kita jenguk papa kamu, yuk,” ajak Manggala.


“Besok saja, ya. Jam besuk sudah habis. Lagi pula, kamu pasti capek habis perjalanan jauh,” tolak Gendhis.


“Nggak apa-apa, Dhis. Jangan ragukan staminaku.” Manggala menyeringai nakal sambil berusaha mencium bibir Gendhis lagi. Adegan manis kembali berlanjut. Kali ini, tak ada siapa pun yang mengganggu, sampai bel rumah berbunyi.


“Astaga, siapa lagi sih yang bertamu maghrib-maghrib begini,” keluh Gendhis. Dia menjauhkan wajahnya dari Manggala, kemudian bangkit dari duduknya.


Dengan malas, Gendhis membuka pintu rumah. Namun, bahasa tubuhnya seketika menegang saat menyadari tamu yang baru saja datang.


“Chand?” desisnya tak percaya. “Ngapain kamu ke sini?” tanya Gendhis setengah berbisik.


“Dari mama.” Bukannya menjawab, Chand malah menyodorkan sebuah kotak plastik transparan yang berisi pie nanas.


“Siapa, Dhis?” Manggala merasa mendengar suara Chand. Pria itu ikut berdiri dan mendekat ke pintu. Dia berdiri gagah di samping Gendhis, sembari melingkarkan tangannya di pinggang sang kekasih.


“Mamaku membuat kue ini. Dia ingin memberikannya untuk Gendhis,” ujar Chand kalem.


“Untuk Gendhis?” ulang Manggala keheranan.


“Yang sakit Om Susena, bukan Gendhis.” Nada bicara Manggala terkesan dingin. Raut wajahnya juga menunjukkan sikap tak suka.


"Aku tahu, tapi kue ini untuk Gendhis." Chand tersenyum kalem seraya menyodorkan kotak transparan tadi. "Mama kelupaan. Harusnya dia ngasih ini tadi pas kamu datang ke rumah," ujar duda tampan itu lagi, tanpa memedulikan raut wajah Manggala yang seketika berubah.


.


.

__ADS_1


Panas-panas begini enaknya mampir di karya keren satu ini



__ADS_2