Mengejar Cinta Sang Duda

Mengejar Cinta Sang Duda
Teka-teki Silang


__ADS_3

Gendhis melalui hari dengan tidak bersemangat. Dia yang biasanya ceria dan banyak bercanda, kali ini lebih banyak terdiam dan merenung, sampai jam kerja berakhir. Gendhis membereskan peralatan fotografinya, dibantu oleh Arif. Setelah rapi, dia berlalu begitu saja meninggalkan ruangan tanpa berpamitan pada siapapun.


Tujuan Gendhis saat itu adalah ruangan Manggala di lantai teratas. Kebetulan pintunya terbuka, jadi dia hanya mengetuk pelan sebelum melangkah masuk. Di sana ternyata ada Hery dan Sinta yang tampak serius mendiskusikan sesuatu bersama Manggala.


Namun wajah tegang pemimpin redaksi Nirwana Media itu seketika mencair ketika melihat sosok sang kekasih tengah berdiri di ambang pintu. “Dhis, ayo masuk,” ajak Manggala sumringah.


Sementara Gendhis terpaksa memasang wajah ceria dan penuh senyum. Apalagi saat Sinta menyapanya hangat. Gendhis pun menghampiri Sinta lalu duduk di sebelahnya. “Gimana papa kamu, Dhis?” bisik Sinta seraya mendekatkan bibir ke telinga Gendhis.


“Alhamdulillah sehat, Mbak,” balas Gendhis lirih. “Makasih ya, udah nanyain kondisi papaku,” imbuhnya sambil sesekali ekor matanya melirik pada Manggala yang kembali berbincang serius dengan Hery.


“Ah, kayak sama siapa aja, Dhis,” Sinta tertawa pelan sembari menepuk lembut lengan Gendhis. “Oh, ya. Kapan hari Pak Manggala meminta tolong aku untuk memilihkan bingkisan buat papa kamu. Gimana? Cocok, nggak?”


“Cocok, Mbak. Papa suka banget sama bantal pijitnya,” jawab Gendhis.


“Syukurlah, kalau cocok,” ucap Sinta dengan wajah yang tampak benar-benar tulus.


“Mbak … keluar berdua saja sama Angga?” tanya Gendhis hati-hati.


Raut cantik Sinta mendadak terkejut. Sesaat kemudian, dia menunjukkan mimik bersalah. “Iya, Dhis. Kamu keberatan, ya? Maaf, ya. Pak Manggala yang memaksa. Aku nggak enak mau menolak,” sesal Sinta.


“Nggak apa-apa kok, Mbak. Beneran,” Gendhis tersenyum lebar untuk menyembunyikan perasaan tidak nyaman dalam dada. “Jadi, Mbak nanti pakai gaun apa?” tanya Gendhis lagi demi mengalihkan pembicaraan.


“Belum kepikiran, Dhis. Masih sibuk ngurusin jalannya acara sekaligus after party,” sahut Sinta.


“Kalau kita belanja berdua gimana?” cetus Gendhis. “Kita cari gaun yang bagus dengan harga miring.”


“Boleh!” seru Sinta antusias. Sesaat kemudian, dia menutup mulut rapat-rapat saat menyadari bahwa suaranya terlalu nyaring, sampai-sampai Manggala dan Hery menoleh ke arahnya. “Eh, ma-maaf, Pak,” ucap Sinta terbata, yang sama sekali tak ditanggapi oleh Manggala.


“Kapan Mbak Sinta ada waktu luang?” tanya Gendhis.


“Besok pulang kantor, bagaimana? Kebetulan besok aku lagi nggak ada liputan,” tawar Sinta.


“Sip!” Gendhis mengangkat kedua jempolnya. “Besok, ya.”

__ADS_1


“Oke!” Sinta ikut-ikutan mengangkat jempol, lalu dia arahkan tepat ke depan wajah Gendhis.


“Jadi, pembahasan kita sudah selesai, ya,” ujar Manggala tiba-tiba, membuat Gendhis dan Sinta langsung menoleh pada pria rupawan itu.


“Kita lanjutkan besok pagi,” putus Manggala seraya berdiri dari duduknya. Sebuah bahasa tubuh yang dapat diartikan dengan baik oleh Hery dan juga Sinta. Dua orang itu juga turut berdiri, lalu menyalami Manggala.


Setelah mengangguk hormat, Hery dan Sinta keluar dari ruangan. Sinta menyempatkan menoleh pada Gendhis, kemudian melambaikan tangan.


“Dah, jangan lupa besok, ya,” mulut Gendhis komat-kamit seraya membalas lambaian Sinta.


“Oke,” timpal Sinta sebelum menghilang di balik pintu.


“Kamu janjian apa sama Sinta?” tanpa diduga, Manggala sudah berdiri di belakang Gendhis. Pria itu juga melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping sang kekasih.


“Eh, Ngga. Aku ngajakin Mbak Sinta beli gaun pesta. Besok, sepulang kerja,” jawab Gendhis seraya berbalik dan menghadap kepada Manggala.


“Hm, rencana mau belanja di mana?” kejar pria berambut gondrong itu.


“Nggak tahu. Mbak Sinta yang hafal daerah Bandung. Aku ngikut aja,” Gendhis meringis lucu. Satu hal kecil yang sanggup membuat Manggala gemas. Seperti biasa, bibir ranum Gendhis menjadi sasaran kegemasan Manggala.


“Udah, Ngga,” muka Gendhis memerah akibat perlakuan calon suaminya. Ciuman yang dahsyat sekaligus debaran jantung yang menggila, mengakibatkan Gendhis kesulitan menghirup oksigen. Dengan terpaksa dia mengurai pelukan Manggala sambil menjauhkan wajahnya dari sang kekasih.


Bukannya merasa bersalah, Manggala malah terbahak. Dia mengalah dan mundur perlahan, lalu kembali ke meja kerjanya. Sikap pria tegap itu begitu santai saat membuka laci pertama. Dari sana, dia mengeluarkan sebuah kartu kredit berjenis platinum dan menyerahkannya pada Gendhis.


“Pakai ini, Dhis. Untuk belanja besok. Cari gaun yang bagus sekalian, ya. Soalnya di acara penghargaan nanti, kita berdua bakal disorot oleh media nasional. Kamu harus tampil jadi yang tercantik,” tutur Manggala dengan sorot mata yang lembut dan penuh cinta.


“Nggak usah deh, Ngga. Nggak enak,” Gendhis malah menyerahkan kartu kredit itu kembali pada Manggala.


“Emang nggak enak, Dhis. Kartu kredit bukan buat dimakan, tapi dibelanjakan,” Manggala menyodorkan lagi kartu kredit itu pada sang calon istri.


“Bukan begitu, Ngga. Aku belanja bareng Mbak Sinta. Kasihan dia kalau aku bisa leluasa membeli gaun-gaun mewah, sedangkan dia nggak,” tolak Gendhis. Kartu itu dia kembalikan pada Manggala.


“Dhis, kartu kreditnya pasti pusing kalau dilempar-lempar terus,” Manggala mencoba untuk bercanda. “Begini saja, kamu bayarin Sinta juga, jadi tidak perlu merasa bersalah,” sarannya.

__ADS_1


“Bayarin Mbak Sinta?” ulang Gendhis dengan tatapan yang sulit diartikan.


“Ya, daripada kamu merasa nggak enak sama Sinta,” sahut Manggala santai.


“Sebenarnya kamu ada hubungan apa sama Mbak Sinta sebelum aku masuk di kantor ini?” sebuah pertanyaan yang sama sekali tak disangka oleh Manggala.


“Kok tiba-tiba kamu nanya begitu?” Manggala mengernyitkan dahinya.


Bukannya menjawab, Gendhis malah mengangkat bahu. Dia yang awalnya berdiri agak jauh, memilih duduk di kursi yang berada tepat di depan meja kerja Manggala. Gendhis duduk sambil menyilangkan kaki. “Cerita dong, Ngga. Aku sangat ingin tahu dan ingin mengenal masa lalu kamu. Jangan sampai aku tahu setelah kita menikah,” desak Gendhis. Nada bicaranya memang terdengar datar, tapi penuh penekanan.


“Kurasa waktunya kurang tepat, Dhis. Nanti saja selesai acara penghargaan dan gala dinner,” tawar Manggala.


Gendhis dapat menangkap sikap gugup yang dapat disembunyikan dengan baik oleh Manggala. Pria itu menyandarkan pinggul di tepian meja sambil melipat tangan di dada. Sementara pandangannya lembut tertuju pada Gendhis.


“Seperti apa hubungan kamu dengan Mbak Sinta dulu?” Gendhis seakan tak kenal menyerah.


Manggala mengembuskan napas panjang menghadapi kegigihan Gendhis. “Bukankah aku udah pernah cerita ke kamu, Dhis?” ujarnya hati-hati.


“Belum,” Gendhis menggeleng kuat-kuat. “Kamu ceritanya sepotong-sepotong. Aku nggak paham,” elaknya.


“Sinta dulunya magang di sini. Namun potensinya terlihat begitu cemerlang. Aku memutuskan untuk mengangkatnya sebagai pegawai tetap. Dia juga sering berdiskusi sama aku tiap kali selesai melaksanakan liputan. Kadang aku harus mencegah dirinya yang terlalu kritis. Bisa berbahaya bagi seorang jurnalis yang terlalu frontal. Keselamatan kadang menjadi taruhannya,” jelas Manggala panjang lebar.


“Hanya itu?” Gendhis tersenyum sinis.


“Hanya itu!” tegas Manggala. “Sinta adalah rekan kerja yang cerdas dan bisa diandalkan. Di luar kantor, kami berteman akrab. Hanya sekadar teman!”


“Oh,” sebuah tanggapan singkat meluncur dari bibir Gendhis. Dirinya sadar bahwa dia tak akan bisa mengorek informasi lebih dalam dari Manggala, sehingga jalan satu-satunya adalah mencari tahu semuanya melalui Sinta.


.


.


.

__ADS_1


sambil menebak-nebak teka-teki silang, mampir dulu yuk di karya keren yang satu ini



__ADS_2