Mengejar Cinta Sang Duda

Mengejar Cinta Sang Duda
Reuni Mantan Kawan


__ADS_3

“Astaga,” Manggala menggeleng pelan sembari tertawa lirih. “Ini mama kamu yang beneran pengen ngasih pie untuk Gendhis? Kamu nggak sedang mencari-cari alasan, ‘kan?”


“Mencari-cari alasan untuk apa?” Chand mengernyitkan dahi tanda tak mengerti.


“Zaman sekarang, jarang ada anak laki-laki yang mau-mau aja disuruh-suruh ibunya,” ujar Manggala.


“Jarang bukan berarti nggak ada,” balas Chand.


Sementara Gendhis hanya bisa diam dan memperhatikan percakapan dua pria tampan di depan dan sampingnya itu. Jika dia boleh berkhayal, Gendhis membayangkan sedang diperebutkan oleh Manggala dan Chand.


Akan tetapi, Gendhis segera menepiskan angan-angan liar tersebut. Selain tak masuk akal, gadis itu juga sudah benar-benar kehilangan rasa dengan Chand. Perbuatan mantan calon suaminya di masa lalu itu telah membuat Gendhis merasa teramat kecewa.


“Udah, udah, nggak usah ribut. Aku terima pie nanasnya dengan senang hati. Sampaikan terima kasih pada Tante Kalini,” lerai Gendhis.


“Nanti kusampaikan pada Mama,” sahut Chand. Sorot mata pria itu lurus terarah pada Manggala yang juga tengah menatapnya tajam.


“Duduk dulu, Chand,” tawar Gendhis, hanya sekadar basa-basi. Namun siapa sangka duda rupawan itu menerima ajakan Gendhis dan mengambil tempat duduk di sofa ruang tamu.


Manggala langsung menoleh pada Gendhis sambil memasang raut protes. “Kok disuruh masuk, sih?” bisiknya teramat lirih.


“Padahal aku cuma basa-basi aja. Mana aku tahu kalau dia mau,” ucap Gendhis membela diri.


“Ya, ampun, Dhis,” Manggala berdecak lirih. Malas-malasan pria jangkung itu duduk di sofa. Satu tangannya menarik Gendhis agar ikut duduk di sampingnya. Namun Gendhis menolak karena harus meletakkan pie nanas terlebih dulu.


“Kalian ngobrol dulu saja, ya. Aku mau naruh pie ini,” tunjuk Gendhis pada loyang kue yang tengah dipegang olehnya. Tanpa menunggu jawaban dari Manggala, gadis tomboy yang berubah menjadi sedikit feminin itu buru-buru masuk ke dalam dan meletakkan kuenya di atas meja makan.


“Dari siapa, Mbak?” tanya Utari yang tengah sibuk menyiapkan makan malam, dibantu oleh Byakta sang suami, dan Arya kakak iparnya.


“Dari Tante Kalini,” jawab Gendhis singkat seraya berjalan kembali ke arah ruang tamu.


“Hah?” jiwa keingintahuan Utari meronta-ronta, memaksanya untuk meninggalkan pekerjaan dan memilih mengikuti Gendhis.


“Eh, Tar. Ini wortelnya diapain?” seru Byakta kebingungan.


“Iya, ini kolnya juga diapain? Apa dikumpulin doang terus ditimbang?” sahut Arya sama bingungnya.


“Sst,” bukannya menjawab, Utari malah meletakkan telunjuknya di bibir. “Lima menit lagi aku balik. Kalian tunggu, ya,” ujarnya seraya berlalu, membuat Byakta dan Arya saling pandang, lalu mengangkat bahu.


“Anak-anaknya bapak Susena nggak ada yang beres,” keluh Arya lirih.

__ADS_1


Utari menyusul langkah Gendhis hingga berjalan berdampingan. Namun sesampainya di dinding penyekat antara ruang keluarga dan ruang tamu, Gendhis malah berhenti kemudian bersembunyi. Otomatis Utari mengikuti apa yang kakaknya lakukan. Sayup-sayup, kakak beradik itu menguping pembicaraan antara Manggala dengan Chand.


“Apa kamu masih sering berkomunikasi dengan Ghea?” terdengar Manggala bertanya.


“Jangankan komunikasi. Dengar suaranya dari jauh saja aku muak,” jawab Chand acuh tak acuh.


“Oh, iya, aku lupa. Dikhianati itu menyakitkan, ya,” ujar Manggala sembari tertawa. Setelah itu hening. Dua pria tampan tersebut saling terdiam.


“Jadi, kapan rencana pesta pernikahan kalian?” kini giliran Chand yang bertanya.


“Bulan depan,” jawab Manggala singkat.


“Semoga lancar,” timpal Chand sebelum suasana kembali hening.


“Kamu nggak sedang mencari-cari kesempatan, ‘kan?” kembali Manggala mengeluarkan suara.


“Mencari kesempatan untuk apa? Mendekati Gendhis? Astaga, Ngga. Aku nggak segila itu. Aku nggak mau lagi merusak hubungan orang. Ini semua murni karena Mama memaksaku datang kemari dan membawakan kue buatannya untuk Gendhis,” bantah Chand.


“Baguslah. Sekadar kamu tahu ya. Hubungan kami sudah sejauh itu. Gendhis nggak mungkin berpaling sama siapapun,” timpal Manggala.


“Aku percaya itu. Mengingat kamu dulu seliar apa,” balas Chand seraya tergelak.


Gendhis buru-buru menggeleng kuat-kuat. “Aku bisa jelasin,” bisiknya lirih.


“Kalau Papa tahu, beliau pasti kecewa,” geram Utari lirih.


“Tar, aku nggak ngapa-ngapain sama Manggala,” sanggah Gendhis. “Ehm, maksudku, ngapa-ngapain tapi nggak sampai ngapa-ngapain,” racaunya tak jelas.


“Ah, terserah lah. Pokoknya aku ikut kecewa sama kakak,” Utari mendesah pelan, lalu membalikkan badan, meninggalkan Gendhis yang termangu.


“Tar,” seru Gendhis tertahan. Akan tetapi, Utari tak mempedulikannya. Gendhis menggaruk kepalanya yang tak gatal, lalu berpikir untuk beberapa saat. Pada akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke ruang tamu.


Gendhis memasang wajah ceria, seolah tak terjadi apa-apa sebelumnya. “Hei, ngobrol apa aja kalian berdua?”


“Bukan sesuatu yang penting, Sayang. Duduk sini,” Manggala menepuk-nepuk permukaan sofa di sisinya.


Gendhis pun menurut. Dia duduk dengan anggun di sebelah Manggala sambil melirik sejenak pada Chand. “Sampaikan ke tante Kalini, kuenya enak,” ucap Gendhis kemudian. Padahal dia belum sempat mencicipi pie yang menggugah selera itu.


“Oke, nanti aku sampaikan.” Selesai berkata demikian, Chand tiba-tiba menyilangkan kaki sambil memainkan ponsel. Hal itu membuat Manggala dan Gendhis mengernyit keheranan.

__ADS_1


“Kamu … lagi nunggu apa?” Gendhis memberanikan diri untuk bertanya.


“Oh, iya. Aku numpang sebentar ya, Dhis. Mama memaksa aku untuk mengobrol sama kamu. Dia ngasih waktu satu jam. Sebelum satu jam, aku nggak boleh pulang,” jelas Chand.


“Kenapa nggak keliling mall aja? Tante Kalini nggak bakalan tahu,” cetus Gendhis.


“Nggak bisa, Dhis. Aku harus mengirimkan lokasi terkini ke mama tiap lima menit,” Chand mengarahkan layar telepon genggamnya ke arah Gendhis sambil meringis. “Udah, kalian ngobrol saja. Anggap aku nggak ada di sini.”


“Oh, itu perkara mudah,” sela Manggala. “Kamu dengar dia kan, Sayang? Anggap saja nggak ada siapapun di sini selain kita,” ujar pria gondrong itu. Dia menyeringai, lalu mendekatkan wajahnya pada Gendhis.


“Eh,” Gendhis memundurkan wajah seraya menutupi bibirnya dengan kedua tangan. “Aku nggak biasa mesra-mesraan di depan orang,” tolaknya sedemikian lirih.


“Ya, ampun. Polos banget sih, kamu,” saat itu, Manggala memang tertawa. Namun, sorot matanya tak dapat menyembunyikan kekecewaan.


“Nanti kalau kita sudah menikah, kamu boleh berbuat apa saja yang kamu mau,” bujuk Gendhis. Dia dapat memahami sikap Manggala yang tampak tak nyaman.


Pria tampan pemilik nirwana Media itu menanggapi dengan menatap Gendhis penuh arti untuk beberapa saat lamanya. “Aku nggak pernah resah untuk masalah apapun. Akan tetapi, waktu melihat kamu sama Chand, apa boleh kalo aku merasa takut?” bisik Manggala teramat lirih, supaya Chand tak dapat mendengar kata-katanya.


Gendhis menunduk dalam-dalam. Dia lalu kembali mendongak dan membalas tatapan Manggala. “Aku juga sebenarnya takut gagal nikah lagi,” balas Gendhis tak kalah lirih. “Apalagi waktu aku dengar kamu keluar bareng sama Mbak Sinta dan di saat yang sama, ponsel kamu nggak bisa dihubungi.”


“Dhis,” tatapan aneh Manggala tadi berubah menjadi lembut dan sayu. “Aku nggak ngapa-ngapain sama Sinta. Aku hanya mengenal dia sejak lama. Hubungan kami murni atasan dan bawahan. Nggak lebih. Masalah teleponku yang nggak bisa dihubungi, sepertinya waktu itu aku sedang check in pesawat,” tutur Manggala, masih dengan berbisik.


“Aku percaya sama kamu,” Gendhis tersenyum manis. Dia memberanikan diri mencium pipi Manggala singkat.


“Kalau begitu, kita saling menjaga kepercayaan saja sampai akad nanti, ya. Gimana?” tawar Manggala.


“Deal!” Gendhis menyodorkan jari kelingking, yang segera Manggala raih dengan melingkarkan jari kelingkingnya juga. Dua sejoli itu kemudian tertawa geli.


Tanpa mereka berdua ketahui, Chand mengamati interaksi romantis itu dengan saksama.


.


.


.


Sambil menunggu yang lagi panas-panasan, mampir dulu yuk di karya keren yg satu ini, dijamin alur dan ceritanya beda, lain dr yg lain, dan seruu pastinya.


__ADS_1


__ADS_2