Mengejar Cinta Si Kembar

Mengejar Cinta Si Kembar
Pulang Bekerja Dengan Kerusuhan


__ADS_3

Adriana memasukan beberapa barang yang telah di scan ke dalam kantung palstik. Malam ini cukup ramai pengunjung, jadi Adriana sedikit sibuk melayani mereka. Sesekali dia melirik ke arah bangku di ujung ruangan. Seorang pria duduk dengan tenang sambil memainkan ponselnya. Di sampingnya ada satu kaleng minuman yang telah di buka.


Apa dia benar-benar akan menungguku sampai pulang ya. Aneh sekali..


Adriana menyerahkan kantung plastik yang sudah terisi penuh pada pengunjung mini market. Menyebutkan nominal uang yang harus di bayarkan si pengunjung. Setelah proses pembayaran selesai, pengunjung perempuan itu langsung pergi.


Adriana keluar dari meja kasir, dia berjalan mendekati Erland yang sejak tadi bersikeras untuk menunggunya. Entah apa yang terjadi pada pria itu, sampai dia rela menunggu pembantunya ini. Apa mungkin kepalanya terbentur ya? Gumamnya.


"Kak, pulang saja. Aku masih satu jam lagi kerja disini"


Adriana sedang membujuk Erland agar pulang. Menunggunya selesai bekerja adalah sesuatu yang menakutkan bagi Adriana. Bagaimana bisa seorang Erland Aditama yang jelas terkenal sangat dingin, kini menunggu seorang gadis penjaga mini market yang telah dia jadikan sebagai pembantunya. Semuanya terlalu janggal bagi Adriana.


Apa mungkin dia akan membunuhku ya setelah pulang dari sini. Itu sebabnya kenapa dia sampai menungguku.


Erland mendongak dan menatap Adriana, sungguh tatapan matanya itu malah membuat Adriana semakin takut saja. Tatapan mata yang datar tanpa ekspresi apapun, membuat Adriana tidak bisa menebak apa yang sebenarnya di inginkan pria itu.


"Apa kau sedang mengusirku? Ingat ya Adriana, kamu adalah pembantuku. Jadi jangan kurang ajar!"


Suara penuh penekanan itu semakin membuat Adriana takut. Dia menunduk dengan jemarinya yang saling meremas. "Maaf Kak, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya kasihan saja pada Kakak jika Kakak harus lama menunggu aku pulang bekerja"


Erland tersenyum sinis mendengarnya. "Lalu, kau izinkan pria sialan tadi menunggumu sampai selesai bekerja? Kenapa aku tidak bisa?"


Pria sialan? Siapa si maksudnya? Duh, kenapa dia jadi banyak teka teki begini si. Aku 'kan tidak mengerti siapa yang dia maksud.


Saat mulut Adriana terbuka dan siap menyangkal ucapan Erland, namun mulutnya kembali tertutup saat pintu mini market yang di dorong dari luar. Akhirnya tanpa berkata apa-apa, Adrian berbalik dan menyambut pengunjung yang baru saja datang. Hingga satu jam kemudian, dia baru bisa menutup mini market dan pulang. Dia menghitung dulu hasil penjualannya hari ini, lalu menyimpannya di laci dan menekan tombol kode untuk mengunci laci itu.


Adriana menyelempangkan tasnya di bahu. Lalu berjalan menuju pintu keluar. Melihat itu, Erland segera berdiri dan menghampirinya. Mengikuti Adriana keluar dari dalam mini market. Adriana menekan beberapa tombol di gagang pintu untuk mengunci mini market ini. Saat mereka menuruni anak tangga, tiba-tiba sebuah motor berhenti di depan mereka.

__ADS_1


Adriana melirik Erland yang berdiri di sampingnya. Inilah sebabnya kenapa Adriana memaksa Erland untuk segera pergi dan tidak menunggunya pulang bekerja. Karena tadi, saat Pendy datang dia sudah berjanji untuk menjemput Adriana saat pulang bekerja.


Pria di atas motor membuka helm full face nya. Dan kedua tangan Erland langsung mengepal erat saat tahu siapa yang menghampiri mereka itu.


"Hai Ri, ayo pulang" kata Pendy dengan tersenyum lebar.


Duh. Bagaimana ini?


Adriana sedang bingung untuk memikirkan situasi saat ini, entah siapa yang akan dia pilih untuk mengantarkannya pulang. Hingga sebuah tangan menariknya, Adriana tersentak kaget sampai dia berjalan terseret-seret saat Erland menariknya menuju mobilnya. Pendy tidak tinggal diam, dia turun dari atas motor dan berjalan cepat menyusul Adriana dan Erland.


"Kak lepasin ihh"


Erland menghempaskan tangan Adriana tepat di depan mobilnya. Tubuh Adriana membentur pintu mobil yang masih tertutup. Kedua tangan Erland berada di kedua sisi tubuh Adriana, mengukungnya dengan tatapan tajam.


"Apa?! Kau ingin pulang dengan dia Hah? Kau fikir aku ini apa? Aku sudah menunggumu sejak tadi, dan sekarang kau dengan lancangnya ingin pulang dengan pria lain. Jangan harap Adriana!"


"Tapi Kak, aku sudah berjanji pada Kak Pendy untuk pulang bersamanya sebelum kau datang...." Adriana menunduk dan merendahkan suaranya. "...Lagian aku tidak memintamu untuk datang dan menungguku sampai pulang bekerja"


"Kau!"


Erland benar-benar kesal dan marah mendengar ucapan Adriana. Dia merasa Adriana lebih mementingkan pria itu daripada dirinya. Padahal dia sudah menunggunya hanya untuk bisa mengantarnya pulang. Erland juga tidak mengerti ada apa dengan dirinya dan hatinya. Kenapa dia sampai melakukan hal seperti ini pada seorang gadis seperti Adriana.


"Ri, ayo pulang" Pendy muncul di antara mereka, dia sedikit menahan senyum melihat adegan di depannya ini. Sebenarnya Pendy cukup faham, jika Erland sudah mulai memiliki perasaan yang lebih pada Adriana. Hanya saja pria itu terlalu gengsi untuk mengakuinya. Egonya terlalu tinggi.


Adriana menoleh, dia memegang lengan kekar Erland dan mencoba menyingkirkannya dari sisi tubuhnya. Namun, Erland tidak bergeming membuat Adriana tidak bisa lepas dari kukungan pria itu.


Erland menoleh dan menatap Pendy dengan tatapan dingin. "Dia akan pulang bersamaku!"

__ADS_1


Pendy mengangkat bahunya acuh. "Yasudah, asal Adriana mau dan tidak merasa terpaksa. Aku akan membiarkan Riana pulang bersamamu"


"Kak, tunggu. Aku pulang bersamamu saja. Aku sudah janji padamu untuk pulang bersama malam ini" Aku takut di bunuh di jalan jika pulang bersama macan yang sedang mengamuk.


Erland langsung menoleh dan menatap Adriana dengan sangat tajam. Bahkan tatapannya seolah menusuk tepat di jantung gadis itu. Akhirnya Adriana tidak bisa melakukan apa-apa saat Erland membuka pintu mobil dan mendorong tubuh Adriana agar masuk ke dalam mobilnya.


"Aku tidak akan membiarkan kau pergi dengan pria itu. Hari ini atau hari-hari selanjutnya!"


Mendengar itu Adriana benar-benar sangat bingung. Kenapa Erland bisa mengatakan itu, sementara Adriana tahu sendiri jika dirinya tidak menganggap dirinya lebih dari seorang pembantu. Lalu, apa seorang bisa seperti ini sikap seorang majikan pada pembantunya?


Adriana menatap Erland yang masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang kemudi. "Kak, aku tidak enak pada Kak Pendy. Dia sudah datang kesini untuk menjemput dan mengantarkan aku pulang"


"Aku tidak peduli padanya, kau bisa merasa tidak enak padanya. Tapi kau begitu berani mengabaikanku yang juga sudah menunggumu sejak tadi"


"Tapi 'kan aku tidak menyuruhmu" gumam Adriana


Tepat pada saat itu sebuah motor lewat di depan mereka. Pendy sedikit memiringkan tubuhnya dan melambaikan tangannya pada mereka.


Melihat itu Erland semakin kesal saja, dia mencengkram erat kemudinya dan mulai melajukan mobilnya. Memecah keheningan kota di malam hari.


Sebenarnya ada apa denganku? Kenapa aku begitu marah saat melihatnya bersama pria lain.


Bersambung


Ada cerita temanku lagi nih.. yuk mampir.. ceritanya sangat bagus


__ADS_1


__ADS_2