Mengejar Cinta Si Kembar

Mengejar Cinta Si Kembar
Kekecewaan Adriana Terhadap Mama


__ADS_3

Akhir pekan ini seperti janji Erland yang akan menemani Adriana ke makam mendiang Ayahnya. Saat ini mereka sudah berada di perjalanan menuju kota yang dulu pernah ditempati oleh Adriana saat Erland yang tiba-tiba mengakhiri hubungan dengannya tanpa alasan yang jelas.


Adriana menyandarkan kepalanya di dada suaminya. "Sayang, kalau nanti pas Kak Erlita dan Kak Pendy nikah aku bantu apa ya? Aku gak mengerti apapun tentang jpersiapan pernikahan"


Cup..


Erland mengecup puncak kepala istrinya dengan lembut. "Tidak perlu membantu apapun, karena semuanya sudah di serahkan pada wedding organizer"


"Tapi aku malu kalau tidak membantu apapun"


"Tidak perlu malu Sayang, kamu itu istriku. Jadi tidak perlu melakukan apapun. Asalkan kamu hadir saja di acara itu sebagai pendampingku, maka semuanya sudah baik-baik saja"


Adriana hanya tersenyum mendengar itu, dia semakin erat memeluk suaminya sampai terlalu nyaman dan Adriana punĀ  tertidur dalam pelukan suaminya. Sudah menjadi kebiasaan bagi Adrians jika berada dalam pelukan suaminya ini.


Hingga Adriana benar-benar terbangun saat mobil sudah berhenti. Dia mengerjapkan matanya ketika merasakan seseorang mengelus pipinya dan mengecupnya terus menerus. Saat dia membuka mata, suaminya yang melakukan itu. Mungkin caranya untuk membangunkan Adriana.


"Sayang apa kita sudah sampai?"


Erland mengangguk, dia menatap gemas pada Adriana yang baru bangun tidak. Wajahnya terlihat bingung. "Iya Honey, sudah sampai dari 15 menit yang lalu"


Adriana melepaskan pelukannya, dia mengusap dada suaminya yang pasti sakit karena hampir sepanjang perjalanan dia tertidur disana. "Maaf ya Ssyang, aku terlalu lama tidur sampai membuat dada kamu ini pasti sakit"


Erlang menggeleng pelan, dia mengelus kepala istrinya. Merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. "Tidak papa, ayo kita turun"


Adriana mengangguk, dia membuka pintu mobil untuk segera turun. Namun sebelum dia turun, di menoleh pada suaminya. "Sayang, kenapa kamu bisa tahu alamat ini? Perasaan aku belum pernah memberi tahu kamu tentang alamatnya deh"


Adriana merasa heran karena suaminya benar-benar berhenti tepat di depan sebuah pemakaman umum. Padahal Adriana belum memberi tahunya tentang hal ini. Tapi kenapa suaminya sudah mengetahuinya? Padahal Adrinaa tertidur sepanjang perjalanan.


"Ya, aku tahu semuanya tentang kamu. Meski dulu kita terpisah dan tidak bertemu. Tapi aku tetap mengetahui tentang kamu dan dimana kamu tinggal. Aku tahu dari Kakak ipar kamu"


Adriana berpikir sejenak, sampai dia ingat siapa Kakak iparnya. Tentu saja Ganesh akan memberi tahukan pada Erland tentang Adriana. Dan bodohnya saat itu, Adriana percaya saja kalau Ganesh tidak mengetahui tentang keberadaan Erland.

__ADS_1


"Pantas saja"


"Yaudah, cepat turun"


Adriana mengangguk, dia segera turun dari mobilnya diikuti suaminya. Berjalan masuk ke dalam pemakaman umum itu, melewati beberapa gundukan tanah yang berjajar. Hingga mereka hampir sampai di makam Papa. Namun, seketika langkah Adriana terhenti. Dia menatap sosok perempuan yang memegangi bunga di tangannya sedang berdiri di depan makam Papa.


Mama?


Adriana mengepalkan tangannya erat, dia tidak menyangka akan bertemu dengan wanita yang melahirkannya, namun sekarang tidak lagi menganggap keberadaannya ada.


Erland yang melihat itu, langsung merangkul bahu istrinya. Dia mencoba menenangkan istrinya. "Tenang Honey, kamu jangan emosi"


Adriana melangkah cepat menuju makam mendiang ayahnya. "Untuk apa datang kesini?"


Deg...


Mama berbalik dan menatap Adriana yang berdiri disana bersama Erland. Dis tidak pernah menyangka akan bertemu dengan anaknya di pemakaman suaminya.


"A-adriana.."


"Ri, Mama hanya...."


"Kamu bukan Ibuku, jadi untuk apa di makam Papaku? Ibuku sudah lama meninggal"


"Honey..." Erland langsung merangkul bahu istrinya, dia tahu sebesar apa rasa kecewa Adriana pada Ibunya. Tapi, Erland juga tidak mau kalau sampai istrinya berubah menjadi anak yang durhaka. "...Jangan seperti itu, dia tetap Ibumu"


"Dia bukan Ibuku! Pergi dari sini dan jangan pernah datang lagi"


"Adriana, maafkan Mama"


"Pergi!!" Adriana sudah berteriak kencang untuk mengusir Ibunya agar pergi dari hadapannya. Adriana tidak mau melihat wanita yang telah melukainya selama ini. Ibu yang tidak hadir di acara pernikahannya, Ibu yang berpura-pura tidak mengenalnya ketika Adriana dengan sengaja menyapanya. Apa masih pantas dia dipanggil seorang Ibu?

__ADS_1


"Nak.."


"Jangan panggil aku anakmu lagi, karena kamu sudah benar-benar melukai hati yang kau sebut anak ini. Kemana Mama saat aku meminta datang ke acara pernikahanku? Kemana saat aku membutuhkan Mama disaat Papa sakit parah dan akhirnya meninggal? Kemana?! Kemana?!"


Julia hanya diam mematung, dia tidak bisa menjawab semuanya itu. Karena pada kenyataannya memang dia yang terlalu serakah. Dalam fikirannya hanya sebuah uang dan kekayaan yang bisa membuatnya bahagia. Tapi, nyatanya semua itu tidak selamanya membuat dia bahagia.


"Maafkan Mama Nak, maaf"


Adriana memalingkan wajahnya ke arah lain, dia mengusap air mata yang mengalir di pipinya. "Pergilah, aku benar-benar tidak mau melihatmu lagi"


Dan Julia akhirnya memilih pergi dan tidak memaksakan diri untuk mendapat maaf dari putrinya. Karena kenyataannya dia telah begitu melukai hati anaknya itu.


Setelah Ibunya pergi, kaki Adriana mendadak lemas. Dia jatuh diatas tanah dan menangis sesenggukan. Erland segera merangkulnya dan mencoba menenangkan istrinya.


"Honey, tenang ya. Jangan seperti ini, kamu harus bisa menenangkan dirimu dan hatimu"


"Hiks.. Kenapa dia datang disaat aku sudah mulai melupakannya. Aku tidak mau mengingatnya lagi, karena dia yang membuat aku sehancur ini sekarang"


"Tenang ya, aku tahu bagaimana kekecewaan kamu pada Mama kamu. Tapi tidak semuanya membuat kamu berubah menjadi anak durhaka juga. Setidaknya berikan Mama kamu maaf, dan setelah itu kamu bisa hidup lebih tenang"


"Tapi aku tidak bisa, aku tidak mau bertemu dengannya lagi. Kamu mengerti aku gak si?"


"Iya, iya Honey aku mengerti. Sudah ya, sekarang jangan menangis lagi, ingat tujuan utama kita datang kesini untuk apa"


Adriana menghentikan tangisannya, dia menatap sebuah nisan di depannya. Kehidupannya semakin hancur setelah Papa pergi dari kehidupannya. Sosok yang jadi pelindungnya selama ini. Adriana mengusap nisan itu dengan air mata yang menetes mengenai nama Papa yang tertulis di batu nisan itu.


"Maafkan Riana Pa, saat ini aku benar-benar tidak bisa menerima Mama kembali lagi padaku. Semua perlakuannya padaku, membuat aku terluka"


Erland terus merangkul bahu istrinya, mengecup kepalanya beberapa kali. Sungguh hati Erland sangat terluka ketika melihat Adriana yang seperti tadi. Bagaimana dia yang sangat terluka.


Maaf baru berkunjung Pa, aku Erland, suami putrimu ini. Aku janji akan membuatnya bahagia dan tidak akan melukainya lagi.

__ADS_1


Untuk pertama kalinya Erland meminta restu pada mertuanya. Meski hanya dengan batu nisannya saja.


Bersambung


__ADS_2