Mengejar Cinta Si Kembar

Mengejar Cinta Si Kembar
Erland Yang Merajuk


__ADS_3

Semakin hari, Adriana semakin memikirkan tentang hubungannya dengan Erland yang sudah mendekati waktu yang di tentukan untuk acara pernikahan. Seolah Adriana tidak yakin dengan keputusannya kali ini. Dia merasa kalau hubungannya dan Erland akan tetap seperti ini. Tidak akan aka kemajuan dan tetap tidak mendapatkan restu dari Ayahnya. Status sosial dan latar belakanh keluarga tetap menjadi hal yang menjadi permasalahan di antara keduanya.


"Minggu depan aku wisuda, kamu datang ya"


"Emm. Iya, nanti aku datang. Selamat ya karena sudah bisa lulus dengan waktu singkat. Kamu hebat"


"Terima kasih Sayang, aku sengaja ingin segera lulus karena ingin segera menikah denganmu"


Adriana hanya tersenyum menanggapinya. Erland merangkul bahunya, memberikan kecupan di kepala Adriana. "Sekarang kita jalan yuk, kemana gitu"


"Aku kerja Kak, gak bisa"


Erland berdecak kesal, dia sudah melarang Adriana untuk bekerja. Tapi gadisnya tetap ingin bekerja dengan alasan dia yang harus mempunyai kegiatan setelah pulang kuliah. Padahal Erland tahu alasan utamanya bukan itu.


"Aku sanggup menanggung biaya hidup kamu, asalkan kamu berhenti bekerja. Kita sudah mau menikah loh, kenapa kamu masih saja bekerja"


"Sayang jangan mulai deh, aku masih ingin menikmati masa mudaku dengan kuliah dan bekerja. Jadi kamu harus mengerti tentang ini"


"Kapan si aku gak mengerti kamu, tapi giliran aku ingin pergi jalan bersamamu saja tidak bisa. Kamu yang tidak pernah mengerti aku" Erland berdiri dengan wajah kesal.


Adriana mendongak dan memegang tangan kekasihnya yang sedang kesal itu. "Kok marah, kan aku sudah memberi waktu 1 hari setiap minggu untuk selalu bersama kamu. Sekarang ya tidak bisa, aku tetap harus kerja"


Erland melepaskan genggaman tangan Adriana di tangannya. "Ya, menurut kamu waktu 1 hari cukup karena sepertinya kamu tidak mengerti perasaanku. Disini aku mulai ragu, apa kamu benar-benar mencintaiku?"


"Kak, kenapa ngomongnya gitu si?"


"Udahlah, aku ingin sendiri dulu"


Adriana menatap nanar punggung Erland yang berjalan menjauh darinya. Sebenarnya Adriana tahu jika Erland sedang dalam mode ingin di manja, ingin selalu bersamanya dan bisa menemaninya jalan-jalan seperti keinginan dia. Intinya Erland ingin waktu Adriana lebih banyak bersamanya. Tapi Adriana tetap tidak bisa melakukan itu.


Meski Erland memang sanggup memenuhi semua kebutuhannya, tapi Adriana tidak mau tambah merusak citra dirinya yang sudah rusak. Itulah sebabnya kenapa dia menolak kredit card dari Erland. Karena Adriana tidak mau di cap gadis matrealistis, setelah masa lalu dan latar belakang keluarganya selalu menjadi hal utama yang membuatnya di pandang rendah oleh banyak orang.

__ADS_1


Tentang Ibunya yang kabur bersama pria lain ketika perusahaan Papa bangkrut. Semua itu telah menajdi topik pertama yang di bicarakan orang-orang ketika melihat dirinya.


...⭐⭐⭐⭐⭐⭐...


Adriana pulang ke rumah tanpa diantar oleh Erland. Sepertinya pria itu benar-benar kesal padanya, sampai tidak menemuinya lagi sejak perdebatan di taman tadi.


Adriana masuk ke dalam rumahnya dengan wajah lelah, dia terdiam saat melihat Papa dan Kakak perempuannya di ruang tengah sedang menatap ke arahnya. Adriana mengucapkan salam dan segera menyalami Ayah dan Kakaknya. Lalu ikut bergabung diantara mereka.


"Ada apa ini Kak?"


"Tidak ada apa-apa, Kakak sengaja datang malam karena ingin bertemu denganmu. Setiap Kakak datang sore atau siang, kamu pasti tidak ada karena bekerja. Kenapa harus bekerja sekeras ini Dek, apa uang dari Kakak tidak cukup untuk biaya hidup kamu?"


Adriana menunduk dengan tangan yang meremas ujung baju yang di pakainya. "Cukup Kak, bahkan lebih dari cukup. Tapi..." Aku menggunakan uang dari Kakak yang pernah aku sakiti dan buat terluka hatinya.


"Tidak usah memikirkan tentang masa lalu Dek, kamu pakai saja uang dari Kakak untuk semua kebutuhan kamu"


"I-iya Kak"


Bukannya aku tidak bicara, tapi aku tidak berani bicara jika membahas tentang hubunganku dengan Kak Erland.


"Kak, aku mau mandi dulu ya. Nanti Kakak ke kamar aku ya, ada sesuatu untuk Gweny"


Adriana sedang mengalihkan pembicaraan, dia berlalu ke kamar mandi. Dia belum tahu bagaimana caranya meyakikan Papa jika hubungannya dan Erland masih bisa di lanjutkan meski dengan latar belakang mereka yang berbeda.


Meski merasa bingung, namun Tyas tetap menuruti apa yang diucapkan  oleh adiknya. Dia masuk ke dalam kamar adiknya setelah Adriana selesai mandi. Duduk di atas tempat tidur single sederhana disana. "Jadi apa yang ingin kamu kasih ke Gweny?"


Adriana tersenyum, dia mengambil sebuah paper bag dari dalam lemarinya. Lalu memberikan itu pada Tyas. "Ini Kak, maaf ya baru bisa memberikan Gweny hadiah. Ini juga hadiahnya tidak seberapa. Tapi tolong terima ya Kak, aku belinya benar-benar dengan hasil kerjaku sendiri"


Tyas tersenyum haru, bukan masalah barang apa dan semahal apa yang di berikan Adriana untuk anaknya. Tapi, ketulusan adiknya ini yang membuat Tyas  begitu terharu. Adik kecilnya yang manja, kini telah tumbuh menjadi gadis dewasa yang mandiri.


"Iya Dek, Kakak terima. Makasih ya sudah repot-repot memberikan hadiah untuk Gweny. Dia pasti senang mendapatkan hadiah dari Auntynya ini"

__ADS_1


Adriana duduk di samping Kakaknya, dia memengan lengan Tyas dan menatapnya. "Kak, untuk masalah pernikahan aku dan Kak Erland. Entah kenapa aku merasa ragu, bukan karena Kak Erland yang tidak baik padaku. Dia selalu bersikap baik dan sangat mencintaiku. Hanya saja, perbedaan kami..."


Tyas menghela nafas, dia mengerti apa yang di rasakan adiknya saat ini. Tyas mengelus punggung tangan Adriana yang menggenggam tangannya. "Kakak mengerti bagaimana perasaan kamu. Tapi, Kakak rasa keraguan kamu ini tidak berdasar. Kamu tahu sendiri 'kan jika keluarga suami Kakak tidak pernah melihat seseorang dari status sosial dan latar belakangnya. Mereka selalu menghargai setiap orang tanpa melihat status sosialnya"


"Riana tahu Kak, tapi...." Restu Papa yang belum aku dapatkan sampai saat ini membuat aku ragu dengan semua ini.


"Sudahlah, kamu jangan berfikir yang tidak-tidak. Percayalah kalau keluarga Erland pasti menerima kamu apa adanya. Apalagi kalau Erland memang benar-benar sangat mencintaimu. Apalagi yang kamu ragukan?"


Adrina terdiam, dia tahu tentang itu. Tapi entah kenapa bibirnya sangat sulit untuk bercerita pada Kakaknya tentang kendala apa yang sebenarnya terjadi dalam hubungannya dengan Erland.


"Yasudah, Kakak pulang dulu. Kasihan ninggalin Gweny bersama Papanya"


"Iya Kak"


Setelah Kakaknya pergi, Adriana berbaring di atas tempat tidur dengan menatap langit-langit kamarnya. Dia semakin bingung dan gelisah dengan hari yang semakin dekat.


Ceklek..


Suara pintu yang terbuka membuat Adriana bangun dan terduduk di atas tempat tidurnya. Menatap Papa yang masuk ke dalam kamarnya. Papa duduk di pinggir tempat tidur.


"Kapan kalian akan menikah?"


Adriana menunduk, dia takut untuk menjawabnya. "Setelah Kak Erland lulus kuliah S2"


"Ya, kapan itu?"


"Minggu depan Kak Erland Wisuda kelulusan"


Terdengar helaan nafas berat dari Papa. "Sekarang keputusan ada di tangan kamu, karena sepertinya ucapan Papa sudah tidak kamu dengarkan. Jadi, sekarang terserah pada keputusan yang kamu ambil"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2