Mengejar Cinta Si Kembar

Mengejar Cinta Si Kembar
Lebih Mencintaimu


__ADS_3

Ketika sang suami posesif langsung berdehem keras, membuat istri bucin langsung menoleh ke arahnya dan tersenyum dengan manisnya.


"Kan.. Kan.." seolah sengaja Pendy malah semakin memancing emosi Erland.


"Sayang kita ke kamar saja, kamu belum minum obat. Biarkan saja Mami dan Papi yang mengurus pria aneh itu"


Adriana melirik Pendy, lalu dia segera mendorong kursi roda Erland untuk pergi ke kamar. Erlita hanya tersenyum tipis melihat Pendy dan Adriana yang terlihat sangat akrab. Seperti layaknya kakak dan adik.


"Jadi, kamu siap menikahi putri saya yang mungkin nanti saat dia menikah dengan kamu maka statusnya bukan lagi seorang gadis" tanya Papi, memulai topik yang serius


Pendy mengangguk dengan yakin, dia akan menerima apapun keadaan dan kondisi Erlita. Karena hanya dia yang bisa membuat Pendy jatuh cinta seperti ini.


"Iya Pi, saya siap. Saya mencintai Erlita tulus dari hati"


Erliat menoleh, menatap pria yang duduk di sampingnya. Merasa tidak percaya akan ada seorang pria yang mau menerimanya dalam keadaan dia yang seperti ini. Namun, Erlita benar-benar bersykur karena akhirnya dia bisa menemukam cinta sejati.


"Saya pegang ucapan kamu, karena saya tidak mau putri saya sampai terluka lagi seperti saat ini"


Pendy mengangguk yakin, jelas dia sudah sangat yakin dengan keputusannya. Sudah sangat lama dia ingin menjadi suami Erlita. Namun takdir baru mempersatukan mereka saat ini.


Di dalam kamar, Adriana duduk di atas lantai. Meletakan kepalanya di pangkuan Erland yang duduk di atas kursi roda. Tang  pria itu mengelus lembut kepalanya.


"Sayang, kasihan ihh Kak Erlita. Dia benar-benar banyak berkorban untuk kamu. Kalau saat ini kamu gak mau minum obat atau malas terapi, apa kamu tidak kasihan dengan orang-orang yang sudah berjuang banyak untuk kesembuhan kamu ini"


Erland menghela nafas, dia memang harus bersyukur karena banyak orang yang menyayanginya. Bahkan sampai rela berjuang dan mengorbankan segalanya demi kesembuhan dia.


"Ya, aku akan lebih berusaha lagi untuk segera sembuh dan bisa berjalan lagi"


Adriana mendongak, menatap suaminya dan tersenyum. "Gitu dong, kan aku senang dengarnya"


"Tapi aku tetap tidak senang melihat kau akrab dengan Pendy"


Ck. Masih aja di bahas.


"Enggak Sayang, kamu gak dengar kalau Kak Pendy itu mau menikahi Kak Erlita. Berarti nanti kita adalah suadara, kamu jangan suka terlalu dingin gitu sama dia"


"Jangan mentang-mentang nanti jadi saudara, kamu gak bisa ya seenaknya dekat-dekat dengan pria itu. Awas saja!"


"Iya, iya" Lagian kenapa si dia gak suka banget aku dekat dengan Kak Pendy. Padahal kita gak ada hubungan apa-apa, selain teman.

__ADS_1


"Oh ya, sekarang kamu istirahat ya. Aku mau bantuin Mami masak. Biasanya jam segini Mami sudah masak untuk makan siang"


"Gak mau"


Kenapa menunjukan wajah seperti itu, aku 'kan jadi tidak tahan.


Erland mencebikan bibirnya, seperti anak kecil yang tidak mau di tinggalkan oleh Ibunya. Benar-benar sangat menggemaskan di mata Adriana.


"Sayang, aku malu kalau hanya diam saja di rumah ini. Setidaknya aku membantu Mami masak"


Erland tetap menggeleng, dia menahan lengan Adriana ketika istrinya itu berdiri. "Kamu itu istri aku, dirumah ini juga ada pelayan. Biar mereka saja yang membantu Mami memasak. Kamu hanya perlu menemani aku saja disini"


Adrina menghela nafas, suaminya ini memang sangat manja padanya. Dia mengelus kepala Erland dan mengecupnya. "Yaudah, aku temani kamu saja disini. Tapi kamu istirahat ya"


Erland mengangguk patuh. "Oh ya, besok aku ingin mencoba lagi masuk kantor"


Adriana memindahkan Erland ke atas tempat tidur. Sekarang dia sudah tahu caranya, jadi tidak perlu lagi bantuan Werdi. Kecuali kalau sedang dalam keadaan darurat. Adriana ikut naik ke atas tempat tidur dan memeluk tubuh suaminya. Menyandarkan kepalanya dengan nyaman di dada sang suami.


"Bagus dong, jadi kamu juga tidak akan jenuh terus berada di rumah"


"Iya Honey"


Erland mengelus kepala Adriana dan mengecupnya. "Ada Riki, dia jadi pengganti aku selama aku tidak masuk kantor"


"Riki? Kak Riki teman kamu itu?"


Erland menagangguk. "Ya, Riki dan Beno menjadi penanggung jawab di kantor selama aku tidak masuk kantor"


"Aku lama banget gak ketemu mereka, pas pernikahan kita kok mereka tidak datang?"


"Ya karena mereka harus sibuk dengan pekerjaan"


Adriana mengangguk kecil, dia semakin erat memeluk suaminya dan tanpa sadar terlelap juga dalam pelukan Erland. Melihat istrinya yang terlelap dalam pelukannya, membuat Erland tersenyum.


"Kasihan sekali, pasti kamu lelah ya mengurus aku setiap hari. Maaf ya Sayang, karena aku malah menyusahkanmu"


Erland mengecup kening istrinya, lalu ikut terlelap. Membiarkan Adriana tetap tertidur nyaman dalam pelukannya.


...⭐⭐⭐⭐⭐⭐...

__ADS_1


Pagi ini Erland terbangun dengan terkejut, ketika dia bangun dan mencoba duduk lalu melihat dengan sendiri jari-jari kakinya bergerak. Benar-benar bergerak dengan sendirinya. Erland langsung memijat kakinya, mulai bisa merasakan sentuhan di kakinya meski tidak terlalu mendominan.


"Sayang ada apa?"


Adriana yang keluar dari ruang ganti langsung menghampiri suaminya yang masih berada di atas tempat tidur. "Sayang kenapa? Apa kakinya sakit?"


Erland mendongak, menatap istrinya lalu menatap kembali jari kakinya yang bergerak. Adriana ikut menatap ke arah kaki Erland. Dia juga terkejut ketika melihat jari-jari kaki Erland yang bergerak.


"Ya ampun Sayang, jari kaki kamu bergerak. Coba kamu gerakan lagi"


Erland kembali mencoba menggerakan jari-jari kakinya. Namun baru hanya jari-jarinya saja yang bergerak. Erland belum bisa menggerakkan kakinya.


Adriana duduk di pinggir tempat tidur, dia senang sekali melihat perkembangan kesembuhan Erland. Adriana memijat kaki Erland dengan perlahan. "Apa terasa?"


Erland mengangguk, dia sudah mulai bisa merasakan sentuhan di kakinya. Meski kakinya belum benar-benar bisa bergerak. "Terasa Honey, sentuhan tangan kamu terasa di kaki aku"


Adriana tersenyum lebar, senang sekali mendengarnya. "Sayang, ini perkembangan yang sangat baik. Aku yakin kalau kamu semakin rajin terapi dan semangat untuk sembuh. Sebentar lagi kaki kamu akan benar-benar bisa berjalan kembali"


"Iya Honey, terima kasih ya sudah berjuang untuk kesembuhan aku"


Adriana menggeser posisi duduknya, memeluk suaminya dengan erat. "Pokoknya semakin cepat kamu sembuh, maka kamu akan cepat juga mendapatkan hadiah dariku"


Mendengar itu Erland tersenyum, dia mengeratkan pelukannya. Mencium puncak kepala istrinya.


"Sekarang ayo mandi dulu, Mami sudah pasti menunggu kita untuk sarapan"


Erland mengangtuk, dengan berpegangan pada Adriana dia dipindahkan ke kursi roda. Adriana membawa Erland ke kamar mandi. Hingga beberapa saat kemudian, Erland sudah selesai mandi dan berganti pakaian.


Adriana menyisir rambut suaminya, mengecup puncak kepala Erland dengan lembut. "Suamiku sangat tampan ya"


Erland terkekeh mendengarnya, entah kenapa istrinya itu begitu bucin padanya. Dan Erland menyukai itu. Adriana yang selalu bersikap manja padanya dan paling suka mencuri ciuman dari Erland.


"Sayang, aku mencintaimu"


"Aku lebih mencintaimu, Honey"


Kata cinta yang seringkali terucap dari bibir mereka, menunjukan seberapa besar perasaan masing-masing.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2