Mengejar Cinta Si Kembar

Mengejar Cinta Si Kembar
Lamaran Dadakan


__ADS_3

Erland kembali ke rumahnya agak larut hari ini. Terlalu banyak pekerjaan yang harus dia cek. Masuk ke dalam kamar, Erland melihat istrinya yang sedang duduk di atas tempat tidur dengan ponsel ditangannya.


"Honey kamu belum tidur?"


Adriana menoleh pada suaminya yang berjalan ke arahnya. Dia cemberut menatap suaminya yang baru pulang. "Begini nih kalau kaki kamu sudah sembuh, pulang saja malam. Gak inget lagi sama istri, atau mungkin karena kamu sudah sembuh, jadinya banyak wanita yang mendekatimu ya"


Erland tersebut melihat istrinya yang sedang merajuk itu. Dia duduk di pinggir tempat tidur. "Gak mungkin aku berani berpaling sama wanita lain. Kalau istriku saja sudah setulus ini padaku"


Adriana tetap cemberut dengan mencebikan bibirnya. Membuat Erland gemas saja. "Bohong!"


Erland mengelus pipi istrinya, lalu memberi kecupan di pipi dan bibirnya. "Aku tidak akan pernah tergoda oleh wanita mana pun. Karena mereka yang mendekatiku saat ini, belum tentu mau bersamaku disaat aku lumpuh. Karena hanya kamu yang mau menikah denganku disaat keadaan kaki aku yang seperti itu. Jadi mana mungkin aku akan menyia-nyiakan kamu yang sudah setulus ini denganku"


Adriana menatap Erland dengan senyuman tipis, lalu dia segera menghambur ke pelukan suaminya itu. "Aaa. Aku terharu Sayang mendengarnya"


Erland tersenyum, dia mengelus kepala istrinya dan mengecupnya dengan lembut. "Jangan suka berfikirkan negatif kayak gitu ah. Lagian aku tidak akan berpaling pada sipapun. Aku mencintai kamu dengan sepenuh hatiku"


"Ya 'kan aku tetap harus berjaga-jaga supaya kamu tetap aman dari godaan-godaan syaitan di luar sana"


Erland terkekeh mendengarnya, istrinya ini memang yang paling bisa membuat dirinya merasa sangat dicintai. "Udah ah, aku mau mandi dulu. Kamu diam saja disini, aku bisa siapkan sendiri"


Adriana mengangguk patuh, membiarkan suaminya berlalu ke kamar mandi. Adrian menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tdiur. Tersenyum tipis ketika mengingat ucapan suaminya barusan yang sangat menyentuh hati. Bolehkah Adriana mulai serakah saat ini? Dia tidak akan pernah rela jika Erland dimiliki orang lain. Karena hanya dirinya yang akan memilikinya sampai kapan pun.


Beberapa saat kemudian suaminya telah selesai mandi. Dia berjalan menghampiri Istrinya yang sedang tiduran diatas tempat tidur. Naik ke atas tempat tidur dan memeluknya.


"Ayo tidur, sudah malam kenapa masih main ponsel?"


Adriana mematikan layar ponselnya, menyimpannya di atas nakas. Barulah setelah itu dia langsung berbalik badan, dan memeluk suaminya dengan erat. Tempat yang paling ternyaman dalam tidurnya, adalah pelukan suaminya.


"Sayang, aku ingin ke makam Papa"

__ADS_1


Erland mencium puncak kepalanya, dia juga belum pernah mengunjungi makan mertuanya itu. "Akhir pekan ini ya, kita datang kesana. Soalnya sebentar lagi acat pernikahan Erlita akan segera di bicarakan. Jadi, sebaiknya kita pergi dulu ke sana"


Adriana mengangguk, dia mengeratkan pelukannya. Merasa senang karena Erland mewujudkan keinginannya yang sederhana ini.


...⭐⭐⭐⭐⭐⭐...


Pagi ini dengan tiba-tiba rumah Mami kedatangan tamu yang sebenarnya tidak dia katahui akan datang. Pendy dan kedua orang tuanya tiba-tiba saja datang ke rumah ini tanpa memberikan kabar terlebih dahulu. Hal itu membuat anggota rumah terkejut dengan kedatangannya.


Beruntung karena Papi dan Erland belum pergi ke kantor. Jadi hari ini benar-benar menjadi pertemuan keluarga yang tidak di sangka.


"Jadi, tujuan kami datang kesini karena keinginan anak kami yang ingin meminang putri kalian, Erlita"


Adriana yang duduk di samping suaminya, menatap ke arah Pendy sambil menggelengkan kepala heran. Kelakuan Pendy ini memang selalu membuat heran semua orang. Mau datang melamar, tapi tidak ada konfirmasi apapun.


"Kalau kami sebagai orang tua, hanya mendukung saja apa yang diputuskan anak kami. Jadi, semuanya tergantung pada Erlita sendiri" kata Papi


Semua orang langsung menatap pada Erlita, membuat gadis itu merasa gugup sendiri. Tangannya meremas pakaiannya yang dia pakai. Rasanya dia terlalu gugup dengan semua ini. Untuk pertama kalinya ada seorang pria yang benar-benar datang pada kedua orang tuanya untuk melamarnya atas nama cinta. Bukan karena terpaksa.


Dan semua orang langsung mengucap syukur mendengar jawaban Erlita. Akhirnya Erlita bisa bersatu dengan pria yang dia cintai dan juga mencintainya. Setelah banyak rintangan yang dia lewati selama ini, akhirnya dia bisa menemukan kebahagiaannya saat ini.


"Tapi, sebelum itu..." Semua orang kembali menatap pada Erlita. Menunggu kelanjutan dari apa yang akan diucapkan olehnya. "...Om, dan Tante tentu tahu apa status saya saat ini. Jadi, apa kalian siap menerima aku sebagai menantu dan bagian dari keluarga kalian dengan masa laluku yang pernah gagal dalam pernikahan"


"Tenang saja Sayang, Mommy menerima kamu apa adanya. Asalkan Arga senang bersamamu dan mencintaimu, maka kami akan menerima kamu apa adanya"


Erlita tersenyum haru mendengar ucapan Mommy barusan. Betapa dia sangat bersykur karena sepertinya kedua orang tua Pendy memang menerima keadaannya dengan tulus.


"Iya Nak, Daddy juga memikirkan hal yang sama dengan Mommy. Karena baru kali ini Daddy melihat Arga yang begitu besar mencintai seseorang"


Akhirnya lamaran dadakan hari ini berjalan lancar. Dan tanggal pernikahan Erlita dan Pendy akan di laksanakan satu bulan ke depan. Jadi semuanya akan mulai sibuk mempersiapkan semuanya.

__ADS_1


Selesai acara lamaran dadakan itu, Adriana cukup sibuk membantu Mami untuk masak makan siang. Karena selesai acara lamaran, semuanya diakhiri dengan makan siang bersama. Jadi saat sekarang Adriana masuk ke dalam kamar, dia merasa cukup lelah.


Adriana berjalan mendekati suaminya yang duduk diatas sofa. Menghambur ke pelukan Erland. Menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.


"Honey, kenapa?" Erland mengelus kepala istrinya dengan lembut. Tubuh Adriana benar-benar berada di atas tubuh Erland sekarang.


"Aku lelah, ingin tidur"


Erland tersenyum mendengar itu, dia tahu jika istrinya cukup sibuk untuk membantu menyiapkan makan siang hari ini. "Yasudah, ayo kita tidur"


Erland menggendong tubuh lelah istrinya menuju tempat tidur. Membaringkan tubuh Adriana diatas tempat tidur. "Tidurlah, aku ada pekerjaan sebentar"


Adriana cemberut mendengar itu, menatap suaminya dengan kesal. "Sayang, temani aku saja"


Erland mengelus puncak kepala istrinya, lalu mengecup keningnya dengan lembut. "Sebentar saja, aku benar-benar ada pekerjaan"


Akhirnya mau tidak mau Adriana tetap membiarkan Erland pergi ke ruang kerjanya. Meski sebenarnya dia ingin tidur bersama suaminya. Tapi, mau bagaimana lagi kalau suaminya memang sedang ada pekerjaan. Adriana juga tidak bisa egois.


Hingga dua jam kemudian, pintu kamar kembali terbuka. Erland masuk ke dalam kamar dan tersenyum ketika melihat istrinya yang sudah terlelap. Erland menghampirinya dan segera naik ke atas tempat tidur, memeluk istrinya dengan lembut.


Entah apalagi yang harus aku ucapkan selain rasa syukur karena aku bisa memilikimu dam hidup bersamamu. Terima kasih untuk semua ketulusan kamu.


Erland menatap wajah tenang istrinya yang sedang terlelap itu. Mengelus pipinya dengan lembut. Kebahagiaan yang Erland rasakan saat ini, tentu saja karena Adriana yang berada di sampingnya.


Adriana menggeliat pelan, membuka matanya dan melihat suaminya. "Sayang sudah bekerjanya"


Erland mengangguk.


Adriana langsung beringsut masuk ke dalam pelukan suaminya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2