
"Aaa..."
Adriana menjerit kaget saat tangannya di tarik seseorang dan masuk ke sebuah kelas yang sudah kosong. Adriana menatap kedua seniornya yang menarik tangannya itu. Membawa dirinya ke pojok ruangan.
Brughh..
Tubuh Adriana membentur dinding dengan keras saat kedua seniornya itu mendorong tubuhnya dengan kasar. Adriana jatuh ke atas lantai. Meringis pelan saat tangannya terasa sakit.
"Ada apa Kak?"
"Tidak ada, kita ini hanya penasaran denganmu. Bagaimana bisa kamu mendapatkan cinta Erland? Kita dengar, kalian akan segera menikah ya?"
Adriana menghela nafas, dia berdiri dan menatap kedua senoirnya itu dengan tenang. "Iya, kami memang akan segera menikah. Ada apa memangnya?"
Melihat nada menantang dari Adriana membuat keduanya kesal. Salah satu dari mereka sudah mengangkat tangannya untuk menampar Adriana, tapi sudah di tahan oleh gadis itu.
"Apa Kakak berdua ini pernah mendengar tentang rumor ku? Tentang aku yang pernah menyakiti Kakak sendiri"
Entah kenapa suasana malah berubah tegang. Kedua senior Adriana yang tadinya sudah segarang mungkin untuk menindasnya. Kini malah seolah terbalik, mereka berdua malah terlihat ketakutan dengan tatapan Adriana dan senyum devils yang Adriana berikan pada mereka.
"Kalian tahu, aku bisa saja melakukan ini..." Adriana memutar tangan senior yang dia cekal sejak tadi ke belakang tubuhnya. Jelas dia langsung menjerit kesakitan. "..Atau ini" Menendang kaki seniornya hingga jatuh tersungkur di lantai.
Senior yang satu lagi sudah mulai berjalan mundur ketika tatapan Adriana beralih padanya. Sungguh melihat ini, keduanya benar-benar tidak menyangka jika Adriana akan melakukan hal seperti ini. Gadis ini selalu terlihat lemah, tapi ternyata semua itu hanya topeng.
"Kenapa menjauh Kak? Bukannya ingin menyerang aku ya"
Lagi-lagi senyuman menakutkan itu terbit di wajah Adriana. Membuat kedua seniornya berlari cepat keluar kelas dengan begitu ketakutan. Adriana tertawa melihatnya.
"Dasar, sok-sok'an mau bully Adrina. Mereka tidak tahu kalau aku ini mantan pembully saat di sekolah, dulu. Tapi sekarang udah enggak si, udah tobat. Kapok aku di marahi guru BK sampai di scors"
Adriana berjalan keluar kelas itu, wajah menakutkannya telah berubah kembali pada Adriana yang asli. Adriana yang manis dan polos. Dia berjanji menyusuri koridor kampus.
"Adriana.."
__ADS_1
Suara itu membuat Adriana menoleh dan melihat seorang Dosen berjalan ke arahnya. Adriana menghembuskan nafas kasar ketika melihat dua orang yang berada di belakang Dosen itu. Tukang ngadu juga ternyata. Gumamnya.
"Iya Pak, ada apa?" Bertanya dengan wajah polos dan pura-pura tidak tahu apa-apa.
"Kamu apakan mereka? Katanya kamu telah membully mereka? Kamu itu seorang junior, kenapa sampai membully senior kamu"
Adriana menatap dua orang perempuan di belakang dosen yang sejak tadi hanya menundukan wajahnya. "Saya tidak tahu apa-apa Pak. Malah mereka yang berniat membully saya"
"Bohong Pak, dia bohong" yang mempunyai kesalahan langsung menyela begitu saja. Mencari cara untuk membela diri sendiri dan menyalahkan orang lain.
"Ada apa ini?"
Suara bariton itu berhasil membuat Adriana bersorak dalam hati. Saat dia menunjukan pada semua orang, jika Erland memang mencintainya dan sudah benar-benar menjadi miliknya.
"Sayang, aku tidak tahu kenapa mereka malah menyalahkan aku. Padahal mereka sendiri yang berniat mencelakai aku" Adriana langsung menghambur ke pelukan Erland dan menangis disana. Meski sebenarnya hanya sebuah tangisan palsu.
"Tidak! Kami tidak melakukan apapun. Justru Adriana yang mencelakaiku" Senior yang tangannya hampir patah karena Adriana sedang membela dirinya sendiri.
"Sayang lihat saja tanganku, mereka yang membuat tanganku seperti ini. Alasannya karena kamu yang akan menikahiku. Mereka tidak menerima hal itu"
Erland langsung menatap tangan Adriana yang terlihat membiru itu. Kedua tangannya mengepal erat melihat itu, lalu dia menatap ke arah dua wanita yang menjadi tersangka melukai tangan kekasihnya ini.
"Kalian semua haru tahu..." Sengaja Erland mengeraskan suaranya, agar semua orang yang ada disana mendengarnya. "...Aku masih bisa memberikan toleransi pada siapa pun yang mengganggu Adriana hanya dengan kata-kata saja. Tapi, jika kalian sudah berani menyakiti fisiknya. Sekecil apapun luka yang dia alami karena perbuatan kalian. Maka tidak ada lagi kata toleransi dariku! Faham?!"
Eh, kok marahnya lebih serem ya.
Adriana mendongakan wajahnya, dia menatap wajah Erland yang sedang menahan amarahnya. Membuat Adriana takut sendiri, jika Erland benar-benar tidak akan bisa mengendalikan kemarahannya.
"Sayang sudah ya, ayo pergi dari sini"
Adriana menarik paksa tangan Erland untuk pergi menjauh darinya. Dia juga tidak ingin jika kekasihnya akan mengamuk disana dan menyiksa banyak orang.
Adriana menghela nafas lega saat mereka sudah berada di parkiran kampus. Di depan mobil Erland yang terparkir disana. Adriana menatap Erland yang masih menahan amarahnya. Bahkan dia masih belum berniat untuk membuka kunci mobilnya. Dia masih berdiri disana dengan kedua tangan yang mengepal erat.
__ADS_1
"Sayang, sudah dong jangan marah terus. Aku gak papa kok"
Erland meraih tangan kiri Adriana dan menatap pergelangan tangan itu yang membiru. "Sudah seperti ini, masih bilang gak papa. Mereka sudah sangat keterlaluan Honey. Aku tidak rela kamu terluka sedikit pun"
"Sudah ahh, ini tuh gak papa. Cuma keseleo doang. Di kompres juga pasti langsung sembuh"
"Yaudah sekarang kita ke apartemen aku, biar aku obat luka kamu itu"
"Iya Sayang"
Akhirnya Adriana menurut saja saat Erland membawanya ke apartemen. Dan disinilah Adriana sekarang di kamar Erland di apartemen ini, entah kenapa Erland malah membawanya ke kamar. Beralasan jika obatnya ada disana dan setelah selesai mengobati Adriana, Erland menyuruhnya untuk istirahat di kamarnya.
"Tapi aku kerja"
"Sudahlah hari ini tidak perlu kerja dulu, ada yang ingin aku bicarakan denganmu"
Adriana menatap Erland dengan bingung, apa yang ingin dibicarakan kekasihnya itu. "Apa yang ingin kamu bicarakan?"
"Sayang aku harus pergi dua minggu ini"
"Pergi kemana?"
"Perusahaan Papi di luar negara sedang ada sedikit masalah. Jadi aku harus kesana untuk mengeceknya, Papi juga disibukkan dengan perusahaan disini"
Adriana menatap Erland dengan sendu, itu artinya dia tidak akan bertemu dengan Erland selama itu. Padahal dia baru saja kembali dengan Erland. Beberapa hari saja tidak bertemu dengan pria itu sudah membuat Adriana rindu berat. Apalagi jika selama itu.
Erland mengelus kepala Adriana dan mencium keningnya. "Honey aku hanya sebentar disana. Nanti kalau perkejaan disana sudah selesai, aku akan segera kembali. Bahkan mungkin sebelum dua minggu"
Meski berat, tapi Adriana tetap menganggukan kepalanya. Dia harus mengerti keadaan Erland. "Yaudah, tapi selama disana kamu harus sering-sering menghubungi aku"
"Iya Honey"
Bersambung
__ADS_1