
Kejadian kemarin benar-benar menjadi sesuatu yang tidak bisa di lupakan oleh Adriana. Sikap Erland benar-benar membuatnya berfikir jika pria itu memiliki perasaan cemburu padanya. Tapi rasanya semua itu tidak mungkin. Adriana saja yang terlalu percaya diri.
Dering ponsel di atas meja membuat Adriana segera melangkah mendekat pada meja di depan sofa di ruang tengah rumahnya ini. Adriana mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelepon, setelah tahu siapa yang menelponnya dia langsung mengangkat sambungan telepon itu.
"Hallo Kak"
"Ri, aku jemput kamu sekarang ya. Kita berangkat kuliah bareng"
Adriana tersenyum mendengarnya, untuk membalas rasa bersalahnya kemarin Adriana menyetujui ajakan Pendy barusan. "Oke Kak, aku kirim alamatnya ya"
"Siap"
Setelah mengirim alamat rumahnya pada Pendy, Adriana segera pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi ini. Ayahnya masih bersiap untuk bekerja di dalam kamar. Adriana bahagia hidup saling menyayangi dengan Ayahnya, dan sesekali Kakak perempuannya akan datang untuk menjenguk mereka. Meski hidupnya sekarang sangatlah sederhana, tapi semua itu membuat Adriana sadar. Jika kebahagiaan tidak selalu di ukur dengan uang.
Mengaduk masakan di dalam wajan, Adriana selalu merasa senang dan tenang saat berada di rumah. Setidaknya dia melihat Ayahnya yang sehat dan hubungan Ayah dan Kakaknya sudah kembali baik, hal itu benar-benar membuat Adriana senang. Meski hati kecilnya tetap merindukan Ibunya. Dan sampai sekarang, Adriana tidak tahu dimana keberadaan Ibunya.
"Ri, kamu kuliah hari ini, Nak?" Papa muncul di balik pintu dapur dengan pakaian kerjanya.
Adriana menoleh dan tersenyum pada Ayahnya. Dia berjalan mendekati Ayahnya dengan membawa dua piring nasi goreng buatannya. Membawanya ke dalam rumah, menyimpan dua piring nasi goreng itu di atas meja depan sofa. Tidak ada ruang makan di kontrakan kecil ini. Sangat berbanding terbalik dengan kehidupannya di masa lalu. Namun, Adriana senang dengan semua ini. Dia bahagia hidup dalam kesederhanaan.
"Ayo sarapan dulu Pa, Riana kuliah hari ini. Di jemput temen"
Papa langsung berjalan mendekati anaknya, duduk di samping anaknya itu. "Teman? Siapa Nak? Apa dia seorang pria?"
Adriana mengangguk "Iya Pa, namanya Pendy. Dia baik banget sama Riana, sering bantuin Riana"
Papa mengelus rambut anaknya itu, dia tersenyum senang mendengar putrinya ini sudah mempunyai teman laki-laki. Memang sudah sewajarnya Adriana mulai merasakan cinta dan memikirkan masa depannya.
"Semoga dia memang yang terbaik untuk kamu ya, Nak"
Adriana tersenyum saja mendengar ucapan Papa. Dia mengerti apa maksud dari ucapan Papa. Tapi, Adriana tidak mungkin berkata jujur pada Papa. Jika yang dia cintai adalah Erland, sepupu dari menantunya itu. Bukan Pendy.
Tok..tok..
Mereka baru saja selesai sarapan saat suara pintu rumah yang di ketuk terdengar. Adriana segera berdiri dan berjalan ke arah pintu, membukanya dan tersenyum pada Pendy yang baru saja datang.
__ADS_1
"Gak nyasar 'kan ya" kekeh Adriana mengingat posisi kontrakannya berada di pinggiran kota. Masuk ke dalam gang kecil yang hanya masuk satu ukuran mobil saja.
"Gak lah"
"Yaudah, bentar ya aku ambil tas dulu"
"Oke"
Adriana kembali masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil tas. Dan pada saat itu, Papa keluar rumah dan menemui Pendy. Pria itu langsung sigap dan menyalami Papa dengan sopan.
"Pagi Om, maaf mengganggu"
"Ahh, tidak. Kamu temannya Riana ya, siapa namamu?"
"Pendy Om"
Papa tersenyum, dia mempersilahkan Pendy duduk di dua kursi yang berada di teras rumahnya.
"Mau kopi atau teh dulu?"
Papa terkekeh, Pendy cukup pandai menarik perhatian seseorang. "Apa kau bisa main catur?"
"Wah, Om mau ngajakin tanding nih. Ayok, aku bisa Om. Kapan waktunya nih?"
Lagi-lagi Papa di buat tertawa kecil melihat Pendy yang begitu bersemangat saat dia menanyakan tentang permainan itu. "Akhir pekan saja, Om kadang suka kesepian kalau libur kerja di akhir pekan, Riana kadang suka bekerja meski di hari libur"
Pendy mendengar nada suara Papa yang berubah sedih saat membahas tentang Adriana. "Tenang saja Om, nanti biar saya yang menemani Om kalau akhir pekan Adriana bekerja"
Papa mengangguk dan tersenyum, tepat pada saat Adriana kembali dari dalam rumah. Sudah siap dengan tas ransel dan sepatunya.
"Ayo Kak, kita berangkat sekarang. Pa, Riana pergi kuliah dulu ya" Adriana mencium pungging Ayahnya, yang di balas kecupan penuh kasih sayang oleh Papa di puncak kepala anaknya itu.
Pendy berdiri dari duduknya, dia juga ikut berpamitan dan menyalami Papa.
"Hati-hati di jalan ya, jangan ngebut-ngebut Dy"
__ADS_1
"Siap Om, nanti kita ketemu lagi di akhir pekan. Siapakan saja papan caturnya"
Papa tersenyum dan mengacungkan jempolnya. Adriana menatap bingung pada Ayahnya dan Pendy yang terlihat sudah sangat akrab. Seperti sudah lama kenal saja.
"Ayo naik Ri, malah bengong"
Adriana tersadar dari segala pemikirannya, dia segera naik ke atas motor sport milik Pendy. Sedikit kesusahan karena motornya yang tinggi. Adriana memegang bahu Pendy sebagai jaga-jag jika nanti dia terjatuh.
"Peluk dong Ri, kaya sama siapa aja deh. Kalau kamu pegangnya kayak gitu, bisa-bisa kau jatuh pas aku bawa motornya cepat. Kau lupa jika aku anak geng motor, skil bermotor ku sangat lihai loh"
Adriana memukul bahu Pendy dengan tertawa. "Jangan aneh-aneh deh, nanti jatuh cinta sama aku, kan repot"
Pendy ikut tertawa mendengar itu, dia mulai men-staterr motornya dan melajukannya.
Papa yang melihat itu tersenyum bahagia, baru kali ini dia melihat tawa lepas anaknya lagi setelah kehancuran keluarganya.
Maafkan Papa Nak, gara-gara Papa kamu jadi korban keegoisan Mama kamu.
Di perjalanan, Adriana dan Pendy bercerita banyak hal. Kadang mereka tertawa bersama, terlihat sangat lepas tawanya itu. Apalagi saat Pendy menceritakan tentang Papa yang mengajaknya main catur.
"Papa emang suka banget main catur di sela-sela kegabutannya"
Pendy terkekeh mendengarnya. Keduanya asyik bercerita di atas motor. Sedikit berteriak saat suara bising dari kendaraan lain membuat suara mereka tidak terlalu terdengar.
Sementara sebuah mobil yang entah sejak kapan berada tepat di belakang mereka terus membunyikan klakson. Adriana menoleh dan langsung terkejut saat melihat plat mobil tersebut.
Aku tidak akan membiarkan kau pergi dengan pria itu. Hari ini atau hari-hari selanjutnya.
Adriana merinding sendiri saat mengingat ucapan Erland yang bernada penuh ancaman itu. Dan sekarang dia melihatnya bersama Pendy. Apa yang akan terjadi setelah ini?
Bersambung
ada cerita temanku nih.. Yuk mampir.. Ceritanya sangat bagus
__ADS_1