Mengejar Cinta Si Kembar

Mengejar Cinta Si Kembar
Pria Penggila Kerja


__ADS_3

Hahaha...


Adriana tidak bisa menahan tawanya ketika dia mendengar cerita Erlita tentang Pendy yang menginginkan panggilan kesayangan yang menurutnya terlalu aneh.


"Ayah Bunda? Kalian saja belum menikah, apalagi mempunyai anak? Haha.. Kak Pendy ini emang suka aneh-aneh aja deh"


"Makanya"


"Ya ampun, Kak aku beneran gak bisa nahan tawa mendengar cerita Kakak. Ayah Bunda? Hahaha"


"Udah ihh Ri, malah ketawa mulu. Aku aja emang bingung kenapa Pendy menginginkan panggilan seperti itu untuk kita. Mau nolak juga gak bisa"


"Yaudah Kak, terima aja. Mau heran juga ini Kak Pendy. Dia 'kan emang kayak gitu"


"Iya, sahabat kamu itu emang aneh banget" Erlita menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Menatap langit-langit dengan tatapan menerawang.


"Tapi Kak, meski begitu dia benar-benar mencintai Kakak. Bahkan saat dia tahu Kakak menikah dengan orang lain. Dia benar-benar terluka, sering banget dia cerita sama aku dengan segala perasaannya yang terluka karena pernikahan Kakak dan pria lain. Kak Pendy benar-benar mencintai Kakak dengan tulus"


"Iya Ri, itu yang membuat aku bersyukur sampai saat ini"


"Yaudah Kak, semangat untuk mengejar bahagia"


Erlita hanya tersenyum.


Adriana berdiri dan berlalu dari ruanh tengah menuju kamarnya. Dia masuk masih dengan sisa tawanya, mengingat cerita Erlita barusan. Kak Pendy ini emang ada-ada aja deh. Gumamnya.


"Darimana kau? Kenapa lama sekali? Dan siapa yang kau sebut barusan?"


Deg..


Adriana langsung menoleh pada suaminya yang sedang duduk menyandar di atas tempat tidur. Adriana berjalan mendekati Erland yang menatapnya dengan tajam.


Duh, kenapa menatapku seperti itu si?


Adriana naik ke atas tempat tidur dan langsung memeluk suaminya. Sengaja agar Erland tidak benar-benar kesal padanya.


"Aku abis ngobrol sama Kak Erlita"

__ADS_1


"Apa yang kalian bicarakan?"


"Kak Erlita cerita kalau Kak Pendy minta panggilan khusus untuk mereka berdua.  Seperti kita, panggilan sayang gitu. Tapi anehnya, Kak Pendy meminta untuk panggilan Sayang adalah Ayah Bunda. Padahal mereka belum juga menikah, apalagi mempunyai anak"


"Ya wajar saja jika memang ingin panggilan itu"


Adriana mendongak, dia menatap wajah suaminya yang terlihat datar dan dingin. Huh.. Dasar pria dingin. Gumamnya.


Erland mengecup puncak kepala istrinya. Terus mengelus kepala Adriana dengan lembut. Hingga beberapa saat kemudian terdengar nafas Adriana yang mulai teratur. Erland tersenyum ketika dia melihat Adriana yang telah tertidur di dalam pelukannya. Memang Adriana sangat lemah ketika dia berada di pelukan Erland. Apalagi ketika Erland mengelus kepalanya dengan lembut.


Dengan perlahan Erland membaringkan kepala Adriana di atas bantal yang berada di sampingnya. Mencium kening istrinya dan menarik selimut untuk menutupi tubuh Adriana dengan sedikit susah payah.


"Tidur yang nyenyak, Sayangku"


Erland ikut membaringkan tubuhnya dengan perlahan di atas tempat tidur. Lalu ikut terlelap bersama Adriana.


...⭐⭐⭐⭐⭐⭐...


Erland masih harus melakukan cek up selama satu bulan sekali. Dan hari ini adalah jadwal cek up dia. Adriana mengantar suaminya cek up untuk pertama kalinya setelah mereka menikah.


Dokter yang biasa menangani Erland, cukup terkejut ketika melihat dia yang diantar oleh seorang gadis yang Erland akui sebagai istrinya. Saat ini Dokter sedang memulai pemeriksaan. Memijat kaki Erland dan memutar-mutar pergelangan kakinya.


Dokter mendongak, menatap Erland yang sedikit meringis kesakitan saat dia memutar-mutar pergelangan kakinya. "Apa terasa sakit?"


"Iya Dok, terasa sakit"


"Wahh. Ini adalah kemajuan yang sangat bagus. Jika terus seperti ini saya yakin anda akan segera sembuh. Kaki anda sudah mulai merespon pada setiap sentuhan dan rasa sakit"


Adriana dan Erland tentu merasa senang ketika mendengar penjelasan Dokter barusan. Erland menoleh pada istrinya yang berdiri disamping ranjang pemeriksaan yang dia tempati. Erland meraih lengan istrinya dan mengecupnya dengan lembut.


"Kira-kira kapan suami saya bisa kembali berjalan normal lagi, Dok?"


"Saya rasa jika perkembangannya terus seperti ini. Dalam waktu satu bulan pasti sudah bisa lepas dari kursi roda. Meski masih belum benar-benar berjalan dengan normal"


Adriana dan Erland begitu bahagia ketika mendengar penjelasan Dokter. Erland menatap istrinya dengan penuh kebahagiaan. Semua ini berkat kesabaran Adriana yang merawatnya hingga dia bisa memiliki kemajuan yang pesat dalam pengobatan ini.


"Baik Dok, terima kasih"

__ADS_1


Selesai dengan pemeriksaan, Erland segera membawa Adriana untuk pulang. Masuk ke dalam mobil dengan di bantu oleh Pak Supir. Adriana langsung memeluk suaminya ketika mereka masuk ke dalam mobil. Kebiasaan yang sering dia lakukan ketika berada di dekat suaminya. Dan Erland senang dengan sikap istrinya yang satu ini. Selalu ingin bermanja padanya.


"Kita mau kemana dulu?"


Adriana sedikit mendongakkan wajahnya, menatap Erland yang mengelus kepalanya dengan lembut. "Terserah kamu? Tapi aku pengen langsung pulang aja"


"Tapi aku ada sedikit pekerjaan di kantor"


"Yaudah, kita antar dulu Kak Erland ke perusahaan Pak. Nanti kita kembali ke rumah"


"Gak mau..." Erland semakin mengeratkan pelukannya, dia sedang dalam mode manja pada istrinya. "...Aku mau kamu ikut kamu ke kantor"


"Ck. Mau apa emangnya?"


"Gak lama kok, cuma memeriksa beberapa berkas dan laporan saja"


Adriana menghela nafas pelan. "Yaudah deh ayok"


"Jadi kita kemana dulu, Tuan?" Pak supir bertanya, setelah dia merasa perdebatan suami istri bucin ini.


"Ke perusahaan Pak, nanti jemput lagi sore"


"Katanya sebentar?" Adriana langsung menyerukan protesannya.


"Ya itu juga sebentar Honey, hanya beberapa jam saja"


Beberapa jam dia bilang sebentar. Oh Tuhan.


Beginilah jika berbicara dengan orang yang semangat bekerjanya telah kembali. Erland adalah sosok pengggilan kerja saat dulu, jadi ketika dia sekarang mulai kembali bekerja dan semangat kerjanya juga telah kembali. Maka waktu beberapa jam yang dia bilang, hanya di anggap sebentar olehnya.


Akhirnya disinilah Adriana berada, hanya duduk diam di atas sofa dengan bermain ponsel. Dia mulai merasa bosan ketika Erland sekarang pergi ke ruang meeting.


"Keluar sebentar tidak akan jadi masalah sepertinya. Lagian dia juga pasti lama di ruang meeting"


Adriana memberanikan diri untuk keluar dari ruangan Erland. Berjalan-jalan untuk menghilangkan rasa bosan. Turun entah ke lantai berapa, Adriana berjalan dan melihat beberapa orang yang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Ada beberapa orang yang berada di ruang fothocopy. Setiap orang yang berpapasan dengan Adriana selalu mengangguk hormat. Seolah mereka memang sangat menghormati dirinya.


Kenapa sikap mereka berbeda sekali dengan waktu aku pertama kali kesini.

__ADS_1


Adriana malah merasa heran sendiri dengan sikap beberapa orang yang ditemuinya. Mereka selalu menundukan wajahnya, dan mengangguk hormat pada Adriana. Dan hal itu malah membuat Adriana merasa heran sendiri.


Bersambung


__ADS_2