Mengejar Cinta Si Kembar

Mengejar Cinta Si Kembar
Makan Malam Di Pinggir Jalan


__ADS_3

Erland berniat menjemput Adriana saat pulang bekerja. Namun karena tiba-tiba ada kemacetan membuat dia agak sedikit telat sampai di tempat Adriana bekerja. Kedai ayam goreng itu telah tutup, Erland melajukan kembali mobilnya. Hingga di ujung jalan dia melihat seorang gadis yang sedang berjalan sendirian di tengah malam begini.


Erland menginjak pedal gas mobilnya lebih dalam lagi agar bisa lebih cepat sampai di dekat kekasihnya itu. Mobil terhenti tepat dia samping Adriana yang berjalan. Gadis itu langsung menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke arah mobil.


"Kak Erland"


Erland keluar dari mobilnya dan setengah berlari untuk menghampiri kekasihnya. "Honey, kau sedang apa? Kenapa jalan sendirian?"


Adriana tersenyum, dia menghambur ke pelukan Erland tanpa berkata apapun. Saat ini dia hanya membutuhkan pelukan yang menenangkan. Di saat perasaan dan pikirannya benar-benar kacau. Erland yang di peluk, merasa bingung sendiri. Meksi begitu, dia tetap membalas pelukan kekasihnya dan berusaha memberikan kehangatan dan kenyamanan untuk Adriana.


Beberapa menit Adriana hanya diam dan memeluk Erland. Lalu dia melerai pelukannya, menatap wajah kekasihnya dengan senyumannya. "Kau datang untuk menjemputku?"


"Iya, tapi karena ada kemacetan membuat aku telat datang untuk menjemputmu"


"Tidak papa, sekarang ayo kita pulang"


Erland mengangguk, dia membawa Adrian turun dari trotoar. Membukakan pintu mobil untuk kekasihnya itu. Lalu dia juga segera masuk ke dalam mobil dan melajukannya di tengah malam hari yang masih cukup ramai dengan beberapa kendaraan.


"Aku ingin makan dulu, lapar"


Erland menoleh sekilas, lalu dia mengangguk. "Mau makan dimana?"


Adriana sedikit berpikir dengan jari telunjuk yang dia ketukan di dagunya. Sunggung ekspresinya ini membuat Erland gemas. "Jam segini tempat makan mana yang masih buka ya"


Erland melihat arloji di tangannya. "Masih jam 10 malam, seharusnya masih ada yang buka. Kita cari saja"


Adriana mengangguk, dia menyandarkan kepalanya di bahu Erland yang sedang memegang kemudi. "Aku capek dan lelah sekali hari ini"


Capek dan lelah dengan keadaan yang ada.


Sampai saat ini, Adriana masih menjadi gadis yang tertutup tentang perasaannya. Meski itu pada Erland, kekasihnya. Adriana tetap ingin menjaga hatinya agar tidak terlalu bergantung pada orang lain. Karena terakhir dia bergantung pada Ibunya sendiri, dia harus menerima kekecewaan yang besar dalam hidupnya.

__ADS_1


"Stop Kak, kita makan disini saja bagaimana?"


Erland menghentikan laju mobilnya tepat di samping pedangan pinggir jalan. Sebuah kedai nasi goreng sederhana di pinggir jalan. "Yakin disini? Apa tidak mau cari tempat lain saja?"


Adriana mengerti arti tatapan Erland padanya. Dia yang dulu adalah gadis manja dari keluarga yang cukup kaya. Sehingga untuk makan di pinggir jalan saja, dia hampir tidak pernah. Tapi sekarang, sosok manja itu telah berubah menjadi gadis mandiri yang bisa melakukan segala hal seorang diri.


"Kenapa Kak? Aku sudah bukan Adriana yang dulu. Aku bisa makan di sini, lagian makanan pinggir jalan lebih enak daripada makanan restaurant berbintang. Yang aku rasain si begitu"


Erland tersenyum, dia mengelus kepala Adriana dengan lembut. Merasa bangga pada perubahan gadis ini yang benar-benar begitu drastis. Dari gadis yang takut terciprat minyak goreng, sampai dia bekerja di kedai ayam goreng dan terbiasa menghadapi minyak goreng dalam kuali yang besar. Tidak ada lagi takut terciprat minyak panas. Bahkan tangannya sudah memiliki beberapa bekas luka karena terciprat minyak panas saat bekerja atau bahkan memasak di rumah.


"Yaudah, ayo kita makan disini"


Erland turun dari mobil di ikuti Adriana. Mereka masuk ke dalam kedai nasi goreng. Memesan dua prosi nasi goreng pada si penjual. Lalu menunggu di meja dan kursi sederhana yang ada disana. Adriana menatap langit malam yang cukup cerah dengan beberapa bintang dan cahaya bulan yang menerangi bumi di malam hari.


"Bintangnya cantik ya Kak"


"Iya cantik" Erland mengatakan itu sambil menatap wajah Adriana. Bukan menatap objek yang di maksud oleh kekasihnya itu.


"Silahkan nasi gorengnya"


Kedatangan si penjual nasi goreng membuat keduanya tersadar dan segera mengalihkan tatapan. Erland menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, telinganya sudah memerah karena merasa malu.


"Ahh, terima kasih Pak"


"Iya Neng, selamat menikmati"


Setelah si penjual nasi goreng pergi, Adriana terkekeh sendiri melihat Erland yang salah tingkah karena si penjual nasi goreng yang mengganggu rencananya.


"Sudah makan dulu Kak, nanti lanjutin lagi. Haha"


Adriana malah tertawa lucu melihat wajah Erland. Gadis ini memang benar-benar berebeda. Di saat kebanyakan gadis akan merasa malu ketika hampir kepergok seseorang saat akan berciuman. Tapi, kali ini Adriana malah terlihat biasa saja. Dia terlihat santai menyantap nasi goreng pesanannya itu. Hal itu membuat Erland geleng-geleng kepala. Kekasihnya ini memang unik.

__ADS_1


Selesai dengan makan malam mereka di kedai nasi goreng. Erland segera mengantar Adriana untuk pulang. Hari sudah semakin larut, membuat keduanya harus segera pulang. Mobil telah terparkir di depan halaman rumah Adriana.


"Sudah sampai, kau masuklah dan istirahat"


Adriana mengangguk, dia melepas sabuk pengaman di tubuhnya. Menatap Erland dengan lekat, lalu dengan gerakan cepat Adriana mengecup pipi pria itu.


"Selamat malam Sayang"


Adriana segera turun dan berlari ke dalam rumahnya. Dia malu sekali karena telah melakukan itu. Tapi, dia tetap melakukannya karena memang dia ingin.


Erland masih terdiam di dalam mobilnya, menyentuh pipinya yang barusan di cium Adriana. Lalu dia tersenyum. "Dasar gadis nakal"


Erland melajukan mobilnya untuk kembali ke apartemen. Di perjalanan dia terus tersenyum mengingat kejadian tadi. Hatinya sedang berbunga-bunga sekarang.


...⭐⭐⭐⭐⭐⭐...


Adriana baru saja selesai mandi, dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Menatap langit-langit kamar dengan tatapan menerawang, menembus pada kejadian di kedai ayam goreng tadi.


Mama, kenapa Mama tega sampai tidak mengenali ku lagi. Aku rindu Mama.


Seorang gadis yang sedang merindukan sosok Ibunya yang selama ini selalu menjadi sosok yang dia banggakan. Sosok yang selalu Adriana turuti setiap perintah dan perkataannya. Selalu dia percaya. Hingga kejadian itu membuat Adriana sadar, jika Mama hanya memanfaatkan dirinya untuk membenci Kak Tyas dan membuat Papa juga membenci anak pertamanya itu.


Namun, meski begitu dia tetap seorang anak yang merindukan Ibunya. Dia masih menginginkan waktu bersama Ibunya. Tapi semuanya seolah tidak mungkin terjadi. Karena sejak perusahaan Ayahnya bangkrut, maka Ibunya langsung pergi meninggalkan mereka.


Jadi, selama ini yang membuat Mama bertahan bukan aku. Tapi harta dan uang.


Mengingat itu membuat Adriana tidak bisa menahan lagi kesedihannya. Dia menangis seorang diri di dalam kamarnya. Meringkuk di atas tempat tidur dengan air mata yang terus mengalir.


Aku lelah Tuhan, kenapa harus seperti ini pada akhirnya? Kenapa Mama begitu tega padaku.


Terus menangis hingga akhirnya dia terlelap dengan sendirinya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2