
"Arghh..."
Adriana meringis sakit ketika dia ingin turun dari tempat tidurnya. Bagian bawahnya benar-benar terasa sakit dan perih. Sepertinya teriakan Adriana membuat Erland terbangun dari tidurnya. Dia menatap istrinya yang terduduk di pinggir tempat tdiur. Erland segera bangun dan memeluk istrinya dengan tubuh yang masih sama-sama polos.
"Sayang, aku tidak bisa berjalan karenamu"
Rengekan istrinya membuat Erland terkekeh. Semalam dia memang terlalu ganas sampai membuat istrinya sulit berjalan saat ini.
"Maaf ya Honey, aku lupa diri semalam. Abisnya kamu begitu nikmat si"
Adriana langsung memukul lengan susunya yang melingkar di perutnya. "Cepat bantu aku ke kamar mandi"
"Iya, iya Honey. Aku akan membantumu"
Erland menggendong tubuh istrinya dengan tubuh mereka yang sama-sama polos. Membawa Adriana ke kamar mandi, lalu dia mendudukan Adriana di atas toilet yang tertutup.
"Sebentar, biar aku siapkan dulu airnya"
Adriana hanya mengangguk dengan wajahnya yang cemberut. Hal itu malah membuat Erland gemas dan langsung mencium bibir istrinya.
"Ih, apaan si kamu ini" Adriana mendorong tubuh Erland yang tiba-tiba saja menciumnya membuat Adriana kehabisan nafas.
"Kenapa cemberut? Aku sangat gemas dengan bibirmu yang cemberut seperti itu. Selalu membuat aku ingin menciumnya"
Adriana semakin cemberut mendengar ucapan suaminya itu. "Cepat siapkan airnya, kita bisa satu jam berada di kamar mandi kalau kau hanya diam disitu"
Erland terkekeh, dia mencium puncak kepala istrinya sebelum dia benar-benar mengisi bak mandi dengan air hangat. Meneteskan sedikit aromaterapi ke dalam bak mandi. Lalu Erland kembali pada istrinya dan menggendongnya, membawanya ke arah bak mandi.
Berendam dengan air hangat cukup membuat Adriana merasa lebih baik dari sebelumnya. Namun Adriana langsung menatap penuh curiga pada Erland yang ikut masuk ke dalam bak mandi.
"Kau mau apa?"
Erland duduk di belakang Adriana dengan memeluk tubuhnya. "Mandi bersamamu, memangnya maun apa lagi? Kan sekalian kita berada di kamar mandi"
"Hanya mandi ya, tidak melakukan apapun lagi!"
__ADS_1
"Iya, aku juga tidak setega itu jika harus melakukannya lagi dengan keadaanmu yang masih seperti ini"
"Iyalah, aku sudah sulit berjalan kayak gini. Masa kamu masih mau membuat aku terluka"
Erland memeluk istrinya, tapi tangannya mulai merayap ke bagian dada Adriana. Membuat istrinya itu langsung merasa was-was. Dia memukul lengan Erland yang berada di bagian dadanya. Erland tertawa ketika mendapatkan pukulan istrinya di tangannya.
"Honey, bukannya kamu pernah bilang akan memberikan hadiah untuk aku ketika aku sembuh"
"Kan ini adalah hadiahnya, apa kamu lupa semalam aku telah memberikan hadiahnya"
Erland terkekeh mendengar itu, dia menyandarkan dagunya di bahu Adriana. "Jadi memang kamu sudah memikirkan tentang kejadian tadi malam ya? Kau memang mesum ya"
Adriana mendengus kesal, dia merasa ucapan suaminya itu sangat berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada. "Bukan aku yang mesum, tapi kamu yang mesum"
Erland hanya tertawa, dia tidak merasa keberatan dengan tuduhan istrinya itu.
...⭐⭐⭐⭐⭐⭐...
Suasana di ruang makan langsung hening saat melihat Erland yang memapah Adriana menuju meja makan. Hal yang sebelumnya selalu Adriana lakukan pada Erland. Tapi kenapa sekarang malah kebalikannya, apa yang sedang terjadi.
Adriana benar-benar kesal dengan kelakuan suaminya ini. Dia memperlakukan Adriana seperti orang sakit yang tidak bisa berjalan. Padahal nyatanya dia hanya sedikit sulit berjalan karena rasa perih di bagian bawahnya akibat perlakuan suaminya yang semalam begitu ganas padanya.
"Sudah kau diam saja, bukannya kau sendiri yang bilang kalau kau sampai susah berjalan"
Adriana menunduk malu dengan orang-orang yang ada di meja makan. Kelakuan suaminya ini tentu saja menarik perhatian mereka.
Mami tersenyum dengan menggelengkan kepalanya heran melihat kelakuan putranya itu. Mami dan Papi langsung mengerti dengan apa yang sedang terjadi ketika mereka melihat cara berjalan Adriana yang sedikit berbeda.
"Land, Adriana kenapa?"
Erlita yang bertanya seperti itu malah semakin membuat Adriana malu. Erland menarikan kursi untuk di duduki oleh istrinya. Membantu Istrinya untuk duduk, seolah Adriana tidak bisa duduk sendiri.
"Dia tidak papa, dia hanya sedang sulit berjalan"
"Loh kenapa?"
__ADS_1
Adriana memejamkan matanya, takutnya Erland akan menjawab dengan kenyataan yang sebenarnya terjadi.
"Tidak papa Kak, aku hanya terpeleset saja di kamar mandi. Sebenarnya aku tidak papa, tapi Kak Erland saja yang terlalu berlebihan"
Erlita mengangguk mengerti, dan hal itu membuat Mami dan Papi saling padang dengan bingung. Erlita sudah pernah menikah, tapi kenapa dia seolah tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada Adriana dan Erland.
Sarapan berlangsung dengan hening, Adriana yang masih merasa malu dengan apa yang di lakukan suaminya barusan. Sementara Papi dan Mami yang sedang memikirkan tentang keadaan Erlita yang sebenarnya saat ini.
Selesai sarapan, Mami langsung mengajak Erlita untuk berbicara di kamarnya. Sebenarnya Erlita tidak mempunyai curiga apapun. Dia merasa jika Mami hanya ingin mengajaknya bicara saja. Tidak ada yang serius untuk dibicarakan dengannya.
"Jadi, apa kamu masih perawan sampai saat ini?"
Deg..
Pertanyaan Mami yang langsung to the point, tentu membuat Erlita terkejut. Tidak menyangka jika Mami akan mempertanyakan soal itu. Hal yang dia sendiri sengaja sembunyikan karena merasa malu dengan keadaannya.
"Kenapa Mami bertanya seperti itu? Aku sudah menikah, ya tentu saja aku tidak mungkin masih perawan"
Mami menatap Erlita dengan lekat, seorang Ibu tidak akan bisa di bohongi oleh anaknya. Dia jelas melihat kebohongan di balik tatapan mata Erlita.
"Sayang, jujurlah pada Mami"
Erlita menghela nafas pelan, dia menundukan wajahnya dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata. Erlita tidak ingin membahas soal ini, karena dirinya merasa sangat malu. Menikah selama satu tahun, tidak membuat Erlita di sentuh oleh suaminya. Mungkin memang karena dirinya yang tidak menarik.
"Linux tidak tertarik padaku Mi, atau mungkin memang aku yang tidak menarik dari banyaknya wanita-wanita yang dia temui diluar sana"
Hati Mami benar-benar terluka mendengarnya. Dia langsung memeluk putranya. Membayangkan bagaimana pernikahan anaknya yang begitu membuat terluka. Tangisan Erlita benar-benar pecah dalam pelukan Ibunya. Dia tidak bisa menahannya, karena setiap dia mengingat tentang masa lalu pernikahannya. Maka air mata ini tidak bisa dia tahan lagi.
"Sabar Sayang, ini bukan karena kamu tidak menarik tapi memang suami kamu yang buta. Anak Mami yang cantik ini, masa dia tidak tertarik, mungkin memang suami kamu yang tidak normal"
Erlita tersenyum mendengarnya. Mungkin memang semua ini adalah takdirnya.
"Kamu bisa memberikan kehormatan kamu itu pada Pendy, pria yang akan menjadi suami kamu nantinya dan pria yang benar-benar kamu cintai"
Erlita mengangguk mendengar ucapan Mami barusan.
__ADS_1
Bersambung