Mengejar Cinta Si Kembar

Mengejar Cinta Si Kembar
Memaafkan Lebih Baik


__ADS_3

Erland merangkul tubuh istri bahu istrinya menuju mobil. Adriana masih terlihat shock atas pertemuannya dengan ibunys saat di pemakaman tadi. Erland tahu bagaimana Adriana yang begitu terluka dengan perlakuan ibunya. Namun apapun yang terjadi, Erland tetap tidak mau jika istrinya menjadi anak yang durhaka pada ibunya sendiri. Apalagi saat ini Adriana sudah tidak memiliki orang tua lagi selain Ibunya. Meski tahu jika Ibunya telah membuatnya terluka.


"Sayang, kamu harus bisa lebih mengendalikan emosi kamu ketika beretemu dengan Mama kamu itu"


Adriana tidak menjawabnya, dia menatap ke suatu arah. Dia menata Mama yang berdiri di dekat mobil Erland yang terparkir disana. Adriaa benar-benar sudah tidak bisa melihat ibunya lagi, kdia begitu kecewa pada ibunya yang tega menelantarkan dirinya. 


"Sayang, aku ingin pergi dari sini sekarang. Aku tidak mau melihatnya lagi"


Rega menghela nafas pelan, untuk saat ini memang istrinya ini masih belum bisa memaafkan ibunya. Semua yang dilakukan oleh Julia memang terlalu keterlaluan, sehngga wajar saja jika saat ini Adriana sangat marah dan kecewa padanya.


"Honey, kita temui dulu Mama kamu dan lihat apa yang ingin dia katakan padamu. Setidaknya..."


"Tidak Sayang, aku tidak mau menemuinya. Aku hanya tidak mau kecewa lagi" Adriana langsung memotong ucapan suaminya. Saat ini dia tidak mau jika harus kembali kecewa dengan Ibunys. Takut jika dia terlalu memaksakan diri, maka Adriana akan kembali terluka dan kecewa lagi.


"Sayang dengarkan duu..." Erland membalikan tubuh istrinya agar menghadap padanya. Menatap lekat kedua mata Adriana, jelas Erland melihat kerapuhan di balik tatapan istrnya itu. "...Kamu coba untuk menemui Mama kamu. Karena saat ini situasinya berbeda, bukan kamu yang menemuinya, tapi dia yang datang sendiri padamu. Tanpa kamu minta, munhgkin memang saat ini dia datang benar-benar untuk meminta maaf padamu. jadi cobalah untuk menemuinya dulu "


Adriana berfikir sejenak, mungkin memang benar apa yang dikatakan oleh suaminya. Akhirnya Adriana berjalan mendekat pada ibuny yang berdiri di dekat mobil Erland yang terparkir disana.


Julia tersenyum melihat anaknya yang sekarang berada di depannya. Dia ingin meraih tangan Adriana, namun anaknya itu langsung menghindar. Julia hanya bisa tersenyum miris ketika melihat jelas bagaimana penolakan dari putrinya itu.


"Sayang ini Mama, Nak. Maafkan Mama karena sudah begitu melukai hatimu.Maafkan atas semua kekhilafan Mama, tolong beri Mama maafmu, Nak ''


Adriana terdiam melihat mata Mama dengan lekat, melihat ketulusan dari yang dia ucapkan padanya. " Ma, untuk saat ini tolong jangan temui Adriana lagi. Karena sampai kapanpun aku tidak akan memaafkan Mama sebelum Mama meminta maaf juga pada Kak Tyas"


Adriana hanya ingin jika ibunya bisa meminta maaf pada Kakaknya itu. Karena semua yang pernah Mama lakukan pada Tyas sudah sangat keterlaluan. Setidaknya Adriana bisa menebus semua kesalhannya di masa lalu pada Kakaknya itu.


Julia terdiam mendengar ucapan dari putrinya itu. Dia sadar dengan apa yang dirinya lakukan di masa lalu pada anak tirinya itu. Julia sadar jika dirinya memang terlalu mempunyai banyak salah di masa lalu hingga saat ini.

__ADS_1


"Baik Nak, Mama akan menemui Kakakmu dan meminta maaf padanya"


"Tapi semua itu harus Mama lakukan karena tulus dari hati Mam. Bukan karena aku yang memintanya"


Julia mengangguk cepat, karena memang dirinya sudah mempunyai niat  untuk meminta maaf pada anak tirinya itu. Yang telah banyak dia sakiti sejak kecil hingga dewasa.


"Iya Nak, Mama melakukannya memang tulus dari hati Mama sendiri. Karena sebelumnya Mama memang sudah berniat untuk menemui Tyas dan meminta maaf padanya"


"'Baiklah aku pegang ucapan Mama dan buktikan dengan semua yang Mama ucapkan itu!"


Adriana langsung berlalu begitu saja dari hadapan ibunya. Menghampiri suaminya yang tersenyum bangga padanya dengan mengulurkan tangannya pada Adriana. Erland mengecup kening istrinya, lalu mengajak Adriana masuk ke dalam mobilnya.


Mobil melaju meninggalkan kawasan pemakaman. Didalam mobil Adriana memeluk suaminya dengan nyaman, menyandarkan kepalanya di dada suaminya. Erland beberapa kali memberikan kecupan di puncsk kepala istrinya itu.  Dia merasa begitu bangga pada istrinya yang telah bertindak begitu bijak. Ya, karena Adriana yang sekarang bukanlah Adriana yang dulu. Dia telah benar-benar berubah dan menjadi sosok wanita yang dewasa.


"Aku bangga padamu, Honey"


Cup...


Erland mencium kening istrinya itu dengan lembut. "Aku bangga karena kamu begitu bijak dan dewasa saat bertemu dengan Mama kamu tadi. Meski tadi kamu sempat begitu emosi padanya, tapi sekarang aku bangga padamu karena kamu yang bisa mengendalikan emosimu"


Adriana tersenyum tipis, dia sendiri memang tidak ingin terus marah-marah pada ibunya, karena menurutnya hanya akan menjadi percuma jika terus marah dan menyimpan dendam. Nyatanya Kakaknya saja yang sudah begitu sering dia sakiti sejak dulu, bahkan terlalu banyak luka yang di derita Tyas selama ini.Tapi dia masih bisa memaafkan Adriana, bahkan menganggap semuanya baik-baik saja.


...⭐⭐⭐⭐⭐⭐...


Segala persiapan pernikahan Pendy dan Erlita sudah mulai berjalan. Adriana juga membantu beberapa hal yang dia bisa saja, karena memang dia tidak terlalu bisa membantu banyak hal.


Pagi ini Tyas datang berkunjung ke rumah ini. Jelas itu membuat Adriana begitu melihat Kakaknya datang. Adriana langsng memeluk Kakaknya itu.

__ADS_1


"Apa kabar Kak? Kok datang kesini gak kabari aku si"


Tyas tersenyum, di mengelus kepala adiknya dengan lembut. "Kakak datang kesini memang ingin menemui kamu. Ada hal yang ingin Kakak bicarakan denganmu"


Adriana mennatap Kakaknya dengan bingung. "Ada apa Kak?"


"Kita bicara di taman belakang saja yuk, mumpung Gweny masih bersama Tante Syifa"


Adriana menganggguk, mereka pun akhirnya pergi ke tsmsn belakang rumah ini. Duduk di bangku taman.


"Jadi ada apa Kak?"


Tyas menghmbuskan nafas pelan sebelum memulai ceritanya. "Beberapa waktu lalu Mama datang ke rumah. Dia berlutut di hadapan Kakak dan meminta maaf. Tentu saja Kakak terkejut dengan itu, tapi Kakak juga bersuykur dengan itu. Tapi, Kakak dengar kamu belum memberikan maaf pada Mama"


Adriana terdiam  mendengar ucapan Kakaknya itu. Dan itu sudah cukup menjadi sebuah jawaban untuk Tyas atas pertanyaannya barusan.


Tyas sedikit merubah posisi duduknya, meeraih tangan Adriana dan    menggenggmnya. Tyas menatap adiknya dengan lekat. "Sayang, semuanya telah berlalu, sekarang sudah saatnya kita berdamai dengan semuanya. Kamu tidak ingin 'kan seperti Kakak yang saat ini sudah tidak punya orang tua lagi. Kamu harusnya bersyukur karena masih mempunyai orang tua kandung sampai saat ini. Jadi maafkanlah Mama dan mencoba untuk berdamai dengan semua masa lalu yang pernah terjadi"


Baiklah, mungkin memang sudah saatnya aku melupakan semuanya dan mulai berdamai dengan masa lalu yang tidak baik.


"Iya Kak, aku akan memaafkan Mama dan akan berusaha melupakan semuanya"


Tyas tersenyum mendengarnya, begitu lebih tenang dalam hidupnya jika tidak ada dendam dalam dirinya. Tyas memeluk adiknya dengan lembut.


"Semuanya akan lebih indah jika kita saling memaafkan dan tidak ada lagi dendam dalam hati kita, Dek. Percayalah pada Kakak"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2