Mengejar Cinta Si Kembar

Mengejar Cinta Si Kembar
Kekesalan Erlita Masih Berlanjut


__ADS_3

Pendy di buat kelimpungan dengan kekasihnya yang sedang marah besar padanya. Dia sudah dua hari di diamkan oleh Erlita. Sudah beberapa kali mencoba menghubungi Erlita, namun tetap tidak mendapatkan respon apapun dari gadis itu.


Akhirnya pagi ini Pendy memilih untuk datang ke rumah Erlita. Dia tidak bisa hanya diam saja seperti ini saat Erlita begitu marah padanya. Saat dia sampai di rumahnya pun dia masih bersikap dingin pada Pendy. Bahkan saat Pendy mengajaknya ngobrol, Erlita malah pergi ke kamarnya.


Adriana yang menyadari perang dingin yang sedang terjadi di antara pasangan kekasih ini. Langsung menghampiri Pendy, duduk di samping pria itu. Mumpung Erland sudah pergi bekerja, jadi tidak akan ada yang marah-marah tidak jelas saat melihatnya bersama Pendy saat ini.


"Kenapa Kak? Kenapa Kak Erlita terlihat dingin gitu pada Kakak?"


Pendy menghela nafas pelan, dia menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Menatap langit-langit. "Lita memintaku untuk berhenti dan mundur dari anggota geng motor. Tapi aku tidak bisa Ri, aku merasa belum siap untuk meninggalkan dunia yang aku jalani selama bertahun-tahun"


"Emm. Kalau menurut aku si, memang Kakak harus meninggalkan dunia itu. Kamu tahu sendiri bagaimana duniamu itu sangat membahayakan diri kamu dan keselamatan kamu. Mungkin Kak Erlita juga memikirkan hal yang sama. Dia takut kalau suatu saat, bahaya akan mengincar kamu"


Pendy menoleh pada Adriana, memikirkan ucapan gadis itu. Sepertinya memang ada benarnya apa yang diucapkan Adriana barusan.


Adriana berdiri dan menepuk bahu Pendy dengan pelan. "Fikirkan saja dulu, Kak. Karena tidak mungkin Kak Erlita meminta kamu melakukan itu, kalau bukan karena mengkhawatirkan keadaan kamu. Kak Erlita sangat mencintaimu, Kak"


Adriana berlalu dari sana, dia membiarkan Pendy untuk memikirkan keputusan apa yang akan diambil oleh Pendy.


Pendy mengusap wajah kasar, dia merasa sangat frustasi dengan keadaan saat ini. Suara derap langkah membuat Pendy mendongak, dia menatap Erlita yang menuruni anak tangga. Gadis itu sudah rapi dan siap untuk pergi.


"Bunda..." Pendy segera menghampiri Erlita yang masih bersikap dingin padanya. "...Mau kemana? Biar aku antar ya, aku bawa mobil kok"


Erlita hanya melirik Pendy sekilas, dia melanjutkan langkahnya tanpa memperdulikan Pendy yang terus mengejarnya.


Pendy menutup kembali pintu mobil yang sudah Erlita buka. Lalu dia bersandar di pintu mobil yang tertutup itu. "Bunda, plis dong jangan marah terus kayak gini"


Erlita memalingkan wajahnya, menghindari saling bertatap dengan mata Pendy. "Awas ihh, aku harus ke butiknya Kak Gezia"


"Aku antar!"


"Tidak mau!"


Pendy menghela nafas pelan melihat sikap dingin Erlita padanya. Dia memegang lengan Erlita dan membuat gadis itu untuk menatapnya, meski sepertinya dia sangat enggan melihat matanya.

__ADS_1


"Bunda, dengerin aku dulu ihh. Jangan kayak gini terus, aku gak bisa terus kamu diemin kayak gini"


"Yaudah, keluar dari geng kamu!"


"Bunda aku...."


"Tuhkan! Yaudah aku tidak akan berbaikan denganmu"


Erlita sudah akan melangkah pergi dari hadapan Pendy. Namun pria itu segera menahan tangannya. "Yaudah iya, aku akan berhenti jadi ketua geng motor"


"Aku minta kamu keluar dari geng itu, bukan hanya berhenti jadi ketuanya!"


Pendy menghela nafas pelan, dia membalikan tubuh Erlita agar menatapnya. "Oke, aku akan keluar dari geng"


Barulah Erlita mau menatap Pendy, melihat kesungguhan di balik matanya. "Baguslah. Aku akan menunggu sampai kamu benar-benar keluar dari geng. Kalau belum, jangan harap aku mau menikahmu"


"Kenapa gitu banget si?" Pendy menatap Erlita dengan tatapan memelasnya. Dia tidak akan siap jika harus terlalu lama di diamkan oleh Erlita seperti ini. "...Aku benar-benar akan keluar dari geng. Besok aku akan membuat pengumumannya"


Pendy tersenyum mendengarnya. Dia mengelus kepala Erlita dengan lembut. Merasa sangat bahagia karena dia begitu di perhatikan oleh Erlita. "Iya Bunda, aku mengerti. Maaf ya karena aku sangat keras kepala dan tidak mendengarkan ucapanmu"


Erlita mengangguk, dia juga sebenarnya tidak bisa terlalu lama mendiamkan Pendy seperti ini. Tapi dia harus melakukannya, karena Erlita sangat takut jika Pendy akan berada dalam bahaya jika dia terus berada di dalam geng itu.


...⭐⭐⭐⭐⭐⭐...


Adriana tersenyum di balik jendela kamarnya. Dia membuka tirai jendela dan melihat bagaimana Pendy dan Erlita berbaikan kembali. Memang dirinya juga setuju dengan keputusan Erlita. Bagaimana Pendy yang memang berbahaya jika dia terus berada di geng motor itu. Meski memang geng yang Pendy pimpin adalah geng motor yang selalu membantu orang-orang kecil dan mendahulukan kebenaran. Tapi, justru karena itu akan semakin banyak geng motor lain yang tidak suka dan akan menjadikannya incaran kejahatan mereka.


Drett..Drett


Ponselnya yang berdering membuat Adriana segera mengambilnya di atas tempat tidur. Mengangkat telepon yang sudah pasti dari suaminya. Erland selalu saja menghubunginya jika dia tidak terlalu banyak pekerjaan. Maka selalu menyempatkan diri untuk menghubungi Adriana.


"Hallo Sayang, ada apa?"


"Tidak ada apa-apa. Aku hanya merindukanmu"

__ADS_1


Adriana memutar bola mata malas, Erland yang dingin seolah sirna dan tergantikan oleh Erland yang bucin dan manja. Begitulah yang Adriana rasakan. "Sayang, baru juga beberapa jam. Masa sudah merindukan aku? Ya, meski aku tahu kalau aku ini memang ngangenin"


Erland tertawa kecil mendengar itu. Istrinya ini memang selalu percaya diri, dan apa adanya jika di depannya. Tapi beda lagi jika Adriana berada di depan orang lain. Tapi, Erland senang karena hanya dirinya yang bisa tahu tentang sifat istrinya yang satu ini.


"Kamu kesini ya, aku akan pulang cepat hari ini. Kita makan siang di luar"


"Oke, aku akan datang setengah jam lagi ya. Mau siap-siap dulu"


"Siap Honey, aku menunggumu"


Dan Adriana benar-benar datang ke perusahaan suaminya. Ketika dia masuk ke dalam ruangan Erland, dia langsung di sambut oleh rentangan tangan suaminya yang sedang duduk di atas sofa. Adriana tersenyum, dia segera menghampiri Erland dan memeluknya.


"Aku merindukanmu" Erland mengecup puncak kepala istrinya dengan lembut.


"Ayo kita makan siang, aku sudah lapar"


Erland mengangguk, dia meraih tongkatnya. Atas izin Adriana, dia bisa kembali menggunakan tongkat. Tapi dengan syarat tidak terlalu banyak berjalan yang akan membuat kakinya sakit seperti saat itu.


Adriana membantu suaminya berjalan keluar ruangan. Sampai di lobby perusahaan, par karyawan yang tidak sengaja berpapasan dengan mereka langsung mengangguk hormat.


Pak supir sudah menunggu di depan lobby kantor, membukakan pintu mobil untuk Erland dan membantu Erland untuk masuk ke dalam mobil.


Seperti biasa, di dalam mobil maka sepasang suami istri ini sudah seperti sepasang sandal yang terkena lem. Sangat lengket dan tidak pernah lepas untuk tidak saling berpelukan.


"Mau makan dimana kita?"


Adriana mendongak dan menatap suaminya. Berfikir sejenak, untuk memikirkan makanan apa yang sebenarnya dia ingin makan siang ini.


"Makan apa saja deh, aku bingung mau makan apa. Terserah kamu saja"


"Oke kalau gitu"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2