Mengejar Cinta Si Kembar

Mengejar Cinta Si Kembar
Salah Faham


__ADS_3

Erland mencari keberadaan kekasihnya, namun dia tidak menemukannya. Seharusnya Adriana sudah mencarinya siang ini seperti ucapannya tadi pagi. Tapi kenapa dia malah menghilang saat ini. Erland mencarinya ke gedung tempat kelas Adriana. Namun, tidak menemukan keberadaan gadis itu juga. Entah dimana Adriana berada, malah membuatnya gelisah sekarang.


"Hei Land, kau cari siapa?"


Beno muncul di belakangnya entah sejak kapan. Menepuk bahu Erland. "Mencari Adriana, apa kau melihatnya?"


"Loh, tadi dia mencarimu ke kelas. Sudah aku beri tahu jika kau berada di rufftop kampus. Apa dia tidak menemuimu? Aku kira dia langsung menemuimu tadi"


Erland semakin bingung mendengar penjelasan Beno. Adriana tidak menemuinya di rufftop, lalu dia pergi kemana?


"Dia tidak datang menemuiku, sekarang juga malah menghilang"


Beno sedikit mengedarkan pandangannya, sampai tatapannya terarah pada sosok yang mendekat ke arah mereka. Erland masih belum menyadari kehadiran wanita itu. Dia masih sibuk mengedarkan pandangannya mencari-cari keberadaan Adriana.


Beno menepuk bahunya beberapa kali dengan tatapan yang tertuju pada wanita yang berjalan semakin dekat ke arah mereka. "Land, dia datang Land"


Erland tidak memperdulikan ucapan Beno. Dia menepis tangan Beno yang terus menepuk bahunya. Dia tersenyum saat melihat sosok yang sejak tadi di carinya berada di salah satu bangku taman kampus.


"Land.." Beno menatap Erland yang berlari ke lain arah, sementara wanita itu terhenti tepat di depan Beno. Bermaksud menemui Erland, tapi pria itu malah pergi.


Beno tersenyum kaku pada wanita cantik yang berdiri di depannya. "Hai Yola"


"Beno, Erland mau kemana?"


"Emm. Dia..." Kenapa jadi aku yang bingung dengan situasi ini.


Adriana duduk di bangku taman sambil mengayunkan kedua kakinya saat orang-orang disana terdengar berbisik-bisik membicarakan seseorang.


"Dia Yola Agatha, benar dia Yola"


"Ya ampun ada apa dia datang kesini? Cantik sekali"


Adriana menoleh dan menatap seorang perempuan yang berjalan dengan anggun di antara orang-orang yang menatap dan berdecak kagum padanya.


Cantik sekali, dia siapa? 


Sampai seseorang yang memeluknya dari belakang membuat Adriana terkejut. Erland melingkarkan kedua tangannya di leher Adriana, lalu dia mencium pipi gadis itu.


"Aku cari-cari dari tadi. Ternyata disini"

__ADS_1


Adriana menghela nafas, sebenarnya dia sedang menghindari Erland. Tapi sepertinya percuma karena pria itu akan terus mencarinya dan tidak akan membiarkan dirinya tak terlihat darinya. Adriana melepaskan lingkaran tangan Erland di dadanya.


Erland merasakan ada yang berbeda dari Adriana. Kekasihnya itu tampak dingin. Dia duduk di samping Adriana dan gadis itu sedikit menggeser duduknya, seolah tidak ingin berdekatan dengan Erland.


"Kau ke..."


"Hai Land, apa kabar?"


Deg..


Erland maupun Adriana segera menoleh ke arah sumber suara. Adriana sedikit bingung ketika gadis cantik yang menghebohkan banyak orang itu mengenal kekasihnya. Meski tidak terlalu yakin, namun saat melihat reaksi Erland, Adriana menduga jika wanita cantik itu ada seseorang yang Erland bicarakan saat di rufftop tadi.


"Land, aku sudah kembali" Dengan tiba-tiba langsung memeluk Erland, tanpa sempat pria itu untuk menghindarinya.


Adriana terdiam melihat adegan di depannya. Wanita cantik dengan karier yang jelas pasti bagus. Ketika banyak orang yang membicarakannya, tentu saja karier wanita itu pasti bagus. Sehingg banyak orang yang mengenalnya.


Adriana berdiri begitu saja, dia berjalan menjauh dari sana. Mengabaikan suara bisik-bisik orang-orang yang dia lewati.


"Kasihan sekali dia"


"Pasti Erland akan lebih memilih Yola, jelas dia lebib segalanya"


"Tentu saja, lihatlah Adriana. Dia hanya gadis yang terlahir dari keluarga yang bangkrut dan kacau sekarang"


Kembali pada Erland yang baru tersadar dari keterkejutannya dan menyadari jika Adriana sudah tidak ada disana. Dengan cepat Erland mendorong tubuh Yola yang masih memeluknya.


"Sial, untuk apa kau datang? Membuat pacarku salah faham saja. Pergi sana!"


Erland berjalan melewati Yola, dia harus mengejar Adriana sekarang. Tidak mau sampai gadisnya salah faham padanya.


Adriana mengela nafas panjang ketika dia sampai di gerbang kampus. Dadanya naik turun karena emosi dan juga lelah setelah berlari cukup jauh. Dengan nafas naik turun, tak terasa setetes air mata meluncur begitu saja di pipinya.  Segera dia hapus dengan kasar.


Seharusnya aku sadar, jika masa laluku tidak akan pernah hilang dari hidupku. Akan selalu menjadi bayang-bayang dalam hidupku. Selamanya.


Adriana mulai lelah dengan semua ini. Keegoisan orang tua menjadi sumber masalah dalam hidupnya. Bahkan sampai saat ini, dia tidak tahu dimana Ibunya berada. Jika boleh jujur, Adriana sangat kecewa pada Ibunya. Tapi, jauh di lubuk hatinya dia tetap merindukan sosok seorang Ibu dalam hidupnya.


Adriana berjongkok di atas tanah, memeluk lututnya sendiri dengan tangisan yang pecah. Wajahnya dia sembunyikan di antara lutut dan tangannya.


Sepasang tangan yang memeluknya membuat Adriana mendongak seketika. Dia menoleh dan melihat Erland yang memeluknya. Adriana menghapus sisa air matanya, dia melepaskan tangan Erland yang memeluknya. Lalu Adriana segera berdiri. Erland pun ikut berdiri dan menatap Adriana.  Namun gadis itu memalingkan wajahnya dari Erland.

__ADS_1


"Kenapa pergi begitu saja?"


"Kau sedang bersama kekasihmu, aku tidak ingin mengganggunya"


Erland tersenyum, entah kenapa hatinya merasa senang saat Adriana jelas menunjukan rasa cemburu padanya. "Dia bukan kekasihku. Dia hanya mantanku"


"Sama saja"


"Jelas beda, pacarku Adriana, bukan dia!" Tegas Erland


Adriana diam, dia masih menatap ke arah lain. Seolah malas menatap Erland saat ini. Melihat ada angkutan umum yang lewat, Adriana langsung melambaikan tangannya untuk menghentikan angkutan umum. Saat dia hampir naik ke dalam angkutan umum, lengannya langsung di tahan oleh Erland.


"Mau kemana?"


"Pulang"


"Kau masih ada kelas satu jam lagi"


"Aku mau bolos"


"Kau!" Erland menarik tangan Adriana, dia tidak suka melihat Adriana yang berbicara padanya dengan ketus dan tanpa menatap ke arahnya.


"Apaan si kamu ini? Lepas!" Adriana mencoba melepaskan cekalan tangan Erland yang mencekal tangannya.


"Kau berani membentakku?!"


Adriana menatap Erland dengan kesal, selain fikirannya yang kacau karena ucapan Ayahnya. Kini dia juga harus kesal dengan kekasihnya. Adriana yang sudah akan membuka mulutnya untuk berbicara, langsung terhenti saat suara klakson dari angkutan umum terdengar begitu keras.


"Jadi naik gak? Malah berantem di pinggir jalan"


"Ja.."


"Tidak Pak"


"Ihh, apasi aku mau pulang"


Adrina menghempaskan tangan Erland dan pergi dari hadapan pria itu dengan kesal.


Bersambung

__ADS_1


Like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5


Maaf baru up, aku lagi gak enak badan


__ADS_2