
Adriana menatap kesal pada suaminya yang terus saja tertawa karena apa yang dia katakan barusan. Adriana malu dan kesal sendiri jadinya.
"Sayang, sudah ihh. Kenapa ketawa terus, memangnya apa yang lucu"
Erland mencoba menghentikan tawanya, dia menatap wajah merah Adriana. "Honey, kamu tidak tahu apa hanya pura-pura tidak tahu tentang apa yang kamu tanyakan barusan?"
"Ya, aku fikir karena kamu lumpuh jadi itu'nya juga tidak bisa menegang" lirih Adriana dengan wajah menunduk. Dia benar-benar sangat malu ketika mengatakan itu. Tapi, memang itu yang ada di pikirannya saaat ini.
"Haha. Honey, yang lumpuh itu kakiku. Bukan berarti aku juga jadi impoten. Aku masih normal Sayang, kalau kau mau mencobanya nanti malam. Ayok!"
Adriana langsung menggeleng cepat. "Tidak, tidak. Aku tidak ingin mencobanya. Tolong jangan membahasnya lagi"
Erland mencoba menahan tawanya, dia menarik tangan Adriana dan mendudukan kembali istrinya di atas pangkuannya. Memeluk tubuh Adriana dengan erat. Mengecup bahunya.
"Yakin tidak ingin mencobanya nanti malam? Kalau kau sudah mencobanya, pasti kau akan ketagihan" bisik Erland di telinga Adriana, membuat istrinya itu merasa geli dan mulai merinding dengan hembusan nafas Erland yang mengenai kulitnya secara langsung.
"Sudah jangan di bahas lagi, Sayang. Aku malu"
Erland terkekeh, dia meraih wajah Adriana dan menangkupnya dengan kedua tangannya. Menatap Adriana yang menundukan wajahnya memerahnya. "Kenapa harus malu? Kita sudah menikah, dan wajar saja jika pembahasan kita juga tentang hal itu. Maafkan aku ya, karena aku belum bisa memberikan hakmu untuk saat ini"
Adriana mendongak, dia menatap wajah penuh sesal suaminya. Adriana menghembuskan nafas pelan, tangannya terangkat untuk mengelus pipi suaminya.
"Sayang, aku menikahimu karena memang aku mencintaimu dan ingin merawatmu hingga sembuh. Jadi, aku tidak terlalu memikirkan tentang hal itu. Nanti juga kalau kamu sembuh, maka semuanya pasti terjadi. Hal yang seharusnya di lakukan suami istri sejak pertama menikah"
Erland tersenyum mendengar ucapan bijak istrinya. Entah harus berapa banyak lagi dia mengucap syukur pada takdir Tuhan padanya. Ketika Adriana di takdirkan untuknya, adalah sebuah anugerah terbesar dalam hidupnya.
"Aku semakin semangat untuk sembuh, aku ingin segera sembuh dan segera memberikan hakmu dengan segera"
Ish. Kenapa jadi seperti itu si. Sejak kapan suamiku jadi terus berfikiran mesum.
"Yaudah sekarang ayo kita pulang"
Adriana mengangguk, dia berdiri dari atas pangkuan suaminya. Mengambil tas selempang miliknya, lalu mendorong kursi roda Erland keluar dari ruangannya.
__ADS_1
"Oh ya Sayang, tadi saat aku berjalan-jalan di perusahaan ini. Kenapa banyak orang yang bersikap aneh padaku"
Erland mengerutkan keningnya, dia takut jika istrinya kembali mendapatkan perlakuan tidak baik dan karyawan perusahaannya.
"Aneh bagaimana? Apa ada yang mengganggumu lagi? Siapa? Cepat katakan padaku, siapa yang berani menganggumu!"
"Tidak, bukan seperti itu. Tidak ada yang menggangguku. Hanya saja aku heran dengan sikap mereka"
Erland semakin bingung dengan apa yang diucapkan istrinya itu. "Memangnya kenapa?"
"Masa setiap orang yang bertemu denganku langsung mengangguk hormat padaku. Seperti yang mereka lakukan padamu"
Erland tersenyum mendengarnya. Mereka masuk ke dalam lift dan Adriana segera menekan tombol menuju lantai bawah di lift. Erland meraih tangan Adriana yang berada di pegangan kursi roda yang dia duduki. Mengecup tangan istrinya itu dengan lembut.
"Wajar saja kalau mereka melakukan itu padamu. Karena aku telah menyuruh Riki dan Beno untuk mengumumkan tentang pernikahan kita pada semua karyawan dan rekan kerja di kantor. Aku tidak mau kejadian waktu itu terulang kembali. Karena mereka tidak mengetahui siapa kamu, sampai mereka tega melakukan hal itu padamu"
Adriana baru mengerti, apa yang sebenarnya sedang terjadi. Semuanya memang karena suaminya. Adriana mengecup puncak kepala Erland dengan lembut.
"Terima kasih Sayang, aku mencintaimu"
"Iya Sayang, terima kasih untuk semuanya"
...⭐⭐⭐⭐⭐⭐...
Merasa lebih tenang setelah perecaraiannya dengan suaminya. Erlita bisa lebih leluasa untuk sekedar pergi jalan-jalan bersama Pendy. Seperti hari ini, dia pergi ke mall bersama Pendy, selain memang ada yang ingin dia beli, juga karena dia yang ingin pergi berdua bersama pria yang berhasil membuat hatinya jatuh cinta.
"Jadi, mau beli apa?"
"Emm. Aku ingin beli tas, sudah lama aku tidak membeli tas. Semenjak menikah, aku benar-benar tidak lagi memikirkan tentang kebutuhanku dan penampilanku. Yang aku fikirkan hanya tentang bagaimana caranya untuk bisa segera lepas dari Linux"
Pendy menatap Erlita dengan prihatin, merasakan bagaimana gadis itu terluka dengan keadaan. Pernikahan yang sama sekali tidak membuatnya bagagia.
"Setelah kamu menikah denganku, aku akan penuhi semua yang kamu inginkan dan kebutuhan kamu"
__ADS_1
Erlita tersenyum mendengar itu, dia menatap Pendy dengan tatapan penuh haru. "Terima kasih sudah tetap menungguku, meski kau tahu aku telah menikah dan melukai hatimu"
Pendy mengelus kepala Erlita dengan lembut. Hal yang sering dia lakukan saat mereka kuliah dulu. Dan saat ini ekspresi Erlita tidak lagi malu-malu seperti dulu, sekarang dia terlihat biasa saja ketika Pendy melakukan itu.
"Karena sampai kapanpun hanya ada Bunda di hatiku"
Erlita tersenyum dengan wajah memerah malu, dia merasa senang mendengar panggilan Pendy itu. Meski di masih saja merasa tidak nyaman dengan panggilan itu. Erlita masih merasa geli dengan panggilan itu, karena memang mereka yang belum menikah dan juga belum mempunyai anak. Jadi panggilan itu terasa terlalu berlebihan untuk mereka berdua.
Jalan-jalan kali ini benar-benar membuat Erlita senang. Sudah lama dia tidak merasakan perasaan senang seperti ini. Dia merasa sangat bahagia ketika bisa pergi bersama pria yang membuatnya jatuh cinta.
Berakhir dengan makan siang bersama di Restaurant yang ada di dalam mall itu.
"Jadi, kamu bekerja sekarang? Gak sibuk dengan geng motor itu terus? Jujur ya, aku tidak suka melihat kamu terlalu ikut campur dengan geng motor itu. Kamu tahu, aku selalu khawatir setiap melihat berita yang menayangkan tentang perkelahian antar geng motor. Aku takut kamu juga akan melakukan itu, dan aku tidak mau sampai kamu kenapa-napa"
Pendy tersenyum mendengarnya. "Jadi, selama ini kamu selalu mengkhawatirkan aku?"
"Tentu saja, karena sampai saat ini hanya kamu satu-satunya orang yang bisa membuat aku berdebar, hanya dengan berada di dekatmu saja"
"Emm. Gitu ya, iyalah aku 'kan memang pandai membuat orang menyukaiku"
Erlita mencebikan bibirnya mendengar itu, menatap Pendy dengan tidak suka. "Tapi, awas saja kalau kamu sampai melakukan hal itu pada wanita lain? Aku tidak suka!"
"Tidak akan! Karena aku hanya jatuh cinta padamu"
Erlita tersenyum, dia melanjutkan makannya tanpa menjawab lagi ucapan Pendy. Yang jelas dia senang mendengar Pendy sangat mencintainya.
"Terima kasih karena sudah mencintaiku"
Pendy mengangguk dan tersenyum mendengarnya. Dia melanjutkan makannya, tanpa menimpali kembali ucapan Erlita.
"Habiskan makannya, setelah ini kita segera pulang"
"Iya Bunda"
__ADS_1
Bersambung