Mengejar Cinta Si Kembar

Mengejar Cinta Si Kembar
Benarkah Jatuh Cinta?!


__ADS_3

Setelah kepergian Adriana, Erland menatap kotak makanan di sampingnya. Di saat seperti ini, dia masih memperdulikan dirinya tapi Erland malah melukai hatinya dengan kata-katanya yang tajam.


Erland mengambil kotak makanan itu dan membukanya. Mengambil sepotong sandwich di dalamnya dan mulai memakannya dengan tatapan kosong. Erland tidak bermaksud melukai hati gadis itu dengan ucapannya barusan. Tapi, dia juga tidak bisa mengontrol emosinya saat melihat Adriana bersama Pendy. Apalagi saat pria sialan itu mengatakan jika Adriana adalah wanitanya. Satu kata yang menandakan kepemilikan atas seseorang.


Apa mungkin memang mereka berpacaran?


Mengingat hal itu malah semakin membuat hati Erland tidak tenang. Perasaan macam apa ini? Erland benar-benar baru merasakannya sekarang. Perasaan yang entah apa, dia juga belum bisa mengartikan tentang perasaannya ini. Yang jelas, dia hanya marah dan kesal setiap kali melihat Adriana bersama pria lain, apalagi dia dan Pendy terlihat begitu akrab.


Bahkan saat di jalan tadi saja, Adriana terlihat bisa tertawa lepas saat bersama Pendy. Semnetara saat bersamanya, Adriana selalu terlihat ketakutan dan tidak berani tertawa lepas seperti itu. Disini, sepertinya Erland tidak sadar jika dirinya begitu dingin hingga membuat Adriana takut padanya.


"Entah apa yang aku rasakan, tapi yang jelas aku tidak akan pernah rela membiarkanmu bersama pria lain"


Suatu hal yang akan menjadi tekad Erland mulai hari ini.


...⭐⭐⭐⭐⭐⭐...


Jam istirahat, Erland terdiam di ruang musik. Tidak ada lagi Adriana yang menemuinya setelah tadi pagi dia memberikan sarapan padanya. Dan Erland merasa ada yang berbeda dalam dirinya saat Adriana tidak ada disini. Merasa ada yang hilang dari hidupnya.


Suara pintu ruangan yang terbuka membuat Erland mendongak dan menatap Beno dan Riki yang datang kesana. Kedua sahabatnya itu menghampirinya dan duduk di atas sofa yang ada disana. Riki duduk di samping Erland, semnetara Beno duduk di sofa tunggal disana.


"Sebenarnya kau ini kenapa Land? Dari tadi pagi uring-uringan gak jelas" Riki menepuk bahu Erland dengan pertanyaan atas sikap Erland hari ini.


"Iya Land, kalau ada masalah itu cerita sama kita. Biasanya juga kau cerita pada kita, kenapa sekarang seperti menyembunyikannya" Beno ikut menimpali, dia juga bingung melihat sahabatnya yang tiba-tiba marah-marah tidak jelas. Seperti mood nya yang benar-benar sedang hancur.

__ADS_1


Erland menghela nafas, lalu dia mengusap wajah kasar. Dia juga tidak mengerti dengan apa yang saat ini dia rasakan. "Entahlah, aku juga tidak tahu kenapa dengan diriku ini. Hanya saja aku marah dan kesal melihat dia berama pria lain. Aku tidak suka saat ada seorang laki-laki yang mengklaim dia sebagai miliknya"


Riki dan Beno saling menatap, mereka sekarang tahu arah tujuan perasaan Erland saat ini. Tentu saja mereka tahu siapa yang di maksud oleh Erland saat ini.


Riki kembali menepuk bahu Erland, seolah memberikan sedikit semangat pada sahabatnya yang sedang galau itu. "Kalau seperti itu, aku tahu masalahnya dimana Land"


Erland menoleh dan menatap Riki dengan mata menyipit, seolah tidak percaya dengan ucapan Riki barusan. "Tahu apa kau?! Kau 'kan tidak merasakannya, jadi kau tahu apa? Jangan sok tahu ya Ki"


Dih dibilangin juga. Gumam Riki kesal, sahabatnya ini memang benar-benar luar biasa. Sebelum jelas dia mendengar penjelasan Riki, sudah menghardik begitu saja.


"Land, sepertinya kau telah jatuh cinta pada gadis itu" Akhirnya Beno yang melanjutkan niat ucapan Riki itu, karena melihat sahabatnya sudah kesal duluan dengan ucapan Erland yang memotong ucapannya sebelum dia sempat menjelaskan semua yang ada di dalam fikirannya.


Erland langsung menatap Beno dengan tajam, merasa tidak percaya dengan ucapan sahabatnya yang satu lagi. Entah kenapa kedua sahabatnya ini malah membuat kesal saja. Bukan memberikan dia pencerahan atas apa yang dia rasakan saat ini.


"Ck. Land, coba kau fikirkan deh. Selama ini kau tidak pernah merasakan hal seperti ini 'kan? Lalu, apalagi namanya jika bukan karena kau telah jatuh cinta pada gadis itu"


Riki menjelaskan dengan sedikit gemas pada sahabatnya itu. Bahkan dia sampai berdiri di depannya dan menunjuk-nunjuk wajah Erland agar pria itu sadar dengan apa yang dia rasakan saat ini. Jika tidak takut di tendang pria itu, Riki sudah ingin menggeplak kepalanya yang terlalu bodoh itu.


"Berani sekali kau menunjuk wajahku!"


"Itu karena kau yang bodoh sialan, sudahlah aku capek menjelaskan semuanya padamu. Percuma, pria kutub sepertimu tidak akan sadar akan cinta yang telah tumbuh di hatimu untuk Adriana"


Riki benar-benar kesal, dia bahkan berani sekali mengatai Erland sialan. Namun tentu dia tidak berani terlalu lama disana setelah dia dengan berani memaki-maki Erland, Riki langsung berlari keluar ruangan saat melihat tatapan menusuk dari Erland.

__ADS_1


Beno pun ikut berlari keluar ruangan, dia merasa merinding melihat tatapan si kutub utara itu. "Heh, kau berani sekali mengatainya"


Riki dan Beno berjalan cepat menjauh dari ruang musik. "Sudahlah, aku hanya ingin menyadarkannya saja"


Setelah kedua sahabatnya pergi, Erland mulai merenungi apa yang di ucapkan kedua sahabatnya itu. Jatuh cinta? Benarkah dia bisa jatuh cinta secepat ini pada Adriana? Erland masih merasa tidak yakin jika dirinya bisa jatuh cinta pada Adriana dalam waktu yang menurutnya terlalu singkat.


Tapi, apa yang dia rasakan adalah hal yang baru pertama kalinya. Sebelumnya, meski banyak gadis yang mengincarnya tapi Erland merasa biasa saja dan tidak pernah merasakan hal yang seperti ini. Tapi apa benarkah jatuh cinta?


Di sisi lain Adriana sedang berajalan menuju ruang musik dengan membawa makan siang yang untuk Erland. Dia tahu jika sekarang pria itu sedang berada di ruang musik. Meski kata-katanya tadi pagi sudah menggoreskan sedikit luka di hatinya, tapi dia tetap harus melakukan tugasnya dengan baik sebagai seorang pembantu bagi Erland. Setidaknya Adriana masih bisa berdekatan dengan pria yang dicintainya, meski dengan status pembantunya saja. Adriana tidak masalah dengan itu.


Adriana membuka pintu ruang musik dengan perlahan. Dia melihat Erland yang sedang duduk menyandar di atas sofa  dengan kedua matanya yang terpejam. Dengan perlahan Adriana mendekati pria itu, menatap wajah tampannya yang selalu membuat Adriana berdebar saat berdekatan dengannya.


Tampan sekali si, pantas saja dia menjadi idola para gadis termasuk aku. Hehe.


Adriana ingin memegang hidung Erland saat kedua mata pria itu terbuka seketika. Adriana ingin menghindar karena terkejut, namun tangannya langsung di tarik oleh Erland dan Adriana terjatuh dalam pangkuan pria itu.


Deg..


Bersambung


Like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5


__ADS_1


__ADS_2