Mengejar Cinta Si Kembar

Mengejar Cinta Si Kembar
Menerima Pendy Sebagai Calon Suaminya


__ADS_3

Adriana masuk ke dalam kamarnya setelah mememui Pendy yang datang untuk mengantar barang-barang milik Erlita. Adriana menghampiri suaminya yang sedang menatap pemandangan di luar jendela. Adriana memeluk Erland dari belakang, tangannya melingkar di dada pria dengan dagunya yang berada di bahu Erland.


"Sayang, lagi lihat apa si?"


Erland tersenyum, dia mengelus tangan Adriana yang berada di dadanya. "Tidak lihat apa-apa, tadi siapa yang datang?"


Aduh, gawat. Apa dia akan marah ya? Tapi untuk apa dia marah.


"Kak Pendy, dia mengantar barang milik Kak Erlita yang sengaja dia ambil sendiri di rumah suaminya"


"Ohh"


Adriana langsung melepaskan pelukannya, berjalan mengitari Erland dan berlutut di depan suaminya yang duduk di kursi roda itu. "Sayang, kok tumben"


"Apa? Tumben apaan?"


"Biasanya kamu suka marah-marah gak jelas kalau aku bahas tentang Kak Pendy"


Erland tersenyum, dia sedikit menundukan kepalanya dan mengecup bibir Adriana dengan gemas. Tatapan bingung dan terkejut gadis itu selalu membuat Erland merasa sangat gemas.


"Kan kamu sendiri yang bilang kalau aku harus bisa merubah sikapku pada dia. Lagian aku sudah melihat ketulusannya dan kesungguhan dia pada Erlita. Aku yakin jika dia adalah yang terbaik untuk Erlita"


Adriana tersenyum mendengar itu, dia memegangi wajah Erland dan memberikan dua kali kecuapan di bibir Erland. "Aku senang mendengarnya, memang Kak Pendy itu sangat mencintai Kak Erlita. Jadi kamu gak perlu cemburu-cemburu lagi sama Kak Pendy"


Erland mengelus kepala istrinya dengan gemas. "Meski begitu, aku tetap tidak mau kau terlalu dekat dengannya"


"Iya Sayang, tidak akan"


Adriana berdiri, beralih ke belakang kursi roda Erland. Membawanya ke dekat tempat tdiur. "Tunggu disini ya, aku mau ambil air hangat dulu"


Seperti biasa, Adriana masih melakukan pijat refleksi untuk Erland. Dengan merendam kaki Erland dengan air sedikit panas dan memijat-mijat kakinya. Karena sejak Adriana melakukan itu, benar-benar menunjukan kemajuan yang cukup besar bagi Erland. Bahkan kulit kakinya sudah mulai merasakan sentuhan, dan jari-jari kakinya juga sudah mulai bisa bergerak.


Adriana duduk di atas lantai, mengangkat perlahan kaki Erland yang berada di pijakan kursi roda. Memasukannya ke dalam wadah yang berisi air hangat. Adriana mulai memijat kaki Erland dengan lembut dan penuh ketekunan.


"Honey dingin, kamu duduk di lantai begitu"


"Gak papa, aku gak dingin kok"


Dengan tekun Adriana memijat kaki suaminya. Membuat Erland yang melihat ketulusan istrinya ini benar-benar merasa terharu. Betapa dia harus banyak bersyukur karena bisa mendapatkan cinta tulus Adriana.

__ADS_1


"Oh ya, kamu gak jadi ke kantor hari ini?"


Erland menghela nafas pelan, kejadian yang menimpa Erlita membuat dia membatalkan rencananya hari ini untuk mulai kembali bekerja di perusahaan. Fokusnya akan hilang karena memikirkan Erlita.


"Tidak, mungkin besok. Sekarang aku sudah lebih tenang karena kasus Erlita sudah ditangani  oleh polisi"


Adriana mengangguk, dia mengangkat kembali kaki Erland dan mengelapnya dengan handuk kecil. "Aku simpan ini dulu ya"


Adriana berlalu ke ruang ganti, sampai beberapa saat kemudian dia kembali pada Erland. "Sayang, waktunya minum obat dan istirahat ya"


Erland menghembuskan nafas pelan, selalu dia merasa malas ketika waktunya minum obat. Tapi dia tidak bisa menolak, karena istrinya yang meminta.


"Iya Sayang"


Adriana tersenyum melihat suaminya yang menurut dengan wajah pasrah seperti itu. "Kan biar cepat sembuh, jadi harus benar-benar rutin minum obatnya"


"Iya Honey"


...⭐⭐⭐⭐⭐⭐...


Erlita kembali sore hari dari rumah sakit bersama Papi. Mami langsung menyambutnya dengan perasaan khawatir.


"Iya Mi, semuanya baik-baik saja"


"Besok hasil visum kamu keluar, dan Papi akan segera membuat tuntutan untuk suami kamu itu. Perceraian kamu juga sudah di urus oleh pengacara keluarga kita" kata Papi


Erlita mengangguk, dia merasa lebih tenang sekarang. Saat semuanya benar-benar berakhir. Dia tidak mau terus terjebak dengan Linux, pria yang sama sekali tidak bisa menghargai wanita.


"Oh ya Li, tadi ada Pendy datang kesini. Dia mengambil barang-barang kamu dari rumahnya Linux dan mengantarkannya kesini"


Erlita terdiam mendengar ucapan Mami barusan. Sampai segitunya Pendy pada Erlita, padahal dia sudah menyakiti hati pria itu. Namun dia begitu baik padanya, ketulusan Pendy benar-benar membuat Erlita semakin menyesal karena sudah melukai hati pria itu.


"Mi, apa Erlita tidak terlalu serakah jika ingin bersama Pendy, setelah aku melukai hatinya"


Mami beralih menjadi duduk di samping Erlita. Mengelus kepala anaknya dengan lembut. "Kamu tidak berniat melukainya, tapi kamu hanya sedang berada di dalam dua pilihan yang sulit saat itu. Kamu dengar sendiri 'kan jika Pendy ingin menikahimu. Itu artinya dia begitu mencintaimu"


"Tapi, Lita merasa bersalah padanya"


"Tidak papa Nak, Mami yakin Pendy akan menerima semuanya"

__ADS_1


Erlita mengangguk, dia berharap memang Pendy akan menerima dirinya yang sekarang sudah berbeda dari Erlita dari yang dulu. Erlita yang sudah pernah gagal menikah dalam hidupnya. Semoga saja Pendy tidak akan menyesal karena telah memilihnya.


Berdiri di depan jendela kamar, Erlita hanya berdiam diri menatap pemandangan di luar jendela di waktu sore yang cukup cerah.


Drett...Drett..


Dering ponselnya membuat Erlita menoleh, dia melangkah menuju tempat tidur, dimana ponselnya berada. Menatap nomor tidak dikenal yang meneleponnya.


"Siapa ini?"


Tidak mau penasaran, Erlita segera mengangkat telepon itu. "Ha-hallo, siapa ya?"


"Hallo calon istriku, sedang apa?"


Deg..


Ternyata yang menghubunginya adalah sosok yang selalu ada di fikirannya. "Pendy? Darimana kamu tahu nomor ponselku yang ini?"


"Siapa lagi, jelas dari suadara iparmu itu"


Erlita tersenyum, dia baru mengingat jika Adriana begitu dekat dengan Pendy. Tentu saja Pendy pasti mendapatkan nomor ponselnya dari dia. "Emm. Pendy, terima kasih ya sudah mengantarkan barang-barang aku"


"Iya sama-sama. Tapi harus ada imbalannya"


Erlita mengerutkan keningnya, memikirka sebuah imbalan apa yang akan di bawa oleh Pendy. "Apa? Imbalan apa?"


"Kamu harus menerima aku sebagai calon suami kamu. Karena kamu belum memberikan jawaban apapun padaku"


Erlita menghela nafas pelan, lalu dia tersenyum. "Kamu yakin? Aku seorang janda sekarang? Memangnya keluarga kamu akan setuju jika kamu menikahi seorang janda?"


"Tentu saja, aku mencintaimu sampai kapan pun dan apapun keadaan kamu dan status kamu. Aku tidak peduli. Aku hanya ingin hidup bersamamu"


Erlita tersenyum, matanya berkaca-kaca merasa sangat terharu dengan cinta tulus Pendy padanya. "Aku juga mencintaimu, Pendy"


"Yes..." Terdengar sorak kebahagiaan di sebrang sana, membuat Erlita tersenyum. "...Akhirnya aku bisa menikah dengan wanita yang aku cintai"


Nyatanya Pendy begitu mencintai Erlita, sampai dia benar-benar tidak bisa berpaling ke lain hati lagi.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2