
Adriana masih saja kesal karena mendapati suaminya yang sedang berduaan dengan wanita cantik. Meski suaminya tidak melakukan apapun pada wanita itu. Tapi tetap saja hati Adriana menjadi was-was sendiri. Takutnya jika suatu saat nanti, Erland bisa saja terpikat dengan wanita-wanita cantik yang mendekatinya.
"Honey, sudah dong jangan cemberut terus" Erland merangkul bahu istrinya dan memeluknya dengan erat. Dia mencium puncak kepala istrinya dengan lembut.
"Aku takut kamu akan terpikat dengan wanita cantik lainnya. Secara aku hanya begini-begini saja. Tidak ada menariknya"
Erland melerai pelukannya, dia memegang kedua lengan Adriana dan menatap lekat istrinya itu. "Honey, apa yang kamu fikirkan? Sampai kapan pun aku tidak akan menyia-nyiakan kamu yang sudah begitu tulus padaku"
"Benar ya? Tapi 'kan di luar sana banyak sekali para wanita cantik yang akan mendekatimu. Pasti kamu akan terpikat juga suatu saat nanti"
Cup..cup..cup.. Erland terus mengecup seluruh bagian wajah istrinya. "Apa ini tidak cukup? Aku tidak akan pernah berpaling pada siapa pun. Aku sudah sangat bersyukur karena bisa bersama denganmu"
Adriana memeluk suaminya, menyandarkan kepalanya di dada Erland dengan nyaman. Adriana merasa lebih tenang ketika mendengar ucapan Erland barusan. "Aku pegang janji kamu ya, awas saja kalau sampai kamu mengingkari janjimu itu. Aku benar-benar akan pergi"
"Iya Sayang, aku tidak akan membiarkanmu pergi. Aku sangat mencintaimu dan tidak akan pernah berpaling darimu"
Semuanya sudah cukup untuk Adriana, dia hanya akan mempercayai ucapan suaminya. Semoga saja Erland tidak akan pernah merusak kepercayaan yang sudah dia bangun dari sekarang.
Saat suaminya pergi ke ruang meeting, Adriana mulai merasa bosan karena berdiam sendiri di ruang kerja suaminya. Ingin keluar, tapi dia takut jika Erland akan marah lagi karena dia tidak izin untuk berjalan-jalan di luar ruangan. Akhirnya Adriana mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada suaminya jika dia akan keluar sebentar.
Di ruang rapat, Erland yang melihat persentase dari sekretaris rekan kerjanya, langsung menoleh pada ponselnya ketika suara notifikasi pesan terdengar dari ponselnya. Erland mengambil ponselnya dan melihat pesan yang masuk dari nomor ponsel istrinya.
Sayang, aku izin keluar sebentar ya. Bosan terus menunggu di ruanganmu.
Mata Erland menyipit membaca pesan itu. Dia tidak ingin istrinya keluar dari ruangannya. Tapi dia tidak bisa melakukan apapun, karena saat ini dia sedang berada di ruang meeting. Erland tetap harus profesional dalam bekerja. Meski fikirannya hanya memikirkan istrinya.
Awas saja kalau sampai dia bertemu pria lain dan malah mengobrol berama karyawan pria di perusahaan ini.
Entahlah, yang ada di fikiran Erland hanya Adriana yang sedang bersama karyawan pria di perusahaannya. Membayangkan jika Adriana mengobrol dengan asyik bersama pria lain.
Hingga rapat selesai, Erland segera kembali ke ruangannya. Dan pemandangan yang tidak dia duga terlihat olehnya. Istrinya sedang memakan berbagai makanan di atas meja di depan sofa.
Erland menghampiri Adriana dengan sedikit kesusahan. Duduk disamping istrinya dan melihat makanan apa saja yang di beli istrinya itu.
__ADS_1
"Hai Sayang, aku abis dari luar. Membeli beberapa jajanan di sebrang perusahaan ini"
Erland tersenyum, dia mengelus kepala Adriana, lalu mengecupnya dengan lembut. "Aku kira kamu pergi kemana"
Adriana langsung menoleh ke arah suaminya. Menatapnya dengan penuh rasa curiga. "Jangan bilang kalau kamu berfikir aku sedang bersama pria lain?"
Erland tidak menjawab, dan hal itu cukup sebagai jawaban untuk Adriana. Dia menggeleng pelan, heran sendiri dengab sikap posesif suaminya yang terlalu berlebihan itu.
"Sayang, aku tidak akan pernah berpaling pada siapa pun. Lagian, kamu tahu sendiri bagaimana aku mengejar cintamu selama ini"
Mendengar itu, Erland langsung memeluk istrinya. Mencium pipi Adriana dengan lembut. "Maaf ya, aku hanya tidak mau kalau sampai kau berpaling pada pria lain"
"Apaan si kamu ini, justru seharusnya aku yang takut kamu berpaling dariku. Jelas di perusahaan kamu ini banyak sekali wanita cantik yang lebih segalanya dari aku"
Erland menggeleng pelan, dia semakin erat memeluk istrinya. "Tidak akan Sayang, meski mereka menawarkan tubuhnya pun. Aku tidak akan pernah berpaling dari wanita yang sudah begitu bersabar dan banyak berkorban untuk aku dan menerima keadaanku yang seperti ini"
Adriana tidak menjawabnya lagi, dia percaya dengan ucapan suaminya itu. Adriana mulai membuka beberapa makanan di depannya. Memakannya dengan sangat lahap. Semua makanan yang dia beli adalah makanan pedas semua.
Erland menggeleng, di melihat bagaimana semua makanan yang Adriana beli adalah makanan pedas semua. Terlihat dari warna makanan itu yang merah dengan bubuk cabe.
"Honey, jangan terlalu banyak makan pedas. Tidak sehat untuk kamu"
"Tenang saja, aku sudah biasa kok"
Erland mengelus kepala istrinya, menyelipkan rambut Adriana yang menghalangi wajahnya ke belakang telinga. "Iya, tapi jangan terlalu sering juga. Nanti bisa sakit perut"
Adriana mengangguk saja, meski dia tidak akan melakukan apa yang diucapkan oleh Erland. Karena makan pedas adalah kesukaannya sejak dulu.
...⭐⭐⭐⭐⭐⭐...
"Kan? Aku sudah mengingatkan kamu beberapa kali. Tapi kamu tidak mendengarkan" Erland menatap kesal pada istrinya yang baru saja keluar dari ruang ganti dengan memegangi perutnya. Adriana sudah 4 kali bolak balik ke kamar mandi untuk buang air. Perutnya terasa mulas dan sakit.
Adriana berjalan gontai menghampiri suaminya, dia memeluk suaminya. "Aku juga tidak tahu kenapa sekarang jadi kayak gini. Padahal dulu aku kuat memakan pedas yang banyak. Bahkan lebih dari tadi. Aku tidak mengerti kenapa sekarang jadi sakit perut"
__ADS_1
"Karena kamu tidak menurut pada suamimu. Jadi seperti ini jadinya"
Adriana mendongak, dia mencebikkan bibirnya. Menatap Erland dengan kesal. "Sayang, jangan marah dong. Istrinya lagi sakit kok malah di marahin si"
"Ya, karena kamu gak dengerin kata aku"
"Ya maaf Sayang"
"Duduk disana" Erland menunjuk ke arah tempat tidur untuk Adriana duduk disana.
Adriana mengangguk, dia berjalan ke arah tempat tidur. Duduk di pinggir tempat tidur diikuti oleh suaminya. Erlang mengelus perut istrinya.
"Apa masih sakit?"
Adriana menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. "Aku tidak merasa sakit kalau kamu ada disampingku"
"Emm. Gombal saja, kenapa kamu jadi wanita penggombal begitu"
Adriana hanya terkekeh mendengarnya, dia menatap suaminya dengan lembut. "Karena memang aku mencintaimu"
Erland mencubit gemas hidung Adriana. Dia selalu merasa gemas pada istrinya ini. Adriana yang terlalu polos dan selalu apa adanya, yang berhasil membuat Erland jatuh cinta padanya.
"Sudah ahh, ayo tidur"
Adriana membantu Erland untuk naik ke atas tempat tidur. Menarik selimut untuk menutupi tubuh suaminya. Namun ketika dia ingin ikut naik ke atas tempat tidur, tiba-tiba saja perutnya kembali terasa sakit.
"Honey ayo naik"
"Sebentar, aku ke kamar mandi dulu" Adriana berlari ke ruang ganti dengan terburu-buru.
Erland menghela nafas pelan. "Sudah aku bilang untuk tidak makan makanan pedas. Tapi tidak pernah mendengarkan"
Bersambung
__ADS_1