Mengejar Cinta Si Kembar

Mengejar Cinta Si Kembar
Menyesali Apa Yang Telah Terjadi


__ADS_3

Ketika cinta yang tak terbalas dan berakhir dengan sebuah luka yang besar dalam hatinya. Mencintai, tapi tidak dicintai adalah sebuah luka yang tak terlihat ke permukaan. Mengemis dan mengejar cinta seorang pria, namun sedikit pun pria itu tidak mencoba membuka hati untuknya. Lalu, bagaimana dia bisa masuk ke dalam hatinya jika dia saja tidak mengizinkannya untuk masuk ke dalam hatinya.


Pagi ini Adriana berangkat kuliah dengan perasaan yang sebenarnya sangat kacau. Namun, apapun yang terjadi dia tetap harus melanjutkan hidupnya. Lupakan semua tentang cintanya yang tak terbalas, dan mulai kisah baru dalam hidupnya. Begitulah tekad Adriana saat ini.


Entah sengaja atau bagaimana, takdir seolah sedang mempermainkannya. Adriana berpapasan dengan Erland di koridor kampus saat dia berjalan menuju kelasnya. Namun, sebisa mungkin Adriana bersikap cuek dan pura-pura tidak melihat keberadaan Erland. Dia berlalu begitu saja melewati pria itu dan kedua sahabatnya yang selalu menempel padanya.


Melihat sikap Adriana itu, membuat Erland berhenti melangkah dan menatap punggung gadis itu yang menjauh darinya. Ada nyeri yang sejak semalam tidak hilang di dadanya. Hatinya terluka melihat sikap Adriana yang sekarang. Bahkan Adriana tidak lagi menjadi gadis yang periang yang dia kenal. Sekarang dia berubah menjadi gadis pendiam dan sangat dingin pada Erland.


Riki menepuk bahu Erland, dia tahu permasalahannya. Semalaman dia dan Beno menemani Erland di apartemen saat pria itu sedang benar-benar kacau. Bahkan sampai pagi ini, Erland tidak makan sedikit pun. Meski kedua sahabatnya sudah memaksa, tapi dia tetap tidak mendengarkannya. Dia tetap pergi kuliah dengan keadaan yang tidak baik-baik saja.


"Sekarang apa kau sudah yakin, jika perasaanmu padanya adalah cinta?" Tanya Riki, selama ini dia kira jika Erland sudah sadar dengan perasaan cinta yang tumbuh di hatinya untuk Adriana. Tapi, nyatanya pria itu malah bilang jika dia belum yakin dengan perasaannya. Hal itu tentu membuat Riki dan Beno di buat sangat kesal.


Beno merangkul bahu Erland, sepertinya saat ini adalah saatnya dia mengeluarkan ceramah panjang lebarnya. "Gini ya Land, kau itu sudah menunjukan perasaanmu pada Adriana. Kau yang kesal karena melihat dia bersama Pendy, kau yang marah karena Adriana terkadang lebih terbuka pada Pendy daripada denganmu. Lalu, kau artikan apa perasaanmu itu? Apa hanya rasa kasihan saja? Tidak! Sekarang saat Adriana sudah benar-benar menyerah dan melepaskanmu. Maka hatimu terluka, apalagi dengan sikapnya barusan. Apa kau masih juga tidak yakin dengan perasaanmu?"


Susah juga ya menjelaskan pada orang yang tidak peka. Gumam Beno, kesal juga dengan sahabatnya ini.


Erland menghela nafas, mungkin memang benar apa yang di katakan kedua sahabatnya. Dia menjadi pria memang terlalu tidak peka, sampai tidak sadar dengan perasaannya sendiri.


"Lalu sekarang apa yang harus aku lakukan? Dia sudah pergi dan memilih menyerah, apa yang harus aku lakukan setelah ini"


Riki dan Beno saling pandang, untuk pertama kalinya mereka melihat Erland yang begitu frustasi. Mereka yakin jika Erland memang telah benar-benar jatuh cinta pada Adriana.


"Land, sebaiknya kau segera ungkapkan perasaanmu itu sebelum kau keduluan dengan si Pendy itu"


...⭐⭐⭐⭐⭐⭐...

__ADS_1


Pendy terlonjak kaget saat sebuah tangsn menariknya ke sebuah lorong yang cukup sepi. Dia menatap gadis berhijab di depannya dengan bingung. Wajah gadis itu seperti familliar baginya. "Kau siapa?"


Erlita sedikit membenarkan kerudungnya. "Tidak perlu tahu aku siapa, tapi yang jelas aku hanya minta kau menjauhi Adriana"


Hah?!..


Pendy di buat bingung dengan gadis di depannya ini. Menjauhi Adriana? Memangnya apa urusannya dengan gadis di depannya ini. "Kau gila ya, menyuruh aku menjauhi Adriana. Apa kau menyukai Adriana?"


Erlita melotot mendengarnya, seharusnya memang dia meminta Adriana untuk menjauhi Pendy, seperti kebanyakan adegan di sinetron. Menyuruh seorang gadis yang dekat dengan pria yang dia sukai untuk menjauhinya. Tapi, situasinya berbeda. Erlita meminta Pendy untuk menjauhinya karena memang dia ingin Adrina bersama Erland. Karena semenjak bersama gadis itu, saudara kembarnya menjadi lebih ceria.


"Kau pikir aku apaan hey, aku masih normal ya. Aku hanya minta kau jangan mengganggu hubungan Erland dan Adriana"


Pendy mengerutkan keningnya, dia sedikit bingung dengan ucapan Erlita barusan. "Memangnya mereka mempunyai hubungan apa? Yang aku tahu, mereka tidak mempunyai hubungan spesial apapun. Kenapa kau ingin aku menjauhi Adriana? Jika semuanya karena Erland, memangnya apa hubunganmu dengan Erland?"


Melihat kebingungan di wajah Pendy, malah semakin membuat Erlita kesal. Dia meraih tangan kanan Pendy dan menjabatnya seperti orang yang berkenalan untuk pertama kalinya. "Perkenalkan, Erlita Aditama Putri. Saudara kembar dari Erland Aditama Putra"


"Ohh pantas saja jika kau dan Erland memang saudara kembar. Wajah kalian hampir mirip"


"Tapi bukan itu intinya, sekarang aku benar-benar minta kau jauhi Adriana. Pliss..." Erlita menangkup kedua tangannya di depan dada dengan wajah yang memelas. "...Aku benar-benar memohon padamu"


Melihat wajahnya membuat aku gemas ya.


Pendy tersenyum kecil melihat wajah Erlita yang memelas padanya. Entah kenapa di wajahnya terlihat begitu menggemaskan. "Aku tidak bisa menjauhi Adrina tanpa sebab, lagian dia juga sudah aku anggap sebagai adikku sendiri. Jadi, kenapa aku harus menjauhinya. Jika Erland memang mencintainya, dia tidak mungkin membuatnya terluka saat ini"


"Maskudnya?" Erlita belum mengetahui tentang masalah Erland dan Adriana yang sedang terjadi saat ini.

__ADS_1


"Adriana sudah menyerah untuk mengejar cinta Erland. Adriana telah benar-benar menyerah"


Penjelasan Pendy membuat Erlita terdiam, namun beberapa saat kemudian dia berlari begitu saja meninggalkan Pendy yang kebingungan dengan sikapnya itu. Akhirnya Pendy hanya menggelengkan kepala heran dengan kelakuan gadis yang baru saja di temuinya itu.


Dasar gadis aneh.


Erlita berjalan dan menanyakan keberadaan saudara kembarnya pada setiap orang yang dia temui. Dia harus meminta penjelasan pada saudara kembarnya yang bodoh itu.


"Kenapa si Erland ini bodoh banget si. Persis seperti Bang Ganesh aja deh"


Akhirnya Erlita menemukan Erland berada di ruang musik bersama kedua temannya. Dia masuk dengan membuka pintu kasar, hal itu membuat ketiga pria yang sedang berada di dalam ruang musik itu terkejut.


"Erl, ada apa?" Tanya Riki, sedikit ngeri saat melihat tatapan Erlita.


Gadis itu berkacak pinggang di depan Erland, dengan wajah yang benar-benar kesal. "Kau ini bodoh ya. Oh ya ampun, aku tidak percaya kalau aku bisa mempunyai saudara yang bodoh. Gak kamu, gak Bang Ganesh. Keduanya sama-sama pria bodoh yang tidak peka"


Erland menatap Erlita dengan malas, sudah lama saudara kembarnya ini tidak mengomel seperti ini. "Ada apasi? Kenapa kau tiba-tiba datang kesini dan marah-marah tidak jelas?"


"Ck. Apa kau sebodoh itu sampai membuat gadis yang begitu mencintaimu dengan tulus pergi begitu saja. Hei, kau para pria..." Erlita menunjuk ketiga pria di depannya ini. "...Kalian jangan pernah menyia-nyiakan wanita yang sudah mencintai dengan tulus. Karena jika dia sudah menyerah, maka hidup kalian akan hancur. Kalian tidak akan menemukan lagi sosok yang sama"


Erland terdiam mendengar itu, memang benar apa yang di katakan Erlita barusan. Saat ini dia sudah benar-benar hancur karena penyesalannya. Adriana mencintainya dengan tulus. Terbukti dari dia yang mau saja dijadikan pembantu, di saat gadis-gadis lain langsung menolak dan mencaci maki Erland saat dia meminta hal itu pada mereka. Tapi Adriana berbeda.


Aku menyesalinya Ri. Maafkan aku.


Bersambung

__ADS_1


Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan berikan berikan bintang rate 5


__ADS_2